Loading...

Senin, 20 Februari 2012

LIRIK LAGU LIR-ILIR: SEBUAH KAJIAN SEMANTIK

LIRIK LAGU LIR-ILIR: SEBUAH KAJIAN SEMANTIK
Hidayatulloh
Mahasiswa Pascasarjana Bahasa Indonesia UNISMA

Abstrak.Penelitian ini dilandasi oleh pemikiran bahwa lirik lagu merupakan karya sastra yang menggunakan bahasa sebagai medium dan mencerminkan kehidupan masyarakat. Obyek penelitian ini adalah lirik lagu yang berjudul Lir-ilir, lirik lagu ini sangat terkenal dan sudah berumur ratusan tahun, dinyanyikan di berbagai kalangan, pernah juga dinyayikan oleh Cak Nun bersama Kiai Kanjeng dalam album Menyorong Rembulan. Bahasa yang terdapat dalam lagu ini tentunya memiliki makna yang perlu diungkap guna mendapat pemahaman terhadapnya. Artikel ini berupa deskripsi dari hasil analisis terhadap lagu Lir-ilir menggunakan pendekatan semantik.
Kata-kata Kunci: lirik lagu Lir-ilir, semantik

Bahasa sebagai milik masyarakat tersimpan dalam diri setiap individu dapat bertingkah laku dalam wujud bahasa dan tingkah laku bahasa individu ini dapat berpengaruh luas pada anggota masyarakat yang lain. Manusia sehingga makhluk sosial dalam berinteraksi tidak bisa lepas dari komunikasi antar manusia yang satu dengan yang lain, sebagai alat komunikasi, bahasa mampu mewakili pesan yang diterima oleh penerima tutur tidak akan sempurna bila tidak ada respon dari orang lain. Dengan memahami fikiran, perasaan dan gagasan orang lain.
Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pesan atau informasi dari satu individu kepada individu lain, baik itu secara lisan maupun tulisan. Pernyataan tersebut sangat benar, satu orang pun tidak ada yang akan membantah dengan pernyataan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari hampir semua aktifitas kita menggunakan bahasa, baik menggunakan bahasa lisan, bahasa tulisan maupun bahasa tubuh.
Sumarsono (2007:13) mengemukakan masyarakat itu terdiri dari individu-individu, secara keseluruhan individu saling mempengaruhi dan saling bergantung, maka bahasa yang sebagai milik masyarakat juga tersimpan dalam diri masing-masing individu. Setiap individu dapat bertingkah laku dalam wujud bahasa, dan tingkah laku bahasa individual dapat berpengaruh luas pada anggota masyarakat bahasa lain. Oleh karena itu, individu tetap terikat pada aturan permainan yang berlaku bagi semua anggota masyarakat. Bahasa berfungsi ditengah masyarakat dan berupaya menjelaskan kemampuan manusia menggunakan aturan-aturan berbahasa secara tepat dalam situasi-situasi yang bervariasi. Manusia merupakan makhluk sosial, melakukan interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi yang berupa bahasa.
Bahasa merupakan faktor penting untuk menentukan lancar tidaknya suatu komunikasi. Ketepatan berbahasa tidak hanya berupa ketepatan memilih kata, merangkai kalimat dan juga ketepatan melihat situasi. Artinya seorang pemakai bahasa selalu harus tahu bagaimana menggunakan kalimat yang baik, benar dan harus melihat dalam situasi apa dia berbicara, kapan dia berbicara, dimana dia berbicara, dengan siapa dia berbicara dan untuk tujuan apa dia berbicara.
Penelitian terhadap suatu bahasa memilki ranah yang luas untuk memperoleh kejelasan dalam penelitian ini maka perlu diketahui bahwa penelitian ini memilih salah satu sub disiplin struktur bahasa, yaitu semantik. Dalam cabang ilmu bahasa semantik merupakan ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makna yang berada di luar gramatikal bahasa yang berbeda dengan morfologi dan sintaksis yang berada pada tataran gramatika bahasa. Cakupan semantik sangat luas mencakup semua tataran bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, paragraf maupun wacana. Dengan demikian, semantik adalah ilmu makna, membicarakan makna bahasa (Pateda, 2010:9).
Semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna, baik itu makna leksikal maupun makna gramatikal (Verhaar, 2006:13). Dijelaskan bahwa semantik sebagai ilmu yang mempelajari tentang makna atau arti yang ada pada tatabahasa morfologi, sintaksis maupun leksikon. Semantik dibagi dua antara lain, semantik gramatikal dan semantik leksikal. Oleh karena itu makna gramatikal, makna fungsional, makna struktural, atau makna internal. Makna yang muncul dikarenakan akibat berfungsinya suatu kata dalam kalimat sedangkan makna leksikal yaitu, makna suatu kata terdapat dalam kata yang berdiri sendiri.
Pateda (2010:65) berpendapat bahwa semantik merupakan disiplin linguistik yang membahas secara mendalam tentang sistem makna. Melalui objek makna semantik dapat dikaji melalui banyak segi penggunaan teori yang berbeda aliran dalam linguistik. Jadi dengan semantik kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan makna, bagaimanakah wujud makna, apakah jenis makna, apa saja yang berhubungan dengan makna, apakah komponen makna, apakah makna berubah, mengapa makna berubah, apakah setiap kata hanya memiliki satu makna atau lebih, bagaimanakah agar kita mudah memahami sebuah kata, semuanya dapat ditelusuri melalui disiplin ilmu yang disebut dengan semantik.
Berkaitan dengan objek dalam analsis ini perlu dijelaskan tentang lirik lagu yang berhubungan dengan karya sastra . Bentuk karya sastra sangat beragam, karya sastra dapat berbentuk tulisan seperti puisi, prosa, cerpen dan novel. Kaitannya dengan bentuk, karya sastra juga berhubungan dengan karya seni kadang karya seni menginspirasi karya sastra dan sebaliknya karya sastra melengkapi karya seni seperti drama, lagu-lagu dan teater. Sastra dalam lirik dan drama sering memakai musik. Sastra juga bisa dijadikan tema seni lukis atau seni musik terutama pada seni tarik suara dan musik (Wellek & Warren, 1995:160).
Peneliti dalam penelitian ini menggunakan objek lirik lagu Lir-ilir. Lirik lagu termasuk dalam genre sastra karena lirik lagu adalah karya sastra utama dari puisi yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian (Nyoman, 2009:425). Oleh karena itu lirik sama dengan puisi namun disajikan dengan nyanyian yang diiringi oleh musik dan termasuk dalam genre sastra imajinatif.
Setiap lagu pasti mempunyai tujuan tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat sebagai pendengarnya. Lirik lagu berisi barisan kata-kata yang dirangkai secara baik dengan gaya bahasa yang menarik oleh komposer dan dibawakan dengan suara merdu supaya dapat dinikmati oleh para pendengar dengan baik. Lirik lagu terbentuk dari bahasa yang dihasilkan dari komunikasi antara pencipta lagu dengan masyarakat penikmat lagu sebagai wacana tulis karena disampaikan dengan media tulis pada sampul albumnya dapat juga sebagai wacana lisan melalui kaset. Lirik lagu merupakan ekspresi seseorang dari dalam batinnya tentang sesuatu hal baik yang sudah dilihat, didengar maupun dialami.

Lirik Lagu Lir-ilir
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Terjemah Lirik Lagu Lir-ilir
Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Makna Asosiatif dalam Lirik Lagu Lir-Ilir
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dapat dipaparkan penjelasan mengenai makna asosiatif dalam lirik lagu Lir-ilir. Berikut deskripsi hasil analisis makna asosiatif yang terdapat dalam lirik lagu Lir-ilir.
Sayup-sayup bangun (tidur)
Pohon sudah mulai bersemi,
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Berdasarkan data di atas dapat ditemukan kata bangun (tidur) yang bermakna baru bangun dari tidur, kata bangun memiliki asosiasi memulai suatu kegiatan, mengawali hari baru, merencanakan sesuatu dan menciptakan sesuatu yang lebih baik. Dari beberapa asosiasi dapat ditarik kesimpulan bahwa kata bangun memilki kiasan yang mengarah pada sebuah hal baru yang baru lahir dan mulai hidup dan berkembang. Pada baris kedua terdapat kata pohon sebagai kelanjutan dari baris pertama kata pohon berarti tanaman dalam hal ini tidak hidup dengan sendirinya melainkan ada proses penanaman , jenis tanaman juga bermacam-macam dan penanam berharap tanamannya berbuah dan melihat hasilnya , kata pohon memiliki makna kiasan dapat diasosiasiakan dengan hal baik, bermanfaat, dapat tumbuh dan berkembang. Arti lebih dalam terhadap kata bangun (tidur) dan pohon menunjukkan adanya sebuah usaha menanamkan kebaikan (agama) sehingga tumbuh dan berkembang dalam masyarkat.
Baris ketiga lirik di atas melanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang pohon yang sudah menghijau tampak indah, segar dipandang layaknya pengantin baru kata pohon dan pengantin baru merupakan kata yang bermakna kias. Arti dari kata menghijau dan pengantin baru secara mendalam dapat diartikan sebuah keadaan yang menyenangkan yaitu tanaman yang ditanam telah dengan baik dan subur sehingga menimbulkan perasaan bahagia bagi penanam kebahagian sungguh menyenangkan. Ilmu (agama) dan pelajaran tentang kebaikan telah di dapat dan menunjukkan manfaatnya sehingga manusia menjadi lebik baik dalam bertindak dan melangkah.
Kata anak gembala dan pohon belimbing yang terdapat dalam baris keempat lirik lagu di atas juga termasuk kata yang bermakan kias, anak gembala bermakna anak yang merawat binatang ternak, dan pohon belimbing bermakna nama sebuah pohon yang memilki bernama buah belimbing yang berasa asam manis segar dimakan dan bisa digunakan untuk membersihkan sesuatu yang lengket kata majemuk tersebut memiliki makna lain selain makna sebenarnya serta memiliki maksud yang berbeda jika diasosiasikan dengan keadaan lain. Kata anak yang bergabung dengan kata gembala memiliki pengertian bahwa pekerjaan anak atau seseorang itu adalah menggembala, merawat, mengatur, melayani, menjaga. Sedangkan pohon belimbing berasosiai dengan pepohonan yang berbuah dan memilki banyak manfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Arti kata anak gembala dan pohon belimbing secara mendalam dapat diartikan sifat merawat, melayani , mengatur dengan baik terus dilakukan setelah mendapatkan ilmu (agama) dan pelajran tentnag kebaikan dan berusaha untuk tersu meningkatkan sampai puncak meskipun harus melangkah perlahan sehingga kelak mencapai hasil yang diinginkan.
Baris kelima dalam bait di atas terdapat kata licin dan pakaian. Kata licin dapat dimaknakan sulit, susah, karena dilanjutkan kata panjatlah bermakna menaiki sesuatu yang tinggi dan dilakukan dengan tenaga yang besar berbeda degan kata naik atau terbang, memanjat lebih pelan, berhati-hati dan dilakukan secara perlahan sampai pada tujuan yang diharapkan yakni buah belimbing. Arti kata licin dan pakaian bila diartikan secara mendalam akan berhubungan dengan kalimat sebelumnya, yakni uasaha untuk terus memperbaiki diri memang tidak mudah, banyak godaan, tetapi harus terus ditingkatkan sampai dapat memetik hasil dari kebaikannya sehingga dapt digunakan untuk memperbaiki kekurangan diri bahkan orang lain.
Kata pakaian bemakna kain atau sesuatu yang digunakan untuk menutupi tubuh. Dalam lagu ini kata pakaian termasuk kata yang bermakna kias maksud dari kata pakaian bukanlah baju, kemeja, kaos, jaket atau jenis yang lain. Arti kata pakaian jika dipahami secara mendalam akan memilki arti akhlak, perilaku baik terhadap diri sendiri, sesama manusia dan kepada Tuhan.
Baris ketujuh dalam bait diatas tedapat kata nanti sore yang bermakna waktu menjelang malam. Dalam lirik lagu ini kata nanti sore memiliki makna kias, waktu sore dapat diasosiaikan dengan waktu akhir, pergantian masa, pergantian generasi, menjelang mati. Arti kata nanti sore berarti masa akhir dari kehidupan yakni kematian menuju alam yang berbeda, dengan membawa bekal kebaikanyang sudah dilakukan dan terus ditingkatkan.
Kata rembulan pada baris kedelapan bait diatas juga termasuk kata yang bermakna kias, rembulan bermakna benda langit yang muncul pada malam hari dan bercahaya kekuningan karena pantulan dari cahaya matahari. Dalam kalimat di atas kata rembulan memilki asosiasi cahaya, indah, menerangi bumi pada malam hari.Arti kata rembulan secara mendalam dapat diartikan sebuah anugerah karena telah mencapai waktu malam yang indah yakni kematian yang khusnul khotimah dan diakhirat memperoleh balasan kebaikan dan berhasil menjalan kehidupan dengan baik sehingga bergembira.
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa dalam lirik lagu yang berjudul Lir-ilir menggunakan makna kiasan dalam meyampaikan pesan dan amanat. Adapun kata yang bermakna kias dalam lirik lagu Lir-ilir adalah kata bangun (tidur), Pohon, menghijau, pengantin baru, Anak penggembala, pohon blimbing , licin, panjatlah, pakaian, nanti sore, rembulan.

Makna Stilistik dalam Lirik Lagu Lir-ilir
Rangkaian kata dan kalimat dalam bait lirik lagu lir-ilir berbentuk simile, perumpamaan dan epos yang panjang. Berupa rangakian cerita perjalan suatu kegiatan dari awal bangun tidur sampai pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara bertingkat seperti dalam baris ke empat dan kelimat sampai mencapai sebuah klimaks yang ditandai dengan ajakan bersorak.
Maksud dari cerita yang disampaikan secara ringkas, padat tersebut membuat lirik lagu ini sarat makna stlistika, metafora-metafora dapat ditemukan seperti yang terdapat dalam uraian di atas pada makna kias, sesungguhnya merupakan perumpamaan-perumpamaan, yang memiliki muatan stilistik.

Makna Afektif dalam Lirik Lagi Lir-ilir
Makna afektif makna yang muncul akibat reaksi pendengar atua pembaca terhadap penggunaan bahasa, setelah mendengar lirik lagu ini dinyanyikan maka akan dirasakan makna afektif diantaranya, ajakan pengarang kepada pendengar untuk memperbaiki diri dengan cara merubah sikap, perilaku yang kurang atau tidak baik menjadi perilaku yang baik seperti yang tersirat dalam kalimat Pakaian-pakaian yang koyak (buruk) disisihkan Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore. Pembaca atau pedengar secara sadar atau tidak sadar akan merasa diperingatkan untuk berusaha memperbaiki diri dalam kegiatan sehari-hari sampai pada akhir dari kehidupan yaitu mati yang disebut dalam kalimat itu nanti sore.

Makna kolokatif dalam Lirik Lagu Lir-ilir
Makna kolokatif wujud dalam kata-kata yang digunakan pengarang untuk menunjukkan suatu lingkungan yang digambarkan pengarang. Kata-kata yang terdpat dalam lirk lagu Lir-ilir lebih banyak behunungan dengan kehidupan manusia secara pribadi dan universal. Sepeti kata pengantin, penggembala, bersorak, panjat, jahit kata-kata tersebut memberikan gambaran umum yang berhubungan dengan kegiatan manusia secara pribadi dan secara universal dalam mencapai kehidupan yang lebih baik.
Sasaran penciptaan lirik lagu ini bukan ditujukan pada suatu ruang khusus, artinya tidak hanya ditujukan sebagai kritik terhadap pejabat atau penguasa pada suatu masa, keadaan di suatu tempat, sebagian golongan manusia, mungkin gender atau status social, tetapi lebih luas, lirik lagu ini ditujukan kepada setiap pribadi secara universal hubungan dirinya dengan dirinya sendiri dan Tuhan. Namun secara khusus sebenarnya dutujukan kepada masyarakat jawa karena lirik lagu ini pada asalnya menggunkan bahasa Jawa.

Makna konotatif dalam lirik lagu Lir-ilir
Makna konotatif berupa makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar leksikalnya. Lirik lagu lir-ilir ini penuh dengan makna konotatif, hampir dalam setiap barisnya merupakan acuan terhadap makna lain diluar leksikalnya, seperti yang dijelaskan pada bagian awal tentanag makna asosiasi beberapa kata menjadi acuan meskipun ada kemiripan namun terdapat perbedaan antara makna kias dan konotatif. Berikut uraian tentang makna konotatif dalam lirik lagu Lir-ilir.
Pohon sudah mulai bersemi
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru

Kata dan kalimat dalam kutipan di atas tidak sekedar bermakna bahwa sebuah pohon atau sejenis pohon sedang bersemi, tetapi hanya sebgai acuan dari masuknya sebuah ajaran pegangan hiudp yakni ajaran agama Islam. Ajaran yang sangat baik dan mulai berkembang pesat di tanah Jawa pada saat lirik lagu ini diciptakan sekitar abad 14.

Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,
walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan


Kata-kata anak gembala, pohon blimbing, licin, pakaian, tidak pula sekedar bermakna denotatif. Anak gembala bermakna secara luas seorang manusia yang memiliki kemampuan menggembala (memimpin, memanajemen, mengatur) dirinya sendiri amupun orang lain. Hendaklah menunaikan ajaran syariat Islam dengan sabar dan berusaha secara terus menerus seperti pada kalimat panjatkan pohon blimbing itu. Walupun licin panjatlah.kemudian setelah mampu menjalani syariat itu diharapkan dapat menghapus dosa-dosa, keburukan-keburukan yang telah dilakukan yang dijelaskan dalam kutipan berikut.
untuk mencuci pakaian,
pakain-pakaian yang sobek (buruk) disisihkan.
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Apabila terdapat keburukan, kejelekan dalam diri maka hendkanya segera
dibenahi, dengan cara meningkatkan ibadah dan perbuatan baik.

Mumpung terang rembulannya
Mumpung banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
Sebelum habis waktu untuk memperbaiki diri dan keadaan masih baik karena masih ada guru yang mengajarkan dan menjelaskan . sebaiknya manusia segera bersyukur dan bersuka hati dalam menjalankan syariat Islam sehingga kelak akan mendapatkan kebaikan.

Penutup
Bedasarkan analisis terhadap lagu Lir-ilir dengan pendekatan semantik khususnya jenis semantik asosiatif dapat disimpulkan bahwa dalam lirik lagu Lir-ilir terdapat makna kias, makna konotatif, makna kolokatif, makna afektif. Makna kias terdapat dalam kata-kata bangun (tidur), Pohon, menghijau, pengantin baru, Anak penggembala, pohon blimbing , licin, panjatlah, pakaian, nanti sore, rembulan. Makna stilistik berupa metafora-metafora yang juga berfungsi sebagai makna kias dan memperindah bunyi. Secara utuh lirik lagu ini berupa epos simile, sebuah cerita dalam perumpamaan.makna afetktif berupa ajakan, peringatan untuk berperilaku baik, menjalankan syariat agama Islam secara bertahap sampai pada tingakat yang membawa manusia dalam kebahgiaan. Makna konotatif hampir terdapat dalam setiap baris lirikm lagu Lir-ilir, kata-kata maupun kalimatnya merupakan acuan dari luar leksikalnya. Yang menceritakan tentang ajaran hidup sebagai pegangan dalam mencapai kebahagiaan.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: PT Rineka Cipta
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika Kajian Puitika, Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sumarsono. 2007. Pengantar Semantik. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Verhaar. 2006. Asas-asas Linguistik Umum. Yogjakarta. Gajah Mada University Pres.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

3 komentar:

  1. bang... coba dianalisis memakai nilai religiusnya.... biar nilai agamanya tersampaikan.....

    BalasHapus
  2. diatas ada kutipan dari pateda. boleh tau ga bang bukunya pateda judulnya apa?

    BalasHapus
  3. Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta : Rineka cipta

    kreasi@ ok makasih sarannya

    BalasHapus