Loading...

Jumat, 23 Desember 2011

DIKSI dan Gaya Bahasa Lagu



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa, orang dapat menerima dan menyampaikan segala pengalaman dan pengetahuannya baik lahir maupun batin (Poerwadarminta, 1984:5). Pendapat tersebut dipertegas oleh Marsoedi (1983:21) yang menyatakan bahwa manusia dapat mengungkapkan pikiran, perasaan dan kemmapuan (cipta, rasa dan karsa) kepada orang lain melalui bahasa. Dengan bahasa pulalah seseorang dapat beraktivitas.
Salah satu wujud kreativitas pengungkapan bahasa adalah pemakaian gaya bahasa dalam lirik lagu. Dalam lirik lagi, pencipta mencoba mengkreasikan unsure-unsur bahasa baik kata, frasa, klausa maupun kalimat untuk mencapai efek keindahan tertentu bagi pendengarnya.
Lagu yang didengar tidaklah semata-mata menjadi menarik karena alunan vocal sang pencipta dan irama musiknya saja, akan tetapi terdapat satu unsur lagi yaitu pemilihan kata dan penciptaan bahasa dengan menggunakan kata yang puitis. Waluyo (1995:1) mengatakan bahwa nyanyian (lagu) yang kita dengarkan tidaklah semata-mata hanya lagunya yang indah, tetapi terlebih lagi isi puisinya yang mampu menghibur manusia. Melalui penyusunan dan pemilihan kata sedemikian rupa, lagu menjadi menarik untuk didengar dan dihayati.
Waluyo (1995:1) menyatakan bahwa nyanyian (lagu) adalah puisi yang didengarkan. Dengan demikian sebagai bentuk puisi, didalam lagu terdapat paparan bahasa yang digunakan pencipta untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keinginannya. Kata-kata dalam lagu dipilih dan disusun oleh pencipta lagu dengan gaya bahasa yang beragam sesuai dengan pikiran, perasaan, dan kemampuannya. Pemilihan kata yang disusun oleh sang pencipta dengan gaya bahasa tertentu dalam lagu dapat menimbulkan efek tertentu.
Dalam puisi atau lirik lagu penempatan kata-kata sangat penting artinya dalam rangka menumbuhkan suasana puitik yang dinikmati dan dipahami oleh penikmat. Secara khusus kepuitisan sbuah puisi (lirik lagu) ditimbulkan dari gaya bahasa dan kata-kata yang digunakan oleh penyair, yang secara umum dikenal dengan kata denotative dan konotatif. Menurut Atmazaki (1993:35), dalam upaya memilih kata, penyair memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan arti yang ada pada sebuah kata. Dalam hal ini, dikenal dua macam arti yang penggunaannya cukup dominan : denotasi dan konotasi. Selain itu pemilihan kata dan gaya bahasa pada sebuah puisi (lirik lagu) dapat menentukan keindahan sebuah puisi atau lirik lagu. Namun perlu dipahami bahwa penggunaan puisi pada sebuah puisi atau lirik lagu tidak hanya terbatas pada penggunaan kata denotative dan konotatif, akan tetapi bias berupa pilihan kata jenis lain diantaranya kata konkret dan abstrak, kata umum dan pilihan kata khusus. Demikian pula pada penggunaan gaya bahasa yang berupa jenis-jenis gaya bahasa. Oleh karena itu penelitian mengena diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu sangat menarik untuk dilakukan. Sebagai contoh adalah penelitian mengenai diksi dan gaya bahasa pada lirik lagu-lagu yang diciptakan oleh grup music dewa.
Dewa merupakan group band yang cukup dikenal oleh penikmat atau penggemar music dengan karyanya yang memiliki ciri khas dan kaya dalam penggunaan gaya bahasanya sehingga menarik hati penggemarnya. Hal ini terbukti dengan terjualnya kaset Dewa yang mampu mencatat rekor penjualan kaset diatas 1,5 juta keeping. Dengan terjualnya kaset Dewa ini menunjukkan kesuksesan Group Band ini dalam mengekspresikan karyanya.
Lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Dewa ini tentunya tak lepas dari pilihan kata yang digunakan dan disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan keindahan. Melalui pilihan kata dan keindahan gaya bahasa itulah mereka berhasil menimbulkan kesan yang kuat bagi pendengarnya untuk dapat menghayati dan merasakan apa yang mereka tulis dalam lagunya.
Dipilihnya lagu karya Dewa album “Bintang Lima” sebagai objek penelitian dengan berbagai pertimbangan. Pertama, yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Dewa khususnya album “Bintang Lima” memiliki ciri khas serta kaya akan penggunaan diksi dan gaya bahasa sehingga mendapat tanggapan yang cukup besar dari penikmat musik di Indonesia. Kedua, penelitian ini dijadikan sebagai alternatif pemilihan sumber pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Ketiga, penelitian tentang lirik lagu karya Dewa album “Bintang Lima” sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan.
Kajian mengenai diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu karya Dewa pada album “Bintang Lima” ini dimaksudkan untuk melihat lebih dalam isi syair lagu tersebut, terutama dalam upaya memperkaya kos kata di bidang satra agar semata-mata tidak dinikmati sebagai hiburan belaka.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengambil judul “Diksi dan Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu Karya pada Dewa Album “Bintang Lima”

1.2. Permasalahan
1.2.1. Batasan Masalah
Batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Penggunaan diksi dalam lirik lagu karya Dewa pada album “Bintang Lima”.
2. Gaya bahasa yang terdapat dalam lirik lagu karya Dewa pada album “Bintang Lima”
1.2.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dipaparkan dalam latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1). Bagaimanakah penggunaan diksi dalam lirik lagu Kaya Dewa pada album “Bintang Lima”?
2). Gaya bahasa apasajakah yang terdapat dalam lirik lagu karya Dewa pada album “Bintang Lima”

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa pada album “Bintang Lima”
1.3.2. Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan :
1). Diksi dalam lirik lagu karya Dewa pada album “Bintang Lima”
2). Jenis gaya bahasa yang terdapat dalam lirik lagu Dewa pada album “Bintang Lima”
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Teortis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai kesastraan khususnya diksi dan gaya bahasa dalam puisi (lirik lagu)
1.4.2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif pemilihan sumber belajar dan media khususnya pengajaran puisi dan gaya bahasa, selain itu penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian yang sejenis dalam kajian yang berbeda khususnya lirik lagu atau puisi.

1.5. Definisi Operasional
Untuk menghindari pemahaman yang keliru terhadap permasalahan yang dibahas, berikut definisi operasionalnya.
1). Diksi adalah pilihan kata atau penggunaan kata yang digunakan oleh pencipta untuk menyampaikan ide kepada pendengar atau penikmat lagu.
2). Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran atau perasaan melakukan bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.
3). Lirik lagu adalah paparan bahasa yang berupa susunan kata-kata dalam nyanyian.
4). Dewa adalah Group Band yang menganut aliran pop rock yang cukup dikenal di blantika musik Indonesia.
5). Album “Bintang Lima” merupakan kumpulan lagu-lagu Dewa yang terdiri dari 9 lagu dan terangkum dalam sebuah album dengan judul “Bintang Lima”.

BAB II
LANDASAN TEORI

2. 1. Fungsi Bahasa
Halliday (dalam Tarigan, 1990:09) mengemukakan tujuh fungsi bahasa, yaitu : 1) fungsi instrumental, 2) fungsi regulasi, 3) fungsi representasional, 4) fungsi interaksional, 5) fungsi personal, 6) fungsi heuristic, 7) fungsi imajinatif. Petama, fungsi instrumental adalah fungsi bahasa untuk mengatur lingkungan. Yakni menciptakan peristiwa situasi atau peristiwa tertentu. Kedua, fungsi regulasi adalah fungsi bahasa untuk mengawasi serta mengandalkan peristiwa-peristiwa.. ketiga, fungsi representasional adalah fungsi bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan realitas yang sebenarnya, seperti yang dilihat oleh seseorang. Keempat, fungsi interaksional adalah fungsi bahasa yang bertugas untuk menjamin serta memantapkan ketahanan an kelangsungan komunikasi sosial. Kelima, fungsi personal adalah fungsi bahasa yang memberikan kesempatan kepada seorang pembicara untuk mengekspresikan perasaan, emosi, pribadi serta reaksi-reaksinya yang mendalam. Keenam, fungsi heuristic adalah fungsi bahasa yang melibatkan penggunaan bahasa untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mempelajari seluk beluk lingkungan. Ketujuh, fungsi imajinatif melayani penciptaan sistem-sistem ataupun gagasan yang bersifat imajinatif.
Penggunaan bahasa dalam lagu merupakan salah satu fungsi bahasa yaitu fungsi imajinatif. Para penyiar (pencipta lagu) berusaha agar melalui pengolahan bahasa dengan menggunakan daya khayal atau daya imajinasi akan meningkatkan daya ungkap dan sekaligus keindahan bahasa itu. Kata-kata yang dipilih dan disusun oleh seorang pencipta lagu dengan gaya bahasa tertentu akan menimbulkan efek keindahan. Kata-kata dipilih oleh pencipta lagu dengan maksud untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kemauan.

2. 2. Pengertian Puisi
Sayuti (1985:12) mendefinisikan puisi sebagai hasil kreatif manusia yang diwujudkan lewat susunan kata yang mempunyai makna. Samuel Taylor Coleridge (dalam Pradopo, 2002:6) mengemukakan puisi itu adalah kata-kata terendah dalam susunan terendah. Penyiar memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara baik-baik misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat hubungannya, dan sebagainya. Kata-kata dalam sebuah puisi memiliki makna tersendiri sesuai dengan maksud pengarang.
Dutton (dalam Pradopo:2002:6) berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan aristik dalam bahasa emosional serta berirama. Unsur yang digunakan oleh seorang penyiar atau pencipta lagu untuk menambah keartistikan karyanya adalah kiasan dan citraan, yang kemudian yang kemudian disusun secara artistik, menggunakan pemilihan kata yang tepat, dan bahasa yang penuh perasaan, serta berirama.
Suroto (1993:40) mengungkapkan puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang pendek dan singkat yang berisi ungkapan isi hati pikiran, perasaan pengarang yang padat dituangkan dengan memanfaatkan daya bahasa secara pekat, kreatif, dan imajinatif. Secara bebas dapat dikatakan bahwa puisi adalah karangan yang singkat, padat, dan pekat.
Dari beberapa definisi di atas dapat diperoleh garis besar tentang unsur-unsur yang membangun sebuah puisi. Unsur-unsur yang terdapat dalam puisi meliputi emosi, pemikiran, ide, nada, irama, pancaindra, susunan kata, kata-kata kiasan kepadatan dan perasaan yang bercampur baur.
Jadi dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyairnya secara imajinatif yang disusun dengan mengkonsentrasikan pada struktur fisik dan struktur batin.

2. 3. Kata dan Makna
2.3.1. Kata
Pengertian kata dalam kehidupan sehari-hari tidak akan lepas dari mana suka, karena kata merupakan salah satu bagian dari bahasa yang mempunyai dari atau makna. Keraf (1996:88) menyatakan, bahwa kata-kata adalah sebuah rangkaian bunyi atau tertulis yang menyebabkan orang berpikir tentang sesuatu hal makna sebuah kata.
Kata memiliki peranan sangat penting bagi seorang penyiar (pencipta lagu) karena kata merupakan alat utama untuk menyampaikan perasaan dan pikiran bagi seorang penyiar (pencipta lagu). Seorang penyiar (pencipta lagu) haruslah memiliki sejumlah perbendaharaan kata dan dapat menguasainya dengan baik. Karena penguasaan kosakata oleh seorang penyiar (pencipta lagu) menentukan baik buruknya sebuah karya. Hal ini sejalan dengan pendapat Pradopo (2002:51) yang menyatakan baik tidaknya sebuah puisi (lirik lagu) tergantung pada kecakapan sastrawan dalam mempergunakan kata.
Dalam sebuah puisi (lirik lagu) kita temukan kata yang memiliki arti yang berbeda dari arti kamusnya. Untuk memahami maksud kata tersebut kita harus memahami keseluruhan isi dari sebuah puisi (lirik lagu). Dalam hal ini, penggunaan kata yang dominan dalam sebuah puisi (lirik lagu) adalah penggunaan kata yang bermakna konotatif dan denotative, akan tetapi kadangkala seorang penyiar (pencipta lagu) memanfaatkan kata khusus untuk memperjelas maksud, selain itu seorang penyiar juga memanfaatkan kata konkret untuk mempertegas sesuatu yang abstrak.
Dalam memilih kata-kata disamping memilih berdasarkan makna yang akan disampaikan dan tingkat perasaan serta suasana batinnya juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaya (Waluyo, 1995:73). Selain itu intensitas perasaan penyiar (pencipta lagu), kadar emosi, cinta, benci, rindu dan sebagainya menentukan pemilihan kata, misalnya dalam bentuk penulisan lirik lagu. Ide yang keluar dari seorang pencipta lagu biasanya bersumber dari rasa sakit hati, putus cinta, benci, rindu dan sebagainya.

2.3.2. Makna
Ilmu yang mempelajari tentang makna disebut semantik. Chaer (1995:2) menyatakan bahwa semantik adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Sedangkan Keraf (1996:73) menyatakan makna adalah segi yang menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar atau pembaca karena bentuk tadi.
Makna sebuah kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan, dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Kalau lepas konteks kalimat, makna kata itu menjadi umum dan kabur.
Jadi makna adalah ari yang ditimbulkan oleh sebuah kata dengan memperhatikan konteks penggunaan dalam kalimat.

2. 4. Diksi
Diksi merupakan salah satu unsur yang cukup menentukan dalam penulisan puisi (lirik lagu). Parera (1987:66) mengartikan diksi sebagai pilihan kata atau pemilihan dan penggunaan kata. Sedangkan Aminuddin (1987:53) mendefinisikan diksi sebagai pemilihan kata untuk mengungkapkan gagasan, mengungkapkan suasana tertentu, dan digunakan untuk mencapai efek keindahan. Diksi yang baikberhubungan dengan pemililhan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan suasana, sehingga mampu mengembangkan dan mengajak daya imajinasi pembaca (Aminuddin, 1987:53). Pendapat tersebut dipertegas oleh Keraf (1996:24) yang menyatakan diksi merupakan kata yang dipakai untuk menyampaikan gagasan yang mempunyai kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang hendak disampaikan.
Sehubungan dengan pengertian diksi, maka penelitian ini menguraikan pilihan kata yang menyangkut masalah makna kata dan kosa kata yang digunakan olehs eorang penyair (pencipta lagu) yang terdapat dalam lagu Dewa album ”Bintang Lima”. Hal ini sejalan dengan pendapat Keraf (1996:87) yang menyatakan ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendegar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. Seba itu, persoalan ketepatan pilihan kata akan menyangkut pula masalah makna kata dan kosa kata seseorang. Dalam hal ini penggunaan kata yang dominan dalam sebuah puisi (lirik lagu) adalah penggunaan kata yang bemakna konotatif dan denotatif, akan tetapi seorang pencipta lagu juga memanfaatka kata konket an abstrak, kata umum dan kata khusus. Hal ini sejalan dengan pendapat Atmazaki (1993:35) yang menyatakan dalam upaya memilih kata, penyair memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan arti yang ada pada sebuah kata. Dalam hal ini, dikenal dua macam ari yang penggunaannya cukup dominan adalah denotasi dan konotasi.
2.4.1. Kata Denotatif dan Konotatif
Dalam puisi (lirik lagu) maupun dalam karya sastra lain pada umumnya, sebuah kata tidak hanya mengandung aspek denotasinya saja tetapi ada sebuah kata yang artinya timbul dari asosiasi-asosiasi yang keluar dari denotasinya yang disebut kata konotasi.
Parera (1987:69-70) menyatakan bahwa denotasi adalah makna yang sesuai dengan apa adanya, makna sesuai hasil observasi, hasil pengukuran, pembatasan atau pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif. Makna denotasi disebut juga makna konseptual, sedangkan makna konotasi adalah tambahan-tambahan sikap sosial, sikpa pribadi, sikap dari suat zaman, dan kriteria-kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.
Soedjito (1990:53-54) menyatakan bahwa makna denotatif (referensial) adalah makna yang menujuk langsung pada acuan atau makna dasarnya, sedangkan makna konotatif (evaluasi/emotif) adalah makna tambahan terhadap makna dasarnya yang berupa nilai rasa atau gambaran tertentu.
Kata denotasi dan kata konotasi mempunyai sejumlah ciri. Ciri kata denotasi yaitu (1) makna kata yang sesuai apa adanya, (2) makna kata sesuai hasil observasi, (3) pengertian dikandung sebuah kata secara objektif, (4) makna yang menujuk langsung pada acuan atau makna dasarnya. Ciri kata konotasi yaitu (1) makna tidak sebenarnya, (2) makna tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual, dan (3) makna tambahan berupa nilai rasa atau gambaran tertentu.

2.4.2. Kata Konkret dan Kata Abstrak
Kata konkret bercirikan menghadirkan gambaran, benda (referensial) atau gambaran peristiwa tertentu secara konkret. Menurut Keraf (1996:94) kata konkret (adaptasi dari kata indria) adalah penggunaan istilah yang menyatakan pengalaman-pengalaman yang diserap oleh pancaindra, yaitu serapan indra penglihatan, pendengaran, peraba dan penciuman. Karena kata-kata itu menggambarkan pengalaman manusia melalui pancaindra yang khusus, maka terjadi pula daya gunanya terutama dalam membuat deksripsi. Selanjutnya dikatakan bahwa kata abstrak merupakan kata yang terbentuk sebagai akibat dari konsep yang tumbuh dalam pikiran, bukan mengarah pada hal konkret.
Sejalan dengan pendapat diatas, Soedjito (1990:39) menyatakan bahwa kata konkret ialah kata yang mempunyai rujukan berupa pbyek yang dapat diserap oleh pancaindra (dilihat, diraba, diraskan, didengar, atau dicium), sedangkan kata abstrak ialah kata yang mempunyai rujukan berupa konsep.

2.4.3. Kata Umum dan Kata Khusus
Menurut Keraf (1996:89-90), penggolongan kata umum dan kata khusus ini dibedakan berdasarkan luas tidaknya cakupan makna yang dikandungnya. Bila sebuah kata mengacu kepada suatu hal atau kelompok yang luas bidang lingkupnya maka kata itu disebut kata umum. Bila ia mengacu kepada pengarahan-pengarahan yang khusus dan konkret maka kata-kata itu disebut kata khusus.
Sementara itu, Soedjito (1990:41) menyatakan bahwa kata umum ialah kata yang luas ruang lingkupnya dan dapat mencakup banyak hal, sedangkan kata khusus ialah kata yang sempit atau terbatas ruang lingkupnya. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa kata umum mengandung arti inti (pokok) sedangkan kata khusus mengandung arti tambahan. Makin umum sebuah kata makin kabur gambaran yang ditimbulkan dalam angan-angan, sebaliknya makin khusu sebuah kata semakin jelas dan tepat maknanya.
Kata umum dan kata khusus mempunyai sejumlah ciri. Ciri kata umum yaitu (1) kata yang luas ruang lingkup maknanya, (2) kata yang mencakup banyak hal, dan (3) kata yang mengandung arti ini (pokok). Ciri kata khusus yaitu (1) kata yang sempit atau terbatas ruang lingkupnya, (2) kata yang mengacu pada pengalaman-pengalaman yang khusus dan konkret, dan (3) kata yang mengandung arti tambahan.

2. 5. Pengertian Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca (Tarigan, 1990:5). Lebih lanjut Tarigan mengungkapkan pula bahwa gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal lain yang lebih umum.pendek kata penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu.
Menurut Keraf, gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur, yaitu kejujuran, sopan santun, dan menarik (Keraf, 1996:113).
Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan seseorang melalui bahasa secara kreatif untuk menimbulkan efek keindahan.

2. 6. Jenis-Jenis Gaya Bahasa
Gaya Bahasa ditinjau dari bermacam-macam sudut padang. Tarihan (1990:6) memilah-milahkan gaya bahasa menjadi empat kelompok, yaitu : 1) Gaya Bahasa Perbandingan, 2) Gaya bahasa Pertentangan, 3) Gaya Bahasa Pertatutan, 4) Gaya Bahasa Perulangan .
Berikut ini akan diuraikan macam-macam dari keempat gaya bahasa di atas.
1). Gaya Bahasa Perbandingan
a. Perumpamaan (simile) adalah perbandingan dual hal yang pada hakekanya belainan akan tetapi sengaja dianggap sama. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata : seperi, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa (Suroto, 1993:115)
Contoh :
Bekerja dengan cinta
Bagai sang pencipta
Membentuk citra insaninya
Satukan dirimu
(Bagaskara dalam Murdaningsih, 2001 : 12)

b. Metafora adalah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal secara implisit. Metafora sebagai pembanding langsung tidak mempergunakan kata : seperti, bak, bagai, dan sebagainya sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Jika perbandingan itu dieksplisitkan biasanya ditandai dengan pemakaian kata adalah. (Suroto, 1993:115)
Contoh : Hidup ini mengikat dan mengurung
(Subagio dalam Pradopo, 2002:67)

c. Personifikasi adalah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide abstrak (Suroto, 1993:116)
Contoh :
Pasir putih
Ombak bergulung membuih
Derunya sampai ke seberang
Ucap selamat datang

Gaya bahasa personifikasi puisi diatas terlihat pada : Derunya sampai ke seberang ucap selamat datang. Deru ombak seolah-olah dapat berbuat seperti manusia dapat mengucapkan selamat datang.
d. Dipersonifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada manusia atau insan. Jadi disini perbandingan dibalikkan, tidak seperti personiofikasi. Biasanya gaya bahasa ini terdapat dalam kalimat pengandaian yang memanfaatkan kata-kata, jikalau, kalau, sekiranya, seandainya, seumpama (Suroto, 1993:116)
Contoh :
Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya
(Suroto, 1993:116)

e. Alegori adalah cerita yang dikisahkan dalam lambang-lambang merupakan metafora yang dipeluas dan berkesinambungan, tempat atau wadah obyek-obyek atau gagasan-gagasan yang diperlambangkan atau cara bercerita yang menggunakan lambang, yang termasuk dalam alegori adalah fabel (Suroto, 2001:117)
Contoh :
MENUJU KE LAUT
Angkatan Baru
Kami telah meninggalkan engkau
Tasik yang tenang, tiada beriak
Diteduhi gunung yang rimbun
Dari angin dan topan
Sebab sekali kami tebangun
Dari mimpi yang nikmat

(Alisyahbana dalam Pradopo, 2002:72)
Sejak itu melambangkan angkatan baru yang berjuang ke arah kemajuan. Angkatan abru dikiaskan sebagai air danau yang menuju kelaut dengan melalui rintangan-rintangan. Laut penuh gelombang, mengiaskan hidup yang penuh dinamika perjuangan, penuh pergolakan. Disamping itu sajak tersebut mengiaskan angkatan muda yang penuh semangat menuju kehidupan baru yang dinamis, meninggalkan adat yang statis, kehidupan yang lama beku, dan tidak mengalir.
f. Antitesis adalah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan yang dinyatakan dengan kata-kata yang belawanan (Suroto, 1993:117).
Contoh :
Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.
Kau berduka atas bahagiaku.
(Suroto, 1993:117)
g. Pleonasme adalah gaya penggunaan kata yang mubazir, yang sebenarnya tidak perlu. Jadi semcam mengemukakan kembali hal yang sebenarnya sudah tercakup dalam kata atau frase yang terdahulu (Suroto, 1993:117)
Contoh :
Saya telah mendengar berita hal itu dengan telinga
Saya telah melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri
Darah itu melumuri seluruh tubuhnya
(Keraf, 1996:134)

h. Tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau fase yangs earti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu. Oleh kaena itu ada yang menyebutnya sinonim (Suroto, 1993:117)
Contoh :
Orang yang meninggal itu telah menutup matanya untuk selama-lamanya
(Suroto, 1993:117.

i. Perifrasis adalah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja.

Contoh :
Ia telah menyelesaikan studinya tahun 1988. (lulus)
(Suroto, 1993:118)
j. Antisipasi (Prolepsis) adalah gaya bahasa yang dalam pernyataannya menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih akan dikerjakan atau akan terjadi. Penyataan yang demikian itu terjadi pada kalimat pembeitaan (Suroto, 1993:118)
Contoh :
Hatiku sedih begitu mendengar berita meninggalnya orangtuaku.
Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.
(Suroto, 1998:18)

k. Koreksio (Epanortosis) adalah gaya bahasa yang dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu, tetai kemudian memeriksa dan memperbaiki mana-mana yang salah (Suroto, 1993:118).
Contoh :
Dia mencintai Arini, maksud saya Hartini
Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan sudah
Lima kali
(Suroto, 1993:118)
2). Gaya Bahasa Pertentangan
a. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf, 1996:135)
Contoh :
Ketika norma peradaban
Terpilih sebagai alasan
Mereka ciptakan jurang
Antara kau
Sampai saat akhir mati
Ketika berusaha bertahan
Sebab cinta datang
Untuk menolak perbedaan
(Bagaskara dalam Murdianingsih, 2001:18)

b. Litotes adalah gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri (Keraf, 1996:132). Sesuatu hal dinyatakan kurang dari keadaan sebenarnya.
Contoh :
Kedudukan saya ini sebenarnya tak ada artinya sama sekali
Rumah yang buruk inilah yang merupakan hasil usaha kami
Bertahun-tahun lamanya.
(Keraf, 1996:132)

c. Ironi adalah gaya bahasa yang berupa penyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya. Karena itu kadang-kadang gaya bahasa ini dikategorikan sebagai gaya bahasa sindiran (Suroto, 1993:120)
Contoh :
Bagus benar tulisanmu sehingga tak seorang pun bisa membacanya
Memang anda adalah seorang gadis yang paling cantik didunia ini
Yang perlu mendapat tempat terhormat.
(Suroto, 1993:120)

d. Oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau dalam kalimat yang sama (Suroto, 1993:120)
Contoh :
Keramah-tamahan yang bengis
Itu sudah menjadi rahasia umum
Dengan membisu seribu kata, mereka sebenarnya berteriak-
Teriak agar dapat diperlakukan dengan adil
(Keraf, 1996:136)

e. Paranomasia adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata sama bunyinya tetapi lain maknanya. Kata-kata yang sama tetapi artinya berbeda (Suroto, 1993:120)
Contoh :
Sayang sekali aku tak dapat memenuhi permintaanmu, sayang.
(Suroto, 1993:120)
f. Paralipsis adalah gaya bahasa yang merupakan suatu formula yang dipergunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seeorang tidak mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri (Suroto, 1993:120)
Contoh :
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menolak doa kita ini, maaf bukan maksud saya mengabulkannya
(Suroto, 1993:120)

g. Zeugma dan Silepsis adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua kontruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain yang pada hakikatnya hanya sebuah saja yang mempunyai hubungan dengan kata yang pertama (Suroto, 1993:120). Namun demikian memang terdapat perbedaan antara Zeugma dan Silepsis. Dalam Zeugma kata yang dipakai untuk membawakan kedua kata berikutnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya.
Contoh :
Dengan membelalakkan mata dan telinga, ia mengusi orang itu. Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat.
(Keraf, 1996:135)
Dalam silepsis, kontruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar.
Contoh : ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.


h. Satie adalah gaya bahasa sejenis argumen atau puisi atau karangan yang berii kritik sosial baik secara teang-teangan atau terselubung. Satire dapat bernada keras, bernada pahit dan kuat, dapat pula bernada menusuk dan memilukan (Suroto, 1993:121). Oleh karena itu satire biasanya berupa suatu wacana. Jarang sekali atau hampir tak pernah berupa sebuah kalimat. Ketepatannya bergantung pada pembaca atau penerimanya.
Contoh :
Cerita kosong
Untuk gembong-gembong
Tukang bicara

Jemu aku dengan bicaramu
”kemakmuran
Keadilan
Kebahagiaan”
Sudah sepoloh tahun engkau bicara
Aku masih tak punya celana
--------------------------budak kuurus
Pengangkut sampah----------------

Kemaren, dia ada
Kau-ulang cerita :
„..............................................
Tanganmu dan tanganku
Dapat bikin negara
Sempurna bahagia.....”
Di kealpaanku
Aku juga lupa segala
Tiba-tiba
Kau menghilang
Di dalam mercedez-mu
Tinggal debu dan aku
Kembali mendorong gerobak
Menimbun sampah
Dari sudut ke sudut jalanan
Jakarta , di Kesibukan kampanye 1955
(Fridolin Ukur dalam Suroto, 1993:121)

Puisi tersebut merupakan luapan perasaan muak rakyat kecil terhadap orang-oramg yang berkampanye dengan menjanjikan akan mengentaskan kemiskinan tetapi kenyataannya setelah terpilih mereka mementingkan dirinya sendiri. Gaya bahasa satire dapat bernada keras, pahit, dan kuat serta dapat pula bernada menusuk dan memilukan.
i. Inuendo adalah gaya ahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Gaya bahasa ini menyatakan kritik dengan sugesti tidak langsung dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sambil lalu (Keraf, 1996:143). Biasanya ditandai dengan penggunaan kata-kata : sedikit, agak, dan sejenisnya.
Contoh :
Dia memang baik, Cuma agak kurang jujur.
(Keraf, 1996:143)
j. Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya (Suroto, 1993:122). Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran dengan menyatakan kebalikan dan kenyataannya, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah kata saja yang menyatakan kebalikan itu.
Contoh :
Antifrasis
Inilah kawan kita yang paling jujur. (maksudnya suka menipu)
Ironi
Saya tahu bahwa kau memang orang yang jujur sehingga tak ada satu pun orang yang percaya padamu.
(Suroto, 1993: 122-123)
k. Paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada (Keraf, 1996:136). Maksudnya bahwa pertentangan yang ada dalam kalimat itu memang benar dan bisa terjadi dalam kenyataan.
Contoh :
Aku merasa kesepian di tengah kota yang ramai ini.
Musuh sering merupakan kawan yang akrab
(Keraf, 1996:136)
l. Klimaks adalah gaya bahasa yang berupa ungkapan yang makin lama makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya (Keraf, 1996:124)
Contoh :
Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
Hidup kita diharapkan breguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.

m. Antiklimaks adalah gaya bahasa kebalikan dari klimaks yaitu suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga yang kurang penting (Keraf, 1996:125)
Contoh :
Ketua pengadilan negeri itu adalah seorang yang kaya, pendiam dan tidak terkenal namanya.
Pembangunan lima tahun telah dilancarkan serentak di Ibu kota negara, ibu kota-ibu kota propinsi, kabupaten, kecamatan dan semua desa diseluruh Indonesia.
(Keraf, 1996:25)

n. Apostrof adalah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada sesuatu yang tidak hadir (Keraf, 1996:131). Cara ini biasanya dipakai oleh operator.
Contoh :
Wahai dewa agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkeraman durjana.
(Suroto, 1993:123)

o. Anastrof atau intervensi adalah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis (Suroto, 1993:124)
Contoh :
Manis sekali senyuman anak itu
Pergilah ia meninggal kami, keheranan kami melihat perangainya.
(Keraf, 1996:24)

p. Apofasis adalah gaya bahasa yang pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu akan tetapi sebenarnya justru menegaskannya (Suroto, 1993:124). Jadi seolah-olah hendak merahasiakan sesuatu akan tetapi sebenarnya justru menjadi semakin jelas dengan adanya pernyataan tersebut.
Contoh :
Saya tidak ingin mengatakan dalam rapat ini bahwa putrimu telah berbadan dua.
(Suroto, 1993:124)

q. Histeron Proteton adalah gaya bahasa yang isinya merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar (Suroto, 1993:124)
Contoh :
Jika kau memenangkan pertandinganitu berarti kematian akan kau alami.
(Suroto, 1993:124)

r. Hipalase adalah gaya bahasa yang beupa sebuah pernyataan yang mempergunakan kata untuk menerangkan sesuatu kata yang seharusnya lebih tepat dikenakan pada kata yang lain. Jadi disini penempatan keterangan itu kurang tepat (Suroto, 1993:124)
Contoh :
Ia berbaring diatas sebuah bantal yang gelisah (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya)
(Keraf, 1996:142)


s. Sinisme adalah gaya bahasa yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati. Seolah-olah menyanjung/memuji seseorang akan tetapi sebenarnya pujian itu hanya untuk menyindir atau menyangsikannya (Suroo, 1993:125)
Contoh :
Memang Andalah tokoh yang sanggup menghancurkan desa ini dalam sekejap.
(Suroto, 1993:125)


t. Sarkasme adalah jenis gaya bahasa yang mengandung olok-olok atau sindiran yang pedas dan kasar. Kata-kata yang digunakan kata-kata yang kasar dan tak enak didengar (Suroto, 1993:125)
Contoh :
Mulut kau harimau kau
(Suroto, 1993:125)
3). Gaya Bahasa Pertautan
a. Metonomia adalah gaya bahasa yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang atau hal, sebagai penggantinya karena mempunyai pertalian yang sangat dekat (Keraf, 1996:112)
Contoh :
Parker lebih mahal daipada pilot.
(Suroto, 1993:126)

b. Sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya. Kalau menyebeut sebagian untuk seluruhnya disebut sinekdoke pars pro too, sedangkan apabila menyebut seluruhnya untuk sebagian disebut sinekdoke totem pro parte (Suroto, 1993:126)
Contoh :
Sinekdoke pars pro toto
................................................
Dan kita nanti tiaa sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, Cuma kenangan berdebu
(Anwar dalam Atmazaki, 1993:58)
Pada sajak tersebut, kata bedil menunjuk suasana perag. Jika bedil sudah disimpan berarti jika perang sudah usai. Sebenarnya bedil tidak berarti perang, tetapi bedil adalah sebagian dari perang (unsur perang). Dalam sajak tersebut hanya digunakan kata bedil untuk menujukkan perang secara keseluruhan.
Sinekdoke totem proparte
..............................................................
Dibawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik.
(Mohamammad dalam Atmazaki, 1993:8)
Unkapan petromark kelurahan adalah ungkapan yang dibesar-besarkan, untuk memberikan suasana politis kepada sajak, karena sajak ini memang berbicara tentang pemilihan umum. Padahal yang dimaksud hanyalah sinar lampu.
c. Alusio adalah gaya bahasa yang menujuk secara tidaklangsung ke suatu peristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/diketahui orang (Suroo, 1993:126). Badudu menjelaskan bahwa alusio adalah gaya bahasa yang menggunakan peribahasan atau kiasan yang sudah diketahui umum.
Contoh :
Janganlah menjadi pahlawan kesinagan
Apakah peristiwa madiun akan terjadi disini?
(Suroto, 1993:126)

d. Eufinisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap meugikan atau yang tidak menyenangkan (Suroto, 1993:127)
Contoh :
Ayahnya sudah tak ada di tengah-tengah mereka (..mati)
Pikiran sesatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini. ( Gila)
(Keraf, 1996:132)

e. Eponim adalah gaya bahasa yang menyebutkan nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu (Suroto, 1993:127)
Contoh :
Dewi Foruna menyatakan keberuntungan.
(Suroto, 1993:127)
Dalam kamus seni kata Anita adalah wanita modern. Selain kata tersebut terdapat juga nama-nama seseorang yang dihubungkan dengan sifat-sifat tertentu misalnya : Dewi Fortuna menyatakan keberuntungan.
f. Epitet adalah gaya bahasa yang berupa keetrangan yang menyatakan suatu sifat atau ciri khas dari seseorang atau suatu hal (Suroto, 1993:127). Keterangan ini berupa sebuah frase yang menggantikan atau memberikan suatu benda atau nama seseorang.
Contoh :
Raja rimba itu ternyata sudah tidur (Singa)
Si Raja Siang telah tampak ari ufuk timur (matahari)

g. Antonomasia adalah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan nama gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama diri (orang itu sendiri) (Suroto, 1993:127)
Contoh :
Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar
Yang mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
(Keraf, 1996:142)

h. Ertesis adalah gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang dipergunakan dalam tulisan atau pidato yang bertujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menuntut suatu jawaban (Keraf, 1996:134). Gaya bahasa ini sering disebut juga sebagai gaya bahasa retoris, yang didalamnya hanya mengandung satu asumsi jawaban.
Contoh :
Sanggupkan ku kini membangun nyali meraih sebuah hati?
(Murdaningsih, 2001:6)

i. Paralelisme adalah gaya bahasa yang berusaha pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dan memiliki bentuk gramatikal yang sama. Demikian pula anak-anak kalimat yang bergantung pada usnur kalimat yang sama haruslah paralel (Suroto, 1993:128)
Contoh :
Seorang anak bergegas
Datang ke hadapan kaca
Coba tawrkan barangnya
Wajah harap memelas

Seorang buta telatih
Berjualan denga tongkatnya
Panggil siapa yang letih
Sudi pulihkan raga
(Bagaskara dalam Murdianingsih, 2001:15)

j. Elipsis adalah gaya bahasa yang didalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau beberapa unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis.penghilangan itu bisa unsur subjeknya, predikatnya, objeknya atau keterangan (Suroto, 1993:128)
Contoh :
Mereka ke Jakarta minggu lalu (penghilangan predikat)
Pulanglah membawa oleh-oleh banyak sekali. (penghilangan subyek)
(Suroto, 1993:128)

k. Gradasi adalah gaya bahasa yang mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata) yang diulangd alam kontruksi itu (Suroto, 1993:129)
Contoh :
Aku persembahkan cintaku padamu, cinta yang bersih dan suci
Suci murni tanpa noda, noda yang membuat kehidupan sengsara.
(Suroto, 1993:129)

l. Asindenton adalah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar akan tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung (Suroto, 1993:129)
Contoh :
Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghailan orang melepaskan nyawa.
(Keraf, 1996:131)

m. Polisindenton adalah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah kontruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung. Jadi kebalikan dari asindenton (Suroto, 1993:129)
Contoh :
Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dingin yang bakal merombakkan bulu-bulunya?
(Keraf, 1996:131)

4). Gaya Bahasa Perulangan
a. Aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama (Suroto, 1993:129). Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang dalam prosa untuk perhiasan atau untuk penekanan.
Contoh : Kau keraskan kalbunya
(Suroto, 1993:129)
b. Asonansi adalah jenis gaya bahasa repetisi yang berjudul perulangan vokal yang sama (Suroto, 1993:130). Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan.
Contoh :
Mati apa didalam hati
(Suroto, 1993: 130)

c. Antanaklasis adalah gaya bahasa yang mengandung perulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda (Suroto, 1993:130)
Contoh :
Bunga desa itu baru saja memetik bunga mawar.
(Suroto, 1993:130)

d. Kiasmus adalah gaya bahasa yang berisi perulangan dan sekaligus merupakan inversi (pembalikan susunan) antara dua kata dalam satu kalimat (Suroto, 1993:131)
Contoh :
Yang kaya merasa dirinya miskin sedang yang miskin merasa dirinya kaya.
(Keraf, 1996:132)
e. Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kaa yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut (Suronto, 1993:131)
Contoh :
Buah hatiku,buah hatiku padamulah aku berlahu.
(Suroto, 1993:131)

f. Tautotes adalah gaya bahasa perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata bekali-kali dalam sebuah kontruksi (Suroto, 1993:131)
Contoh :
Kakanda mencintai adinda, adinda mencintai kakanda, kakanda dan adinda saling mencintai.
(Suroto, 1993:131)

g. Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat (Suroto, 1993:131).
Contoh :
Lupakanlah kau bahwa merekalah yang membesarkan dan mengauhmu.
Lupakanlah kau bahwa merekalah yang membiayai sekolahmu? Lupakakah kau bahwa merekalah yang menghidupimu sampaikini ?
(Suroto, 1993:131)

h. Epistrofa (Epifora) adalah gaya bahasa repetisi yang berupaperulangan kata pada akhir baris atau akhir kalimat berurutan (Suroto, 1993:132).
Contoh :
Bumi yang kau diami, lau yang kau layari adalah puisi
Udara yang kau hirupi, air yang kau teguki adalah puisi
Kebun yang kau tanami, bukit yang kau gunduli adalah puisi
Gubuk yang kau ratapi, gedung yang kau tinggali adalah puisi
(Keraf, 1996:128)

i. Simploke adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perualnagan awal dan akhir beberapa baris atau kalimat secara berturut-turut (Suroto, 1993:132).
Contoh :
Ada selusin gelas, ditumpuk keatas Tak pecah
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak Pecah
Ada selusin barang lain, ditumpuk ke atas, tak pecah
(Suroto, 1993:132)

j. Mesodiplosis adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut (Suroto, 1993:132).
Contoh :
Saya tidak boleh pergi sendiri. Kau juga tidak boleh pergi tanpa teman. Dia juga tidak boleh pergi tanpa saya.
(Suroto, 1993:132)

k. Epanalepsis adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada dari akhir baris, klausa atau kalimat. Kata yang dipergunakan pada permulaan kalimat dipergunakan lagi pada akhir kalimat itu juga (Suroto, 1993:132)
Contoh :
Bawalah aku ke sana, bawalah!
(Suroto, 1993:132)
l. Anadiplosis adalah gaya bahasa repeptisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat berikutnya (Suroto, 1993:132)
Contoh :
Dalam raga ada darah
Dalam daah ada tenaga
Dalam tenaga ada daya
Dalam daya ada segalanya
(Suroto, 1993:132)

2. 7. Lagu Sebagai Bentuk Karya Sastra
Secara garis besar sastra dibagi menjadi dua yaitu prosa dan puisi. Prosa adalah bentuk karya sastra yang berupa karangan bebas dan tidak terikat oleh aturan-aturan diantaranya rima dan irama. Prosa digolongkan menjdai dua bagian yaitu prosa lama dan prosa baru. Sedangkan puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyairnya secara imajinatif yang disusun dengan mengonsentrasikan pada struktur fisik dan struktur batin. Puisi digolongkan menjadi tiga bagian yaitu puisi lama, baru, dan modern. Lagu merupakan salah satu bentuk dari puisi.
Waluyo (1995:2) mengartikan lagu sebagai bentuk puisi yang didendangkan. Unsur-unsur yang membangun sebuah lagu adalah 1) paparan bahasa (syair lagu) yang ekspresif, dan 2) musik yang meliputi melodi dan irama. Dalam penelitian ini yang dibahas bukanlah unsur lagu yang meliputi melodi dan irama. Tetapi unsur paparan bahasa yang ekspresif atau lirik lagu dalam lagu-lagu karya Dewa yang diteangkan dalam sebuah album “Bintang Lima” yaitu dari segi diksi dan gaya bahasa.
Seorang pengarang atau pencipta lagu adpat dikatakan sebagai seorang penyair karena ia mempunyai kebebasan untuk memanfaatkan unsur-unsur bahasa bagi kepentingan baik ekspresi maupun estetis. Seorang pengarang lagu atau penyair menuangkan ide-ide, kritik, saran, pesan dan keinginan-keinginannya dalam bentuk papaan bahasa untuk disampaikan kepada pendengarnya dengan cara yang sangat indah, baik lucu maupun kasar. Bahasa dalam lirik lagu atau puisi tersebut teah dipilih sebaik-baiknya olehs eoerang penyair agar dapat memberikan kenikmatan tersendiri kepada pendengarnya. Kenikmatan yang bisa dirakasan oleh pendengar yaitu mampu membangkitkan perasaan sedih, gembira, haru, marah, iba dan lain sebagainya tanpa unsur paksaan.
Tiap penyair (pencipta lagu) mempunyai gaya sendiridalam menuangkan bahasa dalam karyanya (lirik lagu). Hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing penyair (pencipta lagu). Cara menyampaikan pikiran, perasaan ataupun maksud-maksud penyair ini akan menimbulkan gaya bahasa. Seperti yang dingkapkan oleh Slamet Muljana (dalam Pradopo, 2002:93) bahwa gaya bahasa merupakan susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis, yang menimbulkan perasaan tertentu dalam hati pembaca. Bahasa yang digunakan dalam puisi lebih banyak menuntut adanya daya khayal sang penyair. Tetapi justru karena itulah sebuah puisi (lirik lagu) dapat mencapai nilai estetiknya atau nilai keindahannya. Keindahan puisi (lirik lagu) itu tergantung dari kepandaian penyair (pencipta lagu) dalam mencipta dan mengolah bahasa atau kata-kata.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3. 1. Rancangan dan Jenis Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Bodgam dan Taylor (dalam Moelong, 2001:3) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur oebelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dai orang-orang atau perilaku yang diamati. Data yang dihasilkan dalam penelitian ini berupa kata-kata tertulis dalam lirik lagu karya dewa pada album “Bintang Lima”.
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya (Nawawi, 1994:73). Penelitian ini mendeskripsikan data yang mengindikasikan diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu karya Dewa pada album”Bintang Lima”.
Berdasarkan urian diatas, dalam penelitian ini digunakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan data berupa kata atau kalimat tertulis yang mengindikasikan diksi (pilihan kata) dan gaya bahasa yang terdapat dalam lirik lagu karya Dewa pada album “Bintang Lima”.




3. 2. Data dan Sumber Data
Data dan sumber data penelitian ini berupa kata-kata atau kalimat-kalimat yang mengindikasikan diksi dan gaya bahasa dalam teks lagu karya dewa pada album “Bintang Lima”.
Sumber data dalam penelitian ini adalah 9 lirik lagu karya Dewa yang teangkum dalamlabum ”Bintang Lima” yang diproduksi oleh PT. Aquarius Musikindo. Jakrta tahun 2000.

3. 3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Metode dokumentasi adalah metode yang mempelajari dan menganalisis sumber-sumber informasi terulis Arikunto (2002:135). Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi karena berusaha mengumpulkan data dari informasi tertulis yang berupa diksi dan jenis-jenis gaya bahasa yang terdapat dalam liriklagu karya Dewa pada album ”Bintang Lima”.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai beikut :
(1). Membaca
Membaca berulang-ulang teks lagu yng dikaji untuk mendapatkand ata yang berupa diksi dan gaya bahasa teks lagu karya Dewa pada album ”Bintang Lima”
(2). Menandai dan menggarisbwahi kata atau kalimat dalam teks lagu karya Dewa pada album ”Bintang Lima” yang mengindikasikan diksi dan gaya bahasa.
(3). Mencatat dan memberi kode kata-kata atau kalimat-kalimat yang mengindikasikan diksi dan gaya bahasa. Berikut ini contoh pengkodean GSM-RP/1:BL : Gaya Bahasa Simile dalam lirik lagu berjudul Roman Picisan pada album ”Bintang Lima”.
DDN-RP1:BL : Diksi Denotatif dalam lirik lagu berjudul Roman Picisan bait 1 pada album ”Bintang Lima”
(4). Mengklasifikasi data yang mengindikasikan diksi dn gaya bahasa.

3. 4. Metode Analisis Data
Dekkrispi intepretatif adalah metode yang menggambrkan sesuatu secara sistematis dengan memberikan pandangan atau pendapat terhadap karya sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif intepretatif karena berusaha mendeskripsikan diksi dan gaya bahasa yang terdapat dalmlirik lagu karya Dewa pada album ”Bintang Lima”.
Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut :
(1). Membaca heuristik adalah pembacaan karya sastra yang menghasilkan pemahaman makna secara harfiah dengan mengenali simbol-simbol yang berupa kata atau kelompok kata diksid an gaya bahasa yang teardapat dalam lirik lagu karya Dewa pada album ”Bintang Lima” sehingga dapat diketahui dan dicatat untuk di analisis.
(2). Membaca hermeneutik atau reproaktif adalah pembacaan ulang seseudah pembacaan heuristik. Dalam penelitian ini menghsailkan pemahaman makna secara tersirt. Pada proses ini peneliti membaca berulang-ulang kemudian menafsirkan kata yang berupa diksi dan gaya bahasa yang digunakan oleh pencipta lagu Dewa pada album ”Bintang Lima” secara harfiah.
(3). Menctata dan mengklasifikasikan data yang berupa diksi (kata konotatif dan denotatif, kata konkrit dan abstrak, kata umum dan khusus) dan jenis-jenis gaya bahasa dalam lagu karya Dewa pada album ”Bintang Lima” ke dalam instrumen analisis data.
(4). Interpretasi
Interpretasi merupakan bentuk khusu mengenai laporan penerimaan yaitu suatu proses yang dilakukan pembaca untuk menafsirkan sebuah teks karya sastra (lagu). Atmazaky (1993:121) berpedapat bahwa interprestasi adalah sebagai upaya dalam menemukan arti dan penelitian ini menafsirka kata-kata atau kalimat yang mengindikasikan diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu karya Dewa pada labum ”Bintang Lima”
(5). Apresiasi sastra adalah kegiatan memahami karya sastra dengan sungguh-sungguh sehingga menimbulkan pengertian dan penghargaan yang baik terhadap karya sastra. Kegiatan apresiasi difokuskan pada pemerolehan deskripsi yang lengkap mengenai diksi dan gaya bahasa yang tekandung dalam lirik lagu karya Dewa pada album ”Bintang Lima”

3. 5. Instrumen Penelitan
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen pengumpul data dan isntrumen analisis data. Instrumen pengumpul data adalah peneliti sendiri selaku instrumen utama, yaitu dengan cara mendata kata-kata,kelompok kata, atau kalimat-kalimat yang mengindikasikan diksi dan gaya bahasa. Sedangkan instrumen pemandu analisis data berupa tabel mengenai pengelompokan diksi yang meliputi pemakaian kata denotatif dan konotatif, kata konkret dan abstrak, kata umum dan khusus serta data megenai pengklasifikiasian jenis-jenis gaya bahasa.

3. 6. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu : 1) tahap persiapan, 2) tahap pelaksanaan, dan 3) tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi : a) pemilihan dan pemantapan judul, b) pengadaan studi pustaka, c) penyusunan metodologi penelitian. Tahap pelaksanaan meliputi : a) pengumpulan data, b) menganalisis data, c) menyimpulkan hasil penelitian, serta tahap penyelesaian meliputi a) penyusunan laporan penelitian, b) pengadaan revisi laporan, c) penggandaan laporan penelitian.


DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi, 2002. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : Rhineka Cipta.
Atmazaky, 1993. Analisis Sajak, Teori, Metodologi, dan Praktek : Bandung : Angkasa.
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, Jakarta : Rhineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1996. Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta : Gramedia
Pradopo, Djoko Rahmat. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gadjah, Mada University Press.
Suroto, 1993. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta : Erlangga
Tarigan, Henry Guntur, 1990. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung :Angkasa
Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga.
Sumber Pendukung
Teks lagu dalam sampul kaset Dewa Album “Bintang Lima” . Jakarta : PT. Aquarius Musikindo.

PROPOSAL
DIKSI DAN GAYA BAHASA
DALAM LIRIK LAGU KARYA DEWA
PADA ALBUM “BINTANG LIMA”


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar

Dosen Pembimbing
Drs. Heriyanto, M.Pd









Disusun oleh :
Hidayatulloh
076074
BINA 2007 C


PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
JOMBANG 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar