Loading...

Sabtu, 06 Juli 2013

PTK BAHASA INDONESIA

Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman dengan Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di SMA Negeri Mojoagung Tahun Pelajaran 2012–2013

HIDAYATULLOH
(bangpek)

Abstrak

Kata Kunci: membaca pemahaman, metode model STAD
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD? (b) Bagaimanakah hasil ketuntasan belajar membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD?
Tujuan dari penelitian tindakan ini adalah (a) Memperoleh deskripsi objektif tentang peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD. (b) Memperoleh deskripsi objektif tentang hasil ketuntasan belajar membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran .
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan pada umumnya sangat cocok untuk meningkatkan kualitas subjek yang hendak diteliti. Oleh karena subjek di dalam penelitian ini adalah berupa kelas, dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran secara berkesinambungan, maka jenis penelitian ini lebih dikenal dengan penelitian tindakan kelas (classroom action research).
Adapun hasil analisis data dalam penelitian ini sebagaimana yang telah dipaparkan pada bab IV, diketahui bahwa nilai rata.rata kelas pada tes siklus I mencapai 51,42, sedangkan pada siklus II mencapai 74,28. Persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus I mencapai 21,43%, sedangkan pada tes siklus II mencapai 85,71%. Untuk persentase pemahaman siswa pada siklus I mencapai 51,42%, sedangkan pada siklus II mencapai 74,28%. untuk lembar observasi aktivitas siswa pada siklus I mencapai 74,30%, sedangkan pada siklus II mencapai 91,66%. Lembar observasi pengelolaan pembelajaran guru pada siklus I mencapai 84,17%, sedangkan pada siklus II mencapai 90,47%. Lembar observasi diskusi kelompok pada siklus I mencapai 54,76%, sedangkan pada siklus II mencapai 90,47%. Dari hasil observasi menunjukkan bahwa 75% dari kriteria keberhasilan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi membaca pemahaman sudah mengalami peningkatan.

A.Pendahuluan
Pengajaran membaca merupakan bagian integral dalam konteks pendidikan. Artinya pengajaran membaca merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari keutuhan pendidikan. Oleh karena itu, pengajaran membaca berkedudukan sebagai alat dan media fungsional dalam pendidikan secara umum secara operasional. Pengajaran membaca merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa. Dalam hal ini pengajaran membaca mempunyai kedudukan ganda, yaitu sebagai alat dan media fungsional dari pengajaran bahasa. (Busri, 2002:1-3)
Pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Beberapa ahli berpendapat bahwa pembelajaran ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para ahli telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar Metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan metode pembelajaran tipe STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa dimana setiap minggu guru menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Selama ini tanpa disadari sistem belajar Bahasa Indonesia dihampir semua sekolah telah menyebabkan kebosanan terhadap suasana belajar dikelas. Dalam arti lingkungan belajar yang semestinya berjalan kondusif berubah menjadi membosankan kaku bahkan kadang menegangkan, baik disebabkan oleh gurunya ataupun siswanya sehingga berimplikasi terhadap penguasaan materi yang disampaikan.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru BI SMA Negeri Mojoagung diperoleh informasi bahwa hasil belajar siswa kelas X - 1 tergolong rendah jika dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya. Ini terlihat dari rendahnya hasil ulangan siswa. Keadaan ini diperparah lagi dengan penggunaan metode pembelajaran yang dipakai guru pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Metode yang dipakai guru dalam mengajar yaitu metode pembelajaran dengan sistem ceramah, dengan didominasinya pembelajaran menggunakan metode ceramah kegiatan belajar mengajar di dalam kelas menjadi pasif hal ini dapat dilihat dari jarangnya peserta didik mengajukan pertanyaan serta anggapan siswa bahwa BI adalah pelajaran yang membosankan dan selalu dianggap mudah. Adanya serangkaian permasalahan di atas menyebabkan kegiatan proses belajar mengajar tidak sesuai dengan yang diharapkan yaitu siswa bisa berpikir kreatif dan mandiri. Dewasa ini muncul berbagai metode pembelajaran sebagai pilihan bagi guru dalam mengajar, sehingga kreatifitas guru dituntut dalam menerapkan metode pembelajaran yang dipilih.
Penelitian ini menjawab rumusan (a) Bagaimanakah peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD? (b) Bagaimanakah hasil ketuntasan belajar membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD?
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran objektif tentang peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa SMA Negeri Mojoagung. Adapun secara khusus penelitian ini bertujuan (a) Memperoleh deskripsi objektif tentang peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD (b) Memperoleh deskripsi objektif tentang hasil ketuntasan belajar membaca pemahaman siswa SMA Negeri Mojoagung dengan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

B.Kajian Teori
Pembelajaran merupakan suatu usaha manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu memfasilitasi belajar orang lain. Secara khusus pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan oleh guru, Instruktur, pembelajar dengan tujuan untuk membantu siswa atau si belajar agar ia belajar dengan mudah. Agar si belajar dapat belajar dengan mudah, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai media yang meliputi buku teks, majalah, surat kabar, dan sebagainya yang kemuudian diidentifikasi sebagai media cetak. Pembelajaran juga dimaksudkan sebagai suatu proses yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan (a goal-directed learning) yang direncanakan lebih dahulu (Romiszoski, 1981) dalam Setyosari(2001:1).
Proses pembelajaran yang melibatkan guru (instruktur), si belajar, dan buku teks ini diidentifikasi sebagai pembelajaran tradisional. Isi atau bahan ajar yang dibelajarkan kepada si belajar terdapat dalam buku teks, dan guru bertanggung jawab untuk mengajarkan isi tersebut kepada si belajar. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran biasanya dilakukan dengan cara meningkatkan guru atau instrukturnya. Yaitu dengan jalan menuntut guru belajar lebih banyak tentang pengetahuan dan metode pembelajaran yang selanjutnya digunakan untuk menyampaikan isi kepada si belajar (dick & Carey, 1985). Lebih jauh kedua pakar tersebut mengemukakan pandangannya tentang proses pembelajaran modern. Mereka menyatakan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematis di mana setiap komponen memiliki arti yang sangat penting untuk keberhasilan belajar. Pandangan tentang proses pembelajaran sebagai sistem inilah yang kemudian mendasari rancangan pembelajaran (instructional design) sebagai sebuah sistem.
Pembelajaran juga merupakan penyampaian berbagai informasi dan aktifitas yang diharapkan untuk memudahkan pencapaian tujuan belajar secara spesifik dan diharapkan. Dengan kata lain, pembelajaran adalah tindak kegiatan (the conduct of activities) yang difokuskan pada hal-hal khusus yang dipelajari oleh si belajar. (Smith dan Ragan, 1993). Walaupun kita tahu bahwa belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran atau dilakukan secara insidental, namun demikian dampak pembelajaran tersebut terhadap belajar sangat bermanfaat dan biasanya mudah diamati. Apabila pembelajaran dirancang untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu (a spesific learning objektive), maka pembelajaran itu mungkin akan lebih berhasil atau lebih efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Pembelajaran dapat diartikan juga sebagai serangkaian peristiwa eksternal yang dirancang yang memilki pengaruh terhadap proses-proses belajar sehingga dapat meningkatkan belajar. Peristiwa-peristiwa yang bersifat eksternal ini bukannya yang menimbulkan belajar, akan tetapi peristiwa-peristiwa ini hanyalah mendukung proses internal dalam diri si belajar (setyosari, 2001:1-3).
1.Pengertian Membaca
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berpikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus (Crawley dan Mountain, 1995).
Tiga istilah sering digunakan untuk memberikan komponen dasar proses membaca, yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengasosiasikannya dengan bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan, sedangakan proses decoding (penyandian) merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Proses recording dan decoding biasanya berlangsung pada kelas-kelas awal, yaitu SMP yang dikenal dengan istilah membaca permulaan. Penekanan membaca pada tahap ini ialah proses perseptual, yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa. Sementara itu proses memahami makna (meaning) lebih ditekankan di kelas-kelas tinggi SMP (Syafi'ie, 1999).
Di samping keterampilan decoding, pembaca juga harus memilki keterampilan memahami makna (meaning). Pemahaman makna berlangsung melalui berbagai tingkat, mulai dari tingkat pemahaman literal sampai kepada pemahaman iterpretatif, kreatif dan evaluatif. Dengan demikian , dapat dikatakan bahwa membaca merupakan gabungan proses perseptual dan kognitif, seperti dikemukakan oleh Crawley dan Mountain(1995).
Klein, dkk.(1996) mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah strategis, (3) membaca merupakan interaktif. Membaca merupakan suatu proses dimaksudkan informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.
Membaca juga merupakan strategis. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca.
Membaca adalah interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks (Rahim, 2008:2-3)
2.Pengertian Membaca Pemahaman
Orang mengartikan membaca secara beragam. Hal ini disebabkan oleh pandangan yang berbeda-beda dari orang-orang tersebut terhadap proses membaca. Donochiaro & Bonomo mengartikan membaca sebagai memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tertulis. Membaca juga diartikan sebagai suatu kemampuan/keterampilan untuk melihat lambang-lambang tertulis serta mengubah lambang-lambang tertulis tersebut melalui fonik (suatu metode pengajaran membaca, ucapan, ejaan, berdasarkan interpetasi fonetik terhadap ejaan biasa) menjadi/menuju membaca lisan (oral reading). Membaca adalah suatu proses untuk memahami yang tersirat dalam yang tersurat, melihat pikiran dalam kata-kata yang terkandung di dalam kata-kata yang tertulis.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan, bahwa membaca dapat dipandang sebagai : (1) Suatu proses, (2) Membaca menggunakan media tulisan, (3) dapat dilisankan atau dibaca dalam hati, dan (4) dengan tujuan utama untuk memperoleh pesan/informasi/makna tertulis (Wahyuni, 2002:2-3).
Keterampilan atau kemampuan membaca pemahaman ditekankan pada sejumlah teori bagaimana memahami bacaan. Dalam memberi level membaca pemahaman, para ahli berbeda-beda istilah. Menurut Edgar Dale, membaca pemahaman digolongkan atas Reading the lines, reading between the lines, dan reading beyond the linnes. Sedangkan Oka, menggolongkan membaca pemahaman menjadi membaca tersurat, membaca tersirat, dan membaca tersorot. Tarigan menggolongkan membaca pemahaman menjadi membaca intensif dan membaca ekstensif. Selain itu ada juga yang menggolongkan membaca pemahaman menjadi membaca eksplist dan implisit.
Apapun penggolongan mereka terhadap membaca pemahaman, namun pada prinsipnya mereka membedakan antara membaca pemahaman yang tampak pada teks, dan membaca pemahaman yang ada dibalik teks. Berikut ini penggolongan level membaca pemahaman dengan menggunakan istilah Russel, Mrtha L King, E.E Sochor, yaitu kemampuan membaca literal, kemampuan membaca kritis, dan kemampuan membaca kreatif (Wahyuni, 2002:29).
3.Prinsip-Prinsip Membaca Pemahaman
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. Menurut McLaughlin & Allen (2002), prinsip-prinsip membaca yang didasarkan pada penelitian yang paling mempengaruhi pemahaman membaca ialah seperti yang dikemukakan berikut ini:
1) Pemahaman Merupakan Proses Konstruktivis Sosial
Teori konstruktivis memandang pemahaman dan penyusunan bahasa sebagai suatu proses membangun. Menurut Cox (1999) anak-anak terus-menerus membangun makna baru pada dasar pengetahuan sebelumnya yang mereka miliki untuk proses komunikasi.
2) Keseimbangan Kemahiraksaraan Adalah Kerangka Kerja Kurikulum yang Membantu Perkembangan Pemahaman.
Keseimbangan kemahiraksaraan merupakan kerangka kerja kurikulum yang memberikan kedudukan yang sama antara membaca dan menulis serta mengenal pentingnya dimensi kognitif dan efektif kemahiraksaraan. Kemahiraksaraan makna membuatnya terlibat dalam proses membaca dan menulis secara penuh, walaupun mengenal pentingnya strategi dan keterampilan yang digunakan oleh pembaca dan penulis yang ahli.
3) Guru Membaca yang Profesional (unggul) Memengaruhi Belajar Siswa
Guru yang unggul sadar apa yang dikerjakan dengan baik dan apa yang dibutuhkan siswa untuk berhasil. Guru yang unggul mengetahui pentingnya setiap siswa memiliki pengalaman kemahiraksaraan. Guru yang ahli ialah guru yang membuat perbedaan pada keberhasilan siswa.
Peranan guru dalam proses membaca, antara lain menciptakan pengalaman yang memperkenalkan, memelihara atau memperluas kemampuan siswa untuk memahami teks. Hal ini mempersyaratkan guru melaksanakan pembelajaran dengan langsung, memodelkan, membantu meningkatkan, memfasilitasi, dan mengikutsertakan dalam pembelajaran.
4) Pembaca yang Baik Memegang Peranan yang Strategis dan Berperan Aktif dalam Proses Membaca.
Dalam paradigma baru, kurikulum menekankan hubungan yang kuat antara kemahiraksaraan dan isi. Siswa belajar pentingnya membaca, menulis, dan berpikir kritis untuk keefektifan belajar mandiri. Mereka belajar bagaimana menggunakan kemahiraksaraan sebagai salah satu alat menemukan dan menguasai isi bacaan. Strategi yang berdasarkan kemahiraksaraan mendukung kurikulum baru dengan menekankan proses belajar, berpikir kritis, dan memonitor diri sendiri.
5) Membaca Hendaknya Terjadi dalam Kontek yang Bermakna
Siswa perlu setiap hari mengakrabi teks dalam berbagai tingkat kesukaran. Ketika tingkat teks yang sedang digunakan guru membantu siswa meningkatkan pengalaman belajar dan siswa menerima berbagai tingkat dukungan, tergantung pada tujuan dan setting pengajaran. Sebagai contoh, apabila teks tersebut merupakan tantangan, guru bisa menggunakan membaca nyaring untuk memberikan dukungan yang penuh pada siswa. Apabila teks itu tepat untuk pembelajaran, siswa mempunyai dukungan seperti yang diperlukan, dengan dorongan guru atau tanggapan apabila dipersyaratkan.
6) Siswa Menemukan Manfaat Membaca yang Berasal dari Berbagai Teks pada Berbagai Tingkat Kelas.
Siswa perlu membaca setiap hari teks dari tingkat yang berbeda. Apabila tingkat teks akan digunakan, guru hendaknya memberikan bantuan untuk meningkatkan dan memperluas pengalaman belajar siswa, seterusnya siswa menerima berbagai tingkat dukungan tergantung pada tujuan dan setting pengajaran. Bertransaksi dengan berbagai jenis materi bacaan akan meningkatkan pemahaman siswa.
7) Perkembangan Kosakata dan Pembelajaran Mempengaruhi Pemahaman Membaca.
Teori konstruktivis sosial memainkan peranan yang penting pada perkembangan kosakata. Menurut Burns, Roe, da Ross (1996) sukar menentukan usia yang tepat untuk belajar makna yang tepat dari kata. Awal pada proses perkembangan bahasa, mereka belajar membedakan antonim, sinonim, makna ganda, definisi abstrak, dan seterusnya. Selain itu, Snow, Griffin & Burns (dalam Mclauhglin & Allen, 2002) mengamati, “Belajar konsep-konsep baru dan kata-kata yang menyandikannya merupakan perkembangan pemahaman yang penting.”
8) Pengikutsertaan adalah Suatu Faktor Kunci pada Proses Pemahaman.
Keterlibatan pembaca bertransaksi dengan cetakan membangun pemahaman bedasarkan pada hubungan antara pengetahuan sebelumnya dengan informasi baru. Tierry (dalam Mclauhglin & Allen, 2002) menggambarkan proses berpikir dan menyarankan menjadi bagian dari cerita dalam pikiran mereka. Guru bisa mempertahankan dan mengembangkannya dengan mendorong siswa membaca untuk tujuan yang jelas dan nyata dan merespons dengan cara-cara yang bermakna, selalu memusatkan pada pemahaman, hubungan pribadi dan tanggapan pembaca.
9) Strategi dan Keterampilan Membaca Bisa Diajarkan
Penelitian terakhir mendemonstrasikan bahwa ketika siswa mengalami strategi pemahaman langsung, stategi tersebut meningkatkan pemahaman teks tentang topik baru. Pertanyaan-pertanyaan pemahaman sering timbul pada tingkat pemahaman literal, ditugaskan dan kemudian dikoreksi, pemahaman dinilai tetapi tidak diajarkan (Hubert dkk,1998). Mengaitkan keterampilan dan strategi-strategi bisa mempermudah siswa memahami strategi pemahaman yang umunya lebih kompleks dari keterampilan pemahaman.

10) Asesmen yang Dinamis Menginformasikan Pembelajaran Membaca Pemahaman.
Asesmen merupakan koleksi data, seperti nilai tes dan catatan-catatan informal untuk mengukur hasil belajar siswa, sedangkan evaluasi adalah interpretasi dan analisis dari data. Menilai kemajuan siswa penting karena memungkinkan guru menemukan kelebihan dan kekurangan, merencanakan pengajaran dengan tepat, mengomunkasikan kemajuan siswa kepada orang tua, dan untuk mengevaluasi keefektifan strategi mengajar.
C. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian tindakan pada umumnya sangat cocok untuk meningkatkan kualitas subjek yang hendak diteliti. Oleh karena subjek di dalam penelitian ini adalah berupa kelas, dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran secara berkesinambungan, maka jenis penelitian ini lebih dikenal dengan penelitian tindakan kelas (classroom action research).
D. Hasil Peneitian
Dari hasil observasi, refleksi dan analisis data, maka hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut.
1) Penerapan Metode Kooperatif Tipe STAD
Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD materi membaca pemahaman khususnnya pemahaman kalimat dan paragraf dalam teks wacana dalam penelitian ini didasarkan pada siklus intruksi kegiatan regular STAD yang dikemukakan oleh Slavin (2008:151) yaitu, presentasi kelas, belajar tim, tes (kuis), dan rekognisi tim. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II.
Pada pelaksanaan tindakan siklus I, guru memberikan pembelajaran materi membaca pemahaman dengan metode kooperatif tipe STAD. Dari hasil observasi dan refleksi pada sikulus I, diperoleh informasi bahwa aktivitas siswa masih belum maksimal mereka masih kesulitan dalam beradaptasi dengan anggota kelompok untuk menyelesaikan masalah dan masih tergantung pada guru. Selain itu pada LKS, soal yang diberikan dalam diskusi kelompok terlalu banyak dan petunjuk penyelesaian belum begitu dikenal siswa, sehingga alokasi waktu banyak digunakan untuk menyelesaikan soal pada LKS tersebut. Dengan kata lain, penerapan kooperatif tipe STAD pada pelaksanaan tindakan I ini masih belum maksimal dan terdapat banyak kekurangan-kekurangan, maka guru akan memperbaikinya pada tahap pelaksanaan tindakan II.
Pada pelaksanaan tindakan II, guru meneruskan dengan materi yang tetap sama dan metode yang sama pula. Pada tindakan II, siswa sudah dapat beradaptasi dan belajar bersama dalam kelompokya. Kerja sama siswa dalam kelompok mulai terlihat, siswa yang telah menguasai materi membantu anggota kelompoknya yang belum menguasai materi. Begitu juga siswa yang belum menguasai materi sudah tidak malu dan ragu-ragu untuk bertanya meminta penjelasan kepada temannya dalam satu kelompok yang sudah memahami materi. Kondisi ini menunjukkan bahwa ada interaksi positif dalam kelompok yaitu saling membantu dalam memahami materi, saling mengasihi dan saling tenggang rasa. Hal ini sesuai dengan pendapat Abdurrahman dan Bintaro (dlm Nurhadi,dkk.2004:6). Mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata.
Pada siklus II ini, penerapan dengan metode koopertaif tipe STAD sudah berjalan maksimal dan sudah sesuai dengan yang diharapkan. Guru dapat mengkondisikan kelas dengan baik dan dapat memperkirakan waktu, selain itu siswa sudah dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompok. Jika dilihat dari hasil observasi, refleksi maupun analisis data, dapat diketahui bahwa penerapan dengan metode kooperatif tipe STAD siklus I mengalami peningkatan pada siklus ke II. Peningkatan tersebut dapat dilihat baik pada aktivitas siswa maupun pada aktivitas guru, aktivitas siswa yang mengalami peningkatan salah satunya yaitu kerjasama yang baik dalam kelompok.
2) Respon Siswa Selama Pembelajaran Berlangsung
Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari empat tahap pembelajaran yaitu, presentasi kelas, diskusi kelompok, tes (kuis), dan penghargaan kelompok. Pada presentasi kelas, ketika guru menjelaskan antusias siswa sangat baik dalam memperhatikan penjelasan guru, karena pembelajaran seperti ini merupakan hal yang baru bagi siswa dan belum pernah dipraktikkan di kelas mereka.
Ketika belajar kelompok semua siswa kelihatan bersemangat dalam mengerjakan tugas yang diberikan kepada mereka. Siswa berdiskusi secara aktif, saling bekerja sama dan ada rasa tanggungjawab untuk bekerja sebaik mungkin dalam mengerjakan tugas mereka. Siswa kelihatan termotivasi agar kelompok mereka memperoleh hasil yang baik. Kemudian pada saat tes, mereka sangat serius dalam mengerjakan soal yang diberikan. Apalagi ketika penghargaan kelompok akan diumumkan, rasa penasaran begitu tampak dari prilaku mereka. Mereka sangat senang apabila kelompok mereka mendapat predikat kelompok super karena disini peneliti akan memberikan hadiah pada kelompok yang mendapat predikat super.
3) Peningkatan Pemahaman Kalimat dan Paragraf Siswa Melalui Metode Kooperatif Tipe STAD
Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh informasi bahwa pemahaman siswa terhadap indikator-indikator materi pemahaman kalimat dan pemahaman paragraf sudah mengalami peningkatan. Adapun peningkatan pemahaman setiap indikator dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

No Indikator Siklus I Siklus II Peningkatan Pemahaman Siswa
1 Pemahaman Kalimat 53.57% 80,71 27,14%
2 Pemahaman Paragraf 49,28% 67,85% 18,57%

Berdasarkan tabel 4.11 di atas dapat diamati bahwa pemahaman siswa mengalami peningkatan dari siklus I kesiklus II. Pemahaman siswa terhadap indikator ini didapatkan dari hasil jawaban soal tes akhir siklus. Melalui jawaban ini pula dapat diketahui bagaimana siswa dapat memahami maksud soal, menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman belajar siswa tersebut diarenakan penerapan metode kooperatif tipe STAD.
4)Ketuntasan Belajar
Dari hasil analisis data, diperoleh persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I yaitu 21,43% dan pada siklus II yaitu 85,71% berarti bahwa persentase ketuntasan belajar siswa telah mengalami peningkatan. Pada siklus II, persentase ketuntasan belajar siswa sudah mencapai KKM yang digunakan guru BI SMA Negeri Mojoagung, yaitu 75% siswa mencapai skor tes ≥ 65 (skala 1-100) dan rata-rata kelas mencapai skor ≥ 65 (skala 1-100).
Ketuntasan belajar siswa tersebut dikarenakan, penerapan metode kooperatif tipe STAD merupakan metode pembelajaran yang dirancang dalam bentuk belajar kelompok. Dengan belajar kelompok siswa diharapakan dapat lebih aktif dan dapat saling bekerja sama dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi. Sesuai dengan pendapat Nurhadi dkk (2004:47), pada umumnya hasil kerja kelompok lebih baik dari pada kerja secara individual yang aktif, bukan individu yang pasif.
E.Penutup
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan metode kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan pemahaman kalimat dan pemahaman paragraf dilakukan dalam empat tahapan, yaitu: presentasi kelas, kerja kelompok, tes (kuis) dan rekognisi tim.
a. Tahap presentasi kelas
Pada tahap presentasi kelas guru menjelaskan materi membaca pemahaman dengan menekankan pada unit STAD. Dengan penekanan ini, siswa akan benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas.
b. Tahap kerja kelompok
Sebelum tahap ini dilaksanakan, guru terlebih dahulu membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat atau lima siswa secara heterogen. Pada tahap ini siswa bekerja dan berdiskusi untuk membahas dan menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Dalam kerja kelompok siswa mempunyai tanggungjawab untuk memastikan bahwa teman satu tim telah mempelajari dan memahami materinya.

c.Tahap tes (kuis)
Tes atau kuis dilaksanakan sekitar satu atau dua periode setelah presentasi kelas dan kerja kelompok. Tes digunakan untuk mengetahui penguasaan siswa secara individual terhadap materi yang telah dipelajari. Hasil tes akan menjadi poin peningkatan individu yang kemudian diberikan sebagai penentu predikat kelompok
d.Tahap rekognisi kelompok
Rekognisi kelompok merupakan penghargaan atas keberhasilan kelompok. Penghargaan diberikan setelah masing-masing kelompok memperoleh predikat kelompok sesuai kriteria dalam STAD yaitu kelompok cukup baik, baik, sangat baik, dan kelompok super.
Adapun hasil analisis data dalam penelitian ini sebagaimana yang telah dipaparkan pada bab IV, diketahui bahwa nilai rata.rata kelas pada tes siklus I mencapai 51,42, sedangkan pada siklus II mencapai 74,28. Persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus I mencapai 21,43%, sedangkan pada tes siklus II mencapai 85,71%. Untuk persentase pemahaman siswa pada siklus I mencapai 51,42%, sedangkan pada siklus II mencapai 74,28%. untuk lembar observasi aktivitas siswa pada siklus I mencapai 74,30%, sedangkan pada siklus II mencapai 91,66%. Lembar observasi pengelolaan pembelajaran guru pada siklus I mencapai 84,17%, sedangkan pada siklus II mencapai 90,47%. Lembar observasi diskusi kelompok pada siklus I mencapai 54,76%, sedangkan pada siklus II mencapai 90,47%. Dari hasil observasi menunjukkan bahwa 75% dari kriteria keberhasilan. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap materi membaca pemahaman sudah mengalami peningkatan.
Dari uraian di atas dapat disimpulakan bahwa penerapan metode kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan membaca pemahaman siswa kelas XII SMA Negeri Mojoagung Tahun Pelajaran 2012/ 2013.

DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys. 1984. Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Jakarta : Nusa Indah.
Ramlan, M. 1986. Sintaksis. Yogyakarta : CV. Karyono
Moleong, J Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.

Wahyuni, Sri. 2010. Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Malang Unisma

Setyosari, Punaji. 2001. Rancangan Pembelajaran Teori dan Praktek. Malang: Elang Mas

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Nurhadi dan Senduk. 2005. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: UM
Rahim, Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara

Andayani, Sutrisni. 2007. Penerapan Kooperatif Teknik “STAD” Dalam Pembelajaran Matematika, (Online), (http:/journal.FKIP Universitas Muhammadiyah Metro.html, diakses 23 Mei 2013).

Surianta, Made. 2008. Penerapan Model Pemebelajaran Kooperatif Type STAD Deangan Media VCD, (Online), ( http:/journal. Diakses 23 Mei 2013).




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar