Loading...

Jumat, 08 Oktober 2010

sastra kontemporer

BAB I
PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANG
Sutardji Calzoum Bahri merupakan penyair besar Indonesia dan ia mengawali kepenyairannya sekitar tahun 1970an karya Sutardji lebih menempatkan bentuk fisik dan tulisan dalam kedudukan yang terpenting dan pada makna. Dalam puisi karya-karyanya memang mempunyai makna yang tersembunyi dan sulit dipahami, walaupun seperti itu puisi karya-karya Sutardji sangat bermakna. Salah karya puisinya yang berjudul “Hujan”. Walaupun bentuk tulisan yang tidak teratur karena bentuknya yang zig-zag dan banyak pengulangan kata serta maknanya sulit dipahami, namun puisi itu sangat mempunyai makna berarti bagi penyair atau semua makhluk hidup karena hujan banyak membawa manfaat untuk kelangsungan hidup manusia, tumbuhan, maupun hewan. Jika tidak ada hujan semua makhluk di dunia akan mengalami kekeringan akibatnya akan mati.
1.2 Rumusan Masalah
Gambaran secara jelas mengenai masalah yang menjadi bahan penelitian yang akan di teliti
– Apakah yang dimaksud dengan puisi kontemporer ?
– Bagaimana sebuah puisi disebut dengan puisi kontemporer ?
1.3 Tujuan Penelitian
Agar para pembaca makalah ini dapat memahami serta mengerti, tentang sebuah puisi yang disebut puisi kontemporer, walaupun tulisannya tidak beraturan dan maknanya yang sulit dan tersembunyi, tapi sebenarnya puisi tersebut memberikan makna yang berarti.

BAB II
ANALISIS
Puisi kontemporer ialah salah satu jenis puisi yang inkonrasional yang menyimpang dari pola karya sastra pada umumnya, dan puisi ini diterbitkan sekitar pada permulaan tahun tujuh puluhan hingga sekarang dan bentuknya menyimpang dari puisi-puisi sebelumnya dan cara memahami meknanya pun berbeda. { Herman J Waluyo,
Puisi yang disebut kontemporer dapat dilihat Tipografinya yang tidak beraturan dan banyak pengulangan kata, frase. Dalam hal ini puisi kontemporer yang berjudul hujan akan di analisis dari bentuk-bentuk berikut diantaranya :
2.1 Tipografi
Tipografi merupakan bentuk tulisan yang membedakan puisi dengan novel, roman maupun prosa-prosa yang lain. Puisi kontemporer bentuk tulisannya tidak beraturan. Dan puisi yang berjudul “Hujan” bentuk tulisannya zig-zag.
Dalam bentuk tulisan seperti ini penulis mempunyai maksud dan makna tertentu, walaupun makna puisi tersebut tidak di ungkapkan, namun puisi ini mengandung makna yang sangat berarti, bahwa makhluk hidup di muka bumi ini membutuhkan air untuk kelangsungan hidup.
2.2 Diksi
Diksi merupakan pilihan kata. Kita harus cermat dalam memolih kata-kata yang dirtulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama. Kedudukan kata dalam keseluruhan kata itu. Dalam memilih kata, juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata. (Herman J Waluyo: 87).
Dalam puisi “ Hujan” pilihan katanya adanya pengulangan kata sama.


2.3 Majas
Cara menggambarkan sesuatu dengan jalan membandingkan atau menyamakan dengan sesuatu yang lain (Kamus Bahasa Indonesia, Gita Media: Press: 225). Majas digunakan oleh penyair untuk menyampaikan perasaan, pengalaman batin serta mengindahkan kata-kata sehingga enak di dengar.
Pada bait kesatu hingga ke tiga puisi “Hujan” tersebut majas personifikasi, yaitu :

hujan
bercakapcakap
sama daunan
sama pohon
sama butu-batu
sama badan
sama jam
sama rindu rindu,
dikerongkong sungai
di ketiak laut
di peluk pantai
dalam tungkai
dalam badai rujukku
Karena menganggap benda mati seperti halnya manusia yang dapat berbicara. Dalam bait ke empat menggunakan majas hiperbola karena mengungkapkan peristiwa yang berlebih-lebihan yaitu, : kulanyarkan kubur kubur.
Rima
Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi. Dengan pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika di baca dan dalam pengulangannya penyair juga mempertimbangkan lambang bunyi, sehingga pemilihan bunyi dapat mendukung perasaan dan suasana puisi.
Menurut Marjorie Boulton menyebut rima sebagai phonetik form. Dan jika bentuk fonetik itu berpadu dengan ritma makna akan mampu mempertegas makna puisi. ( Herman J. Waluyo: 92)
Dalam pusi “Hujan” banyak pengulangan bunyi.yaitu :
1. Pengulangan bunyi pada bait pertama yaitu / a/ dan / n/
2. pengulangan bunyi pada bait kedua yaitu / a/ dan /m/
3. pengulangan bunyi pada bait ketiga yaitu /a/
4. pengulangan bunyi pada bait keempat yaitu /a/ /u/ dan /k/.
Ritme
Merupakan pengulangan pada bunyi, kata, frase, dan kalimat atau menurut Slamet Muljana merupakan ritme pertentangan bunyi tinggi/ rendah, panjang/ pendek yang mengalun terus sehingga membentuk keindahan
Dalam membentuk ritme, pada aliran/ periode lama berbeda dengan periode angkatan baru. Kalau pada angkatan lama cara pemenggalan puisi menjadi dua frase, sedangkan pada angkatan baru tidak hanya pemenggalan kata-kata tertentu untuk mengikat beberapa baris puisi.(Herman J Waluyo: 90)
2.6 Asonansi
Asonansai yaitu perulangan atau persamaan bunyi vokal pada suatu kata atau baris ( kamus, B. Indo, Gita Media Press 15). Dalam puisi “Hujan” dominasi vokal “a” dan “u”
2.7Aliterasi
Aliterasi yaitu perulangan atau persamaan bunyi konsonan pada suatu kata atau baris. Dalam puisi “Hujan” dominasi konsonan “k” dan “m” (kamus, B. Indo, Gita Media Press: 13)
2.8 Makna Puisi
Dalam puisi “Hujan” ini bentuk tulisannya yang zig-zag dan pemahaman makna yang sulit untuk diungkapkan serta adanya maksud yang tersembunyi dan banyak pengulangan kata serta kata yang sulit untuk dimaknai sebagai tanda bahwa semua makhluk hidup di dunia ini membutuhkan air yang berasal dari hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun jika kita tidak dapat memanfaatkan lingkungan di sekitar maka turunnya hujan akan membawa masalah bagi kita yaitu banjir dan juga terjadi kekeringan.
2.9 Hubungan Puisi dengan biografi pengarang.
Soetarji merupakan bapak penyair Indonesia dan pembaharu perpuisian Indonesia. Dia salah satu pelopor puisi kontemporer. Soetarji tetaplah Soetarji edan namun kata-katanya, dan tulisannya yang tidak beraturan tapi puisinya sangat bermakna dalam. Puisi yang berjudul “ Hujan” walaupun ditulis secara zig-zag dan bahasanya tidak sama dengan karya sastra pada umumnya, tapi puisi tersebut memberitahukan makna yang berarti bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini, jika tidak ada air dan hujan mereka akan mengalami kekeringan yang akhirnya akan mati.


BAB III
SIMPULAN

Puisi yang berjudul “Hujan” ini penyair mengutamakan bentuk fisik berupa tulisan-tulisannya yang tidak beraturan dan berbentuk zig-zag, dan banyak pengulangan kata, frase maupun kelompok kata, sehingga penyair mempunyai maksud dan makna tertentu.
Dari bentuk dan ciri-ciri di atas, puisi “Hujan” termasuk puisi kontemporer, karena puisi tersebut inkonvensional dan menyimpang dari pola karya sastra pada umumnya, baik bentuk tulisan dan pengulangan kata serta pemaknaannya yang tersembunyi.

DAFTAR PUSTAKA


• Calzoum Bachri Soetarji ( Tiga Kumpulan Sajak) Sinar Harapan 1973
• Faizah Nur, ( Bahasa dan Sastra Indonesia ), Jombang, Kinara Offset. 2001
• Gita Media Press ( Kamus Bahsa Indonesia ) 2002
• J Waluyo Herman . ( Teori dan Apresiasi Puisi ), Jakarta, Penerbit Erlangga. 198
BIOGRAFI

Sutardji Calzoum Bachri (lahir 1941 di Riau) adalah pujangga Indonesia terkemuka. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.
Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra. Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Lowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.
Sejumlah sajaknya diterjemahkan Harry aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda : Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik will nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.
O Amuk Kapak merupakan penerbit yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar