Loading...

Sabtu, 06 Juli 2013

IMPLEMENTASI STRUKTUR NARATIF A.J. GREIMAS PADA NOVEL CIUMAN DI BAWAH HUJAN KARYA LANG FANG



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sastra merupakan salah satu cabang kesenian yang selalu didalam peradapan manusia semenjak ribuan tahun yang lalu. Kehadiran sastra ditengah peradaban manusia tidak dapat ditolak, bahkan kehadiran tersebut sebagai salah satu realitas sosial budaya. Sastra tidak saja dinilai sebuah karya seni yang mengandung budi, imajinasi, dan emosi, tetapi telah dianggap sebagai salah satu kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual dan konsumsi emosi (Semi, 1989:1).
Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Sedangkan studi sastra adalah cabang ilmu pengetahuan. Hubungan sastra dan studi sastra menibulakan beberapa masalah yang rumit. Jalan keluar yang pernah ditawarkan bermacam-macam ( Wellek dan Warren, 1995:3).
1
 
Sastra merupakan ungkapan pribadi yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kongkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Kegiatan membaca karya sastra bukan merupakan hal yang mudah seperti membaca pada umumnya. Upaya pemahaman unsur-unsur dalam bacaan sastra tidak dapat dilepaskan dari masalah membaca. Sebab itu sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi dalam rangka memahami unsur dalam bacaan sastra, masalah pembacaan sedikit banyak harus dipahami oleh para apresiator.
Karya sastra adalah fenomena unik dan fenomena organik. Di dalamnya penuh serangkaian makna dan fungsi. Makna dan fungsi ini sering kabur dan tidak jelas. Oleh kerena, karya sastra memang syarat dengan imajinasi. Itulah sebabnya, peneliti sastra memiliki tugas untuk mengungkapkan kekaburan itu menjadi jelas. Peneliti sastra akan mengungkap elemen-elemen dasar pembentuk sastra dan menafsirkan sesuai paradigma dan atau teori yang digunakan (Endraswara, 2003:7).
Karya sastra hadir sebagai refleksi dari kehidupan masyarakat yang merupakan cerminan dari masyarakat yang akan terus mewakili situasi dan keadaan sekitarnya. Melalui bahasa sastrawan mengungkapkan segala yang bergejolak di dalam jiwanya, baik dalam konsep, gagasan, maupun pikiran. Dunia realitas yang diolah melalui proses kreatif manusia merupakan cermin sebuah karya sastra. Proses kratif tersebut sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, pemahaman, bahkan penghayatan pengarang, dalam dunia realitas, disertai kemampaun imajinasinya sehingga mampu melahirkan “dunia baru” yang bentuknya karya sastra. Sastrawan dengan segala daya dan akalnya berusaha memaparkan perjalanan kehidupan yang mengusik dalam kesadarannya.
Menurut  Genette dalam Sugihastuti  (2002:46) berpendapat bahwa cerita terbuat dari materi-materi verbal secara kronologis yang dapat disamakan dengan definisi formalis berisi semua segi yang ditambahkan oleh pengarang, terutama perubahan urutan waktu penyajian, kesadaran para pelaku, dan hubungan pengarang dengan cerita, penonoton, serta pembaca.
Culler dalam Sugihastuti (2002:50) menyatakan apabila pendekatan struktur naratif adalah untuk mendapatkan kecukupan, bahkan kecukupan yang belum sempurna. Pendekatan ini harus memperhatikan proses membaca sehingga proses itu menyediakan beberapa penjelasan tentang beberapa cara mengidentifikasi suatu cerita dalam karya sastra.
Propp dalam Ratna (2010:132) dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif, sekaligus memberi makna baru terhadap dikotomi fibula dan sjuzet. Objek penilitian Propp adalah cerita rakyat, seratus dongeng cerita, yang dilakukan tahun 1928, tetapi baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Propp menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Artinya, dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah, tetapi perbuatan dan peran-perannya sama.
Pencipta karya sastra khususnya (puisi, cerpen, novel, dan drama) tidak hadir atau muncul begitu saja dengan sendirinya, akan tetapi terlahir dari proses perjalanan hidup sang pengarang, baik dari apa yang dilihat, didengar, maupun yang dirasakannya. Artinya sebuah karya sastra terbentuk berdasasrkan proses, terutama proses pengimajinasian pengarang yang memadukan dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya.
Sebuah novel merupakan sebuah totalitas secara menyeluruh yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain secara erat dan saling menggantungkan. Disamping unsur formal bahasa, secara garis besar berbagai macam tersebut secara tradisional dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Kedua unsur inilah yang sering  disebut dasar suatu karya sastra.
Penelitian ini mengambil objek novel Ciuman di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang yang dikaji dari aspek strukturalisme naratif. Teori struktural naratif dipergunakan untuk menganalisis karya prosa fiksi berdasarkan struktur struktur aktan dan fungsional. Teori ini dikemukakan AJ Greimas (Jabrohim, 1996:21). Penulis menggunakan teori Strukturalisme model A.J. Greimas karena memiliki kelebihan dalam menyajikan secara terperinci kehidupan tokoh-tokoh dalam cerita dari awal sampai akhir. Selain itu, strukturalisme model ini mampu menunjukkan secara jelas dan dikotomis antara tokoh protagonis dan antagonis. 
Novel CdBH terdiri dari cerita-cerita yang saling berhubugan yang mengangkat sebuah relaitas dunia politik di Indonesia yang disajikan dalam bentuk narasi dan dihubungkan dengan kisah cinta sehingga menjadikan novel CdBH memiliki daya tarik untuk diteliti dengan teori struktur naratif.
Novel CdBH karya Lan Fang merupakan hasil perenungan Lan Fang yang melihat para politisi Indonesia yang buruk, seperti ketepatan untuk memenuhi janjinya saat kampanye. Novel CdBH merupakan hasil pengamatan Lan Fang terhadap pemilihan umum gubernur dan pemilihan umum legislatif selama 2009. Lan Fang menilai banyak politikus yang mengejar kekuasaan belaka. Dengan kekuatan penanya, Lan Fang menceritakan potret politisi yang terjebak pada dirinya sendiri, yang dipresentasikan lewat tokoh Ari dan Rafi sebagai personifikasi pengamatan penulis atas realitas politik yang telah dan sedang terjadi.
Melalui novel CdBH, Lan fang ingin menunjukkan bahwa politisi juga manusia yang tidak bisa lepas dari segala keterbatasan. Keterbatasan tersebut mampu ditampilkan melalui narasi tentang bagaimana politisi itu harus menentukan sikap di tengah-tengah ambiguitas yang bertalian antara persoalan kebutuhan dan keinginan yang ditunjukkan melalui Fung Lin, seorang wanita yang menjadi wartawan di sebuah media cetak yang senantiasa aktif  bekerja meliput beberapa kegiatan budaya dan sastra di sebuah kota. Pekerjaannya ini membawanya bertemu dengan Ari dan Rafi, dua orang  politikus yang ternyata memiliki perhatian terhadap perkembangan sastra.
Tanggapan novel CdBH dari beberapa ahli sastra yaitu sastrawan dan Guru Besar Emiritus UNESA (Universitas Negeri Surabaya), Prof. Budi Darma, ketika menjawab pertanyaan tentang patokan nilai karya sastra yang baik. Beliau mengagumi novel CdBH karya Lan Fang terbukti dalam ujarnya “Karya yang bagus adalah karya yang menggema di hati manusia. Jika ingin membuat karya yang baik, maka buatlah karya yang menggema bagi manusia lainnya”.  Bahwa novel ini senantiasa digandrungi oleh pemabaca dan menginspirasikan pembaca untuk mengikuti perkembangan politik di Indonesia. 
Dilahirkan di Banjarmasin pada tanggal 5 Maret 1970 dari pasangan Johnny Gautama dan (Alm.) Pada tahun 1988, ia menyelesaikan SMA-nya di Banjarmasin lalu meneruskan dan menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA). Walaupun terlahir dalam keluarga keturunan Cina yang cukup konservatif dan lebih berkonsentrasi pada dunia bisnis, Lang Fang sudah bergelut dalam tulis menulis dan pembaca sejak usia sekolah dasar. Keinginan Lan Fang untuk menulis cerpen sejak sekolah SMP bacaannya mulai beralih pada majalah-majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis.
Keberadaan Lan Fang dalam perkembangan sastra Indonesia terbukti dengan lahirnya tujuh buah buku berupa novel dan kumpulan cerpen, di antaranya novel Reingkarnasi (2003), Pai yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-Laki Yang Salah (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Yang Lui (2006), dan Kumpulan Cerpen Kota Tanpa Kelamin (2007). Dan sejumlah pengahargaan yang didapatnya dalam dunia karya sastra yaitu mendapatkan Khatulistiwa Literary Award.
Skripsi tentang struktural naratif pernah di kaji oleh beberapa mahasiswa antara lain :
Samsul Arif  (2011) dengan judul Mitologi dan Struktur Naratif dalam Cerita Rakyat Kebokicak Karang Kejambon. Meneliti tentang mitos dengan mengkaji kebenaran yang terkandung dalam sebuah cerita rakyat atau folklor. Sumbangan  penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan kajian yang sama, akan tetapi teori yang digunakan oleh penelitian ini berbeda, yaitu srtuktural naratif Claude Levi-Strauss yang lebih banyak memberikan perhatian pada mitos bahwa struktur mitos dapat dijelaskan dengan menunjuk pada fungsiny. Sedangkan peneliti dalam penelitian ini menggunakan kajian srtuktural naratif Algirdas Julian Greimas yang diperluas pada mitos dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hamper sama memberikan perhatiannya pada relasi, menawarkan konsep lebih tajam, dengan tujuan yang lebih umum, yaitu tata bahasa naratif universal yaitu menghadirkan skema aktan dan skema funsional sebagai media untuk mengembangkan suatu argumen logis.
Sri Maryani  (2010)  Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia yang mengkaji struktural naratif dengan judul Kajian Drama Kejahatan Membalas Dendam Karya Idrus menceritakan tentang keadaan sosial pada drama ini yaitu korupsi dan kejahatan yang dilakukan oleh para tokoh yang ingin meerebut kekuasaan. Sumbangan  penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan kajian yang sama, tetapi perbedaannya terletak pada pedekatan. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti yaitu pendekatan strukturalisme sedangkan peneliti drama Kejahatan Membalas Dendam menggunakan pendekatan sosiologi.
Muhammad Fikri (2010) dengan judul Struktur Naratif dalam Novel Lara Lapane Kaum Republik Karya Suparto Brata yang menceritakan tentang seorang pejuang pada zaman kemerdekaan yang berjuang menengok ibunya di kota, demi mendapatkan cinta dari orang tuanya kembali. Sumbangan  penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti menggunakan kajian yang sama yaitu struktural naratif. Perbedaannya terletak pada teori yang digunakan peneliti untuk penelitian ini. 
Di STKIP PGRI Jombang novel CdBH belum pernah dikaji dari aspek strukturalisme naratif yang mengkaji novel  CdBH dalam aspek  skema aktan dan skema fungsional dan hubungan hasil analisis skema aktan dan skema fungsional.
Berdasarkan dari beberapa contoh penelitian terdahulu, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan antara penelitan yang akan peneliti lakukan. Sehingga penulis tertarik untuk menganalisis novel ini dari aspek strukturalisme naratif teori A.J Greimas.
B.     Permasalahan
a.      Batasan Masalah
Judul peneliti ini adalah Ciuman Di Bawah Hujan (CdBH) dalam perspektif Greimas. Objek penelitianya adalah novel CdBH karya Lan Fang. Teori yang menjadi landasan adalah teori struktural naratif yang dikemukakan oleh A.J. Greimas berdasarkan judul di atas, novel CdBH karya Lan Fang dianalisis dengan menggunakan teori yang dikemukakan oleh A.J. Greimas. Konsep yang dikemukakan oleh A.J. Greimas untuk analisis adalah skema aktan dan skema fungsional. Oleh karena itu masalah yang dapat di identifikasikan antara lain adalah :
a.    Aktan-aktan yang terdapat dalam novel CdBH karya Lan Fang
b.    Struktur cerita novel CdBH karya Lan Fang berdasarkan skema aktan dan model fungsional
c.    Hubungan struktur aktan dan struktur fungsional yang terdapat dalam novel CdBH karya Lan Fang dalam rangka membentuk struktur cerita utama
d.   Perbandingan fungsi-fungsi cerita menurut aliran struktur dengan fungsi-fungsi cerita dalam novel CdBH karya Lan Fang menurut aliran transformasional dalam rangka membentuk aktan
e.       Perbandingan fungsi-fungsi cerita menurut aliran struktur dengan fungsi-fungsi cerita dalam novel CdBH karya Lan Fang menurut aliran tagmemik dalam rangka membentuk aktan.
Berkaitan dengan beberapa masalah yang dapat diidentifikasikan tersebut, penulis membatasi masalah (1) struktur aktan-aktan yang terdapat dalam novel CdBH, (2) struktur cerita novel CdBH berdasarkan skema aktan, (3) struktur cerita novel CdBH berdasarkan model fungsional, dan (4) hubungan struktur aktan dan struktur fungsional yang terdapat dalam novel CdBH karya Lan Fang dalam rangka membentuk struktur cerita utama.
b.      Rumusan Masalah
a.       bagaimana skema aktan yang terdapat dalam novel Ciuman Di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang?
b.      Bagaimanakah struktur cerita novel Ciuman Di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang?
c.       Bagaimanakah hubungan antara hasil analisis struktur aktan dan struktur fungsionalnya dalam rangka membentuk struktur cerita utamanya?
C.    Tujuan penelitian
a.      Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai strukturalisme naratif dalam novel Ciuman di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang dan bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara skema aktan dan struktur fungsional dalam teori strukturalisme naratif A.J Greimas.
b.      Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang  jelas tentang :
a.       Mendeskripsikan  skema aktan yang terdapat dalam novel Ciuman Di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang.
b.      Mendeskripsikan struktur cerita novel Ciuman Di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang.
c.       Mendeskripsikan hubungan antara hasil analisis struktur aktan dan struktur fungsionalnya dalam rangka membentuk struktur cerita utama.
D.    Manfaat Penelian  
a.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan teori strukturalisme, khususnya strukturalisme naratif A.J Greimas serta menambah dan memperkuat teori-teori sastra dan mengapresiasikan karya sastra dengan kajian lainnya .
b.      Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah acuan atau literatur bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran sastra. Selain itu hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi peneliti lain yang bermaksud mengkaji novel CdBH dari aspek lain.


E.     Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan kesalahan penafsiran maka diperlukan definisi operasional tentang judul penelitian tersebut di atas. Adapun istilah-istilah yang diberi batasan operasional, yaitu:
Ciuman di Bawah Hujan              : adalah judul Novel karya Lan Fang yang diterbitkan pada tahun 2010 oleh PT Gramedia, Jakarta.
Kajian Strukturalisme Naratif      : maksudnya adalah kajian dari aspek  skema aktan dan skema fungsional dan hubungan hasil analisis skema aktan dan skema funsional.
Skema Aktan                                : adalah mengeksplorasi eksistensi tokoh dan keterlibatannya dalam berbagai peristiwa.
Skema Fungsional                        : adalah menguraikan peran subjek dalam rangka melaksanakan tugas dari pengirim yang terdapat dalam aktan.
Jadi yang dimaksud judul Ciuman di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang sebuah kajian strukturalisme naratif yaitu mengkaji novel  CdBH dalam aspek  skema aktan dan skema fungsional, yang mana tugas aktan menguraikan peran tokoh keterlibatan dalam berbagai peristiwa dan tugas fungsional berperan melaksanakan tugas dari pengirim yang terdapat dalam aktan, serta hubungan hasil analisis skema aktan dan skema fungsional.

BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Strukturalisme
            Ritzer (dalam Ratna, 2010:144) strukturalisme lahir sebagai reaksi terhadap model-model penelitianyang memberikan perhatiannya pada sejarah dan asal-usul suatu gejala kultural, khususnya bahasa. Di Prancis strukturalisme lahir sebagai reaksi terhadap humanisme filsuf sekaligus novelis Jean Paul Sartre dan fenomenologi Husserl.
Strukturlisme adalah cara berfikir tentang dunia yang terutama berkaitan dengan persepsi dan deskripsi struktur (Haukes, 1976:17-1). Dalam pandangan Haukes yang didasarkan pada pandangan Aristoteles (Teuww, 1984:120) dunia ini pada hakikatnya lebih merupakan susunan keseluruhan, tersusun atas hubungan-hubungan dari pada hubungannya itu sendiri. Dalam kesatuan hubungan strukturalisme, unsur-unsur tidak memiliki makna sendiri-sendiri. Makna itu timbul dari hubungan antar unsur yang terlibat dalam situasi itu. Dengan demikian, makna penuh sebuah kesatuan atau pengalaman itu hanya dapat dipahami sepenuhnya bila seluruh unsur pembentukannya terintegrasi ke dalam sebuah struktur (Jabrohim, 1996:9).
16
 
            Strukturalisme dalam penelitan sastra (Jabrohim, 2002:54) mengemukakan bahwa satu konsep dasar yang menjadi ciri khas teori strukturalisme adalah adanya anggapan bahwa di dalam dirinya sendiri karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom yang dapat dipahami suatu kesatuan yang bulat dengan unsur-unsur pembangun yang saling berjalinan. Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dikaji berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang, lepas dari diri niat penulis, dan lepas pula pada efeknya pada pembaca.
Strukturalisme dalam novel Ciuman Di Bawah Hujan (CdBH) yang dimaksud bahwasanya megandung tiga gagasan pokok. Pertama, gagasan keseluruhan (wholeness), dalam arti bahwa bagian-bagian atau anasirnya menyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrinsik yang menentukan baik keseluruhan struktur maupun bagian-bagiannya. Maksudnya tidak ada unsur pun di dalamnya yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing unsur pembangun struktur saling berkaitan erat (berkoherensi) dan mewujudkan satu makna yang tunggal. Koherensi unsur struktur tersebut seakan dijalin oleh seperangkat hukum intrinsik yang berlaku pada setiap genre sastra atau jenis sastra. Kedua, gagasan transformasi (transformation), dalam arti bahwa struktur itu menyanggupi prosedur transformasi yang terus-menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Maksudnya, hukum-hukum intrinsik di dalam struktur itu tidak hanya tersusun, tetapi juga menyusun. Sebuah struktur harus mampu melakukan prosedur transformasi terhadap sebuah materi baru. Materi baru itu secara pasti harus diproses oleh dan melaluinya. Ketiga, gagasan mandiri (self regulation) dalam arti tidak memerlukan hal-hal dari luar dirinya untuk mempertahankan prosedur transformasinya, struktur itu otonom terhadap rujukan sistem lain. Maksudnya, sebuah struktur menemukan makna keseluhan dari dirinya sendiri, bukannya dari bantuan factor-faktor yang berada di luarnya. Hal ini disebabkan oleh gagasan yang pertama tadi, yaitu gagasan keutuhan. Jadi struktur itu bersifat tertutup.
Nurgiyantoro (2002:36) Pendekatan struktural dipelopori oleh kaum Formalis Rusia dan Strukturalisme Praha. Ia endapatkan pengaruh langsung dari teori Saussure yang mengubah studi lingistik dari pendekatan diakronik ke sinkronik. Studi linguistik tidak lagi ditekankan pada sejarah perkembangannya, melainkan pada hubungan antarunsurnya.
Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2002:36-37) sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum strukturalisme adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur (pembangun)-nya. Strukturalisme dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan kesastraan yang menekankan pada kajian hubungan antarunsur pembangun karya sastra yang bersangkutan.
Hewkes (dalam Nurgiyantoro, 2002:37) strukturalisme pada dasarnya juga dapat dipandang sebagai cara berfikir tentang dunia kesastraan yang lebih merupakan susunan benda. Dengan demikian, kodrat setiap unsur dalam bagian system struktur mempunyai makna setelah berada dalam hubungannya dengan unsur-unsur yang lain.
Dalam novel Ciuman Di Bawah Hujan (CdBH) karya Lan Fang, bahwa strukturalisme yang dalam hal fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskrisikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsi fiksi yang bersangkutan sehingga membentuk sebuah totalitas kemaknaan yang padu dan saling melengkapi. Cara kerja strukturalisme pada dasarnya adanya pandangan keotonomian terhadap suatu objek, juga dibawa ke studi kesastraan.
Analisis struktur akan lebih mengeksplorasi eksistensi tokoh dan keterlibatannya dalam berbagai peristiwa. Dengan demikian, perlu dianalisis hubungan antar tokoh dalam cerita. Oleh karena itu, penulis menggunakan teori aktan dan model fungsional yang dikembangkan oleh Greimas.
B.       Teori Strukturalisme Naratif Model A.J Greimas
Karya sastra menjadi berbeda, sekaligus rumit dan kompleks, sehingga berbeda dengan deskripsi-deskripsi yang lain, dan dengan demikian memerlukan pengetahuan tambahan untuk memahaminya adalah sebagai akibat peranan struktur naratif. Teori naratif strukturalis berkembang dari analogi-analogi linguistik dasar tertentu. Sintaksis adalah model dasar aturan naratif. Todorov dan yang lain berbicara tentang “sintaksis naratif”. Pembagian sintaksis yang paling dasar dalam satuan kalimat adalah antara subjek dan predikat: Pahlawan (subjek) membunuh naga dengan pedangnya (predikat). Sehingga kalimat ini dapat menjadi sebuah episode atau bahkan keseluruhan cerita. Perlu dikaitkan bahwa pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fibula dan sjuzhet, cerita dan plot. Para pelopornya, di antaranya yaitu Claude Levi-Strauss (struktur mitos) dan A.J Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Sedikit menyinggung tentang teori srtuktural naratif menurut Levi-Strauss dan A.J Greimas.
Levi-Strauss memberikan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng, baik secara bulat maupun fragmentasi. Menurutnya, motos adalah naratif itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Sedangkan A.J Greimas (Ratna, 2010:137) merupakan kombinasi Levi-Strauss dengan model sintagmatik Propp. Dibandingkan dengan penelitian Propp, objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu, yaitu dongeng, tetapi diperluas pada mitos. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hamper sama, Greimas memberikan perhatiannya pada relasi, menawarkan konsep yang lebih tajam, dengan tujuan yang lebih umum, yaitu tata bahasa naratif universal. Jadi penulis menggunakan teori struktural naratif A.J Greimas, sebab teori yang dikemukakan Greimas lebih luas dibandingkan dengan teori Levi-Strauss yang tidak pada mitos dan teori srtuktural naratif Levi-Strauss dikembangkan oleh Greimas.
Menurut Greimas aktan adalah sesuatu yang abstrak, seperti cinta, kebebasan, atau sekelompok tokoh. Menurutnya juga, aktan adalah satuan naratif terkecil. Dikaitkan dengan satuan sintaksis naratif, aktan berarti unsur sintaksis yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu. Fungsi adalah satuan dasar cerita yang menerangkan tindakan logis dan bermakna yang membentuk narasi. Dengan kata lain, skema aktan tetap mementingkan alur sebagai energi terpenting yang menggerakkan cerita sehingga menjadi penceritaan, dengan episode terpenting yang terdiri atas permulaan, komplikasi dan penyelesaian. (Jabrohim, 1996:13)
Alur merupakan energi terpenting yang menggerakkan cerita sehingga menjadi penceritaan, dengan episode terpenting yang terdiri atas permulaan, komplikasi, dan penyelesaian. Strukrural naratif lebih banyak memberikan perhatiannya pada fungsi dan relasinya. Menurut Luxembrug, dkk. (dalam Ratna, 2010: 139), di antara ketiga oposisi biner yang terpenting adalah pasangan subjek-objek, hubungan antara pejuang dengan tujuannya. Pada umumnya pejuang (subjek) terdiri atas pelaku sebagai manusia, sedangkan tujuan (objek) terdiri atas berbagai kehendak yang mesti dicapai, seperti kebebasan, keadilan, kekayaan, dan sebagainya. Suatu perjuangan pada umumnya dialangi oleh kekuasaan (pengirim), tetapi apabila berhasil maka pelaku (penerima) menerimanya sebagai hadiah.
Dengan demikian, Greimas pada gilirannya lebih mementingkan aksi dibandingkann dengan pelaku. Tidak ada subjek dibalik wacana, yang ada hanyalah subjek, manusia semu yang dibentuk oleh tindakan, yang disebut actans dan acteurs. Menurut Rimmon-Kenan (dalam Ratna, 2010:140) baik actans maupun acteurs dapat berarti suatu tindakan, tetapi tidak selalu harus merupakan manusia, melainkan juga nonmanusia. Jadi, berbeda dengan actans yang terbatas funsinya dalam steruktural naratif, yang dibedakan menjadi tiga oposisi biner, actans merupakan kategori umum. kemampuan Greimas dalam mengungkapkan struktur actans dan actans menyebabkan teori struktural naratifnya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat, religi, dan ilmu sosial lainnya.

C.      Model Aktan dan Model Fungsional
Greimas adalah seorang peneliti sastra dari Prancis penganut teori struktural. Ia mengembangkan teori strukturalisme menjadi strukturalisme naratif. Teori Greimas sebenarnya merupakan penghalusan atas teori Vladimir Propp. Propp menjelaskan, demikian Tirto Suwondo (dalam Jabrohim, 1996:12) bahwa fungsi-fungsi itu dapat disederhanakan dan dikelompok-kelompokkan ke dalam “tujuh lingkaran tindakan” (spheres of action), yaitu (1) vilain ‘penjahat’, (2) donor, provider ‘pemberi bekal’, (3) helper ‘penolong’, (4) sought for person and her father ‘putri atau orang yang dicuri dan ayahnya’, (5) dispatcher ‘yang memberangtkan’, (6) hero ‘pahlawan’, dan (7) fals hero ‘pahlawan palsu’. Dijelaskan pula bahwa oleh Greimas ketujuh spheres of action ini disederhanakan menjadi three pairs of opposed yang meliputi enam achtants (peran, pelaku) yaitu (1) subject versus object ‘sabjek-objek’, (2) sender versus receiver (destinatuer versus destinataire) ‘pengirim-penerima’, dan (3) helper versus opponent (adjuvant versus opposant) ‘pembentu-penentang’.
Achtant (selanjutnya ditulis dengan ‘aktan’) ditinjau dari segi tata cerita menunjukkan hubungan yang berbeda-beda. Maksudnya dalam suatu skema aktan suatu fungsi dapat menduduki beberapa peran, dan dari karakter peran kriteria tokoh dapat diamati. Menurut teori Greimas, seorang tokoh dapat menduduki beberapa fungsi dan peran didalam suatu skema aktan.
Berbicara mengenai peran, tokoh, dan aktan, Thalata Bachmid (dalam Jabrohim, 1996:13) membedakan ketiganya. Tokoh adalah unsur sintaksis yang ditandai oleh fungsinya dalam skema. Pelaku adalah unsur  teks yang ditandai oleh ciri pembeda seperti nama diri, tindakan-tindakan serta ciri lainnya. Pelaku dapat menduduki beberapa fungsi aktan yang berbeda dalam skema. Pelaku tidak sama dengan tokoh, karena beberapa tokoh yang memiliki ciri-ciri serupa dapat disebut sebagai satu pelaku. Pelaku ditandai oleh (a) tindakan-tindakannya, (b) serangkaian ciri-ciri pembeda yang dibentuk oleh pertentangan. Peran adalah tindakan yang ditentukan oleh fungsi serta ciri-ciri seorang tokoh menurut konvensi dalam tindakan.
Dengan demikian, suatu cerita dapat menduduki beberapa aktan. Hal ini bergantung pada inferensi yang menganalisi, bagaimana seorang penganalisis menafsirkan dan menangkap struktur cerita yang ada, bagaiana memeahami tokoh-tokohnya dalam rangka menentukan fungsi aktan, bagaimana mendudukkan peran para tokoh kedalam aktan.
Roman Seden (terjemahan Pradopo dalam Jabrohim, 1996:13) mengatakan bahwa subjek dan predikat dalam suatu kalimat dapat menjadi kategori fungsi dan cerita. Hal inilah menjadi asumsi awal Greimas untuk menganalisis suatu cerita berdasarkan subjek-objek sebagai inti. Greimas mengajukan enam fungsi aktan dalam tiga pasangan opposisional. Remmon-Kenan (Ratna, 2010:140) melukiskan keenam faktor tersebut sebagai berikut.
Pengirim                                           objek                                             penerima
Sender                                                                                                     receiver
Penolong                                          subjek                                           penentang
Pembantu                                                                                                 opposant
 
 


















 
Dalam skema aktan dapat dijabarkan, bahwa tanda panah dalam skema menjadi unsur penting yang menghubungkan fungsi sintaksis naratif asing-masing aktan. Sender ‘pengirim’ adalah seseorang atau suatu yang menjadi sumber ide dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Pengirimlah yang menimbulkan karsa atau keinginan bagi subjek atau pahlawan untuk mencapai objek. Objek adalah seseorang atau sesuatu yang diingini, dicari, dan diburu oleh pahlawan atau ide pengirim. Subjek atau pahlawan adalah seseorang atau sesuatu yang ditugasi oleh pengirim untuk mendapatkan objek. Helper ‘penolong’ adalah seseorang atau sesuatu yang membantu atau mempermudah usaha pahlawan dalam mencapai objek. Receiver ‘penerima’ adalah sesuatu yang menerima objek hasil buruan subjek. Opposant ‘penentang’ adalah seseorang atau sesuatu yang menghalangi usaha pahlawan dalam mencapai objek.
Ratna (2010:139) diantara subjek dan objek ada tujuan, di antara pengirim dan penerima ada komunikasi, sedangkan di antara penolong dan penentang ada bantuan atau tentangan. Actans dengan demikian jangan dikacaukan dengan actor. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimainkan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Dengan kata lain, aktor meruapakan manifestasi kongkret dari actans.
Tanda panah dari sender ‘pengirim’ mengarah ke objek, artinya bahwa dari sender ada keinginan untuk mendapatkan, menemukan, atau menginginkan objek. Tanda panah dari objek ke receiver ‘penerima’ artinya bahwa sesuatau yang menjadi objek dan dicari objek oleh subjek yang diinginkan oleh sender dan diberikan kepada sender. Tanda panah dari helper ‘penolong’ ke subjek artinya bahwa helper meberikan bantuan kepada subjek dalam rangka menunaikan tugas yang diberikan oleh sender. Helper ‘penolong’ membantu memudahkan tugas subjek. Tanda panah dari opposant ‘penentang’ ke subjek artinya bahwa opposant mempunyai kedudukan sebagai penentang dari kerja subjek. Opposant ‘penentang’ mengganggu, menghalangi, menentang, menolak, dan merusak usaha subjek. Tanda panah dari subjek ke objek artinya bahwa subjek bertugas menemukan objek yang dibebankan dari sender.
Skema aktan dalam struktur tertentu dapat menduduki fungsi aktan yang lain, atau suatu aktan dapat berfungsi ganda, bergantung siapa yang menduduki subjek. Fungsi pengirim (sender) dapat menjadi fungsi sebagai penerima (seceiver) sendiri, juga dapat menjadi fungsi subjek. Subjek dapat menjadi fungsi pengirim (sender), fungsi penerima (receiver). Jadi dapat disimpulkan bahwa semua fungsi dapat menduduki peran fungsi lain. Seorang tokoh dapat menduduki fungsi aktan yang berbeda.
Selain mengemukakan diagram aktan, Greimas juga mengemukakan model cerita yang tetap sebagai alur. Model itu tergabung berbagai tindakan yang disebut fungsi. Model yang kemudian disebutnya dengan istilah model fungsional itu dapat dijelaskan sebagai berikut. Rangkaian peristiwa secara fungsional dapat menemukan sebuah alur dalam aktan. Sebuah alur dalam aktan dapat dibentuk dari peristiwa-peristiwa, yang dimaksud peristiwa adalah peralihan dari keadaan satu ke keadaan yang lain, (Jabrohim, 1996:15).
Greimas menyebut model fungsional sebagai suatu jalan cerita yang tidak berubah-ubah. Model fungsional mempunyai tugas menguraikan peran subjek dalam rangka melaksanakan tugas dari sender ‘pengirim’ yang terdapat dalam aktan. Model fungsional terbangun oleh berbagai tindakan, dan fungsi-fungsinya dapat dinyatakan dalam kata benda seperti keberangkatan, hukuman, kematian, dan sebagainya. Model fungsional mempunyai cara kerja yang tetap karena sebuah cerita memang selalu bergerak dari situasi awal kesituasi akhir. Adapun operasi fungsionalnya terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama merupakan situasi awal. Bagian kedua, merupakan tahapan transformasi. Tahapan ini terbagi atas tiga tahapan, yaitu tahap kecakapan, tahap utama, dan tahap kegemilangan. Bagian ketiga merupakan situasi akhir. Jika dibuat bagan, bagian dan tahapan tersebut adalah sebagai berikut.
I
II
III

Tranformasi

Situasi awal
        tahap                 tahap                    tahap
kecakapan            utama             kegemilangan
Situasi
Akhir

Situasi awal merupakan cerita yang diawali adanya karsa atau keinginan untuk mendapatkan sesuatu atau cita-cita yang ingin diraihnay, mencari dan menemukan jalan bagaimana cara mewujudkan cita-citanya, dan memberikan tugas kepada subjek untuk memperoleh hal yang di inginkan, yaitu objek. Dalam situasi awal peran yang paling dominan adalah sender ‘pengirim’. Jabrohim (1996:17)
Tahap tranformasi, meliputi tiga tahap. Pertama, tahap kecakapan merupakan tahap menceritakan awal mulainya usaha subjek dalam mencari objek. Dalam tahap ini muncul halper ‘penolong’ dan opposant ‘penentang’.  Opposant ‘penentang’ muncul untuk tidak menyetujui atau menggagalkan usaha subjek. Sedangkan helper ‘penolong’ datang untuk membantu usaha subjek. Jadi inti tahap ini yaitu menunjukkan kemampuan subjek dalam mencari objek pada awal usahanya. Kedua, tahap utama merupakan tahap menceritakan hasil usaha subjek mencari objek. Subjek berhasil memenangkan perlawanannya terhadap opposant ‘penentang’, berhasil mendapatkan objek. Ketiga, tahap kegemilangan merupakan tahap menceritakan bagaimana subjek menghadapi pahlawan palsu. Pahlawan adalah sebutan bagi subjek yang telah berhasil mendapatkan objek. Situasi akhir merupakan situasi yang menceritakan semua konflik telah berakhir. Situasi kembali ke keadaan yang semula. Keinginan terhadap sesuatu telah berakhir, keseimbangan telah terjadi. Objek telah diperoleh dan diterima oleh receiver ‘penerima’, dan disinilah cerita berakhir.
Mengenai teori Greimas (dalam Jabrohim, 1996:17) mengemukakan bahwa model aktan dan model funsional mempunyai hubungan antar aktan itu ditentukan oleh fungsi-fungsinya dalam membangun struktur  (tertentu) cerita. Jika disederhanakan, antara aktan dan fungsi bersama-sama berhubungan untuk membentuk struktur cerita, yakni cerita utama atau struktur cerita pusat.