Loading...

Minggu, 24 April 2011

Proposal penelitian sastra (Sufistik dalam Serat Padhayangan)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sufi (shufi) secara harfiah diartikan beraneka ragam, misalnya shafu berarti bersih, atau shafa juga berarti bersih. Terdapat pula suffah yang berarti makna sebuah kamar disamping masjid Rasulullah di Madinah yang disediakan untuk sahabat-sahabatnya yang miskin tetapi tebal iman. Al-Junaid memberikan arti shufi sebagai membersihkan hati dari apa yang mengganggu perasaan kebanyakan makhluk, berjuang meninggalkan pengaruh budi yang asali atau nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian, bergantung kepada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang lebih penting dan kekal, menaburkan nasihat kepada umat manusia, memegang teguh janji dengan Allah SWT dalam perihal hakikat, dan mengikuti syariat (Supaat, 2010:181).
Istilah sufi dimaksudkan sebagai satu kategori penyifatan dimensi esoteris ajaran Islam. Kata tasawuf berkaitan langsung dengan esoterisme atau dimensi dalam dan rahasia ajaran Islam itu sendiri. Sedangkan istilah mistik atau mistisme dimaksudkan sebagai dimensi esoteris setiap kepercayaan atau keagamaan. Dengan demikian istilah mistisme Islam dimaksudkan sebagai sufisme. Istilah kebatinan dalam dimensi esoteris kepercayaan khas Jawa disebut dengan kejawen (Aprinus, 2004: 4).
Nasr (1980:22) mengatakan bahwa sufisme secara hakiki memobilisasi tiga unsur makna, yaitu kodrat Tuhan, kodrat manusia, dan kebijakan ruhani, yang hanya dengan itu maka terlaksananya Tuhan menjadi mungkin, dan hanya dengan itu maka manusia dapat menyiapkan diri menjadi bermartabat karena mencapai pangkat ahsan taqwim, menjadi alamat Nama-Nama Tuhan dan Sifat-Sifat Tuhan sepenuhnya.
Hal senada diungkapkan oleh Sayyid Abdul Lathif dalam Mir Valiudin (1987:vii) bahwa praktik sufisme merupakan cara menentukan arah suatu proses budaya spiritual. Kecenderungan mistik dalam watak manusia telah menjadi ciri pemikiran yang penting pada segala masa dan diantara setiap segi kemanusian. Pengalaman dalam berbagai kasus individual bervariasi, baik dalam keleluasaan maupun kedalamannya, sesuai dengan pandangan hidup mereka. Sufisme dapat dilihat sebagai ”wadah” suatu ide pemikiran dalam memahami eksistensi dan esensi Tuhan. Praktik sufisme adalah sebuah ide dalam melihat dan memahami alam semesta dan manusia, sampai seberapa jauh peranan Tuhan di muka bumi, dan sampai seberapa jauh doktrin-doktrin (wacana) tersebut mempengaruhi prilaku manusia serta berhadapan dengan dunia.
Sufisme merupakan jantung ajaran Islam, sesuatu yang tidak tampak (tersembunyi), tetapi menjadi sumber batin kehidupan dan menjadi pusat yang mengatur seluruh organisme keagamaan Islam. Dalam tradisi sufisme, Schimmel (1986:3) membedakan dua tradisi besar, yaitu Mistik Kepribadian (Mysticism of Personality) dan Mistik Ketakterhinggaan (Mysticism of Infinity). Mistik Kepribadian adalah suatu aliran mistik yang menekankan aspek personal bagi manusia dengan Tuhan. Paham ini menekankan hubungan antara makhluk (kawula) dan Khalik (Tuhan). Paham ini percaya bahwa creatio ex nihilo (Tuhan menciptakan alam dari kehampaan menjadi ada, alam merupakan sesuatu yang baru). Paham ini disebut transendentalis mistik, yaitu paham mistik yang mempertahankan adanya perbedaan yang esensial antara manusia sebagai makhluk Tuhan dan Tuhan sebagai Khalik. Tuhan dipandang sebagai Zat yang transenden mengatasi alam semesta. Sedangkan tipe kedua adalah pemahaman mistisme Islam yang memandang Tuhan sebagai realitas yang absolut dan tak terhingga. Paham ini menempatkan manusia bagaikan percikan ombak lautan yang serba Illahi. Menurut paham ini, Tuhan adalah transenden dan imanen sekaligus. Tuhan bukan hanya transenden, mengatasi manusia dan alam semesta, melainkan sekaligus bersemayam dalam alam semesta dan dalam diri manusia.
Di Jawa, peradaban Islam mulai berkembang terutama sejak berdirinya kerajaan Demak pada awal abad ke-15. salah satu hasil yang menonjol dari Islam awal tersebut adalah bermunculannya sastra mistik (Graaf dan Pegeud, 1989:31). Akan tetapi, disebabkan pengaruh peradaban Hindu dan kepercayaan tradisional Jawa lainnya, mistik di sini cenderung heterodoks dan panteistik. Gagasan dan pemikiran sufistik di Jawa meninggalkan jejak jauh lebih awal, dalam karya sastra Jawa mengandung ajaran mistik sebagaimana terdapat dalam naskah, suluk, dan serat. Sastra sufi (mistik) di Jawa mendapat pengaruh yang kuat, hal ini karena terwujud dari ungkapan verbalnya. Tradisi sufi di Jawa cenderung berbau sastra sufi filosofis dan kejawen.
Kepercayaan pra-Islam (Hindu atau Budha bahkan Animisme) dalam praksisnya adalah proses pertemuan antara Islam sufi dan kepercayaan lokal memberikan formasi baru yang disebut dengan sinkretisasi, yaitu bentuk ”agama baru” (hasil percampuran dengan kepercayaan lokal dan ajaran Islam) (Greetz, 1981).
Tasawuf merupakan bentuk mistik Islam, yang berupaya agar hati manusia menjadi benar dan lurus dalam menuju Tuhan. Tasawuf berasal dari bahasa Yunani sophos, berarti hikmah (keutamaan). Tasawuf adalah ajaran mistik yang diusahakan oleh segolongan umat Islam dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Ajaran tasawuf disebut hakikat atau kesunyatan.
Jenis ajaran tasawuf meliputi tasawuf suni, tasawuf falsafi, dan tasawuf Jawa (sufisme Jawa). Tasawuf suni adalah ajaran kepribadian, yakni ajaran yang lebih menekankan zuhud (sikap hidup sederhana dan menjauhi kemewahan duniawi). Tasawuf falsafi menekankan pada aspek makrifat, ajarannya ke arah insan kamil. Upaya yang dilakukan adalah melalui jalan tarekat, yaitu riyadhah, mujahadah, dan melepaskan diri dari hawa nafsu. Sufisme Jawa merupakan titik temu kepaduan antara paham sufistik dengan kejawen yang sama-sama ke arah manunggal dengan Tuhan. Istilah manunggal menurut Mulyono (1983: 57) hanya diterjemahkan sebagai cara bagaimana manusia dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan.
Naskah ”Serat Padanyangan” merupakan salinan dari naskah kropak nomor 226 yang tersimpan di PNRI. Naskah ini menceritakan tentang primbon yang membahas tentang cara memanggil dan mengusir roh halus atau danyang.
Naskah Serat Padanyangan merupakan naskah berbahasa Jawa. Menurut Behrend (1990 : x-xiii) membagi naskah tersebut menjadi empat belas kategori, yaitu: (1) sejarah, (2) silsilah, (3) hukum, (4) wayang, (5) sastra wayang, (6) sastra, (7) piwulang, (8) agama Islam, (9) primbon dan pakuwon, (10) bahasa, (11) musik, (12) tari-tarian, (13) adat-istiadat dan lain-lain.
Beberapa alasan yang menjadi pilihan bagi peneliti dalam mengkaji naskah Serat Padanyangan sebagai objek penelitian, yaitu: (1) naskah Serat Padanyangan mempunyai konsep yang penting bagi masyarakat Jawa, (2) naskah Serat Padanyangan bila ditinjau dari isinya sangat menarik, dan (3) naskah Serat Padanyangan belum pernah dikaji dalam kajian sufisme Jawa.
Sebagai sebuah agama Jawa, tentu saja mistik kejawen akan mengatur hubungan manusia secara horisontal dan vertikal. Hubungan horisontal memayu hayuning bawana dan secara vertikal dinamakan manunggaling kawula-Gusti. Hubungan tersebut memiliki dimensi spiritual yang dikenal dengan sebutan panembah. Artinya, manusia Jawa akan berbakti kepada Tuhan melalui ritual mistik kejawen.
Esensi agama Jawa (the religion of Java) adalah pada pemujaan nenek moyang atau leluhur. Pemujaan tersebut diwujudkan melalui sikap mistik dan slametan. Agama dalam konteks Jawa juga dinamakan ageming aji, artinya bukan agama itu milik raja, melainkan pedoman hidup. Aji berarti kesaktian, yang kokoh, yang tak tergoyahkan, dan petunjuk (pituduh sejati, pepadhang). Pepadhang berarti huda (petunjuk yang jernih).
Masyarakat Jawadwipa mengenal Tuhan dengan pemujaan para roh dan benda-benda yang disebut dengan animisme dan dinamisme. Ritual dan sesaji berbentuk negoisasi supranatural. Roh dan benda-benda di sekitar manusia dianggap memiliki kekuatan sakti dan dapat mendatangkan kebahagiaan atau sebaliknya. Bagi orang Jawa yang memuja kedua sumber kekuatan batin, menganggap ada orang sakti dan memiliki perewangan dalam hidupnya. Orang sakti dan perewangan tak lain merupakan bantuan roh leluhur atau nenek moyang dan jimat dari benda-benda bertuah. Representasi pemujaan roh tak lain melalui selamatan, dari slametan surtanah (geblak), nelung dina, pitung dina, matang puluh, nyatus, mendhak pisan, mendhak pindho, dan nyewu (nguwis-uwisi). Adapun pemujaan terhadap kekuatan benda sakti, biasanya dilakukan melalui kutukan dan siraman pusaka. Kutukan biasanya dilakukan setiap Malem Selasa Kliwon dan Jumuwah Kliwon. Selain itu ada yang berupa pemberian sesaji bagi dhanyang merkayangan, sing mbaureksa, yaitu leluhur yang menjaga rumah atau tempat tinggal. Orang Jawa percaya bahwa di rumah dan tempat tinggalnya dijaga oleh roh-roh halus. Bahkan, di tempat-tempat yang mereka anggap wingit (sakral), misalnya pohon besar, belik, perempatan jalan, dan sebagainya ada penunggunya. Penunggunya tersebut harus sesaji agar mau membantu hidup manusia.
Beberapa alasan yang menjadi pilihan bagi peneliti dalam mengkaji naskah Serat Padanyangan sebagai objek penelitian, yaitu: (1) naskah Serat Padanyangan mempunyai konsep yang penting bagi masyarakat Jawa, (2) naskah Serat Padanyangan bila ditinjau dari isinya sangat menarik, dan (3) naskah Serat Padanyangan belum pernah dikaji dalam kajian sufisme Jawa.

1.2 Permasalahan
1.2.1 Batasan Masalah
Naskah Serat Padanyangan dapat diteliti dari berbagai kajian lain, tidak hanya terbatas pada kajian sufisme Jawa, oleh karena naskah Serat Padanyangan ditulis dengan aksara Jawa maka memiliki struktur kalimat yang berbeda dengan aksara bahasa daerah lain.
Mengingat ruang lingkup penelitian yang sangat luas, maka yang menjadi batasan dalam penelitian aspek kajian adalah sufisme Jawa terhadap naskah Serat Padanyangan. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa naskah Serat Padanyangan ditulis pengarang sesuai dengan hakikat, tujuan dan gambaran kehidupan masyarakat Jawa.

1.2.2 Rumusan Masalah
Ditinjau dari batasan masalah di atas maka rumusan masalah dari kajian naskah Serat Padanyangan adalah sebagai berikut:
1.Adakah aspek sufisme dalam naskah Serat Padanyangan?
2. Bagaimana aspek-aspek sufisme Jawa terdeskripsikan dari aspek tematik, isi, dan amanat dalam naskah Serat Padanyangan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian memiliki dua macam tujuan
yaitu: tujuan umum dan tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum tujuan penelitian adalah untuk memperoleh deskripsi tentang nilai-nilai sufisme Jawa dalam naskah Serat Padanyangan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1.mendeskripsikan ada tidaknya aspek sufisme Jawa dalam naskah Serat Padanyangan.
2.mendeskripsikan sejauh mana aspek-aspek sufisme Jawa dalam naskah Serat Padanyangan.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
1.Menambah khasanah keilmuan dalam mengkaji naskah Serat Padanyangan.
2.Memberikan deskripsi sufisme Jawa dalam naskah Serat Padanyangan.
3.Mengembangkan nilai-nilai (kepercayaan) masyarakat Jawa terhadap keyakinannya.
4.Mampu mengembangkan ilmu kesusastraan khususnya dalam fungsi sastra pada masyarakat pendukungnya.

1.4.2 Manfaat Praktis
1.Memberikan sumbangan informasi kepada pembaca agar mampu memahami makna dan isi teks dalam naskah Serat Padanyangan.
2.Sebagai refleksi diri dalam menyikapi persoalan yang berkembang dewasa ini, khususnya bidang aspek sufi Jawa.
3.Sebagai referensi guru dalam pembelajaran apresiasi karya sastra.

1.5 Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahan pengertian pada penggunaan istilah dalam kajian ini yang berakibat salah paham, maka perlu penjelasan pada penggunaan istilah dalam kajian ini. Istilah yang perlu dijelaskan adalah:
1. Naskah Lama adalah sebuah karya sastra yang lahir lebih dari lima puluh tahun terdahulu yang mempunyai nilai sejarah masyarakat itu dan isinya antara lain adalah tentang nasehat, sejarah, obat-obatan, kebudayaan, agama, dll (Baroroh Baried, 1944:17)
2.Serat Padanyangan adalah sebuah karya sastra lama yang menceritakan tentang primbon yang membahas tentang cara memanggil dan mengusir roh halus atau dhanyang.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1Hubungan Sastra Dan Sufisme Jawa

Kehidupan sastra berbahasa Jawa, walaupun hidup di bawah bayang-bayang sastra Indonesia, tetap memperlihatkan geliatnya. Secara internal kesastraan, dalam tema kajian terdapat aroma sufistik yang menguat. Hal ini disebabkan hegemoni Jawa yang terus bergerak dan berubah dan jaring-jaring wacana dan konstruksi sosial didukung oleh masyarakat mayoritasyang berbau agamis.
Kepercayaan agama pra-Islam bagi orang Jawa meliputi empat hal. Pertama, hal-hal yang berkaitan dengan metafisika, yaitu ajaran tentang sangkan paraning dumadi, asal penciptaan, segala sesuatu yang bersifat Ilahiah. Konsekuensi ajaran ini adalah bahwa Tuhan ada dimana-mana (omnipresent), atau disebut panteisme. Tuhan yang di mana-mana Ada itulah Ruh Suci yang ada dalam diri tiap manusia, sekaligus Tuhan yang menampakkan wajahnya dalam wujud alam yang bersifat kodrati.
Kedua, berkaitan dengan mistisme, yaitu ajaran tentang manunggaling kawula gusti, menyatunya hamba dengan Tuhan. Konsep ajaran ini adalah untuk manunggal dengan cara membebaskan diri dari nafsu-nafsu duniawi, yang kesemuanya dianggap semu karena yang abadi hanyalah Gusti.
Ketiga, ajaran tentang etika yang memuat ajaran tentang kepatutan dan ketidakpatutan, kecocokan atau ketidakcocokan.
Keempat, ajaran tentang okultisme adalah ajaran tentang ilmu kedigdayaan, jaya kewijayaan, kesaktian. Ajaran ini berguna dalam pergaulan sesama manusia. keempat hal ini saling mengait dan tidak dapat dipisahkan, seperti persoalan mertafisika dan mistisme adalah ibarat dua sisi mata uang yang sama.

2.2 Karakteristik Sufisme Jawa
Menurut Dawami (2002:12) sistem pola pikir Jawa suka akan mitos. Segala prilaku orang Jawa seringkali sulit lepas dari kepercayaan pada hal-hal tertentu. Hal itu yang menyebabkan sistem berpikir mistis mendominasi prilaku hidup orang Jawa. Percaya akan hal-hal yang sakral secara turun-menurun sehingga mempengaruhi pola hidup yang bersandar kepada nasib (kabegjan). Pola pikir tersebut dinamakan homologi antropokosmik (langkah kehidupan yang disesuaikan dengan tatanan manusia dan dunia sekelilingnya).
Sistem berpikir mistis terpantul dalam tindakan nyata yang disebut dengan laku. Laku juga senada dengan tirakat (ngurang-ngurangi) atau disebut dengan istilah tapa brata. Oleh karena itu, orang Jawa sering menjalankan tapa ngrowot (makan tidak berbiji), tapa ngidang (hanya makan sayuran), mutih (hanya makan nasi). Bentuk laku ini dilakukan dengan tujuan membersihkan batin. Karakteristik yang paling menonjol adalah slametan (sebuah ritual yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan hidup). Ajaran-ajaran kejawen disebarkan melalui tuturan (lisan) yang dibukukan di dalam primbon.
Menurut Soedjito Sosrodiharjo (1972:7) menyatakan bahwa pandangan dunia orang Jawa dipengaruhi dan dikuasai oleh konsep ”partisipasi”. Yakni paham yang mempengaruhi bahwa manusia sebagai jagad cilik (mikrokosmos) merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan alam semesta sebagai jagad gedhe (makrokosmos) dan bahkan dengan dunia yang serba gaib (alam roh-roh halus). Kehidupan manusia wajib membangun keselarasan dengan alam sekelilingnya dan alam gaib.
Sistem religi yang bersendi pada kepercayaan animisme dan dinamisme memuncak dengan adanya mitos tentang dhanyang, yang bahureksa (roh pengawal daerah-daerah tertentu) dan sebagainya. Hal ini selaras dengan keterangan Sutan Takdir Alisyahbana (1977: 13) sebagai berikut:
Pikiran dan perbuatan tertuju bagaimana mendapat bantuan dari roh-roh baik, dan bagaimana menjauhkan pengaruh roh-roh yang mengganggu atau menghalang. Atau kalau tenaga-tenaga yang gaib itu tidak dianggap berpribadi, bagaimana memperkuat diri dengan tenaga-tenaga yang gaib itu, atau bagaimana menguasainya untuk dapat memakainya buat kepentingan diri dan masyarakat. Dan untuk mencapai maksud-maksud itu ada bermacam-macam ritus, mantra, larangan, dan suruhan yang memenuhi kehidupan masyarakat bersahaja.
Karakteristik unsur-unsur kejawen sangat kompleks dan penuh misteri. Kejawen adalah jati diri Jawa. Seperangkat kejawen selalu hadir adalah dunia mistik, didalamnya banyak tradisi ritual dan sejumlah petungan (perhitungan) yang mengatur kehidupan masyarakat Jawa (sufisme Jawa).

2.3Aspek-aspek Sufisme Jawa
Menurut Dawami (2002) aspek-aspek kehidupan kejawen tercermin dalam prilaku budaya Jawa, diantaranya adalah (1) idealisme, (2) kebatinan, (3) kosmologi, (4) panteisme dan monisme, dan (5) tantularisme sinkretisme.
Idealisme masyarakat tercermin dalam sembilan bidang budaya spiritual Jawa, yaitu: (1) kapribadhen, menghendaki orang Jawa sebagai satriya pandhita; (2) sosial, menghendaki watak manjing ajur ajer, bisa rumangsa dan bukan rumangsa bisa. Maksudnya dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain sehingga dapat bertindak hati-hati; (3) ekonomi, menghendaki roda ekonomi ganggsar, artinya berjalan terus; (4) politik, menghendaki terciptanya kekuasaan yang mangku-mengku-hamang-koni. Maksudnya menjalankan tugas, mengayomi, dan, menyelaraskan dengan keadaan yang dipimpin; (5) kagunan, yaitu seni yang adiluhung; (6) ngelmu, menghendaki sikap mumpuni sampai menjadi nimpuna, artinya tahu berbagai hal; (7) ketuhanan, menghendaki kesampurnan atau kesempurnaan; (8) filsafat, menghendaki idealisme bener pener, artinya benar dan tepat; (9) mistik, menghendaki sampai tingkat ngraga suksma. Jiak sembilan bidang dapat dicapai maka hidup mereka mampu mbabar jati dhiri. Maksudnya hidup yang benar-benar mampu menguasai diri sendiri lahir batin. Orang Jawa yang memiliki kemampuan tersebut dinamakan pana (cerdas).
Kebatinan menurut Mulder (1986: 12-15) seringkali disebut gaya hidup yang memupuk batin (javanisme). Sedangkan sifat-sifat kebatinan menurut Subagya (1976: 13-24) mengandalkan pada hal-hal berikut:
a.Batin, berasal dari lafal bahasa Arab yang bermakna rasa mendalam, tersembunyi, rohani, dan asasi.
b.Rasa, yaitu sebuah pengalaman rohani subyektif.
c.Keaslian, yaitu bangkitnya hasrat untuk mengembangkan kepribadian asli.
d.Hubungan antarwarga, bersatu karena terikat sebuah paguyuban yang memiliki kesamaan pandangan hidup yaitu ke arah manunggaling kawula-Gusti.
e.Akhlak sosial, menyerukan kesuailaan dengan semboyan budi luhur dan sepi ing pamrih.
f.Gaib yang suprarasional.
Kosmologi Jawa adalah wawasan manusia Jawa terhadap alam semesta (makrokosmos) dan mikrokosmos. Personifikasi dokterin kosmologi Jawa membagi menjadi empat jenis nafsu, yaitu:
a.Amarah
b.Aluamah (lawwamah)
c.Sufiah, dan
d.Muthmainnah
Selain itu kosmologi Jawa juga menggambarkan anasir hidup manusia, yaitu: (1) angin, (2) air, (3) tanah, dan (4) api. Anasir-anasir tersebut membentuk struktur nafsu yang mempresentasikan dorongan dalam diri manusia untuk memenuhi kebutuhan badaniah dan rohaniah.
Menurut Rudolf Eisler (Zutmulder, 1992:2) monisme adalah kecenderungan untuk mengembalikan kejamakan dalam suatu bidang kepada suatu kesatuan atau menerangkan keanekaan dengan berpangkal pada suatu prinsip tunggal. Sedangkan panteisme adalah ajaran Tuhan dan dunia tak merupakan dua hakikat yang sungguh terpisah dan yang di luar itu yang lain, melainkan Tuhan sendiri merupakan segala-galanya; Tuhan adalah imanent dalam segalanya. Tuhan bersifat Illahi. Bagi aliran Brataksiwa, aliran ini berprinsip : waman ’arafa nafsahu faqad ’arafa rabbahu, artinya barang siapa mencapai inti dirinya (purasa) maka ia akan merasa menyatu dengan tuhan (iswara).
Yang kelima adalah tantularisme dan sinkretisme. Tantularisme adalah kultur yang berasal dari konsep Empu Tantular yang disebut dengan pemersatu atau kerukunan. Konsep tersebut berbunyi: sarva sastra prayojanam atma darsanam atau sarva sastra proyojanam tatwa darsanam, kalimat lain dari bhineka tunggal ika tan hana dharma magrwa, artinya berbeda tetapi tetap satu jua, tak ada perbedaan antara satu sama lain. Batas-batas tantularisme dan sinkretisme harus dipahami secara menyeluruh karena kedua-duanya merupakan paham religiuitas kejawen yang mengarah pada Ketuhanan.

2.4 Mistik Kejawen
Mistik kejawen merupakan representasi upaya berpikir filosofis manusia Jawa. Melalui mistik kejawen dapat diketahui bagaimana manusia berpikir tentang hidup, manusia, dunia, dan Tuhan. Menurut Zoetmulder pola pikir masyarakat barat berbeda dengan masyarakat Jawa karena jika di Barat seseorang dalam berfilsafat dikaitkan dengan mempelajari ilmu pengetahuan, sedangkan di Jawa berfilsafat merupakan langkah untuk mencari kesempurnaan, yaitu menekankan laku untuk mencapai hidup yang sempurna.
Pesan tentang asal usul tujuan hidup dipegang teguh oleh penganut mistik kejawen. Dalam ilmu kejawen menurut Sastroamidjoyo (1972: 101) terdapat istilah sangkan paraning dumadi yang terbagi menjadi beberapa hal yaitu:

1.asaling dumadi berarti asal mula suatu wujud;
2.sangkaning dumadi berarti darimana datangnya dan bagaimana atau akan kemana arah perkembangan wujud ;
3.purwaning dumadi bararti permulaan suatu wujud;
4.tataraning dumadi berarti derajat atau martabat suatu wujud; dan
5.paraning dumadi berarti cara dan arah perkembangan suatu wujud.
Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa ngelmu sangkan paraning dumadi merupakan cara atau langkah agar manusia selamat. Manusia yang selamat yaitu mampu mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan diperoleh dengan cara mengekang hawa nafsu yang dilakukan melalui ritual mistik kejawen.
Dalam memilih seorang guru mistik yang teguh maka harus berpegang pada Sapta Guna Karya (delapan tindakan penting), sebagai berikut:
a.nastiti, artinya tidak simpang siur dalam memberikan wejangan,
b.nastapa, artinya berani menjalankan laku prihatin,
c.kulina, artinya membiasakan berbuat baik,
d.diwasa, artinya benar-benar matang dan dewasa dalam menguasai ilmu,
esantosa, artinya lurus tabiatnya,
f.engetan, artinya selalu ingat dan tidak ragu-ragu dalam ajaran,
g.santika, artinya menempatkan diri dengan cakap dan tegas, dan
h.lana, artinya tak berganti-ganti ucapan.
Budaya saling asah-asih-asuh selalu dibangun dalam rangka menyampaikan ajaran mistik agar mencapai kematangan dalam ngelmu.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji fakta atau data yang diteliti. Selain itu metode juga dapat digunakan mendapatkan kebenaran yang disusun berdasarkan sistematika ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ratna (2004: 34) menyatakan secara etimologis, metode berasal dari kata metodhos dan logos, yaitu filsafat atau ilmu mengenai metode. Jadi metodologi adalah membahas prosedur intelektual dalam komunitas ilmiah.
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan hendak dicapai dalam penelitian ini. Penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif, artinya data yang dianalisis dan hasilnya berbentuk deskripsi fenomena baik berupa angka atau koefisien tentang hubungan antar variabel. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata bukan angka-angka. (Aminuddin, 1990:23).
Dijelaskan oleh Surakhmad (1985 :139) bahwa dalam pelaksanaannya, metode deskriptif tidak terbatas sampai pada pengumpulan dan penyusunan data. Akan tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data. Oleh karena itu, dalam penelitian ini data-data yang terkumpul akan terbentuk kata-kata dan bukan berupa angka-angka. Dengan demikian, tulisan hasil penelitian ini kutipan-kutipan dari kumpulan data, ilustrasi dan materi pelaporan.
Dari uraian tentang pendekatan tersebut dapat dipakai sebagai pijakan bahwa penelitian ini untuk menggambarkan secara faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan antara data yang diteliti dengan cara mencuplik kata-kata atau kalimat dalam nakah Serat Padanyangan.
Menurut Semi (1993:23) penelitian kualitatif dalam kajian sastra antara lain: (1) peneliti merupakan instrumen kunci yang membaca secara cermat sebuah karya sastra, (2) penelitian dilakukan secara deskriptif, artinya terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar jika diperlukan, bukan bentuk angka, (3) lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil, karena kartya sastra merupakan fenomena yang banyak mengundang penafsiran, (4) analisis secara induktif, dan (5) makna merupakan andalan utama.

3.2.Sumber Data dan Data Penelitian
Sumber data adalah sesuatu yang menjadi sumber untuk memperoleh sebuah data. Sumber data penelitian dalam kajian ini adalah berupa naskah Serat Padanyangan, tulisannya menggunakan aksara Jawa, keadaan naskah baik, namun kertas berwarna kecoklat-coklatan, tulisannya jelas terbaca, ditulis dengan tinta coklat, jilidan kokoh dengan menggunakan karton tebal berwarna coklat. Naskah ini merupakan salinan dari naskah kropak nomor 226 yang tersimpan di PNRI. Sumber data lain yang menunjang penelitian ini berupa buku referensi serta pengetahuan penulis.
Data dapat diartikan sebagai bahan mentah yang diperoleh peneliti dari penelitiannya, bisa berupa fakta maupun keterangan yang dapat digunakan sebagai dasar analisis. Data dapat berfungsi sebagai bukti penunjuk tentang adanya sesuatu. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah berupa kutipan-kutipan naskah yang dijadikan sebagai ukuran dalam mengembangkan pengertian atau analisis jejak sufisme Jawa yang termaktub dalam naskah Serat Padanyangan.

3.3 Langkah Kerja Penelitian
Langkah kerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Penterjemahan naskah Serat Padanyangan sekaligus pembacaan terhadap naskah secara cermat disesuaikan dengan aturan tata bahasa yang tepat.
2.Menganalisis data yang sudah terkumpul dan mengkorelasikan dengan kajian dan teori-teori yang disusun dalam landasan teori. Pengkorelasian tersebut dilaksanakan dengan membahas atau memberikan jawaban atas pertanyaan dari rumusan masalah.
3.Merumuskan hasil penelitian secara sistematis sesuai dengan kriteria penulisan ilmiah dengan memberikan simpulan, kemudian tahap akhir adalah penyajian dari hasil penelitian.

3.4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ilmiah, pengumpulan data sangat penting karena hasil penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data. Untuk memperoleh data, peneliti menggunakan beberapa macam metode, yaitu:
a.Metode Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian dan merupakan hasil perbuatan jiwa yang aktif dan penuh perhatian untuk menyadari suatu rancangan atau studi yang dilakukan.

b.Metode Studi Pustaka
Metode yang digunakan untuk mencari dan menelaah berbagai buku sebagai bahan rujukan yang dijadikan sebagai sumber penelitian.
c.Metode Batat
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dengan jalan membaca secara keseluruhan teks atau literatur yang menjadi objek penelitian lalu mencatat data yang ditemukan. Metode ini dipergunakan untuk memperoleh kutipan-kutipan data kemudian dikembangkan dalam pengolahan data dan pembahasan.
d. Metode Deskripsi
Metode yang digunakan untuk mendeskripsikan data yang telah diperoleh, data-data yang berguna dicatat dalam kartu data. Dalam penelitian ini metode deskripsi digunakan untuk mendeskripsikan data-data dalam naskah Serat Padanyangan.


DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1977. Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia
Dilihat dari jurusan Nilai-Nilai.
Aminuddin.1995. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Elvindo
Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada
Dawami, Muhammad. 2002. Makna Agama dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta:
LESFI.
Endraswara, Suwardi. 2006. Mistik Kejawen Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme
dalam Budaya Spiritual Jawa. Yogyakarta: Narasi
Endraswara, Suwardi. 2008.Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: FBS
Universitas Negeri Yogyakarta.
Geertz, C. 1982. Islam Yang Saya Amati. Penerjemahan Hasan Basari. Jakarta
Lathief, Supaat I. 2010. Sastra Eksistensialisme-Mistisme Religius. Lamongan:
Pustaka Pujangga
Mulder, Niels. 1986. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakarta:
UGM Press.
Mulyono, Sri. 1976. Wedhatama Bukan Karya Mangkunegara IV. (Berita Buana, 5
April 1976).
Salam, Aprinus. 2004. Oposisi Sastra Sufi. Yogyakarta: LkiS
Sastroamidjojo, Seno. 1964. Renungan Pertunjukan Wayang Kulit. Jakarta: Bulan
Bintang
Schimmel, A. 1986. Dimensi Mistik dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.
Simuh. 1996. Sufisme Jawa Transformasi Tasawuf Islam Ke Mistik Jawa.
Yogyakarta: Bentang
Subagya, Rahmat. 1976. Kepercayaan Kerohanian Kejiwaan dan Agama. Yogyakarta:
Kanisius
Sasrodihardjo, Soedjito. 1972. Perubahan Struktur Masyarakat Jawa. Yogyakarta
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

1 komentar:

  1. Sehubungan dengan akan diselenggarakan kegiatan Seminar Ilmiah Nasional Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur dan Teknik Sipil (PESAT) 2013 dengan tema Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Revitalisasi Peradaban pada tanggal 8-9 Oktober 2013 di Bandung, maka kami mengundang Bapak/ibu/sdr/sdri turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Informasi selengkapnya dapat dilihat pada alamat URL http://penelitian.gunadarma.ac.id/pesat

    BalasHapus