Loading...

Jumat, 08 Oktober 2010

sastra lisan

BAB I
PENADAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang memiliki serangkaian sistem tradisi yang terdiri atas berbagai upacara untuk menandai setiap fase dalam kehidupan seorang individu. Kelahiran, masa remaja, pernikahan, kematian, pindah rumah, kelulusan, kenaikan pangkat, berawal dan berakhirnya suatu pekerjaan, senantiasa ditandai dengan suatu upacara khusus. Upacara tersebut biasanya tidak lepas dari hadirnya doa-doa dan persembahan berupa makanan atau minuman kepada roh leluhur, para orang suci, dan kekuatan gaib yang dipercaya dapat memberikan perlindungan ke pada si empunya hajat.Dari sekian banyak persembahan atau yang dikenal dengan istilah sajen dalam bahasa Jawa yang berupa makanan, adalah tumpeng. Tampaknya pun, tumpeng berbahan dasar beras yang kemudian setelah diolah menjadi nasi lalu dibentuk kerucut menyerupai bentuk gunung dan dilengkapi dengan sayur dan lauk-pauk ini, kemudian menjadi memasyarakat. Kini, bukan saja orang Jawa yang menghadirkan tumpeng sebagai salah satu kelengkapan upacara tradisinya, melainkan juga orang-orang dari etnis non-Jawa.

1.2Rumusan Masalah
1.Apakah pengertian tumpeng?
2.Apa sajakah jenis-jenis dari tumpeng?
3.Apakah makna dari filosofi tumpeng itu sendiri dalam upacara adat?

1.3Tujuan
1.Mengetahui dan memahami tentang pengertian dari tumpeng.
2.Mengetahui dan memahami tentang jenis-jenis dari tumpeng.
3.Mengetahui dan memahami tentang makna filosofi dari tumpeng itu sendiri dalam upacara adat.


BAB II
LANDASAN TEORI

Folklor bukan lisan adalah folklor yang bentuknya bukan lisan, walaupun cara pembuatannya diajarkan secara lisan.Salah satu contoh dari folklor bukan lisan dari sub kelompok Material dan dari genre Makanan Rakyat. Makanan adalah bahan yang dapat kita makan atau mengenyangkan perut. Namun jika kita mau berfikir lebih mendalam lagi, maka jawabnya tidak sesederhana itu. Memang pertanyaan yang bernada naif itu, ternyata tidak naif sama sekali seperti yang kita anggap semula. Pertanyaan itu menjadi naif karena kita pada umumnya adalah sangat etnosentris. Hal ini dapat kita buktikan bahwa tidak semua bahan, yang secara ilmu gizi dapat dimakan, adalah makanan bagi semua suku bangsa, bangsa atau pemeluk agama yang berlainan.
Konsep Makanan
Makanan adalah yang tumbuh di sawah, ladang dan kebun. Ia dapat juga berasal dari laut, atau dipelihara di halaman, padang rumput atau di daerah peternakan;yang dapat dibeli di pasar, di warung, dan di rumah makan. Namun dari sudut ilmu antropologi atau folklor makanan merupakan fenomena kebudayaan, oleh karena itu makan bukanlah sekedar produksi organisma dengan kualitas-kualitas biokimia, yang dapat dikonsumsi oleh organisasi hidup, termasuk juga untuk mempertahankan hidup mereka; melainkan bagi anggota setiap kolektif, makanan selalu ditentukan oleh kebudayaannya masing-masing. Agar suatu makanan dapat dikonsumsikan, perlu diperoleh dahulu cap persetujuan dan pengesahan dari kebudayaannya. Tidak semua kolektif, biarpun dalam keadaan kelaparan yang sangat akan memperguanakan segala bahan bergizi sebagai makanan mereka.Hal ini disebabkan karena ada hambatan kebudayaan terutama berbentuk larangan agama, “takhayul” mengenai kesehatan, dan kejadian-kejadian dalam sejarah dan lain-lain, yang mengeluarkan bahan-bahan bergizi tertentu dari daftar makanan suatu kolektif.
Salah satu contoh makanan yang berhubungan dengan unsur kebudayaan adalah nasi tumpeng. Tumpeng merupakan sajian khas Indonesia. Tumpeng biasanya tampil sebagai syarat yang harus diadakan saat menyelengarakan suatu upacara adat dalam masyarakat Sunda, Jawa, Madura dan Bali pada umumnya. Yaitu upacara adat yang umumnya berkaitan dengan daur kehidupan seseorang seperti kehamilan, kelahiran, perkawinan dan kematian. Kadang juga berkaitan dengan syukuran atas kemenangan atau keselamatan yang didapat. Bentuk dan peruntukan tumpeng untuk upacara adat memang ada bermacam-macam. Pembuatan dan penyajiannya mengikuti aturan-aturan yang sudah ditetapkan sesuai acara yang akan diselenggarakan. Jika dikaitkan dengan upacara adat, ada bermacam-macam jenis tumpeng. Ada tumpeng untuk tolak bala, perkawinan, selamatan tujuh bulanan, kematian dan sebagainya. Tumpeng tolak bala disajikan pada acara selamatan kelahiran, ulang tahun, khitanan dan syukuran. Tumpeng untuk upacara adat budaya Sunda agak berbeda dengan yang berlaku di Jawa. Di Jawa Barat, dibagian dalam tumpeng diisi lauk pauk seperti ayam. Sedang di Jawa ada "Tumpeng Robyong" untuk acara perkawinan dan lain-lain.


BAB III
PEMBAHASAN

Pengertian Tumpeng
Tumpeng adalah tumpukan nasi yang berbentuk kerucut, menjulang ke atas. Bentuk ini menyimpan harapan agar kehidupan kita pun semakin “naik” dan “tinggi”. Karena itulah bentuk kerucut tetap harus dipertahankan dan tidak diubah dalam bentuk lain sekalipun mungkin menjadi indah dipandang dalam bentuk baru.
Awalnya tumpeng selalu hadir dalam warna putih. Tetapi untuk keindahan, orang mulai memberi warna kuning pada tumpeng. Seiring dengan itu, tumpeng kuning pun mendapat tempat dalam upacara-upacara khusus. Padahal dulunya kalaupun nasi kuning harus hadir dalam sebuah upacara, tidak pernah dibuat tumpeng.Nasi berbentuk kerucut ini kemudian ditata dalam wadah beralas daun yang dihias cantik. Di sekeliling nasi ditaruh aneka lauk yang jenisnya sebetulnya sudah tertentu. Tetapi sekarang tidak semua lauk-pauk lengkap hadir. Kalaupun lengkap, hanya bahan utamanya saja yang ada, masakannya sudah disesuaikan dengan selera si penyelenggara upacara. Misalnya, ikan lele sudah diganti jenis ikan lain, seperti bandeng isi. Meskipun begitu, ada baiknya setiap kali menyediakan tumpeng, Anda tidak menghilangkan bahan-bahan bermakna. Bukankah tumpeng hadir bukan sekadar suguhan masakan, tetapi seremonial sifatnya.Berikut adalah masakan/bahan masakan yang sebaiknya ada dalam tumpeng karena begitu bermakna:
1. AYAM
Ayam biasanya merupakan korban yang mewakili hewan darat. Biasanya dalam tumpeng kuning, ayam dibuat ayam goreng kuning. Sementara dalam tumpeng putih, dibuat ayam ingkung (ayam utuh yang dibakar). Kini ayam bisa dibuat lebih bervariasi. Misalnya, ayam gorengnya bisa diganti ayam isi, rolade ayam, atau rendang ayam. Bisa juga hanya hati ayamnya yang diambil lantas dibuat sambal goreng hati. Kadang hewan darat tidak diambil dari ayam, tetapi sapi.Misalnya dibuat sambal goreng kreni.
2. IKAN
Ikan sudah bisa dipastikan mewakili hewan air. Sebetulnya yang harus menyertai tumpeng adalah ikan lele. Karena hewan ini melambangkan kerendahan hati sesuai dengan kebiasaan hidup ikan lele yang selalu berenang di dasar sungai. Kebiasaan hidup lele juga diharapkan akan diterapkan dalam kehidupan karier kita, yakni agar tidak sungkan meniti karier dari bawah. Ikan lele sering kali diganti orang dengan jenis ikan lainnya. Misalnya, bandeng. Melalui hidangan ini orang berharap rezekinya selalu bertambah seperti duri ikan bandeng yang jumlahnya tak terbatas itu.
3. IKAN TERI/PETEK
Kadang hewan air hanya diwakili oleh ikan teri dalam bentuk rempeyek atau ikan petek yang digoreng dalam balutan tepung. Keduanya melambangkan kerukunan. Ingatlah jenis ikan ini yang hidupnya selalu bergerombol.
4. TELUR
Telur biasanya dibuat dadar atau pindang. Sebetulnya telur dalam tumpeng harus hadir utuh bersama kulitnya karena kulit telur, putih telur, dan kuning telur melambangkan tindakan yang harus kita lakukan dalam kehidupan yakni menyusun rencana dengan baik, bekerja sesuai rencana, dan mengevaluasi hasilnya demi kesempurnaan. Namun demi kepraktisan, kalaupun telur hadir utuh (bukan didadar), selalu sudah terkupas dan dipotong dua.
5. URAP
Urap sayuran mewakili tumbuhan darat. Jenis sayurnya tidak dipilih begitu saja karena tiap sayur juga mengandung perlambang tertentu. Sayuran yang harus ada adalah:
• Kangkung
Sayur ini bisa tumbuh di air dan di darat. Begitu juga yang diharapkan pada manusia yang harus sanggup hidup di mana saja dan dalam kondisi apa pun.
• Bayam
Sayur ini melambangkan kehidupan yang ayem tenterem (aman dan damai).
• Taoge
Di dalam sayur kecil ini terkandung makna kreativitas tinggi. Hanya seseorang yang kreativitasnya tinggi, bisa berhasil dalam hidupnya.
• Kacang Panjang
Kacang panjang harus hadir utuh, tanpa dipotong. Maksudnya agar manusia pun selalu berpikir panjang sebelum bertindak, selain sebagai perlambang umur panjang. Kacang panjang utuh umumnya tidak dibuat hidangan, tetapi hadir sebagai hiasan yang mengeliling tumpeng atau ditempelkan pada badan kerucut.
• Kluwih/timbul
Biasanya dibuat semacam lodeh. Harapannya agar rezeki kita selalu berlebih. Juga kepandaian, dan perilaku kita. Lambang lainnya adalah kita bisa timbul di mana-mana, lebih tinggi dari orang lainnya. Kluwih sudah mulai ditinggalkan orang. Konon karena maknanya sudah termaktub dalam sayuran dan hidangan lain.
6. Lauk Lain
Karena tumpeng yang bermakna tadi biasanya juga untuk disuguhkan, maka lauk-lauk di atas masih dilengkapi dengan hidangan lain. Misalnya, perkedel, tahu dan tempe bacem, dan keringan (seperti kering tempe, kering kentang, atau kering dendeng). Urapan pun dibuat lebih komplet. Tentu saja penambahan ini sah-sah saja. Yang penting perlambangan ini sesuai dengan yang di atas.

Jenis-jenis Tumpeng
Tumpeng, khususnya dalam tradisi Jawa, mengenal jenis-jenis yang umumnya identik dengan upacara atau selamatan yang “memerlukan” kehadirannya, seperti tumpeng pungkur yang disajikan dalam selamatan seribu hari wafatnya seseorang. Selain itu dikenal pula jenis tumpeng berdasarkan bentuknya, misalnya tumpeng gundhul yang pucuknya tidak meruncing sebagaimana tumpeng pada umumnya. Berikut ini disebutkan jenis-jenis tumpeng, yaitu:
1. Ithuk-ithuk, berupa sebuah tumpeng kecil yang pada ujungnya ditusukkan sebuah telur rebus, diatasnya sebuah bawang merah dan sebuah lombok merah. Tumpeng itu diletakkan di atas sebuah cawan/piring kecil yang dialasi daun pisang. Ithuk-ithuk merupakan sesaji pada waktu kelahiran seorang bayi. Disamping ithuk-ithuk diletakkan senther atau lampu minyak tanah atau teplok. Bokor tanah liat berisi bunga setaman: mawar, melati dan kenanga. Semua itu ditempatkan di kolong tempat tidur bayi. Sesaji ini merupakan tolak bala agar bayi tidak mendapat gangguan dari makluk halus. Biasanya ithuk-ithuk disajikan setiap hari kelahiran (weton) bayi, misalnya lahir Kamis Legi, maka setiap 35 hari (selapan dina) sekali jatuh pada hari Kamis Legi.
2. Tumpeng urap pada selapanan, dibuat waktu bayi berumur 35 hari dan setiap 35 hari selanjutnya pada hari weton bayi, sampai enam lapan (6x35 hari). Kebiasaan membuat tumpeng atau nasi putih dengan lauk urap dan telur rebus, gerih pethek, setiap hari weton sampai kini masih ada yang melestarikan, untuk dimakan bersama-sama keluarga.
3. Among-among, tumpeng dengan lauk pauk urap/gudhangan dengan telur rebus merupakan selamatan sepasaran. Waktu bayi berumur lima hari, dibagikan kepada anak-anak kecil tetangga dengan dipincuk (dibungkus dengan menggunakan daun pisang). Selamatan ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi berkah keselamatan atas kelahiran bayi, lewat para pamong/bapak ibu spiritual bayi, kaki among-nini among dibuat selamatan among-among. Bila keluarga tidak mengadakan kenduri dengan mengundang para tetangga, cukup mengirim nasi urap dengan telur rebus dan gerih pethek, atau jenang sengkala (bubur merah putih) sebagai tanda.
4. Tumpeng robyong adalah tumpeng yang digunakan sebagai sesaji upacara mandi (siraman) anak yang akan dikhitan atau tetesan (khitan untuk anak perempuan). Siraman untuk calon pengantin, serta siraman untuk calon ibu pada upacara tingkeban atau mitoni (upacara mandi sesuci pada kehamilan pertama calon ibu). Maksud dari sesaji dan upacara ini adalah untuk memohon keselamatan bagi anak yang akan disunat atau yang akan dikhitan, sebagai bentuk dari inisiasi, peralihan dari masa kanak-kanak memasuki masa remaja dan dewasa. Bagi calon mempelai siraman yang diujudkan dengan membersihkan badan jasmani dengan digosok ramuan tujuh warna dan siraman air bunga talon mawar, melati dan kenanga, merupakan lambang penyucian jasmani maupun rohani sebagai landasan yang suci bersih di dalam memasuki kehidupan baru, sebagai bentuk inisiasi dari pria dan wanita dewasa lajang menjadi suami isteri yang hendak membentuk keluarga baru di tengah masyarakat luas. Bagi calon ibu, wanita yang sedang mengandung untuk pertama kalinya merupakan masa peralihan dari wanita dewasa menjadi seorang ibu yang akan memikul tanggung jawab besar dengan melahirkan serta membesarkan dan mendidik anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Tumpeng robyong berupa tumpeng yang diletakkan di dalam bakul kecil atau centhingi , dihias dengan telur rebus, bawang merah dan cabai merah yang ditusukkan di puncak tumpeng, pada bagian empat kiblat ditusukkan masing-masing hiasan gorengan tahu, tempe, iwak kebo siji (daging kerbau dan jeroan), dan diantaranya ditusukkan sayur-sayuran mentah kacang panjang, terong, sawi, dan lain-lainnya. Tumpeng robyong diletakkan di tempat upacara siraman beserta gedhang ayu, suruh ayu, kembang boreh, jenang sengkala, jenang baro-baro.
5. Tumpeng yang dibuat pada waktu bayi berumur tujuh lapan (7x35 hari), biasanya disertai upacara tedhak siti atau turun tanah. Pada upacara tedhak siti ini dibuat pula juadah tujuh warna, yaitu juadah merah, biru, putih, hijau, kuning, hitam, ungu, yang diinjak oleh bayi dengan dituntun oleh orang tuanya, kemudian diajak menaiki tujuh anak tangga yang dibuat dari tebu wulung dan kemudian turun, melangkahi tujuh gunungan kecil ( tujuh tumpeng kecil yang diletakkan di atas lepek/piring kecil beralaskan daun pisang. Upacara ini melambangkan pertama kali anak manusia berkenalan dengan bumi yang menjadi tempatnya berpijak selama hidupnya kelak, dan dimaksudkan agar senantiasa tidak lupa kepada asal mulanya, dari tanah, berpijak di bumi, dan akan kembali ke tanah (sangkan paraning dumadi). Tujuh warna juadah melambangkan beraneka macam warna peristiwa/pengalaman yang harus dijalani dalam hidup ini, senang dan susah. Semua itu sandhangan orang hidup. Kemudian bayi dituntun menaiki tangga dari tebu wulung, sebagai lambang menjalankan kehidupan sebagai manusia umumnya: dari kecil hingga dewasa, menaiki tangga meniti karier dalam kehidupannya, dan melangkahi tujuh gunung kecil sebagai lambang menguasai segala aral yang melintang dalam mencapai cita-citanya.
6. Tumpeng gundhul ialah tumpeng yang bentuknya bulat (disebut juga gunungan wadon untuk tumpeng besar yang dikeluarkan pada upacara Garebeg Besar dan Garebeg Maulud oleh keraton), dan tumpeng kuwat yang berbentuk runcing seperti kerucut (disebut juga gunungan lanang untuk tumpeng raksasa pada Garebeg Besar dan Garebeg Maulud). Kedua tumpeng ini masing-masing diletakkan di atas tampah (nyiru) dialasi daun pisang, dilengkapi lauk pauk urap, ayam goreng/panggang, telur rebus atau pindhang, tahu dan tempe bacem, gereh pethek, atau ikan asin, bothok, rempeyek, sayur lodeh, keluwih,. Kedua tumpeng ini digunakan pada sesaji tingkeban disertai ubarampe sesaji lainnya seperti jajan pasar, gedhang ayu, suruh ayu, kembang boreh, jenang sengkala, jenang palang, jenang baro-baro, ayam hidup hitam (cemani) atau ayam putih biasa. Tumpeng gundhul melambangkan wanita dan tumpeng kuwat melambangkan lelaki. Dalam budaya Hindu, kewanitaan dilambangkan dengan yoni. Sedangkan untuk kejantanan seorang lelaki dilambangkan dengan lingga. Wanita dan pria merupakan lambang keabadian, kelanggengan, karena dengan adanya dzat pria dan wanita sebagai sumber reproduksi dan regenerasi inilah dunia menjadi berkembang.
7. Tumpeng langkahan, yaitu tumpeng untuk calon pengantin wanita yang mendahului menikah kakaknya wanita atau pria. Tumpeng ini disebut tumpeng sindhula pengasih, ada beberapa senis seperti tumpeng kesawa, dan lain-lainnya. Calon pengantin putri dibimbing kakaknya yang dilangkahi berjalan mengelilingi tumpeng-tumpeng tersebut dengan memakai tongkat/teken sidadadi, menaiki puncak ardi kemalaretna, menuruni jurang drebalaturun, sampai kepada santi hastuti sstra binedhati winedhar. Maksud upacara ini adalah memohon keselamatan dan perlindungan bagi yang mendahului dan yang didahului menikah dengan amiradati kodrat (mengupayakan agar nasib yang kurang sempurna dan nasib yang kurang baik menjadi sempurna dan menjadi baik kembali) (Yosodipura,1992).
8. Tumpeng pungkur ialah tumpeng yang dibuat pada waktu seseorang meninggal dunia. wujudnya tumpeng kerucut yang dibelah dua kemudian diletakkan bertolak belakang (ungkur-ungkuran). Tumpeng ini melambangkan seseorang telah mungkur/pergi meninggalkan dunia yang fana dan kembali ke alam yang baka. Sehingga tumpeng yang dibelah dan diletakkan bertolak belakang menandakan telah selesainya tugas dia di dunia ini.
9. Tumpeng yang dibuat pada upacara/selamatan yang diadakannya pada waktu hendak menanam padi, waktu bersih desa (merti desa), atau syukuran, setelah panen raya. Selamatan diadakan oleh seluruh warga desa untuk memohon berkah Tuhan agar tanaman padi dapat tumbuh dengan baik, subur, bebas dari hama penyakit dan gangguan tikus, bencana banjir, dan kekeringan, agar berhasil dengan panen yang menggembirakan. Demikian pula bila habis panen, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Pemurah seluruh warga desa mengadakan syukuran dengan tumpeng. Biasanya disertai pergelaran wayang kulit dengan lakon Sri Bayong atau Sri Mantuk sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dewinya para petani di pulau jaw, dewi padi dan dewi kesuburan.
10. Tumpeng yang dibuat untuk upacara religius dan yang berkaitan dengan keagamaan. Dibuat oleh keraton Sala dan Yogyakarta, pada Garebeg Besar, yaitu pada akhir tahun Jawa, menyongsong tahun baru untuk keselamatan dan kesejahteraan negeri dan rakyat (wilujengan negara, Rajaweda), pada upacara Garebeg Maulud, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Garebeg Sawal yang mengakhiri bulan puasa. Keraton membuat tumpeng raksasa, biasanya disebut gunungan (bentuknya menyerupai gunung). Gunungan itu sendiri mempunyai beberapa jenis, yaitu diantaranya: gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak, gunungan dharat, gunungan pawuhan, gunungan kutug/brama. Pembuatan gunungan tersebut dimulai dengan upacara tumplak wajik oleh abdi dalem wanita yang dilaksanakan pada sore hari di Bangsal Kemagangan Kidul, disaksikan oleh pengageng keraton, yakni salah satu saudara Sultan dan diiringi tabuhan lesung alu yang disebut gejongan, dengan nyanyian kidung penolak bala, yang pertama kali dibuat adalah gunungan wadon yang merupakan lambang dari sebuah kesuburan.

Makna Filosofi Tumpeng dalam Upacara Adat
Masyarakat Jawa mempunyai keyakinan yang sangat kuat terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai pencipta alam seisinya. Masyarakat Jawa meyakini bahwa semua berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Kehidupan manusia dimulai sejak benih ada dalam kandungan calon ibu, kemudian kelahiran sang bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa dan masa berumah tangga, masa tua, serta yang terakhir masa kembali ke Sang Khalik. Menurut pemikiran masyarakat Jawa, tumpeng dengan segala lauk pauknya merupakan lambang dari dunia atau alam semesta beserta isinya. Butir-butir nasi yang tumpat padat menjulang ke atas adalah gambaran manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Beras yang telah dimasak mempunyai makna sebagai manusia yang telah ditempa oleh pengalaman hidup di dunia ini, manusia yang pada waktunya nanti akan kembali kehadapan-Nya ini digambarkan dengan bentuk tumpeng yang menjulang kecil diatasnya. Adapun sebagian kecil masyarakat Jawa yang juga meyakini bahwa semakin mengerucutnya tumpeng adalah mempunyai makna bahwa hidup seseorang setelah mengalami berbagai macam pengalaman hidup, diharapkan menjadi bertambah bijaksana karena semakin “tinggi” ilmu yang didapat orang tersebut. Oleh karena itu, adakalanya melihat bahwa potongan tumpeng yang paling atas biasanya diberikan kepada yang telah memiliki banyak pengalaman hidup atau yang memiliki kewibawaan yang tinggi. Mengenai makna kerucut dalam tumpeng, banyak yang mempunyai interpretasi sendiri mengenai hal tersebut. Bahkan makna menjulang tinggi ke atas bagi sebagian masyarakat Jawa memaknai sebagai cita-cita untuk bisa mendapatkan tempat yang semakin “tinggi” dan mempunyai kehidupan yang semakin bagus dan baik.
Segala lauk pauk yang beraneka ragam yang menyertai tumpeng, bahan mentahnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Urab yang terdiri berbagai jenis dedaunan/sayuran seperti bayam, kangkung, kacang panjang, labu siyam, atau pepaya muda, taoge, kol, daun pepaya, atau daun singkong, dan lain-lainnya dipilih sebanyak lima, tujuh, sembilan macam yang kesemuanya merupakan bilangan ganjil. Jadi haruslah ganjil jenis sayuran atau dedaunan tadi. Yang menurut keyakinan orang Jawa, ganjil adalah sesuatu yang dapat memberi berkah.
Mengenai warna nasi tumpeng yang dahulunya berwarna putih dan sekarang berwarna kuning, sebenarnya mengandung peralihan makna di dalam tumpeng tersebut. Warna putih pada tumpeng dahulunya bagi masyarakat Jawa mempunyai makna bahwa untuk bisa kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia haruslah mempunyai jiwa yang bersih suci, sesuci nasi tumpeng berwarna putih. Namun belakangan, warna putih oleh masyarakat Jawa di samping mempunyai alasan untuk lebih menekankan segi keindahan (warna nasi tumpeng yang tadinya berwarna putih sekarang berubah menjadi warna kuning), warna kuning juga memiliki sebuah pengharapan atau makna tersendiri. Bagi masyarakat Jawa, warna kuning dan hijau adalah mempunyai lambang akan kemakmuran, kesuburan, serta kekayaan. Sehingga perubahan warna nasi tumpeng menjadi warna kuning mempunyai maksud bahwa untuk mendapatkan posisi menjulang ke atas, manusia haruslah berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan sebuah kemakmuran hidup.









BAB IV
KESIMPULAN

1. Tumpeng merupakan nasi yang dibentuk kerucut menyerupai bentuk gunung. Tumpeng biasanya dilengkapi dengan sayuran seperti urap dan lalapan, serta lauk pauk seperti irisan telur dadar, abon atau serundeng, perkedel, ayam, tahu dan tempe bacem, kering tempe, sambal goreng ati, dan sebagainya. Sayur-mayur dan lauk-pauk teman menyantap tumpeng biasanya diletakkan mengelilingi bagian bawah tumpeng. Pada pucuk tumpeng, kadang-kadang juga dilengkapi dengan hiasan dari buah tomat atau cabai, atau juga bawang merah, yang ditancapkan dengan mempergunakan lidi.
2. Tumpeng memiliki beberapa jenis berdasarkan upacara adat yang diselenggarakan misalnya: Ithuk-ithuk, Tumpeng urap pada selapanan, Among-among, Tumpeng robyong, Tumpeng yang dibuat pada waktu bayi berumur tujuh lapan (7x35 hari), Tumpeng gundhul, Tumpeng langkahan, Tumpeng pungkur, . Tumpeng yang dibuat pada upacara/selamatan yang diadakannya pada waktu hendak menanam padi, waktu bersih desa (merti desa), atau syukuran, setelah panen raya, Tumpeng yang dibuat untuk upacara religius dan yang berkaitan dengan keagamaan dll.
3. Tumpeng merupakan sajian yang penuh makna, tidak ada sajian lain yang dapat menggantikannya. Menurut para ahli yang mengerti makna tumpeng, begitu banyak makna yang terkandung dibalik tumpeng. Tumpeng merupakan simbol dari ekosistem kehidupan. Kerucut nasi yang menjulang tinggi merupakan perlambang dari keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta Alam dan seluruh isinya. Sedang aneka lauk pauk dan sayuran dibagian bawahnya merupakan simbol dari isi alam ini. Warna putih pada nasi tumpeng melambangkan kesucian, sedang warna kuning pada tumpeng kuning mengandung arti kekayaan dan moral yang luhur. Kelengkapan sajian tumpeng seperti lauk pauk dan sayuran juga mempunyai makna sendiri.



DAFTAR PUSTAKA

Danandjaja, James. 1991. Folklor Indonesia Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti

apa itu filologi?
July 12, 2007
Filologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani “philos” yang berarti “cinta” dan logos ” yang diartikan kata. Pada kata “filologi” kedua kata itu membentuk arti “cinta kata” atau “senang bertutur”. Arti ini kemudian berkembang menjadi “senang belajar” atau “senang kebudayaan”. Pengkajian filologi pun selanjutnya membatasi diri pada penelitian hasil kebudayaan masyarakat lama yang berupa tulisan dalam naskah (lazim disebut teks).
Kegiatan filologi ini berasal dari Eropa pada zaman Humanisme dan Renaissance. Dengan semangat zaman mereka, saat itu muncullah rasa perlu untuk melakukan pengkajian terhadap warisan kebudayaan yang mereka miliki–sastra klasik Yunani dan Romawi. Nah, melalui pengkajian filologi ini, manusia-manusia di zaman itu berharap dapat memahami maksud dan makna naskah-naskah kuno yang bahasanya tidak lagi familiar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Belajar dari pengalaman manusia-manusia lampau, sangat bijaksana kan?
Sejalan dengan penelitian filologi, berkembang pulalah yang namanya kritik teks. Kalau penelitian filologi bertujuan mengetahui makna naskah untuk “membuka” pengetahuan dalam naskah pada khalayak luas yang berkepentingan terhadap ilmu dalam naskah itu, kritik teks bertujuan menemukan naskah yang paling baik, paling bagus, dan paling bersih dari kesalahan. Kegiatan kritik teks ini muncul akibat fakta di lapangan yang menemukan begitu banyak naskah yang sudah rusak, dan begitu banyak juga naskah yang bervarian (maksudnya sama), tapi ternyata isinya memiliki sedikit perbedaan, atau bahkan banyak sama sekali. Perbedaan-perbedaan ini bisa muncul akibat kegiatan penyalinan yang dilakukan dalam masyarakat saat itu. Untuk naskah-naskah sakral, atau naskah-naskah keagamaan, biasanya penyalinan dilakukan di dalam istana, sangat ketat, dan diawasi oleh pemerintah. Nah, oleh karena itu, naskah-naskah keagamaan biasanya ga memiliki banyak varian. Kalaupun ada yang berbeda dalam satu naskah dengan naskah lain, hampir bisa dipastikan bukan perbedaan yang signifikan–akibat pengawasan itu tadi. Berbeda dengan naskah keagamaan, naskah-naskah yang isinya kesusastraan dan beredar di masyarakat, biasanya memiliki varian yang banyak. Semakin populer naskah itu, semakin sering naskah itu disalin, semakin banyak variannya, semakin banyak juga naskahnya. Nah, kegiatan filologi di Indonesia dimulai oleh sarjana-sarjana Eropa, terutama Belanda. Di antara para peneliti itu kita kenal misalnya nama-nama Gericke dan Cohen Stuart untuk bahasa Jawa, Van der Tuuk untuk bahasa Batak dan Bal, Kern dan Juynboll untuk bahasa Jawa-Kuno, dan Klinkert, Van Ronkel, Van Dewal, dan Van Hoevell untuk bahasa Melayu.
Selain filologi, kodikologi adalah satu bidang ilmu yang biasanya bekerja bareng dengan bidang ilmu ini. Kalau filologi mengkhususkan pada pemahaman isi teks/kandungan teks, kodikologi khusus membahas seluk-beluk dan segala aspek sejarah naskah. Dari bahan naskah, tempat penulisan, perkiraan penulis naskah, jenis dan asal kertas, bentuk dan asal cap kertas, jenis tulisan, gambar/ilustrasi, hiasan/illuminasi, dan lain-lain. Nah, tugas kodikologi selanjutnya adalah mengetahui sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, meneliti tempat2 naskah sebenarnya, menyusun katalog, nyusun daftar katalog naskah, menyusuri perdagangan naskah, sampai pada penggunaan naskah-naskah itu (Dain dalam Sri Wulan Rujiati Mulyadi, 1994: 2–3).
________________________________________
Possibly related posts: (automatically generated)
• apa kodrat perempuan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar