Loading...

Kamis, 04 Oktober 2012

PRAGMATIK FORMATIF

A. Pendahuluan
Bahasa selalu terkait dengan komunikasi karena bahasa merupakan alat komunikasi. Menurut Gorys Keraf (1989:16) bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat, berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Secara umum peristiwa komunikasi bahasa itu dapat dibedakan sebagai berikut: (1) penyampaian fakta, yaitu peristiwa menyampaikan apa yang diserap oleh panca indra apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dicium, apa yang diucap, dan apa yang diraba, (2) penyampaian gagasan yaitu penyampaian pendapat, komentar (tanggapan), kesimpulan, masalah (persoalan), pemecahan masalah, pesan, dan sebagainya. Sudiarti dan Widyamartaya (Setiawan, 2005:1)
Sebagai anggota masyarakat, manusia selalu menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, hubungan manusia dengan bahasa sangat erat dalam pertumbuhan dan perkembangan. Bahasa senantiasa bersama dengan pertumbuhan dan perkembangan peradaban budaya manusia. Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari bahasa. Menurut Samsuri (1980:5), pengertian yang demikian dapat dikatakan mengenai kehidupan manusia; aku berbahasa, karena aku hidup. Kegunaan bahasa yang paling mendasar adalah untuk berkomunikasi, yaitu sebagai alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia. Dengan demikian, komunikasi merupakan suatu alat yang dapat memungkinkan terjadinya suatu sistem sosial atau masyarakat. Nababan (Setiawan, 2005:2).
Jadi, tanpa komunikasi tidak ada masyarakat. Manusia menggunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi sehingga memungkinkan terbentuknya suatu sistem sosial atau masyarakat. Tanpa bahasa tidak ada sistem kemasyarakatan dan akan lenyaplah kemanusiaan.
Pada dasarnya kegiatan bertutur selalu hadir dalam kehidupan bermasyarakat baik pada saat bersama teman, anggota keluarga, maupun bersama¬-sama dengan orang lain. Kegiatan bertutur merupakan salah satu ciri yang menandai kehidupan bermasyarakat, menumbuhkan peradaban, dan kebudayaan. Kegiatan bertutur dalam kehidupan ini mempunyai maksud dan tujuan. Untuk mencapai tujuan tutur, kegiatan bertutur membutuhkan bahasa. Dalam hal ini bahasa mempunyai peranan penting karena satu-satunya bahan untuk bertutur.

B. Pengertian tindak tutur
Tindak tutur (speech act) merupakan unsur pragmatik yang melibatkan pembicara pendengar atau penulis serta yang dibicarakan. Seorang kritikus sastra mempertimbangkan teori tindak tutur untuk menjelaskan teks yang halus (sulit) atau untuk memahami alam genre (jenis) sastra, pada antropolog akan berkepentingan dengan teori tindak tutur ini dapat mempertimbangkan mantra magis dan ritual, para filosof melihat juga adanya. Aplikasi potensial diantara berbagai hal, status pernyataan etis, sedangkan linguist (ahli bahasa) melihat gagasan teori tindak tutur sebagai teori yang dapat diterapkan pada berbagai masalah di dalam kalimat (sintaksis), semantik, pragmatik tindak tutur tetap merupakan praduga dengan implikator khusus. (Setiawan, 2005:16).
Tindak bahasa atau tindak tutur adalah bagian dari peristiwa tutur (speech event) yang merupakan fenomena aktual dalam situasi tutur. Implikatur percakapan hakikatnya merupakan konsep yang sangat penting dalam pragmatik. Implikatur percakapan menunjuk pada maksud dari sesuatu ucapan. Dengan implikatur percakapan ini kita dapat membedakan apa yang diucapkan dan apa yang diimplikasikan oleh ucapan itu. Praanggapan adalah kondisi yang dipakai sebagai dasar untuk memilih dan menentukan bentuk bahasa bagi pemakai bahasa (penutur) dan bagi penanggap tutur sebagai dasar untuk memaknai tuturan yang dihasilkan oleh lawan tutur. (Suyono,1990:4)
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah suatu tindakan bertutur yang memiliki maksud tertentu yang dapat diungkapkan secara eksplisit maupun implisit. Tindak tutur yang memiliki maksud tertentu tersebut tidak dapat dipisahkan dari konsep situasi tutur. Konsep tersebut memperjelas pengertian tindak tutur sebagai suatu tindakan yang menghasilkan tuturan sebagai produk tindak tutur.
Geoffrey Leech (Wijana, 1996:10) mengemukakan sejumlah aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka study pragmatik. Aspek-aspek itu sebagai berikut:
1. Penutur dan lawan tutur
Konsep penutur dan lawan tutur juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.
2. Konteks tuturan
Konteks tuturan penelitian linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau setting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Konteks yang bersifat fisik lazim disebut koteks (cotext), sedangkan konteks seting sosial disebut konteks. Di dalam pragmatik konteks itu pada hakikatnya adalah semua latar belakang pengetahuan (back-ground knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur.
3. Tujuan tuturan
Bentuk-bentuk tuturan yang dituturkan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertenu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama. Dalam pragmatik berbicara merupakan aktivitas yang berorientasi pada tujuan (goal oriented activities). Bentuk-bentuk tuturan Pagi, selamat pagi, dan Mat pagi digunakan untuk menyatakan maksud yang sama, yakni menyapa lawan bicara (teman, guru, kolega dan sebagainya). Selain itu, selamat pagi dengan berbagai variasinya bila diucapkan dengan nada tertentu, dan situasinya yang berbeda-beda dapat pula digunakan untuk mengejek guru yang terlambat masuk kelas, atau kolega (sahabat) yang terlambat datang kepertemuan. Jadi, ada perbedaan yang mendasar antara pandangan pragmatik yang bersifat fungsional dengan pandangan gramatika yang bersifat formal.
4. Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Bila gramatika menangani unsur-unsur kebahasaan sebagai entitas yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik. Pragmatik berhubungan dengan tindak verbal (verb act) yang terjadi dalam situasi tertentu. Dalam hubungan ini pragmatik menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih kongkret dibanding dengan tata bahasa. Tuturan sebagai entitas yang kongkret jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaraannya.
5. Tuturan sebagai produk tindak verbal
Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dan tindak tutur. Oleh karena itu, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Sebagai contoh kalimat Apakah rambutmu tidak terlalu panjang? Dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan atau perintah. Dalam hubungan tersebut dapat ditegaskan ada perbedaan mendasar antara kalimat (sentence) dengan tuturan (utturance).

C. Jenis Tindak Tutur
Pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari berupa tindakan bertutur tidak terbatas jumlahnya karena setiap hari seseorang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan berkomunikasi sehingga tindakan bertutur selalu digunakan untuk menyampaikan gagasan atau pesan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Demikian para ahli dapat mengklasifikasikan tindak tutur tersebut dalam berbagai jenis tindak tutur yang dikelompokkan berdasarkan jenis tuturannya, kategori, modus dan sudut pandang kelayakan pelakunya. Beberapa ahli yang mengklasifikasikan tindak tutur antara lain John L Austin (1962), John R. Searle (1969), dan Dewa Putu Wijana (1996). Teori-teori yang telah dikembangkan oleh para ahli.
D. Tindak Tutur Konstantif dan Performatif
John L Austin (1962) mengklasifikasikan tindak tutur yang bermodus deklaratif menjadi dua, yaitu tindak tutur konstantif dan performatif.
a. Tindak Tutur Konstatif
Tindak tutur konstantif adalah tuturan yang menyatakan sesuatu yang dapat diuji kebenarannya dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance) merupakan tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa, proses, keadaan, dsb. dan sifatnya betul atau tidak betul (Kridalaksana, 1984: 2001)., atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan), 1993: 316).
A constative is an utterance which assert something that is either true or false; for example, Chicago is in the United States (Richards dkk., 1989: 212-213).
Misalnya:
1. Ali pergi ke Jakarta
2. Saya tidur di hotel.
Tuturan tersebut merupakan tuturan konstantif karena kebenaran tuturan tersebut dapat diterima berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh mitra tutur yang mendengarkannya.

b.Tindak Tutur Performatif
Tuturan performatif, menurut John L Austin adalah tuturan yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu. Tuturan atau ujaran performatif dalam Kamus Linguistik (1993:221) adalah ujaran yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga.
Artikel ini mengacu pada teori tindak tutur menurut Searle (1965). Dia adalah seorang murid yang mengkritik klasifikasi tindak tutur yang dibuat gurunya yang bernama Austin. Menurutnya, dalam klasifikasi Austin terdapat hal yang membingungkan antara verba dan tindakan, terlalu banyak tumpang tindih dalam kategori, terlalu banyak heterogenitas dalam kategori, dan yang penting adalah tidak adanya prinsip klasifikasi yang konsisten. Untuk itu, Searle kemudian mengajukan klasifikasi baru. Dengan kata lain Searle membagi tindak tutur dengan menggunakan klasifikasi yang berbeda dari Austin. Tindak Tutur diklasifikasikan oleh Searle (1969) menjadi lima kelompok yaitu deklarasi, representatif, ekspresif, direktif dan komisif dalam George Yule 1996: 53-55).
1.Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan. Tuturan dengan maksud menyatakan, menuntut, mengakui, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan, memberikan kesaksian, berspekulasi, dsb termasuk ke dalam tuturan representatif.
2.Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu, seperti memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak, memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang termasuk tindak tutur direktif.
3.Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, dan menyanjung termasuk tindak tutur direktif
4.Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya. Termasuk tuturan komisif antara lain: berjanji, bersumpah, mengancam, menyatakan kesanggupan, dsb.
5.Deklaratif/establisif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dsb) yang baru. Tuturan dengan maksud mengesahkan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengijinkan, mengabulkan, mengangkat, menggolongkan, memaafkan, termasuk ke dalam tindak tutur deklaratif.

Salah seorang murid John L Austin, John R Searle memperluas syarat-syarat validitas tindak tutur yang diajukan oleh gurunya. Menurut John R Searle (Nadar, 2009:13) tuturan performatif harus mematuhi 5 syarat berikut ini;
1.penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh terhadap apa yang dijanjikannya. Sebagai contoh tuturan Saya berjanji akan memberimu sebagian keuntungan yang kita dapat, dapat menjadi tuturan performatif bila penutur benar-benar berniat untuk memberikan sebagian keuntungan kepada lawan tu¬turnya.
2. penutur harus berkeyakinan bahwa lawan tutur percaya ba¬hwa tindakan itu benar-benar akan dilaksanakan. Saya ber¬janji bahwa saya akan menyelesaikan skripsi saya dalam lima hari. Tuturan ini bukan merupakan tindak performatif bila di¬utarakan oleh penutur yang belum memulai menulis skripsi karena ia tidak mungkin dapat meyakinkan lawan tuturnya, dalam hal tersebut tuturan penutur kepada pembimbing, bahwasanya ia akan mampu melaksanakan apa yang dijanjikan.
3.penutur harus berkeyakinan bahwa ia mampu melaksanakan tindakan itu. Tuturan Saya berjanji akan membelikan anda sebuah Toyota kijang, misalnya tidak akan menjadi tuturan per¬formatif bila diutarakan oleh seorang peminta-minta karena dia tidak mampu melaksanakan apa yang diucapkan. Tuturan tersebut, bila diutarakan oleh jutawan, kalimat itu mungkin merupakan tindakan performatif sepanjang penutur mengucapkannya secara tulus.
4.Penutur harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan (future action), bukannya tindakan-tindakan yang sudah di¬lakukan. Tuturan Saya akan ke rumahmu adalah tuturan per¬formatif, tetapi tuturan Tadi pagi saya mengikuti upacara bendera bukan tindakan performatif karena yang pertama mempredikasi tindakan yang akan dilakukan (akan kerumah¬mu), sedangkan yang kedua mempredikasi tindakan yang sudah dilakukan (tadi pagi)
5.Penutur harus mempredikasi tindakan yang dilakukannya sendiri, bukan tindakan yang dilakukan oleh orang lain. Tu¬turan Saya berjanji akan datang dipesta pernikahanmu adalah tuturan performatif karena tuturan yang akan datang adalah penutur sehingga ia memiliki kemungkinan untuk melaksanakan tindakan tersebut. Sebaliknya, tuturan Ibu akan menyelesaikan kebaya anda minggu ini tuturan tersebut bukan tuturan performatif karena yang akan menyelesaikan pekerjaan menjahit kebaya bukan penutur, tetapi ibunya.
E.Konsep-konsep tindak tutur
Konsep adalah penjabaran teori. Teori tindak tutur telah dijabarkan oleh para ahli linguistik di antaranya John R Searle (Wijana, 1996:17) menyatakan bahwa secara pragmatis, setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur dalam melakukan tindak tutur yakni tindak tutur lokusi, tindak ilokusi dan tindak perlokusi.
Pendapat John R Searle (Wijana, 1996:17) tersebut agak berbeda dengan pendapatnya sendiri (Subaktyo-Nababan) yang mengistilahkan tindak lokusi dengan istilah propotional atau tindak proposisi. Pada akhirnya diperoleh keseragaman pendapat John R Searle dan para ahli bahasa lainnya bahwa tindak bahasa proposis lebih tepat disebut tindak lokusi, bahkan John R Searle pada akhirnya menggunakan istilah lokusi untuk menyebut tindakan bahasa proposisi, karena proposisi mengandung maksud pernyataan yang dapat dibuktikan di dalamnya. Gorys keraf (Setiawan, 2005:17) Pengertian proposisi tersebut agak berbeda dengan pengertian lokusi sehingga John R Searle sendiri pada akhirnya cenderung memilih menyebut tindak lokusi.
Menurut John L Austin (Lubis, 1994:9) mengatakan bahwa analitis dapat dipisahkan tiga tindak bahasa yang terjadi secara stimulant atau serempak, yakni : locutionary act (tindak lokusi), illocutionary act (tindak ilokusi) dan perlocutionary act (tindak perlokusi}. Terjadi secara simultan mengandung pengertian bahwa tindak bahasa dimungkinkan terjadi ketiga tindak bahasa tersebut secara bersama. Tindak lokusi kadang-kadang memiliki daya ilokusi bahkan perlokusi. Penentuan jenis tindak ujar ditentukan dari daya yang lebih dominan yang dihasilkan oleh suatu ujaran (Wijana, 1996:18).
Beberapa penjabaran tentang konsep tindak tutur ditarik suatu simpulan bahwa dalam tindak tutur terdapat tiga bentuk tindakan yang dapat terjadi secara simultan yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi dan tindak perlokusi.
a. Tindak Lokusi
Dewa Putu Wijana (1996:18) menyatakan bahwa tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini disebut The Act of Saying Something.
Konsep lokusi adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri atas dua unsur, yakni subyek atau topik dan predikat atau comment yang relatif paling mudah untuk diidentifikasikan karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tertuturnya tercakup dalam situasi tutur.
Geoffrey Leech (Setiawan, 2005:19) memberikan rumus tindak lokusi. Bahwa tindak tutur lokusi berarti penutur menuturkan kepada mitra tutur bahwa kata-kata yang diucapkan dengan suatu makna dan acuan tertentu.
Batasan tindak lokusi dapat disimpulkan bahwa tindak lokusi hanya berupa tindakan menyatakan sesuatu dalam arti yang sebenarnya tanpat disertai unsur nilai dan efek terhadap mitra tuturnya. Berdasarkan hal tersebut maka tindak lokusi terbagi menjadi tiga tipe, yaitu :
1. naratif;
2. deskriptif;
3. informatif.
b.Tindak Ilokusi
Hasan Lubis (1994:8) memberikan definisi lebih rinci dengan beberapa batasan mengenai tindak ilokusi yaitu pengucapan suatu pernyataan, tawaran, janji, pertanyaan, permintaan maaf dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan.
Subyakto-Nababan (Setiawan, 2005:22) menambahkan bahwa tindak ilokusi adalah tindak bahasa yang diidentifikasikan dengan kalimat pelaku yang eksplisit: Tindak ilokusi merupakan tekanan atau kekuatan kehendak orang lain yang terungkap dengan kata-kata kerja : menyuruh, memaksa, mendikte kepada dan sebagainya.
Bach dun Harnish (Ibrahim, 1993:15-44) menyatakan bahwa dalam klarifikasi tindak ilokusi dapat dibagi menajdi 4 golongan besar yaitu :
1.konstatif;
2.direktif;
3.komisif;
4.acknowledgment.
c.Tindak Perlokusi
Sebuah tuturan yang diucapkan seseorang seringkali memiliki daya pengaruh (perlocutionary force) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau pengaruh tersebut dapat secara sengaja dikreasikan oleh penuturya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksud untuk mempengaruhi lawan tutur disebut tindak perlokusi. Tindakan ini disebut dengan tindakan perlokusi. Tindakan ini disebut the act of offecting someone (Wijana, 1996:20).
“Subyakto-Nababan (Setiawan, 2005:22-25) memberikan definisi mengenai tindak perlokusi, yakni tindak bahasa yang dilakukan sebagai akibat atau efek dari suatu ucapan orang lain. Tindak perlokusi merupakan suatu tindakan yang non linguistic tetapi suatu akibat atau efek dari tindak-tindak lokusi dan ilokusi.
Guntur Tarigan (1986:109) memberikan batasan yang jelas mengenai tindak bahasa perlokusi yaitu : dengan mengatakan X, penutur meyakinkan mitra tutur bahwa P.
Beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa tindak tutur perlokusi adalah suatu tindak bahasa yang bersifat meyakinkan serta menimbulkan efek tertentu bagi mitra tutur.
Tindak lokusi dan tindak ilokusi juga dapat masuk dalam kategori tindak perlokusi apabila memiliki daya perlokusi yang kuat. Yaitu mampu menimbulkan efek tertentu bagi mitra tutur.
Beberapa verba tindak ujar yang membentuk tindak perlokusi, dipisahkan dalam tiga bagian besar, yakni;
1.mendorong mitra tutur mempelajari bahwa : menyakinkan, menipu, memperdayakan, membohongi, menganjurkan, membesarkan hati, menjengkelkan, mengganggu, mendongkolkan, menakuti, memikat, menawan, menggelikan hati.
2.membuat mitra tutur melakukan, mengilhami, mempengaruhi, mencamkan, mengalihkan, mengganggu, membingungkan.
3.Membuat mitra tutur memikirkan tentang: mengurangi, ketegangan, memalukan, mempersukar, menarik perhatian, menjemukan, membosankan.
Menurut John L Austin yang disederhanakan oleh John R Searle, tindak tutur dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok Levinson (Suyono, 1990:5) yaitu sebagai berikut. Pertama, tindak represantif, yaitu tindak yang menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya. Termasuk dalam tindak ini misalnya tindakan me¬ngemukakan, menjelaskan, menyatakan, dan menunjuk.
Contoh:
Dalam suatu percakapan:
(1) A : ”Buku itu bukan milik saya.”
B : ”Lalu milik siapa ?"
A : ”"Saya tidak tahu.”

Percakapan singkat tersebut jelas bahwa A menyatakan atau men-jelaskan bahwa buku itu bukan miliknya dan A mengemukakan pula bahwa ia tidak tahu siapa sebenarnya yang memiliki buku itu.
Kedua, tindak komisif, yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu misalnya bersumpah, dan berjanji.
Contoh .
(2) A:“Saya berjanji tidak akan menyebarluaskan masalah itu kepada orang lain, percayalah !”
B:“Baik kalau begitu saya akan menceritakannya ke¬padamu.”

Percakapan tersebut menunjukkan bahwa A melakukan tindak tutur berjanji kepada B untuk tidak menyebarluaskan masalah tertentu, yang A ingin ketahui.
Ketiga, tindak direktif, yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong penanggap tutur melakukan sesuatu, misalnya meng¬usulkan, memohon, mendesak, menentang, memerintah dan sejenisnya. Pokoknya, yang bisa “memerintah” lawan tutur melakukan sesuatu tindakan baik verbal maupun non-verbal.
Contoh :
(3) A:“Saya haus sekali, tolong ambilkan air minum !”
B:“Apa dikira saya ini pembantumu ?"
(Walaupun begitu, B beranjak mengambil air juga).

Pada contoh tersebut terlihat A melakukan tindak tutur yang me¬nyebabkan B melakukan sesuatu, 'mengambilkan air minum'. Untuk mewujudkan tindak tutur direktif secara maksimal, Fraser menyodorkan strategi dasar yaitu penyentuhan perasaan lawan bicara terhadap hal-hal yang menyangkut tanggung jawab moral (moral obligation), saling membutuhkan (mutual cooperation), kesehatan atau keselamatan (well-being), rasa bangga atau harga diri (pride), kaitan status diri (lack of status), rasa gentar atau khawatir (fear). Dengan sentuhan-sentuhan tersebut dapatlah terwujud tindak tutur direktif yang efektif.
Keempat, tindak ekspresif, yaitu tindak tutur yang me¬nyangkut perasaan dan sikap. Tindak tutur tersebut misal berupa tindakan meminta maaf, berterima kasih, mengadukan, menyam¬paikan, ucapan selamat, mengeritik, memberikan penghargaan, memuji, menyatakan belasungkawa, menyalahkan, dan lain-lain. Tindak ekspresif berfungsi untuk mengekspresikan dan meng¬ungkapkan sikap psikologis pembicara terhadap lawan bicara.
Contoh :

(4) A:”Mengapa Anda belum menyerahkan tugas,?".
B:”Maaf Pak, tugas itu memang belum selesai saya kerjakan”.
A:”Kapan akan Anda serahkan ?”
B:”Insya Allah hari Kamis Pak.”


Dalam penggalan percakapan tersebut terdapat adanya tindak tutur meminta maaf, sebagai salah satu contoh tindak ekspresif.
Kelima, tindak deklaratif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk memantapkan atau membenarkan sesuatu tindak tutur sebelumnya. Tindak deklaratif ini dinyatakan dengan setuju, tidak setuju, benar, dan lain-lain.
Contoh:

(5) A :”Menurut saya, belajar bahasa di samping dipengaruhi oleh bakat bahasa dipengaruhi juga oleh lingkungan.
Setujukah Anda dengan pendapat saya ini ?"
B :”Ya, saya setuju dan dapat menerima pendapat saudara.”

F. Tindak Tutur Langsung
Tindak tutur langsung adalah tuturan yang sesuai dengan modus kalimatnya, misalnya kalimat berita untuk memberitakan, kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, ataupun memohon, kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu. Tuturan-tuturan “Ali mempunyai rumah bagus “Di manakah letak kota Yogyakarta?”, “Kirimkan surat ini segera” merupakan contoh tindak tutur langsung.Tuturan pada tindak tutur, langsung di atas berbeda dengan tuturan tindak tutur tidak langsung. Nadar ( 2009:18)

G. Tindak Tutur Tidak Langsung
Menurut John R Searle (Nadar, 2009:18) tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang berbeda dengan modus kalimatnya, maka maksud dari tindak tutur tidak langsung dapat beragam dan tergantung pada konteksnya. Tuturan "Di mana jaketku?” apabila dituturkan oleh seorang Ibu rumah tangga kepada pembantunya mengandung tujuan menyuruh untuk mengambilkan atau mencarikan jaketnya. Tuturan seorang ibu "Banyak tikus lho" kepada pembantu mungkin berarti perintah agar makanan¬-makanan yang tidak diperlukan lagi jangan dibiarkan di meja makan, sebaiknya di simpan di almari makan. Tuturan I want you to do it "Saya ingin Anda melakukan hal ini' bukanlah semata-mata sebuah pernyataan tetapi suatu permohonan kepada seseorang. Tindak tutur tidak langsung ini mempunyai kedudukan yang amat penting dalam kajian tentang tindak tutur, karena sebagian besar tuturan memang disampaikan tidak langsung.
Tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung, sejumlah tutur mempunyai tuturan yang sesuai dan tidak sesuai dengan kata-kata yang menyususnnya. Kalau saja seseorang telah makan tiga piring nasi dengan lauknya kemudian orang tersebut mengatakan “Saya kenyang” maka dapat dikatakan orang tersebut benar-benar bermaksud mengatakan demikian. Tindak tutur demikian disebut tindak tutur literal. Dewa Putu Wijana (1996:32) menjelaskan bahwa tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya, sedangkan tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya.

PENUTUP
Tindak tutur merupakan aktivitas menuturkan atau mengujarkan tuturan dengan maksud tertentu (Rustono 1999: 33). Tuturan performatif adalah tuturan yang di dalam mengutarakan ujaran seseorang yang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. Tuturan konstatif disebut juga tuturan deskriptif (constative utterance), tuturan yang digunakan untuk menggambarkan suatu peristiwa, proses, keadaan, dan sebagainya


DAFTAR RUJUKAN

Harimurti Kridalaksana. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Leech, Geoffrey. (Terjemahan M.D.D. Oka). 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta:Universitas Indonesia

Tarigan, Henry Guntur. 1994. Pengajaran Pragmatik. Bandung : Angkasa.

Wijana, Dewa Putu. 1996. Dasar- Dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta

www.dessywardiah.blogspot.com/2010/11/situasi-tutur-tindak-tutur-tuturan_1665.html

Yule, George. 1996. Pracmatics. Oxford: Oxford University Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar