Loading...

Jumat, 15 Oktober 2010

Foklor, Permainan Rakyat

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Permainan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan manusia. Dimulai dari usia kanak-kanak bahkan sampai usia dewasa sekalipun, manusia tetap tidak bisa terlepas dari permainan. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya permainan yang tersedia saat ini di pasaran. Sebagai contoh adalah permainan lompat tali. Sebenarnya permainan-permainan tradisional (permainan rakyat) itu mengandung unsur-unsur pendidikan yang sangat baik, misalnya mengajarkan orang untuk sprortif, jujur dan kreatif. Misalnya, dulu kalau ingin main mobil-mobilan, kita buat sendiri. Anak-anak sekarang sudah tak mau lagi.
Permainan lompat tali secara fisik akan menjadikan anak lebih kuat dan tangkas. Belum lagi manfaat emosional, intelektual, dan sosialnya yang akan berkembang dalam diri anak tersebut.
Lompat tali atau “main karet” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali ini menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Sekarang, “main karet” mulai dilirik kembali antara lain karena ada sekolah dasar menugaskan murid-muridnya membuat roncean tali dari karet gelang untuk dijadikan sarana bermain dan berolahraga.
Cara bermainnya masih tetap sama, bisa dilakukan perorangan ataupun berkelompok. Jika hanya bermain seorang diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang, batang pohon atau pada apa pun yang memungkinkan, lalu melompatinya. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala dan kaki sambil melompatinya.
Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal 3 anak. Diawali dengan gambreng atau hompipah untuk menentukan dua anak yang kalah sebagai pemegang kedua ujung tali. Dua anak yang kalah akan memegang ujung tali; satu di bagian kiri, satu anak lagi di bagian kanan untuk meregangkan atau mengayunkan tali. Lalu anak lainnya akan melompati tali tersebut. Aturan permainannya simpel; bagi anak yang sedang mendapat giliran melompat, lalu gagal melompati tali, maka anak tersebut akan berganti dari posisi pelompat menjadi pemegang tali. Alat yang dibutuhkan cukup sederhana. Bisa berupa tali yang terbuat dari untaian karet gelang atau tali yang banyak dijual di pasaran yang dikenal dengan tali skipping umumnya digemari anak laki-laki. Meski demikian, segala permainan lompat tali sebetulnya bisa dimainkan anak laki-laki maupun perempuan tanpa memandang jender. selain menyenangkan, permainan ini tak banyak memakan waktu, murah, dan menyehatkan. Jadi cocok untuk mengisi waktu senggang anak-anak ketimbang mereka main lari-larian tanpa tujuan. Salah satu cara yang diimbau dengan memberi kesempatan anak untuk main lompat tali di waktu istirahat.
Untuk bermain tali secara berkelompok, anak membutuhkan teman yang berarti memberi kesempatannya untuk bersosialisasi. Ia dapat belajar berempati, bergiliran, menaati aturan, dan lainnya
Saat melakukan lompatan, terkadang anak perlu berhitung secara matematis agar lompatannya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dalam aturan permainan. Umpamanya, anak harus melakukan tujuh kali lompatan saat tali diayunkan. Bila lebih atau kurang, ia harus menjadi pemegang tali.
1.2. Rumusan Masalah
Masalah-masalah yang akan diteliti dari permainan rakyat lompat tali di Sugihwaras Ngoro Jombang dirumuskan sebagai berikut.
1. Kapan adanya permainan Lompat Tali ?
2. apakah manfaat permainan lompat tali di Sugihwaras Ngoro Jombang ?
3. Bagaimana cara permainan Lompat Tali di Sugiwaras Ngoro Jombang ?


1.3. Tujuan Masalah
1.3.1. Tujuan umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi tentang permainan “Lompat Tali” di Sugihwaras Ngoro Jombang
1.3.2. Tujuan khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi tentang :
1. Untuk mengetahui asal usul permainan Lompat Tali.
2. Untuk mengetahui manfaat permainan Lompat Tali di Sugihwaras Ngoro Jombang
3. Untuk memahami tata cara permaiana Lompat Tali.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan manfaat kepada:
1. Untuk mengetahui lebih jauh tentang manfaat dan tujuan Lompat Tali bagi peneliti.
2. Bagi para pembaca sebagai sumbangan dalam pembahaman permainan Lompat Tali.


Metode Penelitian
Metode penelitian yang saya gunakan adalah
1. sumber data penelitian
2. Teknik pengumpulan data
3. teknik analisis data
4. Observasi di Sugihwaras Ngoro Jombang

.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Permainan lompat tali secara fisik akan menjadikan anak lebih kuat dan tangkas. Belum lagi manfaat emosional, intelektual, dan sosialnya yang akan berkembang dalam diri anak tersebut.
Lompat tali atau “main karet” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali ini menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Sekarang, “main karet” mulai dilirik kembali antara lain karena ada sekolah dasar menugaskan murid-muridnya membuat roncean tali dari karet gelang untuk dijadikan sarana bermain dan berolahraga.
Cara bermainnya masih tetap sama, bisa dilakukan perorangan ataupun berkelompok. Jika hanya bermain seorang diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang, batang pohon atau pada apa pun yang memungkinkan, lalu melompatinya. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala dan kaki sambil melompatinya.
2.2. Landasan Teori
Permainan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan manusia. Dimulai dari usia kanak-kanak bahkan sampai usia dewasa sekalipun, manusia tetap tidak bisa terlepas dari permainan. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya permainan yang tersedia saat ini di pasaran. Sebagai contoh adalah permainan lompat tali. Sebenarnya permainan-permainan tradisional (permainan rakyat) itu mengandung unsur-unsur pendidikan yang sangat baik, misalnya mengajarkan orang untuk sprortif, jujur dan kreatif. Misalnya, dulu kalau ingin main mobil-mobilan, kita buat sendiri. Anak-anak sekarang sudah tak mau lagi.
Permainan lompat tali secara fisik akan menjadikan anak lebih kuat dan tangkas. Belum lagi manfaat emosional, intelektual, dan sosialnya yang akan berkembang dalam diri anak tersebut.
Cara bermainnya masih tetap sama, bisa dilakukan perorangan ataupun berkelompok. Jika hanya bermain seorang diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang, batang pohon atau pada apa pun yang memungkinkan, lalu melompatinya. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala dan kaki sambil melompatinya.
Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal 3 anak. Diawali dengan gambreng atau hompipah untuk menentukan dua anak yang kalah sebagai pemegang kedua ujung tali. Dua anak yang kalah akan memegang ujung tali; satu di bagian kiri, satu anak lagi di bagian kanan untuk meregangkan atau mengayunkan tali. Lalu anak lainnya akan melompati tali tersebut. Aturan permainannya simpel; bagi anak yang sedang mendapat giliran melompat, lalu gagal melompati tali, maka anak tersebut akan berganti dari posisi pelompat menjadi pemegang tali. Alat yang dibutuhkan cukup sederhana. Bisa berupa tali yang terbuat dari untaian karet gelang atau tali yang banyak dijual di pasaran yang dikenal dengan tali skipping umumnya digemari anak laki-laki. Meski demikian, segala permainan lompat tali sebetulnya bisa dimainkan anak laki-laki maupun perempuan tanpa memandang jender. selain menyenangkan, permainan ini tak banyak memakan waktu, murah, dan menyehatkan. Jadi cocok untuk mengisi waktu senggang anak-anak ketimbang mereka main lari-larian tanpa tujuan.
Tali yang digunakan harus sesuai ukuran; tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Jadi hendaknya ukuran tali dibuat pas dan tak banyak bersisa sehingga anak akan lebih mudah dan nyaman melompat.

BAB III
KESIMPULAN
Permainan lompat tali secara fisik akan menjadikan anak lebih kuat dan tangkas. Belum lagi manfaat emosional, intelektual, dan sosialnya yang akan berkembang dalam diri anak tersebut.
Lompat tali atau "main karet" pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali ini menjadi favorit saat "keluar main" di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Sekarang, "main karet" mulai dilirik kembali antara lain karena ada sekolah dasar menugaskan murid-muridnya membuat roncean tali dari karet gelang untuk dijadikan sarana bermain dan berolahraga
bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal 3 anak. Diawali dengan gambreng atau hompipah untuk menentukan dua anak yang kalah sebagai pemegang kedua ujung tali. Dua anak yang kalah akan memegang ujung tali; satu di bagian kiri, satu anak lagi di bagian kanan untuk meregangkan atau mengayunkan tali. Lalu anak lainnya akan melompati tali tersebut. Aturan permainannya simpel; bagi anak yang sedang mendapat giliran melompat, lalu gagal melompati tali, maka anak tersebut akan berganti dari posisi pelompat menjadi pemegang tali. Alat yang dibutuhkan cukup sederhana. Bisa berupa tali yang terbuat dari untaian karet gelang atau tali yang banyak dijual di pasaran yang dikenal dengan tali skipping.

LAMPIRAN
Dokumentasi

Sastra bandingan

Perbandingan Novel ”Jangan Pergi, Lara” dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” Karya Mira


A. Sinopsis Cerita dalam novel “Jangan Pergi, Lara” karya Mira W:


Cerita yang terdapat dalam novel adalah kisah dua saudara kembar (Lara & Lina). Keduanya memiliki keinginan yang hampir sama, baik dari segi pakaian, makanan, bahkan pemikiran namun keadaan fisik mereka yang berbeda. Sejak kecil Lara adalah anak yang sehat, sedangkan Lina tergolong anak yang kurang sehat , ia sering sakit-sakitan. Lina memiliki penyakit jantung. Hal itu yang menyebabkan perlakuan ibu mereka (ibu Rahardjo) sangat berbeda, perhatian dan kasih sayang ibu terhadap Lina lebih besar daripada terhadap Lara. Kedekatan Lara hanya pada ayahnya. Itupun hanya sebatas perhatian sang ayah yang tak luput dari Lina. Meskipun masalah demi masalah mendera, Lara tidak pernah bercerita kepada siapapun. Ia menumpahkan semua masalah yang sedang ia hadapi dengan menitikkan air mata. Sebesar apapun permasalahan dan beban yang sedang ia pikul, tak pernah ia ceritakan kepada siapapun, bahkan saudara kembarnya sendiri.

Ketika Lara menjalani ujian praktek kedokteran (dokter bedah), ia jatuh hati kepada seorang pemuda (Dr. Andrian), namun perasaan itu pupus ketika ibunya memutuskan agar dokter tersebut menikahi adiknya, Lina. Hal itulah yang membuat Lara kecewa karena ibu lebih memperhatikan Lina daripada dirinya. Kekecewaan itu membuat dirinya bangkit walaupun sakit. Kehidupan Lina bahagia bersama suaminya.

Namun ketika Lara menjalani ujian terakhir kedokteran, ia merasa ada keanehan pada lutut kirinya, ia tidak bisa berjalan normal, teman-teman sejawatnya selalu menanyakan apa ia pernah terjatuh atau keseleo. Rasa sakit itu tak pernah ia hiraukan hingga ia lulus dan mendapat ijazah.

Awal ia membuka praktek, rasa sakit yang diderita semakin parah. Ia memeriksakan keluhannya. Setelah didiagnosa, ia menderita osteosarkoma dan jalan satu-satunya adalah harus diamputasi. Kehidupan itulah yang harus ia alami, walaupun pada akhirnya ia menemukan jodoh yang mau menerima dirinya apa adanya.


Bagan Morfologi Cerita dalam Novel ”Jangan Pergi, Lara” Karya Mira W


Morfologi dokter bedah tugas  perjuangan  rela berkorban pasien  ulet
Cerita
hak  perhatian  kasih ibu  harmonis



Anak kembar karakter kehidupan  persamaan  keterkaitan

pernikahan  kecewa  osteosarkoma
 cacat  qona’ah


pendidikan  perbedaan  cerdas  teladan



1. Kutipan Data Global dalam Cerita:

”Sekarang saya ingin bukan hanya kepandaian dan keuletan saja yang menjadi legenda di bagian Bedah, tapi sekaligus keberanian dan ketegaranmu, Lara. Kamu tidak boleh menyerah. Kita akan berjuang untuk mengalahkan penyakitmu !” (JPL, 2006: 159).

2. Jenis-Jenis Motif dalam Cerita:

1. Motif Idealisme

a. Kutipan Data: ”Tentu saja Lara tidak mau ketinggalan. Dia harus mengikuti operasi itu, betepun lelahnya. Kebencian yang berkobar terhadap pasiennya sudah hilang seketika. Bagaimanapun, gara-gara pasien ini, dia mendapat nilai bagus dari Dokter Simon!” (JPL, 2006: 53)
b. Morfem Bebas: Usaha Lara untuk lebih unggul dalam tugas ilmu kedokteran.
c. Morfem Terikat: Rasa lelah dan benci berubah menjadi rasa ingin tahu dan aktif.
2.Motif Pendidikan

a. Kutipan Data: ”Apa yang ingin kamu kerjakan tengah malam begini?” Tentu saja Dokter Simon hanya mengetes kemampuan koasistennya. Tapi bagi yang dites, pertanyaan yang diucapkan dengan bengis itu dapat membuat semaput. (JPL, 2006: 52)
b. Morfem Bebas: Lara adalah koasisten yang cerdik dan tanggap terhadap keadaan pasiennya.
c. Morfem Terikat: Pasien yang kritis karena kecelakaan dan trauma intraabdobmen segera butuh pertolongan berupa tes bilas peritoneum itu diagnosis Lara
3.Motif Perjuangan

a. Kutipan Data: ”Jangan menangis, La,” bisiknya lembut di sela-sela tangis anaknya. ”Ingat janjimu pada Mama? Kamu tetap Lara yang dulu. Lara yang tabah. Lara yang Mama banggakan!” (JPL, 2006: 188).
b. Morfem Bebas: berjuang melawan rasa takut dan sakit
c. Morfem Terikat: rasa haru dan panas menahan titik air mata ketika Lara mengahadapi persiapan operasi (amputasi kaki kiri) dihadapan teman sejawatnya.

4.Motif Keteladanan

a. Kutipan Data: ”Apa pun yang telah dan akan terjadi pada Lara, Dedi tetap tidak mau mundur. Dia tetap menginginkan Lara menjadi istrinya. Dan Lara bersyukur telah memilih seorang pria seperti Dedi untuk menjadi pendampingnya”. (JPL, 2006: 194)
b. Morfem Bebas: menerima dengan tulus akan pemberian Tuhan

c. Morfem Terikat: sikap yang tegar dan kasih sayang Dedi serta mau menerima keadaan Lara dengan ikhlas.


B. Sinopsis Cerita dalam novel ”Cinta Menyapa Dalam Badai” karya Mira W:

Rianto adalah seorang dokter anak. Ia adalah jejaka tua yang penyabar. Suatu malam ia bertemu dengan seorang wanita (Anggun) yang sedang bertengkar dengan Yudha yang tengah mabuk. Di tengah pertengkaran itu Rianto melerai dan terjadi pertengkaran antara keduanya. Akhirnya Yudha mundur atas permintaan Anggun.

Sejak pertengkaran itu, Rianto sering berkunjung ke rumah Anggun, meskipun hal itu membuat Anggun risih karena kedatangan Rianto membuat masalahnya semakin runyam. Yudha adalah konsumen narkoba, namun hal itu tidak membuat Anggun gusar, cinta adalah tetap cinta, menurutnya.

Perjalanan cinta mereka membuahkan hasil yang tidak direstui oleh orang tua Anggun. Mereka beralasan bahwa Yudha bukan anak baik-baik terlebih status ayah Anggun sebagai pengacara, mereka lebih memilih Rianto yang sudah mapan. Anggun terpaksa menuruti permintaan orang tuanya, meskipun ia tidak mencintai suaminya dengan tulus. Status Anggun ketika menikah dengan Rianto telah mengandung tiga bulan sedangkan saat itu Yudha harus diditoksifikasi di RSKO (Amerika). Keadaan itu tidak memungkinkan jika Anggun harus mempertahankan untuk menjalin hubungan dengan Yudha. Pilihan terakhir adalah menuruti permintaan orang tuanya.

Kehidupan ia jalani dengan hampa, meskipun didampingi oleh suami yang penyabar. Anggun melahirkan anak laki-laki setelah genap usia pernikahannya enam bulan. Setelah usia empat tahun, Yudha kembali menemui Anggun. Saat itu fisik Rianto semakin menurun, berat badannya susut, ia tampak tua, kulitnya nampak keriput. Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan ia positif terkena virus HIV AIDS. Rianto mengajukan cerai kepada istrinya dengan alasan untuk mencegah penularan.

Rianto meninggal akibat penyakit yang dideritanya, Yudha meninggal akibat terkena ujung payung di kamar Rianto ketika menyelamatkan Anggun ketika tertimpa tangga di kamar Rianto. Anggun mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan polisi.

Bagan Morfologi Cerita dalam Novel ”Cinta Menyapa Dalam Badai”
Karya Mira W


Morfologi dokter anak tugas  perjuangan  sabar  pasien  ramah
Cerita
hak  kasih ibu ( son centered)  bahagia



anak tunggal karakter kehidupan  sabar  jejaka tua

pernikahan  wanita  HIV AIDS  cerai  mati

pendidikan  cerdas  teladan  mandiri


1. Kutipan Data Global dalam Cerita:

”Bulan tampak muram diselubungi awan hitam. Bintang-bintang pun seperti menyingkir. Satu-dua tampak di kejauhan. Menebarkan cahaya yang pudar.
Malam membisu. Laksana saksi mati yang tertegun diam menyaksikan kesedihan seseorang anak manusia yang berbudi luhur, tapi tak luput dari penderitaan”. (CMDB, 2006: 150).


2. Jenis-jenis Motif dalam Cerita:

1. Motif Idealisme

a. Kutipan Data: ”Meskipun Prambudi tidak memandang sebelah mata melihat penampilan Rianto, dia tidak jadi melanjutkan tuntutannya retak dan mata kirinya masih dilingkari memar kehitam-hitaman.” (CMDB, 2006: 29).
b. Morfem Bebas: anggapan remeh Pak Prambudi terhadap Rianto

c. Morfem Terikat: posisi Rianto yang terluka menyebabkan Pak Prambudi luluh dan tidak mempermasalahkan penyebab kedatangannya menemui Anggun.

2.Motif Pendidikan

a. Kutipan Data: ”Wah, pintar!” cetus Rianto sambil memeluk anak yang sedang dipangkunya itu dengan gembira, seakan-akan Yos baru memenangkan Hadiah Nobel. ”Coba lagi, ya? Ini apa nih,” Rianto menunjuk gambar sapu. (CMDB, 2006: 106)
b. Morfem Bebas: Rianto menanamkan pendidikan kepada anaknya sejak dini.
c. Morfem Terikat: Rianto sangat perhatian dalam memberikan, mengawasi dan mengajari anaknya (Yos) agar cerdas dan memberikan pujian-pujian yang menambah motovasi belajarnya.

3.Motif Perjuangan
a.Kutipan Data: ”Rianto sudah rela jika Anggun ingin kembali kepada kekasihnya. Rianto bahkan rela menceraikan Anggun. Dan membiarkannya membawa Yos. Meskipun dengan kehilangan dua orang yang paling dicintainya, masa-masa terakhir hidupnya malah semakin sengsara”. (CMDB, 2006: 164)
b. Morfem Bebas: kesabaran Rianto ketika menderita penyakit HIV AIDS
c. Morfem Terikat: Rianto rela menceraikan istri dan berpisah dengan anaknya serta membiarkan istrinya untuk kembali kepada kekasih lamanya.

4.Motif Keteladanan
a. Kutipan Data: ”Rianto menerima segalanya tanpa protes. Tanpa keluh kesah. Dia menerima Anggun seperti apa adanya. Dia menerima Yos, anak siapa pun dia. Karena dia selalu menerima semuanya dengan tulus ikhlas, dia merasa bahagia. Merasa kecukupan. Merasa hidupnya sempurna”. (CMDB, 2006: 107)
b. Morfem Bebas: Rianto adalah sosok suami yang tulus dalam menerima pemberian Tuhan
c. Morfem Terikat: Ketulusan dan keihlasan Rianto berbeda dengan Anggun, ia lebih cenderung mementingkan kesenangan dirinya daripada suaminya. Anggun kurang menerima apa yang ia miliki karena merasa orang yang didekatnya bukan kekasihnya dulu.
PERBANDINGAN NOVEL ”JANGAN PERGI, LARA”
Dan ”CINTA MENYAPA DALAM BADAI” KARYA MIRA W

Dua novel tersebut memiliki perbandingan dari segi morfologi cerita. Keduanya memiliki perbedaan juga. Kecenderungan idealisme dan pola pikir yang sangat kokoh kadang membawa dampak yang positif kadang juga merugikan orang lain. Potret tokoh yang dihadirkan adakalanya memiliki kemiripan juga perbedaan. Perbedaan dalam pola pemikiran antar tokoh membuat cerita semakin hidup dan menarik. Perjuangan yang dialami oleh tokoh merupakan perjuangan batin dan fisik yang mampu ditepis dengan harapan yang cemerlang walaupun pada akhirnya merugikan diri sendiri. Berikut penjelasan perbedaan motif dalam cerita:

a.Motif Idealisme
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan :kedua novel menampakkan karakter tokoh utama yang memiliki keinginan yang kuat dalam mempertahankan cita-cita dan harapan walaupun pada akhirnya merasa kecewa atas keputusannya sendiri. Mereka lebih bahagia dan bangga akan keberhasilan dan kesuksesan yang dicapai orang lain.
Perbedaan : masing-masing novel memiliki ciri yang unik antara seorang anak kembar dan anak tunggal. Jika dalam novel JPL, Lara lebih cenderung kokoh atas keputusan yang diambil karena karakter tokoh yang cuek dan ekstrofert. Latar belakang kemandirian dan tak peduli membuat ia tegar meskipun penyakit yang didera membuat pupus cita-citanya. Sedangkan dalam novel CMDB, Rianto terkenal seorang yang penyabar dan tidak peduli bahwa keputusan yang diambil membuat si ibu sakit hati dan ayah mertuanya tidak sepakat akan tindakannya, karena ia anak tunggal maka apa pun yang menjadi keinginannya akan dikabulkan. Pak prambudi merasa bahwa kebaikan Rianto kepada Anggun sangat besar.
b.Motif Pendidikan
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan :kedua novel ini menggambarkan sistem pendidikan yang efektif bagi seorang anak. Orang tua mendidik anak dan memberikan layanan pendidikan informal bagi anak secara teliti. Dalam novel JPL Lara bersekolah di sekolah kedokteran, sedangkan dalam novel CMDB Rianto juga berprofesi sebagai dokter dan ia mengajarkan pendidikan secara komunikatif kepada anaknya.
Perbedaan :dalam novel JPL background pendidikan Lara sebagai dokter bedah sedangkan dalam CMDB background pendidikan Rianto adalah seorang dokter anak yang penyabar dan sangat perhatian terhadap perkembangan kecerdasan anaknya .

c.Motif Perjuangan
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan :kedua novel ini menggambarkan perjuangan yang berat bagi tokoh dalam mempertahankan rasa cinta dan kasihsayang. Mereka rela berkorban demi orang yang dicintai agar memperoleh kebahagiaan yang diimpikan. Perjuangan melawan emosi dan perasaan yang yang kacau ketika cobaan penyakit berat yang diderita tak membuat mereka putus asa.
Perbedaan :dalam novel JPL, Lara telah berjuang untuk menolong Lina (adiknya) dengan merelakan Andrian harus menikah dengan adiknya dan ia harus merelakan kakinya harus diamputasi karena penyakit osteosarkoma. Sedangkan dalam novel CMDB, Rianto harus rela menceraikan istri dan meninggalkan anaknya serta merelakan si istri kembali kepada kekasih lamanya karena ia tidak istri keluarganya tertular virus HIV AIDS.

d.Motif Keteladanan
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan: dalam novel JPL dan CMDB banyak keteladanan yang bisa diambil. Diantaranya adalah kasih sayang sorang ibu terhadap anak kembarnya itu tidak boleh berat sebelah dan rasa tulus untuk merelakan orang yang dicintai menjadi milik orang lain. Rasa tulus ikhlas harus dimiliki terhadap siapa pun juga.
Perbedaan : dalam novel JPL, Lara lebih cenderung mengutamakan kebahagiaan Lina sedangkan dalam novel CMDB, Rianto rela berkorban demi rasa sayang dan masa depan keluarganya.

Analisis Unsur Intrinsik Novel “sang pemimpi” Karya Andrea Hirata

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Karya sastra adalah anak kehidupan kreatif seorang penulis dan mengungkapkan pribadi pengarang.”(Selden, 1985: 52).
Karya sastra hadir sebagai refleksi kehidupan masyarakat. Karya sastra merupakan cermin dari masyarakat yang akan terus mewakili situasi dan keadaan sekitarnya. Karya sastra yang bagus adalah karya sastra yang mampu merefleksikan zamannya. Sehingga karya sastra itu sebagi dokumen yang dapat dilihat dan dinikmati sepanjang zaman. Oleh karena itu karya sastra harus berkembang sesuai dengan keinginan masyarakat sebagi pembaca dan konsumen sastra, hal ini sesuai dengan yang di kemukakan oleh Suwardi Edraswara (2004 : 77)
(Semi, 1993: 1).Selain sebagai sebuah karya seni yang memiliki budi, imajinasi, dan emosi, sastra juga sebagai karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual dan emosional. Sastra yang telah dilahirkan oleh sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasaan estetik dan intelektual bagi pembaca. Namun, sering karya sastra tidak mampu dinikmati dan dipahami sepenuhnya oleh sebagian pembacanya. Dalam hubungan ini perlu adanya penelaah dan peneliti sastra
Dapat disimpulkan bahwa Karya sastra adalah ungkapan pikiran dan perasaan seseorang pengarang dalam usahanya untuk menghayati kejadian-kejadian yang ada disekitarnya, baik yang dialaminya maupun yang terjadi pada orang lain pada kelompok masyarakatnya. Hasil imajinasi pengarang tersebut dituang ke dalam bentuk karya sastra untuk dihidangkan kepada masyarakat pembaca untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan. Dengan demikian karya sastra bukanlah suatu uraian-uraian kosong atau khayalan yang sifatnya sekedaer menghibur pembaca saja tetapi melalui karya sastra dihidupapkan pembaca lebih arif dan bijaksana dalam bertindak dan berpikir karena pada karya sastra selalu berisi masalah kehidupan manusia nyata.
Jadi tidak salah dikatakan bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan masyarakat. Sumardjo menyatakan "...Sastra adalah produk masyarakat yang mencerminkan masyarakatnya. Obsesi masyarakat adalah menjadi obsesi pengarang yang menjadi anggota masyarakat. Pengarang selalu mempergunakan tokoh-tokoh sebagai wakil-wakil manusia yang dijumpai pada masyarakat. Melalui tokoh-tokoh inilah pengarang mengembangkan ide dan imajinasinya sehingga cerita tersebut kelihatan benar-benar hidup dan berkembang seperti kehidupan nyata.
Sebuah karya fiksi yang jadi, merupakan sebuah bangun cerita yang menampilkan sebuah dunia yang sengaja dikreasikan pengarang. Wujud formal fiksi itu sendiri hanya berupa kata, dan kata-kata. Karya fiksi dengan demikian menampilkan dunia dalam kata, bahasa, disamping juga dikatakan menampilkan dunia dalam kemungkinan. Kata merupakan sarana terwujudnya bangunan cerita. Kata merupakan sarana pengucapan sastra.
Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur yang berkaitan satu dengan yang lain secara erat dan saling menggantungkan. Unsur-unsur pembangun novel yang kemudian secara bersama membentuk sebuah totalitas itu, disamping unsur formal bahasa, masih banyaklagi macamnya. Namun, secara garis besar berbagai macam unsur tersebut secara tradisional dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Terkait dengan penjelasan tentang unsur pembangun dalam karya satra tersebut maka pada karya ilmiah ini penulis akan membahas tentang unsur-unsur intrinsik dalam novel Sang pemimpi Karya Andrea Hirata.
1.2 Permasalahan
Setiap karya sastra tentu memunculkan sederetan pertanyaan bagi pembacanya, apalagi bagi pembaca yang awam terhadap karya sastra, paling tidak bagi pembaca secara umum akan bertanya, bagiamna jalan ceritanya, siapa tokohnya-tokohnya, apa pesan-pesan pengaranga dalam cerita dan sebagainya. Pertanyaan-peranyaan tersebut pada prinsipnya adalah sejumlah permasalahan yang ingin ditemukan jawabnya, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sifatnya cukup sederhana. Bila pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cukup rumit tentu dalam menentukan jawabannya juga memerlukan waktu yang panjang.
1.3 Tujuan Penelitian
Masalah-masalah yang akan diteliti dalam kajian ini dirumuskan sebagai berikut :
Bagimana Unsur Intrinsik dalam novel ”Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata ?

BAB III
LANDASAN TEORI

Memahami karya sastra pada dasarnya mudah, juga tidak mudah. Mudah apabila sang pemaham telah memiliki bekal untuk memahami, sebaliknya bila yang ingin memahami belum memiliki bekal sama sekali, maka memahami akan sulit dilakukan. Oleh karena itu , penyediaan bekal inilah yang pertama kali harus dilakukan. Bekal-bekal pemahaman tersebut utamanya disediakan dalam rangka mengetahui ruang lingkup permasalahan yang ingin dikaji.
Terkait dengan judul penelitian, maka beberapa persoalan yang asti memiliki kaitan adalah sebagai berikut :
1.Untuk memehami sebuah novel, setidak-tidaknya yang harus dipahami adalah konsep karya sastra berbentuk novel dan karaya sastra yag bukan novel,
2.Sasran kajian penelitian adalh unsur intrinsik, maka harus dipahami dulu unsur intrinsik karya sastra.
3. Setelah memahami konsep unsur intrinsik, maka pengkaji juga harus memehami unsur-unsur yang termasuk intrinsik.
4.Setelah memahami konsep tentang bagian-bagian dari unsur intrinsik, maka yang paling dominan harus diketahui adalah, model kemunsulan tiap-tiap unsur intrinsik dalam karya sastra.
Dengan memahami lingkup permasalahan yang ada, diharapkan dalam pengkajian tidak akan terjadi salah anggap, atau salah persepsi terhadap suatu konsep.sejalan dengan lingkup pemahaman tersebut, berikut ini secara berturut-turut akan diuaraikan perihal novel, unsur intrinsik karya sastra, elemen-elemen intrinsik, serta keminculan unsur intrinsik dalam sebuah karya sastra.

3.1 Novel
Pengertian novel menurut jakob sumardjo dan saini K.M. (1986 : 29-30 ) sebagai berikut : dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. ukuran yang luas disini dapat berarti cerita denga plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasana cerita yang bergam dan setting cerita yang beragam pula. Namun ukuran “luas” disini juga tidak mutlak demikian, mungkin yang luas hanya satu unsure fiksinya saja, misalnya temanya, sedang karakter, setting dan lain-lain hanya satu saja.
Novel dapat dibagi menjadi tiga golongan, yakni novel percintaan, novel petualangan, dan novel fantasi.
Novel percintaan melibatkan peranan tokoh wanita dan pria secara imbang, bahkan kadang-kadang peranan wanita lebih dominan. Dalam novel ini digarap hamper semua tema, dan sebagian besar novel termasuk jenis ini.
Novel petualangan sedikit sekali memasukkan peranan wanita. Jika wanita disebut dalam novel jenis ini, maka penggambarannya hamper stereotip dan kurang berperan. Jenis novel petualangan adalah “ bacaan kam pria “ karena tokoh-tokoh didalamnya priadan dengan sendirinya melibatkan banyak masalah dunia lelaki yag tidak ada hubungannya dengan wanita meskipun dalam jenis novel petualangan ini sering ada percintaan juga namun hanya bersifat sampingan saja, artinya novel itu tidak berbicara semata-mata berbicara persoalan cinta.
Novel fantasi bercerita tentang hal-hal yang tidak realistis dan tidak serba mungkin dilihat dari pengalaman sehari-hari. Novel jenis ini menggunakan karakter yang tidak realistis, setting dan plot yang juga tidak wajar untuk menyampaikan ide-ide penulisnya. Jenis novel ini mementingkan ide, konsep, dan gagasan sastrawannya yang hanya dapat jelas kalau diucapkan dalam bentuk cerita fantastic, artinya menyalahi hokum empiris, hokum pengalaman sehari-hari.

Dari sekian banyak bentuk sastra seperti esei, puisi, novel, cerita pendek, drama, bentuk novel, cerita pendeklah yang paling banyak dibaca oleh para pembaca. Karya– karya modern klasik dalam kesusasteraan, kebanyakan juga berisi karya– karya novel.
Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Sebagai bahan bacaan, novel dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karya serius dan karya hiburan. Pendapat demikian memang benar tapi juga ada kelanjutannya. Yakni bahwa tidak semua yang mampu memberikan hiburan bisa disebut sebagai karya sastra serius. Sebuah novel serius bukan saja dituntut agar dia merupakan karya yang indah, menarik dan dengan demikian juga memberikan hiburan pada kita. Tetapi ia juga dituntut lebih dari itu. Novel adalah novel syarat utamanya adalah bawa ia mesti menarik, menghibur dan mendatangkan rasa puas setelah orang habis membacanya.
Novel yang baik dibaca untuk penyempurnaan diri. Novel yang baik adalah novel yang isinya dapat memanusiakan para pembacanya. Sebaliknya novel hiburan hanya dibaca untuk kepentingan santai belaka. Yang penting memberikan keasyikan pada pembacanya untuk menyelesaikannya. Tradisi novel hiburan terikat dengan pola – pola. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa novel serius punya fungsi social, sedang novel hiburan Cuma berfungsi personal. Novel berfungsi sosial lantaran novel yang baik ikut membina orang tua masyarakat menjadi manusia. Sedang novel hiburan tidak memperdulikan apakah cerita yang dihidangkan tidak membina manusia atau tidak, yang penting adalah bahwa novel memikat dan orang mau cepat–cepat membacanya.
Banyak sastrawan yang memberikan batasan atau definisi novel. Batasan atau definisi yang mereka berikan berbeda-beda karena sudut pandang yang mereka pergunakan juga berbeda-beda. Definisi – definisi itu antara lain adalah sebagai berikut :
1.Novel adalah bentuk sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak dicetak dan paling banyak beredar, lantaran daya komunitasnya yang luas pada masyarakat (Jakob Sumardjo Drs).
2.Novel adalah bentuk karya sastra yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya social, moral, dan pendidikan (Dr. Nurhadi, Dr. Dawud, Dra. Yuni Pratiwi, M.Pd, Dra. Abdul Roni, M. Pd).
3.Novel merupakan karya sastra yang mempunyai dua unsure, yaitu : undur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang kedua saling berhubungan karena sangat berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra (Drs. Rostamaji,M.Pd, Agus priantoro, S.Pd).
4.Novel adalah karya sastra yang berbentuk prosa yang mempunyai unsur-unsur intrinsik(Paulus Tukam, S.Pd)

3.2 Unsur Intrinsik
Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud analisis intrinsik adalah mencoba memahami suatu karya sastra berdasarkan informasi-informasi yang dapat ditemukan di dalam karya sastra aitu atau secara eksplisit terdapat dalam karya sastra. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu karya sastra menciptakan duianya sendiri yang berberda dari dunia nyata. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia karya sastra merupakan fiksi yang tidak berhubungan dengan dunia nyata. Karena menciptakan dunianya sendiri, karya sastra tentu dapat dipahami berdasarkan apa yang ada atau secara eksplisit tertulis dalam teks tersebut.Pada umumnya para ahli sepakat bahwa unsur intrinsik terdiri daria. Tokoh dan penokohan/perwatakan tokohb. Tema dan amanatc. Latard. Alure. Sudut pandang/gaya penceritaaanBerikut ini akan dijelaskan secara ringkas unsur-unsur tersebut

I.TOKOH
Yang dimaksud dengan tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakukan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Tokoh sentral protagonis. Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai pisitif.
b. Tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu
a. Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercataan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
b. Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
c. Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.
Berdasarkan cara menampikan perwatakannya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Tokoh datar/sederhana/pipih. Yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi).
b. Tokoh bulat/komplek/bundar. Yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.

II. PENOKOHAN
Yang dimaksud penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada beberapa metode penyajian watak tokoh, yaitu
a. Metode analitis/langsung/diskursif. Yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung.
b. Metode dramatik/taklangsung/ragaan. Yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.
c. Metode kontekstual. Yaitu penyajian watak tokoh melalui gaya bahasa yang dipakai pengarang.
Menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM., ada lima cara menyajikan watak tokoh, yaitu
a. Melalui apa yang dibuatnya, tindakan-tindakannya, terutama abagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.
b. Melalui ucapana-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus.
c. Melalui penggambaran fisik tokoh.
d. Melalui pikiran-pikirannya
e. Melalui penerangan langsung.Tokoh dan latar memang merupakan dua unsur cerita rekaan yang erat berhubungan dan saling mendukung.

III. ALUR
Alur adalah urutaan atau rangkaian peristiwa dalam cerita rekaan. Urutan peristiwa dapat tersusun berdasarkan tiga hal, yaitu
a. Berdasarkan urutan waktu terjadinya. Alur dengan susunan peristiwa berdasarkan kronologis kejadian disebut alur linear
b. Berdasarkan hubungan kausalnya/sebab akibat. Alur berdasarkan hubungan sebab-akibat disebut alur kausal.
c. Berdasarkan tema cerita. Alur berdasarkan tema cerita disebut alur tematik.

Struktur Alur
Setiap karya sastra tentu saja mempunyai kekhususan rangkaian ceritanya. Namun demikian, ada beberapa unsur yang ditemukan pada hampir semua cerita. Unsur-unsur tersebut merupakan pola umum alur cerita. Pola umum alur cerita adalah
a. Bagian awal1. paparan (exposition)2. rangsangan (inciting moment)3. gawatan (rising action)
b. Bagian tengah4. tikaian (conflict)5. rumitan (complication)6. klimaks
c. Bagian akhir7. leraian (falling action)8. selesaian (denouement)

Bagian Awal Alur
Jika cerita diawali dengan peristiwa pertama dalam urutan waktu terjadinya, dikatakan bahwa cerita itu disusun ab ovo. Sedangkan jika yang mengawali cerita bukan peristiwa pertama dalam urutan waktu kejadian dikatakan bahwa cerita itu dudun in medias res.Penyampaian informasi pada pembaca disebut paparan atau eksposisi. Jika urutan konologis kejadian yang disajikan dalam karya sastra disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya, maka dalam cerita tersebut terdapat alih balik/sorot balik/flash back. Sorot balik biasanya digunakan untuk menambah tegangan/gawatan, yaitu ketidakpastian yang berkepanjangan dan menjadi-jadi. Dalam membuat tegangan, penulis sering menciptakan regangan, yaitu proses menambah ketegangan emosional, sering pula menciptakan susutan, yaitu proses pengurangan ketegangan. Sarana lain yang dapat digunakan untuk menciptakan tegangan adalah padahan (foreshadowing), yaitu penggambaran peristiwa yang akan terjadi.

Bagian Tengah Alur
Tikaian adalah perselisihan yang timbul sebagai akibat adanya dua kekuatan yang bertentangan. Perkembangan dari gejala mula tikaian menuju ke klimaks cerita disebut rumitan. Rumitan mempersiapkan pembaca untuk menerima seluruh dampak dari klimaks. Klimaks adalah puncak konflik antartokoh cerita.

Bagian Akhir Alur
Bagian sesudah klimaks adalah leraian, yaitu peristiwa yang menunjukkan perkembangan peristiwa ke arah selesaian. Selesaian adalah bagian akhir atau penutup cerita.Dalam membangun peristiwa-peristiwa cerita, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis. Faktor-faktor penting tersebut adalaha. faktor kebolehjadian (pausibility). Yaitu peristiwa-peristiwa cerita sebaiknya meyakinkan, tidak selalu realistik tetapi masuk akal. Penyelesaian masalah pada akhir cerita sesungguhnya sudah terkandung atau terbayang di dalam awal cerita dan terbayang pada saat titik klimaks.b. Faktor kejutan. Yaitu peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebak/dikenali oleh pembaca.c. Faktor kebetulan. Yaitu peristiwa-peristiwa tidak diduga terjadi, secara kebetulan terjadi.Kombinasi atau variasi ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan peristiwa-peristiwa cerita menjadi dinamis.Selain itu ada hal yang harus dihindari dalam alur, yaitu lanturan atau digresi. Lanturan atau digresi adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dihadapi dalam cerita.
Macam Alur
Pada umumnya orang membedakan alur menjadi dua, yaitu alur maju dan alur mundur. Yang dimaksud alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian. Sedangkan yang dimaksud alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian. Pembagian seperti itu sebenarnya hanyalah salah satu pembagian jenis alur yaitu pembagian alur berdasarkan urutan waktu. Secara lebih lengkap dapat dikatakan bahwa ada tiga macam alur, yaitua. alur berdasarkan urutan waktub. alur berdasarkan urutan sebab-akibatc. alur berdasarkan tema. Dalam cerita yang beralur tema setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami. Dalam hubungannya dengan alur, ada beberapa istilah lain yang perlu dipahami. Pertama, alur bawahan. Alur bawahan adalah alur cerita yang ada di samping alur cerita utama. Kedua, alur linear. Alur linear adalah rangkaian peristiwa dalam cerita yang susul-menyusul secara temporal. Ketiga, alur balik. Alur balik sama dengan sorot balik atau flash back. Keempat, alur datar. Alur datar adalah alur yang tidak dapat dirasakan adanya perkembangan cerita dari gawatan, klimaks sampai selesaian. Kelima, alur menanjak. Alur menanjak adalah alur yang jalinan peristiwanya semakin lama semakin menanjak atau rumit.

IV. LATAR
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar meliputi penggambaran letak geografis (termasuk topografi, pemandangan, perlengkapan, ruang), pekerjaan atau kesibukan tokoh, waktu berlakunya kejadian, musim, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh.

MACAM LATAR
Latar dibedakan menjadi dua, yaitu
1. Latar fisik/material. Latar fisik adalah tempat dalam ujud fisiknya (dapat dipahami melalui panca indra).Latar fisik dapat dibedakan menjadi dua, yaitua. Latar netral, yaitu latar fisik yang tidak mementingkan kekhususan waktu dan tempat.
2. Latar spiritual, yaitu latar fisik yang menimbulkan dugaan atau asosiasi pemikiran tertentu.
3. Latar sosial. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikap, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan lain-lain.

FUNGSI LATAR
Ada beberapa fungsi latar, antara lain
1. memberikan informasi situasi sebagaimana adanya
2. memproyeksikan keadaan batin tokoh
3. mencitkana suasana tertentu
4. menciptakan kontras

V. TEMA DAN AMANAT
Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Ada beberapa macam tema, yaitua. Ada tema didaktis, yaitu tema pertentangan antara kebaikan dan kejahatanb. Ada tema yang dinyatakan secara eksplisitc. Ada tema yang dinyatakan secara simbolikd. Ada tema yang dinyatakan dalam dialog tokoh utamanya. Dalam menentukan tema cerita, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain, minat pribadi selera pembaca, keinginan penerbit atau penguasa Kadang-kadang terjadi perbedaan antara gagasan yang dipikirkan oleh pengarang dengan gagasan yang dipahami oleh pembaca melalui karya sastra. Gagasan sentral yang terdapat atau ditemukan dalam karya sastra disebut makna muatan, sedangkan makna atau gagasan yang dimaksud oleh pengarang (pada waktu menyusun cerita tersebut) disebut makna niatan.Ada beberapa faktor yang menyebabkan makna aniatan kadang-kadang tidak sama dengan makna muatana. pengarang kurang pandai menjabarkan tema yang dikehendakinya di dalam karyanya.b. Beberapa pembaca berbeda pendapat tentang gagasan dasar suatu karta.Yang diutamakan adalah bahwa penafsiran itu dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya unsur-unsur di dalam karya sastra yang menunjang tafsiran tersebut.Dalam suatu karya sastra ada tema sentral dan ada pula tema samapingan. Yang dimaksud tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Yang dimaksud tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.Ada tema yang terus berulang dan dikaitkan dengan tokoh, latar, serta unsur-unsur lain dalam cerita. Tema semacam itu disebut leitmotif. Leitmotif ini mengantar pembaca pada suatu amanat. Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir, dapat pula secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.
VI. POINT OF VIEW
Bennison Gray membedakan pencerita menjadi pencerita orang pertama dan pencerita orang ketiga.1. Pencerita orang pertama (akuan).Yang dimaksud sudut pandang orang pertama adalah cara bercerita di mana tokoh pencerita terlibat langsung mengalami peristiwa-peristiwa cerita. Ini disebut juga gaya penceritaan akuan.Gaya penceritaan akuan dibedakan menjadi dua, yaitu
1.Pencerita akuan sertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencnerita menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
Pencerita akuan taksertaan, yaitu pencerita akuan di mana pencerita tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.

2. Pencerita orang ketiga (diaan).Yang dimaksud sudut pandang orang ketiga adalah sudut pandang bercerita di mana tokoh pencnerita tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa cerita. Sudut pandang orang ketiga ini disebut juga gaya penceritaan diaan. Gaya pencerita diaan dibedakan menjadi dua, yaitu
Pencerita diaan serba tahu, yaitu pencerita diaan yang tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Tokoh ini bebas bercerita dan bahkan memberi komentar dan penilaian terhadap tokoh cerita.
Pencerita diaan terbatas, yaitu pencerita diaan yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya. Jadi seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja.
Kadang-kadang orang sulit membedakan antara pengarang dengan tokoh pencerita. Pada prinsipnya pengarang berbeda dengan tokoh pencerita. Tokoh pencerita merupakan individu ciptaan pengarang yang mengemban misi membawakan cerita. Ia bukanlah pengarang itu sendiri. Jakob Sumardjo membagi point of view menjadi empat macam, yaitua.
a. Sudut penglihatan yang berkuasa (omniscient point of view). Pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. Ia tahu segalanya.
b. Sudut penglihatan obyektif (objective point of view). Pengarang serba tahu tetapi tidak memberi komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi pandangan mata, apa yang seolah dilihat oleh pengarang.
c. Point of view orang pertama. Pengarang sebagai pelaku cerita.
d. Point of view peninjau. Pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian kita ikuti bersama tokoh ini. Menurut Harry Shaw, sudut pandang dalam kesusastraan mencakupa. Sudut pandang fisik. Yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam mendekati materi cerita.
e. Sudut pandang mental. Yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah atau peristiwa yang diceritakannya.c. Sudut pandang pribadi. Adalah sudut pandang yang menyangkut hubungan atau keterlibatan pribadi pengarang dalam pokok masalah yang diceritakan. Sudut pandang pribadi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengarang menggunakan sudut pandang tokoh sentral, pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan, dan pengarang menggunakan sudut pandang impersonal (di luar cerita). Menurut Cleanth Brooks, fokus pengisahan berbeda dengan sudut pandang. Fokus pengisahan merupakan istilah untuk pencerita, sedangkan sudut pandang merupakan istilah untuk pengarang. Tokoh yang menjadi fokus pengisahan merupakan tokoh utama cerita tersebut. Fokus pengisahan ada empat, yaitua.
a. Tokoh utama menyampaikan kisah dirinya.
b. Tokoh bawahan menyampaikan kisah tokoh utama.
c. Pengarang pengamat menyampaikan kisah dengan sorotan terutama kepada tokoh utama.
d. Pengarang serba tahu.

BAB IV
PEMBAHASAN
3.1 Unsur Intrinsik Novel Sang Pemimpi” karaya Andrea Hirata
1. Tema
Novel ini memiliki tema tentang persahabatan dan perjuangan dalam mengarungi kehidupan serta kepercayaan terhadap kekuatan sebuah mimpi atau pengharapan.
2. Amanat
Terdapat banyak amanat yang terkandung dalam novel ini diantaranya :
a.Kita harus percaya akan keagungan dan kekuasaan Allah SWT.
Menjalin persahabatan dengan baik, saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Pengorbanan harus dibarengi dengan kesabaran dan tetap optimis.
b.Gantungkan cita-cita setinggi langit.
Keterbatasan, kemiskinan bukan penghalang meraih cita-cita karena itu berusaha dan berdoa sangat diperlukan.
c.Saling membantu, menghargai kepada sesama.
3. Alur
Dalam novel ini menggunakan alur maju dan mundur. Alur maju ketika pengarang menceritakan dari mulai kecil sampai dewasa dan alur mundur ketika menceritakan peristiwa waktu kecil pada saat sekarang/dewasa.
4. Tokoh dan Watak
1. Ikal : baik hati, optimistis, pantang menyerah, penyuka Bang Rhoma
2. Arai : pintar, penuh inspirasi/ide baru, gigih, rajin, pantang menyerah
3. Jimbron : polos, gagap bicara, baik, sangat antusias pada kuda
4. Pak Balia : baik, bijaksana, pintar
5. Pak Mustar : galak, pemarah, berjiwa keras
6. Ibu Ikal : baik, penuh kasih sayang
7. Ayah Ikal : pendiam, sabar, penuh kasih sayang
Dan tokoh lain Mahader, A Kiun, Pak Cik Basman, Taikong Hanim, Capo, Bang Zaitun, Pendeta Geovanny, Mak cik dan Laksmi adalah tokoh pendukung dalam novel ini.
5. Latar/tempat dan Waktu
Dalam novel ini disebutkan latarmya yaitu di Pulau Magai Balitong, los pasar dan dermaga pelabuhan, di gedung bioskop, di sekolah SMA Negeri Bukan Main, terminal Bogor, dan Pulau Kalimantan. Waktu yang digunakan pagi, siang, sore, dan malam.
6. Sudut Pandang
Pengarang Andrea Hirata menggunakan sudut pandang orang pertama (akuan) karena dalam novel ini lebih banyak menyebutkan Aku.
7. Gaya Penulisan
Novel ini ditulis dengan gaya realis bertabur metafora, penyampaian cerita yang cerdas dan menyentuh, penuh inspirasi dan imajinasi. Komikal dan banyak mengandung letupan intelegensi yang kuat sehingga pembaca tanpa disadari masuk dalam kisah dan karakter-karakter yang ada dalam novel Sang Pemimpi.


BAB IV PENUTUP
Kesimpulan
Dalam analisis Novel “sang pemimpi” Karya Andrea Hirata! Ini dapat saya simpulkan sebagi berikut :
a)Kita dapat mengetahui bahwa akan adanya tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan kekuasaan Allah seperti tiga orang anak Melayu Belitong yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron yang penuh dengan tantangan, pengorbanan dan lika-liku kehidupan yang mempesona
b)Mencari ilumu haruslah diniati dengan ikhlas dan semangat seperti Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang demi menuntut ilmu di SMA Negeri Bukan Main yang jauh dari kampungnya
c)Tiga orang anak Melayu Belitong yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron Mereka tinggal di salah satu los di pasar kumuh Magai Pulau Belitong bekerja sebagai kuli ngambat untuk tetap hidup sambil belajar
d)Dengan perjuangan hidup mesti serba terbatas dan banyak rintangan Ikal dan Arai akhirnya diterima kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis. Sedangkan Jimbron tetap di Belitong mengurusi kuda milik capo.


DAFTAR PUSTAKA
Taum, Yoseph Yapi . 1997. Pengantar Teori Sastra . Nusa Indah :Nusa Tenggara Timur
Rene Wellek dan Austin Warren.1989. Teori Kesusastraan. PT. Gramedia :Jakarta
Jakob Sumardjo dan Saini K.M.. 1986. Apresiasi Kesusaastraan. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Endraswara, Suwardi. 2003. metodologi penelitian sastra. Pustaka Widya Utama : Yogya karta.
Novel “sang pemimpi” Karya Andrea Hirata

analisis novel

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang masalah
Karya sastra hadir sebagai refleksi kehidupan masyarakat. Karya sastra merupakan cermin dari masyarakat yang akan terus mewakili situasi dan keadaan sekitarnya. Karya sastra yang bagus adalah karya sastra yang mampu merefleksikan zamannya. Sehingga karya sastra itu sebagi dokumen yang dapat dilihat dan dinikmati sepanjang zaman. Oleh karena itu karya sastra harus berkembang sesuai dengan keinginan masyarakat sebagi pembaca dan konsumen sastra, hal ini sesuai dengan yang di kemukakan oleh Suwardi Edraswara (2004 : 77) kehidupan social akan menjadi picu lahirnya karya sastra. Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zamannya. dan juga dikatakan oleh Junus (1988:3) karya sastra dilihat sebagi dokumen sosiobudaya suatu masyarakat pada masa tertentu.
Dalam sosio budaya sastra menurut Sapardi Djoko Damono (1979:2) ada dua kecendrungan yang utama dalam telaah sosiologis terhadap sastra. Pertama pendekatan ini bergrerak dari factor-faktor diluar sastra untuk membicarakan sastra, sastra hanya berharga dalam dalam hubungannya dengan factor-faktor diluar sastra itu sendiri. Jelas bahwa dalam pendekatan ini teks sastra tidak dianggap utama, hanya merupakan epiphenomenon(gejala kedua).
Kedua pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagi bahan penelaah. Teks dijadikan sebagai bahan analisis untuk mengetahui dan menemukan struktur atau aspek sosiologis yang ada dalam teks sastra yang kemudian dijadikan sebagai bahan untuk memahami gejala social yang ada diluar teks sastra.
Dalam analisis ini, penulis mencoba untuk mengulas problematika sosiologis dan status social yang terkandung dalam Novel “ Don’t Touch Me!” karya Roidah, yang menggambarkan bagaimana kehidupan seorang pemuda yang dengan gaya hidup yag berfoya-foya yang menggaet beberapa gadis yang diinginkannya. Banyak gadis yang telah menjadi korban permaianan percintaannya, yang menunjukkan bahwa seorang lelaki yang dalam kehidupan yang mewah yang segala sesuatunya telah tercukupi, yang pada akhirnya juga, ia iatuh cinta pada seorang gadis desa yang masih kuno. Ben menjadikan gadis kuno yang bernama lindi ini dijadikan taruhan dengan ganknya. Karena merasa bahwa dia bisa menaklukkan siapa saja gadis cantik yang yang lihat.
Dalam novel ini bisa dilihat bagaimana kehidupan orang yang bersetatus social tinggi. Dan bagaimana kehidupan orang yang bersetatus social rendah. Seorang pemuda yang bernama Ben bersetatus social tinggi dan seorang gadis yang bernama lindi bersetatus social rendah yang akan menimbulkan problem social dalam kehidupan mereka.
Karya sastra novel yang berjudul “ Don’t Touch Me!” ini memang adalah berupa fiksi tetapi ini merupakan kehidupan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam novel ini seakan-akan memperlihatkan fakta dari sebuah kehidupan. Sebagai mana yang di ungkapkan oleh Nyoman Kutha Ratna ( 2003 : 48) unit-unit wacana dalam dalam fiksi pun mesti dipahami sebagai wacana social, bukan rekaan pengarang belaka, yang sama sekali terlepas dari akar sosialnya. Dalam narasi fiksi, wacana tidak dianggap bahasa biasa, tetapi ekspresi material-material cultural, wacana sebagai komunikasi verbal.

1.2.Rumusan masalah
Dalam analisis ini penulis merumuskan masalah sebagi berikut :
1. siapa nama-nama tokoh dalam novel yang dianalisis.?
2. bagaimana problem social tokoh dalam novel.?
3. bagaimana status social dalam novel ?
4. peristiwa apa saja yang terjadi dlam novel ?
Lingkup penelitian
1.Problematika social tokoh dalam Novel don’t Touch Me!
2.status social tokoh-tokoh dalam novel
3.tokoh-tokoh yang hanya disebutkan dalam pembahasan yang diangap mewakili analisis ini.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.Sosiologi Sastra
Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami dan dianfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat, ia tidak terikat oleh status social tertentu. Sastra adalah lembaga social yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan social sastra menampilkan gambaran kehidupan dalam kehidupan itu sendiri adalah kenyataan social.
Mencermati uraian diatas karya sastra itu pasti berhubungan dengan masyrakat dan dalam hal ini seperti apa yang dikatakan oleh Rene Welk dan Austin Waren (1995: 111) sosiologi sastra dapat diklasifikasikan pertama adalah sosiologi pengarang, profesi pengarang dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan disini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang social, status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagi kegiatan pengarang diluar karya sastra. Yang kedua adalah isi karya sastra, tujuan serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah social. Yang ketiga adalah permasalahan pembaca dan dampak social karya sastra.
Damono (1987 : 6) disini sosiologi mencari ilmu bagaiana masyarakat itu dimungkinkan, bagaimana masyrakat itu berlangsung dan bagaimana masyarakat itu tetap eksis. Dengan mempelajari lembaga-lembaga social disegala permasalahan, seperti perekonomian, politik, keagamaan bisa diketahui gambaran tentang cara-cara manusia mennyesuaikan diri dengan lIngkungannya. Proses sosialisasi, proses perbudayaan yang menempatkan anggota masyarakat ditempatnya masing-masing.
Seperti halnya sosiologi sastra pun berurusan dengan manusia dalam masyarakat yaitu bagaimana usaha mausia untuk beradaptasi dengan ligkungan masyarakat ia tingal dan upaya apa yang dilakuakan manusia untuk meguah masyarakat itu. Oleh karena itu dalam hal isi atau problema antara sosiologi dan sastra tidak ada edanya. Konsentrasinya tetap pada masyrakat sebagi obyak kajianya.
Jadi kesimpulan yang bisa dijtarik sosiologi dalah suatu ilmu yang konsentrasinya pada masyarakat sedangkan sastra itu sendiri dalam reaksinya pengarang tidak bisa melepaskan diri dari lingkungan masyarakat dimana dia berada.
2.2. pengertian sastra
Dalam hal ini perlu diketahui juga bahwa apa sebenarnya sastra itu sendiri?. Untuk mengetahui definisi sastra, para sastrawan membuat batasan-batasan,dan batasan-batasan itupun tidak total dan tidak tepat, maka ada beberapa alasan mengapa batasan tetang sastra sulit untuk dibuat. Menurut jakob sumardjo dan saini K.M. (1986 : 1-2 ) sebagai berikut
1.sastra bukan ilmu, sastra adalah seni. Dalam seni banyak unsure kemanusiaan yang masuk didalamnya, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan metode keilmuan.
2.sebuah batasan berusaha mengungkapkan hakekat sebuah sasaran. Dan hakekat sesuatu itu sifatnya universal dan abadi. Padahal apa yang disebut sastra itu tergantung pada tempat dan waktu.
3.batasan sastra itu sulit menjangkau hakekat dari semua jenis bentuk sastra. Sebuah batasan mungkin tepat untuk karya-karya sastra puisi tetapi kurang tepat untuk jenis novel.
4.sebuah batasan tentang sastra biasanya tidak berhenti pada membuat pemerian(deskripsi) saja tetapi juga usaha penilaian
walaupun tidak mungkin membuat batasan sastra yang memuaskan, tetap bermunculan pula batasan –batasan sastra. Ada yang menyatakan bahwa :
1.sastra adalah seni bahasa
2.sastra adalah ungkapan spontandari perasaan yang mendalam.
3.sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa, sedang yang dimaksud pikiran disi adalah ide-ide, perasaan, pemikiran dan semua kegiatan mental manusia.
Dan meurut jakob sumardjo dan saini K.M. (1986 : 3 ) kiranya dapat dibuat batasan sastra dalam arti luas, yang tidak menunjuk satu nilai atau norma yang menjadi syarat sesuatu karya disebut karya sastra yang baik dan bermutu. Jadi batasan tadi dapat dinyatakan sebagai berikut :
sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakian dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.

Batasan ini bersifat deskripsi saja dan dapat mencakup semua karya sastra yang disebut bermutu atau tidak dalam suatu zaman.

1.3.Pengertian Novel
Pengertian novel menurut jakob sumardjo dan saini K.M. (1986 : 29-30 ) sebagai berikut : dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas. ukuran yang luas disini dapat berarti cerita denga plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasana cerita yang bergam dan setting cerita yang beragam pula. Namun ukuran “luas” disini juga tidak mutlak demikian, mungkin yang luas hanya satu unsure fiksinya saja, misalnya temanya, sedang karakter, setting dan lain-lain hanya satu saja.
Novel dapat dibagi menjadi tiga golongan, yakni novel percintaan, novel petualangan, dan novel fantasi.
Novel percintaan melibatkan peranan tokoh wanita dan pria secara imbang, bahkan kadang-kadang peranan wanita lebih dominan. Dalam novel ini digarap hamper semua tema, dan sebagian besar novel termasuk jenis ini.
Novel petualangan sedikit sekali memasukkan peranan wanita. Jika wanita disebut dalam novel jenis ini, maka penggambarannya hamper stereotip dan kurang berperan. Jenis novel petualangan adalah “ bacaan kam pria “ karena tokoh-tokoh didalamnya priadan dengan sendirinya melibatkan banyak masalah dunia lelaki yag tidak ada hubungannya dengan wanita meskipun dalam jenis novel petualangan ini sering ada percintaan juga namun hanya bersifat sampingan saja, artinya novel itu tidak berbicara semata-mata berbicara persoalan cinta.
Novel fantasi bercerita tentang hal-hal yang tidak realistis dan tidak serba mungkin dilihat dari pengalaman sehari-hari. Novel jenis ini menggunakan karakter yang tidak realistis, setting dan plot yang juga tidak wajar untuk menyampaikan ide-ide penulisnya. Jenis novel ini mementingkan ide, konsep, dan gagasan sastrawannya yang hanya dapat jelas kalau diucapkan dalam bentuk cerita fantastic, artinya menyalahi hokum empiris, hokum pengalaman sehari-hari.
1.4.Unsur signifikan novel fiksi
Sebagai salah satu genre sastra karya fiksi mengandung unsure-unsur meliputi (1) pengarang atau narator (2) isi penciptaan (3) media penyampaian isi berupa bahasa dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsure-unsur intrinsic yang mambangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi suatu wacana. Pada sisi lain dalam rangka memaparkan isi tersebut pengarang akan memaparkannya lewat (1) pemjelasan atau komentar (2) dialog atau monolog dan (3) lewat kelakuan atau action. ( Aminudin, 1987: 66)
Pengertian dasar berbagai nsur fiksi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut
1)Alur
Pendapat Jan Van Luxemburk yang di indonesiakan oleh Dick Hartono mengemukakan bahwa alur atau plot adalah kontruksi yang dibuat pengarang mengenai sebuah deretan peristiwa yang logis dan kronologis saling berkaitan dan yang diakibatkan atau dialami para pelaku ( Hartoko, 1984 :149)
Aminudin (1987 : 83) mendifinisikan alur adalah rangkai cerita yang dibetuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.
S. Tarif menyebutkan bahwa setiap cerita dapat dibagi dalam lima again:
a. situation (pengarang mulai melukiskan suatu keadaan)
b. generating sircumstances (peristiwa ang bersangkut paut mulai bergerak )
c. rising action (keadaan mulai memuncak )
d. climax (peristiwa-peristiwa mencapai klimaks)
e.denonement (pengarang mulai memberikan pemecahan persoalan dari semua peristiwa) dalam ( tarigan, 1986 : 128)
Didalam memahami buku cerita rekaan dijelaskan pengaluran adalah pengaturan peristiwa membentuk cerita ( sudjiman, 1988 : 31 ). Ada beberapa cara yang dilakuakan untuk mengetahui pengaluran dalam sebuah cerita yaitu :
a.Ad avo, jika sebuah cerita disusun dan dimulai pada awal peristiwa
b.In medis res, jika cerita dimulai ditengah kisah kemudian dipertautkan dengan semua peristiwa sebelum dan sesudahnya.
c.Alih bakih atau sorot balik jika urutan kronologisnya peristawa- peristiwa yag disajikan dalam karaya sastra disela denga peristiwa yang terjadi sebelumnya.
2)Tokoh dan penopkohan
Aminudin (1987 : 79 ) mendefinisikan tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atu pelaku disebut penokohan.
Menurut Sumarjo ( 1954 : 57 ) bahwa penokohan adalah seluruh pengalaman yang yang dituturkan dalam cerita yang kita ikuti berdasarkan tingkah laku dan pengalam yang dijalani oleh pelakunya.
Willian dan Addison menggunakan istilah perwatakan dan mendifinisikan sebagai gambaran kreatif tentang tokoh-tokoh bayangan, yang dapat dipercaya demikian rupa, karea mereka hadir didepan pembaca seperti sesungguhnya (dalam Sukada, 1987 : 63)
Ada eberapa cara yang dapat dipergunakan oleh pengarang untuk melukiskan rupa, watak atau priadi para tokoh tersebut antara lain :
a.physical description (melukiskan bentuk lain dari penokohan )
b.portrayal of trought stream or of concius thought (melukiskan jalan pelakon atau apa yag terlintas dalam pikirannya )
c.reaction to event (melukiskan bagaimana reksi pelakon-pelakon itu terhadap kejadian-kejadian )
d.direct author analysis (pengarang dengan langsung menganalisis pwatak pelakon)
e.discussion of environment ( pengarang melukiskan keadaan dalam kamar pelakon pembaca akan dapat kesan apakah pelakon itu oaring jorok, bersih, rajin, malas dan sebagainya)
f.reaction of other about/to character (pengarang elukiskan bagaimana pandangan-pandangan pelakon lain dalam suatu cerita terhadapa pelakon utama itu )
g.conversation of other about character (pelakon-pelakon lainnya dalam suatu cerita memperbincangkan keadaan pelu utama )
istilah beberapa cara yang dapat diperguanakan untuk melukiskan priadi lakon. Cara mana yag dipakai, tentu bergantung kepada imajinasi dan fantasi sang pengarang, mungkin pula seornag pengarang memadu dengan beberapa cara sekaligus dalam karyanya.
3)Latar
Pendapat Brooks yang dikutip oleh tarigan Henny Guntur (1986 : 136 ) latar adalah latar belakang fisik unsure tempat dan ruang, dalam suatu cerita.
Latar dapat digunakan untuk beberapa maksud atau tujuan antara lain:
Pertama,latar dapat dengan mudah dikenali kembali, dan juga dilukiskan dengan terang dan jelas serta mudah diingat, biasanya cenderung untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan gerakan serta tindakanya. Kedua, latar suatu cerita dapat mempunyai suatu relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan dan arti yang umum dari suatu cerita. Ketiga, kadang-kadang mungkin juga terjdi bahwa latar itu bekerja bagi maksud-maksud tertentu dan terarah dari pada menciptakan atsmosfir yang ermanfaat dan berguna.
4)Atmosfer
Cerita yang menarik harus hidup, pembeca harus merasa bersama-sama dengan pelakon segala kejadian yang dialaminya. Suatu keadaan yang dilikiskan harus terbayang dimukanya. Jika tidak demikian maka cerita itu menjemukan. Menurut Tarigan Henry Guntur (1986 : 135 )
Kesan suatu cerita atau atmosfer dapat memberikan imlpikasi makna yang luas kepada pembacanya. Berbagai penafsiran akan timbul bersamaan dengan berbagai pesan yang diperoleh pembacanya. Dalam hal ini atmosfer dapat merapatkan jarak suasana batin pembaca dan cerita pembacanya.
5)Tema
Aminuddin (1987 : 91) mendefinisikan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tokoh pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Lebiha jauh lagi Aminuddin memberikan beberapa langkah untuk memahami tema. Langkah-langkah tersebut melalui (1) pemahaman setting, (2) memahqami penokohan (3) pemahaman satuanm peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa (4) pemahaman plot dan alur (5) hubungan pokok pikiran yang satu dengan yang lainnya yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa (6) menentukan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran yang ditampilkan (7) identifikasi pengarang memaparkan cerita (8) menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya.
Setiap fiksi haruslah mempunyai dasar atau tema yang merupakan sasaran tujuan. Penulis melukiskan watak para tokoh dalam karyanya dengan dasar itu. Dengan demikian tidak berlebihan bila dikatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita. Suatu cerita yang tidak mempunyai tema tentu taka ada gunanya dan art6inya.
Brooks, Puser dan Warren dalam buku lain mengatakan bahwa “ tema adalah pandangan hidup tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau yang membangun dasar atau gagasn utama dari suatu karya sastra”. Dalam Tarigan (1986 :125)
6)Titik pandang
Tyitik pandang adalah cara pengarang menampilakan para pelakau dalam cerita yang dipaparkannya( aminudun , 1987 : 90) titik pandang atau bis adiistilahkan dengan poit of view atau titik kisah meliputi :
Narrator Amniscient, Narrator observer, Narrtor obserfer amniscient, narrator the third person amniscient.
a.Narrator amniscient adalah narator atau pengisah yang berfungsi sebagi pelaku cerita. Karena pelaku adalah pengisah, maka akhirnya pengisah juga merupakan penutur yang serba tahu apa yang ada dalam benak pelaku utama maupun sejumlah pelaku lainnya baik secara fisikal maupun psikologus.
b.Narrator observer adaladh bila pengisah yang berfungsi ebagai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu prilaku batiniah para pelaku.
7)Gaya
Istialh gaya diangkat dari istilah style yang bderasal dari bahas lati stilus dan mengandung arti leksikal “ alat untuk menulis “. Dalam karya sastra gaya mengandung pengertian cara seseorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan media bahasa indah serat harmonis yang mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. ( Aminudin, 1987 : 72 )
1.5.Nilai-nilai kehidupan dalam karya sastra
jika dibayangkan bahwa segala gagasan, cita rasa, emosi, ide dan angan-angan merupakan “dunia dalam” pengarang karya satra merupakan “dunia luar “ yang bersesuaian dengan dunia dalam itu. Dengan cara pendekatan ini penialaian karya sastra tertuju pada emosi atau keadaan jiwa pengarang. Karya sastra dianggap sebagai sarana untuk memahami jiwa pengarang atau sebaliknya [sugihastuti,2002 : 2]
teks sastra mengandung beberapa unsure yang sangat kompleks. Kompleksitas unsure itu sedikitnya meliputi unsure : kebahasaa, struktur wacana, signifikan sastra, keindahan, social budaya, nilaibaik nilai filsafat agama maupun psikologi, serat latar kesejarahannya. [ aminudin 1987 :51 ].
1.6.Status social tokoh
Seseorang ( individu ) memiliki apa yang dinamakan status social, status social merupakan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok pergaulan hidupnya.
Status seseorang individu dalam masyarakat dapat dilihat dari dua aspek yaitu :
a.Aspek statis
Yaitu kedudukan dan derajat seseorang didalam suatu kelompok yang dapat dibedakan dengan derajat dan kedudukan individu yang lain seperti petani dapat dibedakan dengan nelayan dalan lain-lain.
b.Aspek dinamis
Yaitu berhubungan erat dengan peranan social tertentu yang berhubungan dengan pengertian jabatan, fungsi dan tingkah laku yang formal sert5a jasa yang diharapkan dari fungsi dan jabatan tersebut. Misalnya guru peranan social adalah suatu cara/ perbuatan/tindakan seseorang individu dalam usahanya dalam memenuhi tanggung jawab dan hak-hal status sosialnya, maka seseorang akan terlihat menjalankan ststus sosialnya dengan kegiatan atau dapat dilihat dari peranannya.
Selain pengertian diatas berikut ini merupakan penggolongan status social dan masyarakat berdasarkan :
a.Ukuran kekayaan
Barang siapa memiliki kakayaan yang paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah yang bersangkutan serta fasilitas yang ada.
b.Ukuran kekuasaan
Barang siapa yang mempunyai kekuasaan/ wewenang menempati yang paling atas.
c.Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang yang paling dihormati dan disegani mendapat tempat teratas. Ukuran ini banyak dijumpai pada masyarakat-masyarkat tradisional.
d.Ukuran ilmu pengetahuan
Ilu pengetahuan sebagia ukuran dipakai oleh masyarakat ang menghargai ilmu pengetahuan.

BAB III
PEMBAHASAN

Nama-nama tokoh
Nama-nama tokoh berikut berdasarkan jeis kelamin seorang tokoh .
a.berjenis kelamin laki – laki
Dalam novel “Don’t Touch Me !” data bisa kami sajikan sesuai denga jenis kelamin laki-laki sebagai berikut :
(1). “ Gile ! ternyata gue bisa puitis juga, nambah bakat nih,” suara hati ben kegirangan. Cowok itu telah mengumpulkan segala potensi yang dipunyainya untuk memenangkan Lindi cewek zaman batu, begitu ganknya mengelari cewek itu.”(DTM : 8)

Dalam data yang saya sajikan itu menunjukkan seorang tokoh yang bernama Ben yang berjenis kelamin laki-laki yang sebagai tokoh utama dalam novel ini.
(2)kalo elo gak mampu dan takut jatuh pamor, nagku sekarang aja Ben, gak usah nolor-nolor waktu, kita-kita udah pingin makan gratis dan senang-senag nih. Dan sebaliknya kita juga gak takut musti habis duit buat bikin lo seneng.” Cerewet Mario membuat hati Ben terbakar dan tersulut mendekati cewek itu. (DTM : 11)

Dalam data ini tokoh yang bernama Mario, dia berjenis kelamin laki-laki teman gank Ben.
(3)” Ben, gue dapat info neh! Tuh cewek zaman batu masuk ekstrakurikuler palang merah” Gala, teman segenk Ben yang paling dekat dengan tuh cowok menghampiri Ben saat duduk dikafe. (DTM : 20)

Dalam data ini tokoh yang bernama Gala berjenis kelamin laki-laki juga teman genk Ben.
(4)“mana Mario, jimmy, dan gito ?” Gala mengernyitkan kening mendengar Tanya Ben.(DTM : 20)

Dalam nama-nama tokoh ini semua adlah teman Genk Ben yaitu Jimmy dan Gito.
(5)” hai Lindi” sapa suara cowok, Teguh, yang tak lain ketua palang merah saat berpapasan dengan Lindi di pintu. (DTM : 27)

Dalam nama diatas adalah tokoh yang bernama Teguh yang termasuk ketua palang merah yang senior Lindi.
b.berjenis kelamin perempuan
Dalam novel ini ada tokoh-tokoh berjenis kelamin perempuan dapat saya sajikan dalam data berikut. :
(1)” aku cewek kampung yang gak bisa gaul, aku tau aku cewek kuno, lahir dari keluarga yang serba susah. Nah lho! Kok aku jadi mengutuki kekurangan diri lagi ? jangan! Jangan lagi ! cukup sudah menghukum diri dengan menjadi cewek yang tertutup!” putus lindi lalu berjalan cepat keluar. Diruang tengah dikemasinya kain-kain yang akan diusungnya kerumah tante Sastri(DTM : 17).

Dalam data berikut bahwa menunjukkan bahwa Lindi adalah seorang tokoh utama yang berjenis kelamin cewek.
(2)” say, kapan kita nonton lagi? Kamu kok jarang kerumah sekarang ?” suara Sadira di HP Ben, membangunkan cowok itu dari tidur sorenya. Perasaan cewek itu lebih dari tiga bulan digantung-ganyungnya. Padahal menurut ukuran umum, hamper tidak ada cacat nilai pada cewek itu, cantik, anggun dan juga tajir. (Don’t Touch Me! : 45)

Dalam data tersebut ada tokoh yang bernama Sadira yang juga termasuk cewek Ben.
(3)Nah kalau bernama Sami, hamper 4/4 alias ¾ jadi tambatan hati Ben. Cewek model itu pernah begitu kuat menguasai tuh peasaan cowok. Ben ngaku suka banget cewek blesteran jerman –sunda itu ke genknya. Ben yang tajir dan keren abis itu sempat jatuh bangun deketin sami dan sekarang mereka udah kian dekat. (DTM : 48)

Dari data tersebut bahwa ada tokoh yang bernama Sami yang termasuk juga cewek Ben.
(4)” Bu, lindi ke rumah tante Sastri, “ pamitnya meninggalkan rumah. (DTM : 18 )

Dalam data tersebut tante Sastri adalah ibu Ben seorang karir yang bekerja di perusahaan.
Sikap hidup tokoh
Dalam novel, sikap tokoh merupakan menunjukkan bagaimana interaksi antara hubungan tokoh dengan tokoh yang lain. Akan saya sajikan beberapa data yang berkenaan dengan sikap tokoh dalam novel ini sesuai dengan nama-nam tokoh yang telah saya sebutkan diatas.
(1)” Dasar the complicated girl !” rutuk Ben yang harus dengan lapang dada mengakui kakalahannya dalam taruhan dengan dengan ganknya untuk sementara waktu sebagai playboy yang selama ini bikin cewek tak berkutik. Antara sebel dan masih penasaran, pikiran Ben digiring memutar ulang kejadian sore ditangga kafe gaul kampusnya,. Begitu ingat adegan panas didepan kafe, kesekian kalinya Ben memukul jidatnya, menyesali sikap tak waspadanya pada genk isenknya. (DTM : 10 )

Dalam data tersebut menunjukkan bahwa Ben adalah bersikap penasan pada cewek cantik yang bernama Lindi, yang harus bersikap lapang dada dengan semua apa yang terjadi dengan pengejaran cewek yang bernama Lindi. Dia tetap berusaha untuk mendapatkan targetnya ke pelukakannya. Karena dia harus mempertahankan gelar seorang playboy yang mampu menaklukkan gadis tipe apapun.
(2)Ganknya sempat sirik dengan keberuntngan nasib Ben dalam urusan cewek-cewek. Tapi sering juga berkhotbah panjang lebar pada Ben kalau duain cewek itu gak boleh, gak gentleman. Atau alsan itu bagian dari sirik juga? Tapi kayaknya gak. Meski mereka sering pasang taruhan buat cewek-cewek tertentu untuk dikejar, mereka masih punya nurani untuk gak ngancurin perasaan tuh cewek-cewek. Targetnya Cuma jadi teman dekat doing. Seterusnya harus ngikutin kata hati. Suka bisa lanjut sampe jadian. Kalo nggak, harus kasi lampu merah buat tuh cewek. Kalu sudah bosen boleh change place dengan cewek lain, asal masih terikat sama sebelumnya kudu setia. Tapi sayang itu semua tak berlaku bagi Ben. (DTM : 48)

Dari data tersebut bahwa gank Ben menunjukkan keiriannya terhadap Ben yang suka mempermainkan perempuan, meski biasanya ganknya pun bertaruhan dengan Ben untuk menggaet perempuan cantik sebagai mangsanya Ben. Tapi sejahat apapaun mereka, masih punya hati nurani untuk tidak menghancurkan para hati perempuan cantik yang telah dipacari Ben, yang hanya buat permainan taruhan dan perjudian ganknya Ben. Ini menunjukkan bahwa kalau pada remaja itu walaupun mempermainkan perempuan tapi masih punya hati yang tulus juga.
(3)” kalau lo begini terus, kejar cewek terus tinggalin setelah mereka merasa cinta banget ama lo, suatu hari lo bisa kena karmanya, Ben, “ ingat gito Ben acuh saja. (DTM : 49 )

Dalam data tersebut menunjukkan bahwa kalau Gito juga menunjukkan sikap pedulinya pada Ben, ini menunjukkan kalau sikap teman menunjukkan sikap socialnya untuk saling mengingatkan pada sesama teman ganknya. Disini nilai teman, dia akan memberikan sesuatu yang berarti jika ia menjadi nasehat bagi temannya yang membutuhkannya.
(4)” sami itu udah pasti gue dapet, menghilang sesaat tak masalah, bakal biukin dia gak bisa lepas dari gue. Tapi Lindi urusannya lain … ini soal penghargaan diri. Reputasi men ! kalau gak, kalian ngaku saja kalah sekarang,” tegas Ben bikin gankya keki. (DTM : 50 )

Data yang saya sajikan ini menunjukkan kalau sikap Ben yang tak mengalah begitu saja, ia tetap mempertahankan pengejarannya pada seorang gadis yang bernama Lindi sebagai taruhannya dengan genknya.
(5) “ apa yang salah pada ddiriku? Mengapa dia begitu suka mengerjaiku ? apa benar cerita mbak Maya kalau dia tengah taruhan lagu dengan ganknya? Aku dijadikan perjudian ? buat apa? Apa hadiahnyakali ini? Apa yang menarik dari diriku yang asyik untuk dipertaruhkan ?” hati Lindi sibuk empertayakan tingkah Ben, peristiwa di CafĂ© akan sangat sulit untuk dilupakannya, mungkin unt7uk seumur hidup! Dia merasa sangat telah dirandahkan cowok itu. Dia tau sekali repotasi Ben. Ben banyakmenggaet cewek dan tak jarang menjadikannya kompetisi. Lindi merasa walau dirinya tak populer dan bukan jenis cewek yang masuk hitungan Ben, tapi dia tajk ingin diperlakukan buruk oleh Ben.

Data yang sajikan diatas merupakan sikap Lindi sebagai seorang cewek yang tidak suka menjadi permainan seorang lelaki seperti Ben, yang mengejar wanita dengan dalih untuk dijadikan taruhan.
(6)” Gadis polos dan baik seperti Lindi tak seharusnya dijadikan target isengan “, desis batinnya. Apalagi ketika menuangkan obat ke luka Gala dan memerbaninya, jemari lentik lindi kian hati-hati dan dengan lembut melakukannya. Seolah cewek itu melakukannya pada dirinya sendiri. Sepertinya ia tak ingin keluar suara “ uhh” atau erangan sedikitpun dari orang yang didepannya. (DTM : 58)

Dari data diatas menunjukkan kalau Gala, teman genknya Ben yang juaga ikut taruhan untuk ngisengin Lindi. Dia juga menunjukkan rasa kasihannya terhadap lindi yang setelah tahu kalau Lindi adalah gadis baik yang lugu.

(7)” i…. iya…. Ada apa, mbak ? “ jawab lindi ragu-ragu
“ aku gak nyangka kamu orangnya ! Ben main-main saja denganmu kamu tau itukan?” nada suara sadira tidak sedap dan sungguh kian mengagetkan Lindi, tak menyangka di semprot mengenai Ben. (DTM : 86 )

Dalam data tersebut menunjukkan kalau sadira adalah salah satu cewek Ben yang menaruh cemburu pada lindi yang pada saat itu menjadi target gaetannya Ben. Dan sadira tidak suka pada Lindi dengan mengejek Lindi.
(8) “ kamu memang bajingan Ben. Aku memutuskan menerima itu semua ! kamu bicara begitu setelah ada nama Lindi muncul ke permukaan kan ? semoga kamu berhasil, jadi tak perlu merasakan sakit seperti yang aku rasakan sekarang “ erkata begitu tangis pecah walau tak terdengar keras, hanya berupa isakan. Dibiarkannya suara itu keluar tanpa bermaksud membekapnya dengan tangan ke mulut. Ben gelagapan. Dijhadapannya selama ini cewek itu tak hanya terlihat serius, tapi juga mandiri dan bisa mmenutupi perasaan rapuhnya disetiap ditimpa masalah seperti persoalan seperti rekan sesame model yang suka sirik kepadanya. Tak disangkanya ia bisa menangis juga. (DTM : 148-149)

Data yang saya sampaikan diatas menunjukkan sikap kecewanya pada Ben yang telah menyakiti hatinya Sami. Sebagaui seorang cewek pasti tidak ingin hatinya disakiti dan tidak ingin juga melihat sesama cewek disakiti oleh laki-laki yang playboy seperti Ben.
(9)” gue juga bermaksud baik nyadarkan tuh cewek jangan mikir macam-macam, jangan sampai berharap Ben benar-benar tergila – gila padanya. Ntar terluka, sakit !” rutuk sadira. “ dan walaupun Ben Cuma main-main, gue tentu juga tak mungkin iklasin tuh cewek meikmati isengan Ben. Hati cewek mana yang mau berbagi meskipun hanya untuk sebuah guyonan cowoknya.” Lanjut sadira yang selalu merasa Ben telah menjadi miliknya.

Data yang saya sampaikan ini merupakan siakp peduli sadira yang menganggap bahwa Lindi adalah sesame cewek yang tidak boleh disakiti, ia merasakan bagaimana jika dirinya disakiti oleh seorang laki-laki.

Status social tokoh
(1) Gank anak – anak kalangan atas yang seringkali menghabiskan liburan keluar negri itu, kali ini Cuma janjian kongkow-kongkow ke plaza-plaza yang ada di di Jakarta yang dilanjutkan dengan pesta di puncak malam ini ! Rumah Ben Sunyi. Sang mama seperti biasa kerja tak jelas waktu. Sang papa entah kemana sudah tiga tahun ben sudah tak melihat lelaki itu. (DTM : 9)

Dalam data tersebut menunjukkan bahwa Ben dan bersama teman-teman ganknya menunjukkan orang yang berstatus social tinggi diliohat dari kekayaan yang dimilkinya karena sering liburan keluar negri dan bermain-main di plaza yang jiga pastinya membutuhkan biaya banyak. Dan inilah kehidupajn anak muda yang berstatus social yang tinggi.
(2)“ aku cewek kampung yang gak bisa gaul, aku tau aku cewek kuno, lahir dari keluarga yang seba susah. Nah lho! Kok aku jadi mengutuki kekurangan diri kagi ? jangan! Jangan lagi ! cukup sudah denga menghukum diri menjadi cewek yang tertutup “ putus lindi lalu berjalan cepat keluar. Diruang tengah dikemasinya kain-kain Yang akan diusungnya kerumah tante sastri.

Dari data tersebut bahwa ada perbedaan status social antara Lindi dengan Ben. Lindi anak orang tidak punya yang hidup serba pas-pasan yang bekerja sebagi tukang cuci pakaian untuk biaya hidup dan kuliahnya.

Peristiwa yang terjadi
(1).“ ini kompetisi tolol. Tapi tak ada salahnya diikuti, demi sebuah citra nambah popularitas gue bisa masuk kehati cewek seperti apapun. Gue yang tak akan terkalahkan juga bisa senang-senang dari biaya empat kurcaci isengan itu” . Suara batin Ben lagi. ( DTM : 8)

Dalam data tersebut menujukkan bahwa ada peristiwa terjadinya perjudian yang dilakukan oleh Ben bersama ganknya untuk mendapatkan hati lindi. Yang selama ini dikenal dengan cewek yang kuno yang tak pernah mengenal lelaki manapun dan tak pernah pacaran.
(2)“ aku juga ceweknya” jawab sami acuh,berkesan santai. Gito, Mario dan Jimmy kelihatan semakin gelagapan.
“ aku sudah lama menebak, Ben lagi jenuh dan cari hiburan. Pasti kamulah cewek yang selama ini membuat waktu ben berkurang untukku. Pasti kamu cewek selingkuhannya Ben!” suara sadira mulai meninggi dan tatapan matanya semqkin tak bersahabat.
“ hei…hei…duduk dulu ! saling kenalanlah dulu “ gito mencoba menenangkan hawa panas yang mulai tersa memenuhi ruangan sekitarnya. Dua-duanya tak bergerak malah salaing pandang dalam geram. “ ya.ya.. kalian cewek-ceweknya Ben . ups !” spontan gito menutupi mulutnya sendiri, sadr kalimat yang dimaksudkannya untu7k meredakan suasana ju8stru kian memperuncing keadaan.

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa ada peristiwa perkelaihan sengit antara pacar-pacar Ben. Yang merasa di sakiti dan tidak pernah diperhatikan lagi. Disini menunjukkan kalu cewek itu merasa berat untuk melepas cowoknya, karena bagaimanapun juga cewek berhak memilki cowok yang diidamkannya.
(3)“ hei…hei… What’s happen guys ? seperti kalian kena wabah yang sama. Lo gal ! kenapa lo mendadak peduli gimana perasaan Lindi. Apa juga lo sama dengan Mario dan jimmy, naksir cewek-cewek gue ?” semprot Ben santai.
“ gue Cuma gak tega Ben”
“ Come on ! gak perlu erselubung denga kat-kata!”
“ Oke, gue pernah dapat kebaikan cewek itu, Ben. Dia yang merawat luka gue waktu keserempet motor tempo hari waktu di kampus. Puas?” Gala mulai tersulut.
“ wah romantis banget. Sepertinya ada sesuatu dibelakang gue yang terjadi nih, “ sentil Ben sampbil melayangkan tepukan di udara. “ jadi ceritanya bener nih, lo semua kecuali gito, telah kena wabah jatuh cinta sama cewek-cewek gue?” suara Ben terdengar pongah. (DTM : 108 )

Dalam data diatas dapat kita ketahui bahwa ada perseteruan antara Ben dengan teman-teman segenknya, yang ada hubungannya dengan cewek-cewek Ben, mereka juga ungin mendapatkan cewek-ceweknya Ben. Dan juga gala yang ingin juga mendapatkan Lindi karena dia juga pernah merasakan kebaikan Lindi, dan dia tak ingin gara-gara taruhan ini melukai hati lindi.
(4)“sami… dengarlah dulu… maaf sam…!” teriak Ben. Secepat kilat membuntuti mobil sami dengan motornya. Sami seperti orang kesetanan, menggas mobilnya sekuat tenaga mobilnya. Ben kian panic, takut terjadi apa-apa pada cewek itu. Akibatnya ben tak waspada pada keselamatannya dirinya sendiri. Hingga tanpa diduga ada kijang dari gang samping kanan kompleks rumah Ben dan menabrak motor ben. Lindi yang mengamati dari jauh terpekik sambil meutupi mulutnya.
Cowok itu dilihatnya terpental beberpa meter, sedang kijang itu melaju begitu saja dan sami sendiri sama sekali tidak tau kejadian dibelakang mobilnya itu. Mobilnya pun sudah lenyap. (DTM : 151)

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa ada peristiwa Ben kecelakaan yang diakibatkan dengan hatinya gundah mengejar sami yang telah merasa tersakiti dan Ben denganb perasaan yang penuh dengan kuatir tidak menghiraukan sekitarnya sehingga ia pun tidak bisa menontrol keadaan sampai kijang menabrak motornya.
(5)“ papaku juga pernah jadi papanya Lindi?” desis Ben berulang-ulang, tak ingin mempercayainyatapi itulah kenyataan pahit sekal !
Ben berusaha sekuat tenaga menerima dan memahami alasan Lindi selalu berlari dariya. Cewek itu ingin menepati permohoan mam ben untuk tak usah mengenal Ben. Disamping tentunya juga berpikiran kalau Ben sama seperti papanya, tidak setia.
Kisah yang menghubungkannya dengan Lindi dalam ikatan kekeluargaan itu ternyata bermula saaat Ben belum terobsesi meaklukkan banyak cewek. Waktu itu dia masih kelas 1 satu SMU. (DTM :214)

Dri data tersebut dapat kita ketahuiu bahwa ternyata Lindi adalah ada hubungan keluarga dengan Ben. Yang pada saat itu pernah Ibunya Lindi dikawini ayahynya Ben.
(6)“ibuuu!!!” pekikan Lindi tak terdengar biasanyadi telinga Ben. Nalurinya berkata terjadi sesuatu. Ben tak ragu-ragu lagi. Dengan penuh keyakinan tubuh cowok itu terdorong berjalan cepat menuju rumsh tersebut.
Diruang rumah kecil Lindi tak ditemukan apa-apa, kecuali tangisan cewek itu yang tak putus dari telinganya. Hati Ben digiring kian mendekat lalu mengintip kesalah satu kamar tempat suara Lindi. Matanya terbelalak saat mentaksikan Lindi menguncang sesosok wanita separuh baya. Itu pastilah ibunya. Tanpa berpikir apa-apa lagi cowok itu menerobos kedalam.
“ ada apa lindi? Ini ibumu kan? “ cecar ben.
Wajah itu terangkat matanya kabur oleh air mat. “ sejak dua hari yang lalu ibu sakit, sudah minum obat yang saya belikan diwarung. Tapi kenapa ibu tak bergerak begini. Tadi pagi ibu masih tidak apa-apa, saya takut Ben….” Suara Lindi diantara sesegukan. (DTM : 231)

Dari data tersebut bahwa ada peristiwa kalau ibnya lindi itu jatuh sakit dan Ben pun menolong Lindi untuk membawa kerumah sakit disini jalinan hubungan keluarga itu masih kuat dan itulah yang harus dilakukan jika ada keluarga yang sakit.

BAB IV
PENUTUP
1.simpulan
Dalam analisis Novel “Don’t Touch Me! Ini dapat saya simpulkan sebagi berikut :
a.kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan anak muda yang suka berfoya-foya dan itu diakibatkan tidak pedulinya oleh orang tua yang terlalu bebas melepaskan anaknya.
b.Kita tahu bagaimana kehidupan anak yang playboy yang pada dasarnya mereka juga masih punya hati nurani untuk tidak menyakiti seorang perempuan.
c.Sebagi seorang cewek tidak mau diduakan hatinya.
d.Cewek tidak mau melihat sesama cewek juga hatinya disakiti oleh seorang lelaki yang playboy.
e.Disisi lain pada tokoh Ben dia merupakan tokoh utama yang pada saatnya ia mengakhiri permainan cintanya pada gadis-gadis targetannya dan ingin menemukan cinta yang sejati.
2.saran dan kritik
Dalam analisis ini tentunya masuih jauh dari sempurna dan saya memomohon dari semua pihak yang membaca analisis ini untuk memberiakan saran dan kritikannya yang membangun agar analisis ini menjadi sempurna. Dan saya berharap analisis ini bermanfaat dan dapat dibaca oleh semua kalangan sehingga menjadi khasanah ilmu pengetahuan.

SINOPSIS

Seorang pemuda yang hidup dalam kemewahan yang bernama Ben yang mempunyai wajah tampan dan mempunyai kelompok Genk papan atas yang sering liburan kleluar negri. Ben bersama teman-temannya segenk sedang melakukan perjudian denga taruhan bahwa Ben mampu menaklukkan cewek yang bertampilan kuno yang mempunyai wajah cantik yang bernama Lindi. Lindi adalah orang miskin yang ibunya sebagai tukang cuci. Lindi tidak pernah bergaul dengan seorang lelaki.
Ben juga punya pacar banyak diantaranya adalah Sadira dan Sami yang sama-sama mencintai Ben. Sami dan Sadira merupakan cewek yang berkelas papan atas. Mereka beda kampus sehingga percintaannya dengan Ben berjalan Mulus karena mereka tidak tau kalau mereka diduakan.
Pada suatu hari Sami dan sadira secara kebetulan bertmu disebuah kafe yang keduanya mencari Ben. Mereka mencari Ben bertanya pada teman-teman genknya karena mereka berdua juga kenal teman gengnya Ben itu. Teman-temannya bingung karena mereka harus jawab apa? Disaat Sadira dan Sami menanyakan Ben. Karena merka berdua dalah pacar-pacarnya Ben. Maka terjadilah pertengkaran dikafe itu setelah mereka tahu kalau sama-=sama mencari Ben. Mereka merasa sama-sama memiliki Ben.
Pada suatu hari sadira mendatangi Lindi yang pada saat ini memang dikejar-kejar oleh Ben. Lindi yang tidak tau apa-apa menjadi bahan makiannya sadira diseuah kafe. Untung ada teman lindi yang membela Lindi. Dan sadira eninggalkan Lindi dan memperingatkannya untuk tidak mendekati Ben.
Sami datang pada ben meminta kejelasan hubungan Ben dengan Lindi. Dan akhirnya erujung Sami memutuskan tidak percaya lagi pada Ben, dia pergi denagn mobilnya dan akhirnya Ben juga yang lagi bingung ingin mengejar Sami, dan tanpa menghiraukan sekitarnya Ben yang juga melaju dengan kencang tiba-tiba tertabrak kijang dari gang sebelah rumahnya. Dan untung disitu kebetulan ada Lindi. Dan segera lindi menolong Ben dan membawanya kerumah sakit.
Ben diruah sakit, mendengar suara mamanya yang bebicara dengan Lindi diluar ruangan. Ben mendengar seakan akan mamanya itu kenal dengan lindi sehingga Ben penasaran, sebenarnya ada hubungan apa Lindi dengan mamanya.
Ketika sudah pulang ben mendesak mamanya untuk bercerita. Ada hubungan apa dia dengan lindi. Sampai akhirnya mama Ben bercerita juga kalau papanya Ben itu juga pernah menjadi papanya Lindi. Yang pada waktu itu Ben masih kelas 1 SMU yang papanya lindi kecelakaan dalam mengendarai mobil. Papanya Ben merasa kasihan pada ibunya lindi yang menjadi janda yang mempunyai anak yang masih sekolah. Dan akhirnya papa Ben menikahi mamanya Lindi.
Ben berfikir apakah ini yang menyebabkan lindi itu selalu berlari dari ben. Dan ia berniat untuk mengawini lindi. Karena dia juga sayang pada Lindi.
Pada suatau hari Ben menemui Lindi dan ingin mengatakan kepadanya kalau ia sudah mendengar cerita segala sesuatunya dari mamanya. Tapi Lindi masih tetap menghindari Ben. Dan Lindi pulang begitu saja, Ban pun membuntuti Lindi dan akhirnya Ben pun mendapati tempat lindi tinggal. Ketika Lindi masuk kedalam rumah tiba-tiba ia temukan ibunya lindi yang sedang sakit itu tidak bergerak sama sekali. Dan ben pun menolong lindi untuk membawa ibunya Lindi kerumah sakit. Dan disinilah lindi merasakan kalau ben itu sedah berubah dan mulai percaya pada ben.

DAFTAR PUSTAKA

Ratna, Nyoman Kutha. 2003. paradigma sosiologi sastra .Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Taum, Yoseph Yapi . 1997. Pengantar Teori Sastra . Nusa Indah :Nusa Tenggara Timur
Rene Wellek dan Austin Warren.1989. Teori Kesusastraan. PT. Gramedia :Jakarta
Jakob Sumardjo dan Saini K.M.. 1986. Apresiasi Kesusaastraan. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
Endraswara, Suwardi. 2003. metodologi penelitian sastra. Pustaka Widya Utama : Yogya karta.
Escarpit, Robert. 2005. sosiologi sastra . Yayasan Obor Indonsia : Jakarta

Jumat, 08 Oktober 2010

sastra kontemporer

BAB I
PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANG
Sutardji Calzoum Bahri merupakan penyair besar Indonesia dan ia mengawali kepenyairannya sekitar tahun 1970an karya Sutardji lebih menempatkan bentuk fisik dan tulisan dalam kedudukan yang terpenting dan pada makna. Dalam puisi karya-karyanya memang mempunyai makna yang tersembunyi dan sulit dipahami, walaupun seperti itu puisi karya-karya Sutardji sangat bermakna. Salah karya puisinya yang berjudul “Hujan”. Walaupun bentuk tulisan yang tidak teratur karena bentuknya yang zig-zag dan banyak pengulangan kata serta maknanya sulit dipahami, namun puisi itu sangat mempunyai makna berarti bagi penyair atau semua makhluk hidup karena hujan banyak membawa manfaat untuk kelangsungan hidup manusia, tumbuhan, maupun hewan. Jika tidak ada hujan semua makhluk di dunia akan mengalami kekeringan akibatnya akan mati.
1.2 Rumusan Masalah
Gambaran secara jelas mengenai masalah yang menjadi bahan penelitian yang akan di teliti
– Apakah yang dimaksud dengan puisi kontemporer ?
– Bagaimana sebuah puisi disebut dengan puisi kontemporer ?
1.3 Tujuan Penelitian
Agar para pembaca makalah ini dapat memahami serta mengerti, tentang sebuah puisi yang disebut puisi kontemporer, walaupun tulisannya tidak beraturan dan maknanya yang sulit dan tersembunyi, tapi sebenarnya puisi tersebut memberikan makna yang berarti.

BAB II
ANALISIS
Puisi kontemporer ialah salah satu jenis puisi yang inkonrasional yang menyimpang dari pola karya sastra pada umumnya, dan puisi ini diterbitkan sekitar pada permulaan tahun tujuh puluhan hingga sekarang dan bentuknya menyimpang dari puisi-puisi sebelumnya dan cara memahami meknanya pun berbeda. { Herman J Waluyo,
Puisi yang disebut kontemporer dapat dilihat Tipografinya yang tidak beraturan dan banyak pengulangan kata, frase. Dalam hal ini puisi kontemporer yang berjudul hujan akan di analisis dari bentuk-bentuk berikut diantaranya :
2.1 Tipografi
Tipografi merupakan bentuk tulisan yang membedakan puisi dengan novel, roman maupun prosa-prosa yang lain. Puisi kontemporer bentuk tulisannya tidak beraturan. Dan puisi yang berjudul “Hujan” bentuk tulisannya zig-zag.
Dalam bentuk tulisan seperti ini penulis mempunyai maksud dan makna tertentu, walaupun makna puisi tersebut tidak di ungkapkan, namun puisi ini mengandung makna yang sangat berarti, bahwa makhluk hidup di muka bumi ini membutuhkan air untuk kelangsungan hidup.
2.2 Diksi
Diksi merupakan pilihan kata. Kita harus cermat dalam memolih kata-kata yang dirtulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama. Kedudukan kata dalam keseluruhan kata itu. Dalam memilih kata, juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata. (Herman J Waluyo: 87).
Dalam puisi “ Hujan” pilihan katanya adanya pengulangan kata sama.


2.3 Majas
Cara menggambarkan sesuatu dengan jalan membandingkan atau menyamakan dengan sesuatu yang lain (Kamus Bahasa Indonesia, Gita Media: Press: 225). Majas digunakan oleh penyair untuk menyampaikan perasaan, pengalaman batin serta mengindahkan kata-kata sehingga enak di dengar.
Pada bait kesatu hingga ke tiga puisi “Hujan” tersebut majas personifikasi, yaitu :

hujan
bercakapcakap
sama daunan
sama pohon
sama butu-batu
sama badan
sama jam
sama rindu rindu,
dikerongkong sungai
di ketiak laut
di peluk pantai
dalam tungkai
dalam badai rujukku
Karena menganggap benda mati seperti halnya manusia yang dapat berbicara. Dalam bait ke empat menggunakan majas hiperbola karena mengungkapkan peristiwa yang berlebih-lebihan yaitu, : kulanyarkan kubur kubur.
Rima
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika di baca dan dalam pengulangannya penyair juga mempertimbangkan lambang bunyi, sehingga pemilihan bunyi dapat mendukung perasaan dan suasana puisi.
Menurut Marjorie Boulton menyebut rima sebagai phonetik form. Dan jika bentuk fonetik itu berpadu dengan ritma makna akan mampu mempertegas makna puisi. ( Herman J. Waluyo: 92)
Dalam pusi “Hujan” banyak pengulangan bunyi.yaitu :
1. Pengulangan bunyi pada bait pertama yaitu / a/ dan / n/
2. pengulangan bunyi pada bait kedua yaitu / a/ dan /m/
3. pengulangan bunyi pada bait ketiga yaitu /a/
4. pengulangan bunyi pada bait keempat yaitu /a/ /u/ dan /k/.
Ritme
Merupakan pengulangan pada bunyi, kata, frase, dan kalimat atau menurut Slamet Muljana merupakan ritme pertentangan bunyi tinggi/ rendah, panjang/ pendek yang mengalun terus sehingga membentuk keindahan
Dalam membentuk ritme, pada aliran/ periode lama berbeda dengan periode angkatan baru. Kalau pada angkatan lama cara pemenggalan puisi menjadi dua frase, sedangkan pada angkatan baru tidak hanya pemenggalan kata-kata tertentu untuk mengikat beberapa baris puisi.(Herman J Waluyo: 90)
2.6 Asonansi
Asonansai yaitu perulangan atau persamaan bunyi vokal pada suatu kata atau baris ( kamus, B. Indo, Gita Media Press 15). Dalam puisi “Hujan” dominasi vokal “a” dan “u”
2.7Aliterasi
Aliterasi yaitu perulangan atau persamaan bunyi konsonan pada suatu kata atau baris. Dalam puisi “Hujan” dominasi konsonan “k” dan “m” (kamus, B. Indo, Gita Media Press: 13)
2.8 Makna Puisi
Dalam puisi “Hujan” ini bentuk tulisannya yang zig-zag dan pemahaman makna yang sulit untuk diungkapkan serta adanya maksud yang tersembunyi dan banyak pengulangan kata serta kata yang sulit untuk dimaknai sebagai tanda bahwa semua makhluk hidup di dunia ini membutuhkan air yang berasal dari hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun jika kita tidak dapat memanfaatkan lingkungan di sekitar maka turunnya hujan akan membawa masalah bagi kita yaitu banjir dan juga terjadi kekeringan.
2.9 Hubungan Puisi dengan biografi pengarang.
Soetarji merupakan bapak penyair Indonesia dan pembaharu perpuisian Indonesia. Dia salah satu pelopor puisi kontemporer. Soetarji tetaplah Soetarji edan namun kata-katanya, dan tulisannya yang tidak beraturan tapi puisinya sangat bermakna dalam. Puisi yang berjudul “ Hujan” walaupun ditulis secara zig-zag dan bahasanya tidak sama dengan karya sastra pada umumnya, tapi puisi tersebut memberitahukan makna yang berarti bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini, jika tidak ada air dan hujan mereka akan mengalami kekeringan yang akhirnya akan mati.


BAB III
SIMPULAN

Puisi yang berjudul “Hujan” ini penyair mengutamakan bentuk fisik berupa tulisan-tulisannya yang tidak beraturan dan berbentuk zig-zag, dan banyak pengulangan kata, frase maupun kelompok kata, sehingga penyair mempunyai maksud dan makna tertentu.
Dari bentuk dan ciri-ciri di atas, puisi “Hujan” termasuk puisi kontemporer, karena puisi tersebut inkonvensional dan menyimpang dari pola karya sastra pada umumnya, baik bentuk tulisan dan pengulangan kata serta pemaknaannya yang tersembunyi.

DAFTAR PUSTAKA


• Calzoum Bachri Soetarji ( Tiga Kumpulan Sajak) Sinar Harapan 1973
• Faizah Nur, ( Bahasa dan Sastra Indonesia ), Jombang, Kinara Offset. 2001
• Gita Media Press ( Kamus Bahsa Indonesia ) 2002
• J Waluyo Herman . ( Teori dan Apresiasi Puisi ), Jakarta, Penerbit Erlangga. 198
BIOGRAFI

Sutardji Calzoum Bachri (lahir 1941 di Riau) adalah pujangga Indonesia terkemuka. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.
Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra. Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Lowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.
Sejumlah sajaknya diterjemahkan Harry aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda : Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik will nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.
O Amuk Kapak merupakan penerbit yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.