Loading...

Senin, 30 Januari 2012

PEMBELAJARAN SASTRA ANAK MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

Hidayatulloh,S.Pd
Abstrak: Karya sastra anak yang merupakan jenis bacaan cerita anak-anak merupakan bentuk karya sastra yang ditulis untuk konsumsi anak-anak. Sebagaimana karya sastra pada umumnya, bacaan sastra anak-anak merupakan hasil kreasi imajinatif yang mampu menggambarkan dunia rekaan, menghadirkan pemahaman dan pengalaman keindahan tertentu. Nilai yang terkandung dalam karya sastra dapat berupa ajaran-ajaran moral bagi pembaca khususnya anak dalam kaitanya dengan sastra anak, nilai-nilai tersebut secara ekplisit akan dapat mengubah karakter anak apalagi dalam proses pembelajran seorang pengajar mempersiapkan tema yang memiliki nilai-nilai yang mampu membangkitkan dan membangun karakter anak.

Kata-kata kunci: pembelajaran, sastra anak, karkater bangsa

Sastra anak di Indonesia tergolong tertinggal, menurut Trimansyah (dalam Sugihastuti, 2009:72) sastra anak Indonesia terasa terhenti dan jauh tertinggal, sastra Indonesia hampir tidak digubris jika tidak dipertahankan oleh orang-orang pemerhati sastra anak. Keadaan yang demikian perlu ditelaah kenapa sastra anak Indonesia demikian? Apakah sastra anak Indonesia kurang berbobot atau kurang memberi manfaat bagi anak-anak Indonesia? sehingga kurang dikem-
bangkan baik dalam pendidikan formal maupun informal. Di sekolah dasar dapat dilihat kekosongan aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan sastra, apresiasi sastra anak, penciptaan karya sastra anak oleh anak-anak yang menjadikan minimnya referensi atau kepustakaan sastra anak.
Berhubungan dengan masalah-masalahdi atas ada baiknya dibahas dalam pendahuluan ini, pengajaran dan pembelajaran sastra di sekolah dasar diarahkan terutama pada proses pemberian pengalaman bersastra. Siswa diajak untuk mengenal bentuk dan isi sebuah karya sastra melalui kegiatan mengenal dan mengakrabi cipta sastra sehingga tumbuh pemahaman dan sikap meng-
hargai cipta sastra sebagai suatu karya yang indah dan bermakna.
Karya sastra anak yang merupakan jenis bacaan cerita anak-anak berupa bentuk karya sastra yang ditulis untuk konsumsi anak-anak. Sebagaimana karya sastra pada umumnya, bacaan sastra anak-anak merupakan hasil kreasi imajinatif yang mampu menggambarkan dunia rekaan, menghadirkan pemahaman dan pengalaman keindahan tertentu. Anak usia pada jenjang kelas rendah sebagai pembaca sastra telah mampu menghubungkan dunia pengalamannya dengan dunia rekaan yang tergambarkan dalam cerita. Hubungan interaktif antara pengalaman dengan pengetahuan kebahasaan merupakan kunci awal dalam memahami dan menikmati bacaan cerita anak-anak. Bacaan tersebut ditinjau dari cara penulisan, bahasa, dan isinya juga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan readiness anak.
1. Pengertian Sastra Anak-Anak
Secara konseptual, sastra anak adalah sastra yang dibaca anak-anak “dengan bimbingan dan pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat sedang penulisannya dapat dilakukan oleh oleh orang dewasa (Sarumpaet, 2010:2). Sastra untuk anak dan untuk orang dewasa sama berada pada wilayah sastra yang meliputi kehidupan dengan segala perasaan, pikiran dan wawasan kehidupan. Yang membedakannya hanyalah dalam hal fokus pemberian gambaran kehidupan yang bermakna bagi anak yang diurai dalam karya tersebut. Selain itu, format tampilan juga dapat menjadi karakteristik sastra anak seperti bentuk buku segitiga, bundar, buah-buahan, penuh gambar dan ilustrasi-ilustrasi yang menambah variasi pada sastra anak.
Sastra (dalam sastra anak-anak) adalah bentuk kreasi imajinatif dengan paparan bahasa tertentu yang menggambarkan dunia rekaan, meng-
hadirkan pemahaman dan pengalaman tertentu, dan mengandung nilai estetika tertentu yang bisa dibuat oleh orang dewasa ataupun anak-anak. Apakah sastra anak merupakan sastra yang ditulis oleh orang dewasa yang ditujukan untuk anak-anak atau sastra yang ditulis anak-anak untuk kalangan mereka sendiri tidaklah perlu dipersoalkan. Siapapun yang menulis sastra anak-anak tidak perlu dipermasalahkan asalkan dalam penggambarannya ditekankan pada kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka. Sastra anak-anak lebih mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak melalui pandangan anak-anak. Namun demikian, dalam kenyataannya, nilai kebermaknaan bagi anak-anak itu terkadang dilihat dan diukur dari perspektif orang dewasa.
2. Manfaat Sastra Anak-Anak
Sebagai sebuah karya, sastra anak-anak menjanjikan sesuatu bagi pembacanya yaitu nilai yang terkandung di dalamnya yang dikemas secara intrinsik maupun ekstrinsik. Oleh karena itu, kedudukan sastra anak menjadi penting bagi perkembangan anak. Sebuah karya dengan penggunaan bahasa yang efektif akan membuahkan pengalaman estetik bagi anak. Penggunaan bahasa yang imajinatif dapat menghasilkan responsi-responsi intelektual dan emosional dimana anak akan merasakan dan menghayati peran tokoh dan konflik yang ditimbulkannya, juga membantu mereka menghayati keindahan, keajaiban,kelucuan, kesedihan dan ketidakadilan. Anak-anak akan merasakan bagaimana memikul penderitaan dan mengambil resiko, juga akan ditantang untuk memimpikan berbagai mimpi serta merenungkan dan mengemukakan berbagai masalah mengenai dirinya sendiri, orang lain dan dunia sekitarnya (Huck dalam Noor, 2011:48).
Pengalaman bersastra akan diperoleh anak manfa`t yang dikandung sebuah karya sastra lewat unsur intrinsik di dalamnya yakni; (1) memberi kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan bagi anak-anak, (2) mengem-
bangkan imajinasi anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, kehidupan, pengalaman atau gagasan dengan berbagai cara, (3) memberikan pengalaman baru yang seolah dirasakan dan dialaminya sendiri, (4) mengembangkan wawasan kehidupan anak menjadi perilaku kemanusiaan, (5) menyajikan dan memperkenalkan anak terhadap penga-
laman universal dan (6) mendekatkan anak dengan orangtua (Noor, 2011:51-56)
Selain nilai instrinsik sastra anak juga bernilai secara ekstrinsik yang bermanfaat untuk perkembangan anak terutama dalam hal (1) perkem-
bangan bahasa, (2) perkembangan kognitif, (3) perkembangan kepribadian, dan (4) perkembangan sosial. Sastra yang terwujud untuk anak-anak selain ditujukan untuk mengembangkan imajinasi, fantasi dan daya kognisi yang akan mengarahkan anak pada pemunculan daya kreativitas juga bertujuan mengarahkan anak pada pemahaman yang baik tentang alam dan lingkungan serta pengenalan pada perasaan dan pikiran tentang diri sendiri maupun orang lain.
3. Ragam Sastra Anak-Anak
Sastra anak-anak yang menunjukkan kepada anak sebagian kecil dunianya merupakan satu alat bagi anak untuk memahami dunia kecil yang belum diketahuinya. Sastra anak dapat dijadikan sebagi alat untuk memperoleh gambaran dan kekuatan dalam memandang dan merasakan serta menghadapi realitas kehidupan; dalam menghadapi dirinya dan semua yang ada di luar dirinya. Dunia anak-anak yang berkisar antara masa kanak-kanak yang tumbuh menuju ke masa remaja, diantara keluarga dan teman sebaya yang penuh dengan pengalaman pribadi membawa warna baru dalam dunia sastra anak-anak khususnya pada cerita realistik.
Cerita realistik sebagai salah satu jenis sastra anak-anak merupakan cerita yang sarat dengan isi yang mengarahkan pada proses pemahaman dan pengenalan. Isi yang dimaksud tergambar dalam inti pokok tema-tema cerita yang diungkap. Tema-tema tersebut dapat dibagi dalam beberapa jenis; tema keluarga, hidup dengan orang lain (berteman dan penerimaan oleh teman bermain), tumbuh dewasa, mengatasi masalah-masalah manusiawi dan hidup dalam masyarakat majemuk yang memuat perbedaan individu dan kelompok. Masalah keluarga merupakan tema yang sangat dekat dengan kehidupan anak. Dalam keluarga, pribadi anak dilatih, mereka tumbuh seiring dengan pemahamannya akan cinta dan benci, takut dan berani, serta suka dan sedih.
Cerita yang memusatkan pada hubungan keluarga yang hangat, terbuka, dan tanpa rasa marah akan membantu anak memahami dirinya.Banyak anak yang khawatir dengan “penerimaan” (acceptance) ini. Tetapi melalui kegiatan membaca atau menyimak cerita dengan tema di atas mereka akan menjadi lebih baik. Berikut rincian jenis-jenis karya sastra anak.
a. Dongeng
Di dalam pembicaraan sehari-hari, dongeng merupakan suatu cerita yang hidup dikalangan rakyat yang disajikan dengan cara bertutur lisan. Pada mulanya dongeng berkaita dengan kepercayaan masyarakat yang berkebu-
dayaan primitif. Berdasarkan isinya dongeng digolongkan atas beberapa jenis, yaitu legenda, fabel, dan cerita rakyat.
Contoh : Cerita Dewi Sri yang dikisahkan sang dewi menolak diperistri oleh Batara Guru. Dewi Sri meninggal. Ketika dimakamkan dari jenazahnya tumbuh pohon padi, dari kepala, tumbuh pohon kelapa, dari giginya tumbuh pohon agung.
(1) Fabel
Fabel sering digunakan untuk pendidikan moral. Kebanyakan fabel menggunakan tokoh-tokoh binatang. Disamping itu, fabel yang meng-
gunakan tokoh. Tokoh binatang, ada yang menggunakan manusia atau benda mati sebagai tokoh. Kesusastraaan Indonesia cukup kaya dengan cerita binatang ini, misalnya cerita sikancil yang memiliki perilaku yang cerdik, jenaka, lincah, dsb. Yang amat popular di masyarakat Indonesia.
Contoh : Cerita sikancil dengan kura-kura, dia memiliki akal yang cerdik yang dapat melabui kura-kura.
(2) Legenda
Istilah legenda dari kata “legend” (inggris).. Legenda adalah cerita yang isinya tentang asal usul suatu daerah, tentang asal usul suatu tempat.
Contoh : legenda yang sudah tidak asing lagi yaitu cerita si Malin Kundang Legenda ini menggambarkan keadaan anak yang durhaka kepada orang tuanya. Si Malin Kundang yang dikutuk oleh ibunya sendiri menjadi batu.
(3) Cerita Rakyat
Cerita rakyat merupakan cerita yang alurnya mirip dengan legenda, yang mengungkap penyelesaian masalah secara baik dan adil. Setiap kebudayaan memiliki cerita rakyat. Cerita rakyat digunakan untuk mene-
rangkan suatu masyarakat, sejarah, dan gejala alam.
Contoh : Seperti cerita rakyat Kebokicak Karang Kejambon sebuah cerita yang dikenal luas di daerah Jombang, sebagian besar masyarakat mempercayai bahwa cerita ini berhubungan dengan asal usul nama kabupaten Jombang.
b. Puisi
Puisi merupakan nyanyian tanpa notasi. Puisi merupakan bentuk karya satra yang paling imajinatif dan mendalam mengenai alam sekitar, cinta, kasih sayang, perjuangan, Puisi memiliki irama yang indah, ringkas, dantepat.
Contoh :
Adikku
Adikku ingin kupeluk kamu
Bersama bobok dipangkuan ibu
Aku ingat tangan kecilmu
Meraba-raba
Adikku aku rindu kamu
Karya Hidaytulloh
c. Drama
Drama dalam kaitannya dengan pembelajaran di kelas rendah, berarti yang sesuai dengan karakteristik usia anak. Sehubungan dengan itu, kegiatan drama bagi anak-anak harus merupakan angkah rekreasi, senilai dengan kegiatan bermain kelereng, laying-layang, sekolah, rumah-rumahan, bermain boneka. Jadi drama tidak seperti yang dipentaskan oleh orang dewasa. Namun dalam hal ini drama merupakan sarana untuk menarik minat, melatih, atau mengenalkan dasar-dasar tentang drama. Jadi drama di kelas rendah masih merupakan permainan.
4. Membangun Karkater Bangsa Melalui Sastra Anak
a. Nilai-nilai Karakter Bangsa
Pengertian karakter dan pendidikan karakter yang dimaksud dalam artikel ini bahwa karakter adalah perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/ konsitusi, adat istiadat, dan estetika (Kemendiknas, 2011:245) sesuai dengan rincian yang terdapat dalam peraturan undang untuk SK/KD diseluruh Mapel tingkat sekolah dasar sebagai berikut: religiuitas, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreativitas, kemandirian, demokrasi, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, senang membaca, peduli social, peduli lingkungan, tangung jawab.
Nilai-nilai tersebut merupakan implementasi dari peraturan UU nomor 20/2003 tentang sitem pendidikan Nasional, Inpres nomor 1/2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional menyatakan/ menghendaki memerintahkan pengembangan karakter peserta didik melalui pendidikan di sekolah.
Semua nilai-nilai karakter tersebut selain disisipkan dalam setiap pelajaran, melalui pembelajaran sastra semua karakter itu dapat diajarkan baik secara langsung maupun secara eksplisit, seperti nilai religius dan moral dapat disisipkan dalam pembelajaran membaca cerita, menulis puisi bahkan bermain drama. Begitu juga dengan karakter-karakter lain seperti semangat kebangsaan, cinta tanah air dapat diajarkan melalui pembelajaran sastra pada materi menulis puisi yang memiliki muatan tentang cinta tanah air atau semangat kebangsaan.
b. Pembelajaran Sastra dan Karakter Bangsa
Sastra anak dapat menunjang perkembangan bahasa, kognitif, personalitas, dan sosial anak-anak (Noor, 2011:38) dalam pengertian lebih luas berarti sastra anak mengandung nilai edukatif sebagai “panduan” dalam memasuki kompleksitas kejiwaan manusia, hubungan antarpribadi dan masyarakat, hingga alam semesta dan Tuhan. Seraya menghibur, sastra menawarkan pathos, nilai kearifan, kedalaman perenungan, dan menjadi semacam model-model perilaku yang dikandungnya.
Melalui karya sastra, manusia berpeluang melakukan objektivikasi penghayatannya secara mendalam; menjadi tempat diproyeksikannya pengalaman psikis manusia. Dengan demikian, pembaca akan terbimbing kepekaan nuraninya untuk mengukuhi nilai keluhuran dan kemuliaan budi dalam hidup, serta berusaha menghindari perilaku yang bisa menodai citra keharmonisan hidup di tengah komunitas dan paguyuban sosialnya.
Menghadapi era global yang serba kompetitif dan berdaya saing tinggi, institusi pendidikan diharapkan benar-benar mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai pusat pendidikan nilai yang tidak hanya berbasiskan ranah kognitif-psikomotorik an-sich, tetapi juga ranah afektif yang berorientasi pada pembentukan watak dan kepribadian siswa didik. Dengan demikian, keluaran pendidikan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial, sehingga kelak mampu bersaing di tengah-tengah arus global secara arif, matang, dan dewasa.
Dalam konteks demikian, pengajaran apresiasi sastra memiliki kontribusi penting dalam upaya melahirkan generasi yang cerdas dan bermoral seperti yang diharapkan. Ini artinya, mau atau tidak, institusi pendidikan harus memosisikan diri menjadi “benteng” utama apresiasi sastra melalui pengajaran yang dikelola secara tepat, serius, dan optimal
Karya sastra bisa menjadi medium yang strategis untuk mewujudkan tujuan mulia yang dimaksud dalam perencanaaan pembangunan karakter melalui pendidikan . Melalui karya sastra, anak-anak sejak dini bisa melakukan olah rasa, olah batin, dan olah budi secara intens sehingga secara tidak langsung anak-anak memiliki perilaku dan kebiasaan positif melalui proses apresiasi dan berkreasi melalui karya sastra. Melalui karya sastra, anak-anak akan mendapatkan pengalaman baru dan unik yang belum tentu bisa mereka dapatkan dalam kehidupan nyata. pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik sehingga siswa didik menjadi paham (ranah kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (ranah afektif) nilai yang baik, dan mau melakukannya (ranah psikomotor).
Pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada pembentukan karakter bangsa itu dapat diwujudkan melalui pengoptimalan peran sastra. Untuk membentuk karakter bangsa ini, sastra diperlakukan sebagai salah satu media atau sarana pendidikan kejiwaan. Hal itu cukup beralasan sebab sastra mengandung nilai etika dan moral yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sastra tidak hanya berbicara tentang diri sendiri (psikologis), tetapi juga berkaitan dengan Tuhan (religiusitas), alam semesta (romantik), dan juga masyarakat (sosiologis). Sastra mampu mengungkap banyak hal dari berbagai segi (Nurgiyantoro, 2000:320). Banyak pilihan genre sastra yang dapat dijadikan sarana atau sumber pembentukan karakter bangsa.
c. Penerapan Karya Sastra Anak dalam Membentuk Karakter Bangsa
Seorang anak mempunyai respon atau tanggapan yang berbeda-beda terhadap sastra. Dalam menanggapi sebuah bacaan sastra yang didengar atau dibacanya, masing-masing anak mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan kesenangan, pikiran, dan perasaannya. Setiap tanggapan terhadap sastra memang bersifat personal dan khas untuk masing-masing anak, namun demikian setiap tanggapan itu dapat merefleksikan umur dan pengalamannya. Istilah “tanggapan” terhadap karya sastra memiliki makna yang beragam. “Tanggapan” dapat mengacu pada apa yang terjadi di akal budi pembaca atau pendengar ketika kisahan/cerita itu tidak bisa ditangkap. “Tanggapan” dapat pula mengacu pada sesuatu yang dikatakan atau dilakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan tentang sastra. Guru atau pustakawan yang memprediksi bahwa sebuah buku akan membawa tanggapan yang bagus, menggunakan istilah “tanggapan” yang sedikit berbeda dengan penjelasan di atas. Menurut guru dan pustakawan, tanggapan menekankan pada tingkat interes atau minat anak dan ekspresi kesukaan-kesukaannya.
Sebagian besar penelitian tentang anak dan sastra difokuskan pada bidang tanggapan ketiga di atas, yakni untuk menemukan bahan membaca apa yang disukai dan yang tidak disukai anak. Minat dan kesukaan anak masih merupakan perhatian utama guru, pustakawan, orang tua, penerbit, dan toko buku. Setiap orang yang memilih buku-buku anak dapat melakukan dengan baik dengan mengetahui buku-buku mana yang mungkin cepat menarik perhatian anak-anak dan yang mana yang cepat diperkenalkan atau meningkatkan minat baca mereka.
Lingkungan dan pengaruh sosial juga mempengaruhi pilihan buku anak dan minat bacanya. Minat tidak tampak bervariasi karena pengaruh lokasi geografis yang sangat kuat, tetapi pengaruh lingkungan langsung yakni tersedianya dan kelancarannya bahan-bahan bacaan di rumah, di kelas, pustaka sekolah, dan pustaka umum sangat kuat mempengaruhi variasi minat anak. Anak-anak yang di kelasnya sering membicarakan buku, bermain dengan buku, memiliki interes yang lebih banyak daripada yang kurang/tidak pernah membicarakan buku. Perlu dicatat di sini bahwa pengaruh ini menyangkut kontak dengan buku dan seberapa banyak sosialisasinya. Buku-buku favorit guru, seringkali menjadi favorit anak. Hal ini disebabkan kisah itu lebih dekat dengan anak atau dikarenakan asosiasi positifnya dengan guru. Anak-anak sering mempengaruhi satu sama lain dalam memilih buku. Jenis bacaan sastra yang menjadi faforit saat itu; judul, pengarang maupun topiknya akan menjadi bahan pembicaraan di kelas.
Apabila minat anak terhadap karya sastra terbangun maka anak akan mulai berhadapan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan secara mandiri anak akan mengenal serta menyerap niali-nilai moral, agama, budaya dan sebagainya. Dengan demikian bukan tidak mungkin karakter anak akan terbangun menjadi karakter yang diidealkan masyarakat.
Karya sastra anak yang ajarkan dipilih sesuai tema pembelajaran dan sesuai dengan tingkat umur anak, memberikan kebebasan kepada anak dalam mengapresiasi karya sastra, menjelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra yang dipelajari.
Selain minat anak dalam membaca atau mengapresiasi sastra, pemilihan karya sastra untuk diajarkan, perlu diingat pula bahwa peran guru sebagi mmodel bagi anak harus mampu memberikan contoh terbaik dalam mencontohkan membaca, menulis dan menyampaikan isi dalam karya sastra. Jadi dalam pembelajaran sastra dibutuhkan adanya guru yang kompeten dalam bidang pembelajaran dan pengajaran sastra.
Bukan cuma anak-anak yang belum berminat mengapresiasi sastra, sebgaian guru bahasa dan sastrapun kadang lebih memilih mengajarkan bahasa daripada sastra karena kurang menguasai dan kurang berkompeten dalam bidang sastra.
Keberadaan pembelajaran sastra dalam upaya membangun karakter bangsa dapat terwujud dengan adanya minat anak, karya sastra anak, guru yang kompeten dalam bidang pengajaran dan pembelajaran sastra. Tanpa adanya unsur tersebut pembelajaran sastra hanya akan menjadi hiburan, sarana rekreasi saja.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar