Loading...

Jumat, 15 Oktober 2010

Sastra bandingan

Perbandingan Novel ”Jangan Pergi, Lara” dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” Karya Mira


A. Sinopsis Cerita dalam novel “Jangan Pergi, Lara” karya Mira W:


Cerita yang terdapat dalam novel adalah kisah dua saudara kembar (Lara & Lina). Keduanya memiliki keinginan yang hampir sama, baik dari segi pakaian, makanan, bahkan pemikiran namun keadaan fisik mereka yang berbeda. Sejak kecil Lara adalah anak yang sehat, sedangkan Lina tergolong anak yang kurang sehat , ia sering sakit-sakitan. Lina memiliki penyakit jantung. Hal itu yang menyebabkan perlakuan ibu mereka (ibu Rahardjo) sangat berbeda, perhatian dan kasih sayang ibu terhadap Lina lebih besar daripada terhadap Lara. Kedekatan Lara hanya pada ayahnya. Itupun hanya sebatas perhatian sang ayah yang tak luput dari Lina. Meskipun masalah demi masalah mendera, Lara tidak pernah bercerita kepada siapapun. Ia menumpahkan semua masalah yang sedang ia hadapi dengan menitikkan air mata. Sebesar apapun permasalahan dan beban yang sedang ia pikul, tak pernah ia ceritakan kepada siapapun, bahkan saudara kembarnya sendiri.

Ketika Lara menjalani ujian praktek kedokteran (dokter bedah), ia jatuh hati kepada seorang pemuda (Dr. Andrian), namun perasaan itu pupus ketika ibunya memutuskan agar dokter tersebut menikahi adiknya, Lina. Hal itulah yang membuat Lara kecewa karena ibu lebih memperhatikan Lina daripada dirinya. Kekecewaan itu membuat dirinya bangkit walaupun sakit. Kehidupan Lina bahagia bersama suaminya.

Namun ketika Lara menjalani ujian terakhir kedokteran, ia merasa ada keanehan pada lutut kirinya, ia tidak bisa berjalan normal, teman-teman sejawatnya selalu menanyakan apa ia pernah terjatuh atau keseleo. Rasa sakit itu tak pernah ia hiraukan hingga ia lulus dan mendapat ijazah.

Awal ia membuka praktek, rasa sakit yang diderita semakin parah. Ia memeriksakan keluhannya. Setelah didiagnosa, ia menderita osteosarkoma dan jalan satu-satunya adalah harus diamputasi. Kehidupan itulah yang harus ia alami, walaupun pada akhirnya ia menemukan jodoh yang mau menerima dirinya apa adanya.


Bagan Morfologi Cerita dalam Novel ”Jangan Pergi, Lara” Karya Mira W


Morfologi dokter bedah tugas  perjuangan  rela berkorban pasien  ulet
Cerita
hak  perhatian  kasih ibu  harmonis



Anak kembar karakter kehidupan  persamaan  keterkaitan

pernikahan  kecewa  osteosarkoma
 cacat  qona’ah


pendidikan  perbedaan  cerdas  teladan



1. Kutipan Data Global dalam Cerita:

”Sekarang saya ingin bukan hanya kepandaian dan keuletan saja yang menjadi legenda di bagian Bedah, tapi sekaligus keberanian dan ketegaranmu, Lara. Kamu tidak boleh menyerah. Kita akan berjuang untuk mengalahkan penyakitmu !” (JPL, 2006: 159).

2. Jenis-Jenis Motif dalam Cerita:

1. Motif Idealisme

a. Kutipan Data: ”Tentu saja Lara tidak mau ketinggalan. Dia harus mengikuti operasi itu, betepun lelahnya. Kebencian yang berkobar terhadap pasiennya sudah hilang seketika. Bagaimanapun, gara-gara pasien ini, dia mendapat nilai bagus dari Dokter Simon!” (JPL, 2006: 53)
b. Morfem Bebas: Usaha Lara untuk lebih unggul dalam tugas ilmu kedokteran.
c. Morfem Terikat: Rasa lelah dan benci berubah menjadi rasa ingin tahu dan aktif.
2.Motif Pendidikan

a. Kutipan Data: ”Apa yang ingin kamu kerjakan tengah malam begini?” Tentu saja Dokter Simon hanya mengetes kemampuan koasistennya. Tapi bagi yang dites, pertanyaan yang diucapkan dengan bengis itu dapat membuat semaput. (JPL, 2006: 52)
b. Morfem Bebas: Lara adalah koasisten yang cerdik dan tanggap terhadap keadaan pasiennya.
c. Morfem Terikat: Pasien yang kritis karena kecelakaan dan trauma intraabdobmen segera butuh pertolongan berupa tes bilas peritoneum itu diagnosis Lara
3.Motif Perjuangan

a. Kutipan Data: ”Jangan menangis, La,” bisiknya lembut di sela-sela tangis anaknya. ”Ingat janjimu pada Mama? Kamu tetap Lara yang dulu. Lara yang tabah. Lara yang Mama banggakan!” (JPL, 2006: 188).
b. Morfem Bebas: berjuang melawan rasa takut dan sakit
c. Morfem Terikat: rasa haru dan panas menahan titik air mata ketika Lara mengahadapi persiapan operasi (amputasi kaki kiri) dihadapan teman sejawatnya.

4.Motif Keteladanan

a. Kutipan Data: ”Apa pun yang telah dan akan terjadi pada Lara, Dedi tetap tidak mau mundur. Dia tetap menginginkan Lara menjadi istrinya. Dan Lara bersyukur telah memilih seorang pria seperti Dedi untuk menjadi pendampingnya”. (JPL, 2006: 194)
b. Morfem Bebas: menerima dengan tulus akan pemberian Tuhan

c. Morfem Terikat: sikap yang tegar dan kasih sayang Dedi serta mau menerima keadaan Lara dengan ikhlas.


B. Sinopsis Cerita dalam novel ”Cinta Menyapa Dalam Badai” karya Mira W:

Rianto adalah seorang dokter anak. Ia adalah jejaka tua yang penyabar. Suatu malam ia bertemu dengan seorang wanita (Anggun) yang sedang bertengkar dengan Yudha yang tengah mabuk. Di tengah pertengkaran itu Rianto melerai dan terjadi pertengkaran antara keduanya. Akhirnya Yudha mundur atas permintaan Anggun.

Sejak pertengkaran itu, Rianto sering berkunjung ke rumah Anggun, meskipun hal itu membuat Anggun risih karena kedatangan Rianto membuat masalahnya semakin runyam. Yudha adalah konsumen narkoba, namun hal itu tidak membuat Anggun gusar, cinta adalah tetap cinta, menurutnya.

Perjalanan cinta mereka membuahkan hasil yang tidak direstui oleh orang tua Anggun. Mereka beralasan bahwa Yudha bukan anak baik-baik terlebih status ayah Anggun sebagai pengacara, mereka lebih memilih Rianto yang sudah mapan. Anggun terpaksa menuruti permintaan orang tuanya, meskipun ia tidak mencintai suaminya dengan tulus. Status Anggun ketika menikah dengan Rianto telah mengandung tiga bulan sedangkan saat itu Yudha harus diditoksifikasi di RSKO (Amerika). Keadaan itu tidak memungkinkan jika Anggun harus mempertahankan untuk menjalin hubungan dengan Yudha. Pilihan terakhir adalah menuruti permintaan orang tuanya.

Kehidupan ia jalani dengan hampa, meskipun didampingi oleh suami yang penyabar. Anggun melahirkan anak laki-laki setelah genap usia pernikahannya enam bulan. Setelah usia empat tahun, Yudha kembali menemui Anggun. Saat itu fisik Rianto semakin menurun, berat badannya susut, ia tampak tua, kulitnya nampak keriput. Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan ia positif terkena virus HIV AIDS. Rianto mengajukan cerai kepada istrinya dengan alasan untuk mencegah penularan.

Rianto meninggal akibat penyakit yang dideritanya, Yudha meninggal akibat terkena ujung payung di kamar Rianto ketika menyelamatkan Anggun ketika tertimpa tangga di kamar Rianto. Anggun mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan polisi.

Bagan Morfologi Cerita dalam Novel ”Cinta Menyapa Dalam Badai”
Karya Mira W


Morfologi dokter anak tugas  perjuangan  sabar  pasien  ramah
Cerita
hak  kasih ibu ( son centered)  bahagia



anak tunggal karakter kehidupan  sabar  jejaka tua

pernikahan  wanita  HIV AIDS  cerai  mati

pendidikan  cerdas  teladan  mandiri


1. Kutipan Data Global dalam Cerita:

”Bulan tampak muram diselubungi awan hitam. Bintang-bintang pun seperti menyingkir. Satu-dua tampak di kejauhan. Menebarkan cahaya yang pudar.
Malam membisu. Laksana saksi mati yang tertegun diam menyaksikan kesedihan seseorang anak manusia yang berbudi luhur, tapi tak luput dari penderitaan”. (CMDB, 2006: 150).


2. Jenis-jenis Motif dalam Cerita:

1. Motif Idealisme

a. Kutipan Data: ”Meskipun Prambudi tidak memandang sebelah mata melihat penampilan Rianto, dia tidak jadi melanjutkan tuntutannya retak dan mata kirinya masih dilingkari memar kehitam-hitaman.” (CMDB, 2006: 29).
b. Morfem Bebas: anggapan remeh Pak Prambudi terhadap Rianto

c. Morfem Terikat: posisi Rianto yang terluka menyebabkan Pak Prambudi luluh dan tidak mempermasalahkan penyebab kedatangannya menemui Anggun.

2.Motif Pendidikan

a. Kutipan Data: ”Wah, pintar!” cetus Rianto sambil memeluk anak yang sedang dipangkunya itu dengan gembira, seakan-akan Yos baru memenangkan Hadiah Nobel. ”Coba lagi, ya? Ini apa nih,” Rianto menunjuk gambar sapu. (CMDB, 2006: 106)
b. Morfem Bebas: Rianto menanamkan pendidikan kepada anaknya sejak dini.
c. Morfem Terikat: Rianto sangat perhatian dalam memberikan, mengawasi dan mengajari anaknya (Yos) agar cerdas dan memberikan pujian-pujian yang menambah motovasi belajarnya.

3.Motif Perjuangan
a.Kutipan Data: ”Rianto sudah rela jika Anggun ingin kembali kepada kekasihnya. Rianto bahkan rela menceraikan Anggun. Dan membiarkannya membawa Yos. Meskipun dengan kehilangan dua orang yang paling dicintainya, masa-masa terakhir hidupnya malah semakin sengsara”. (CMDB, 2006: 164)
b. Morfem Bebas: kesabaran Rianto ketika menderita penyakit HIV AIDS
c. Morfem Terikat: Rianto rela menceraikan istri dan berpisah dengan anaknya serta membiarkan istrinya untuk kembali kepada kekasih lamanya.

4.Motif Keteladanan
a. Kutipan Data: ”Rianto menerima segalanya tanpa protes. Tanpa keluh kesah. Dia menerima Anggun seperti apa adanya. Dia menerima Yos, anak siapa pun dia. Karena dia selalu menerima semuanya dengan tulus ikhlas, dia merasa bahagia. Merasa kecukupan. Merasa hidupnya sempurna”. (CMDB, 2006: 107)
b. Morfem Bebas: Rianto adalah sosok suami yang tulus dalam menerima pemberian Tuhan
c. Morfem Terikat: Ketulusan dan keihlasan Rianto berbeda dengan Anggun, ia lebih cenderung mementingkan kesenangan dirinya daripada suaminya. Anggun kurang menerima apa yang ia miliki karena merasa orang yang didekatnya bukan kekasihnya dulu.
PERBANDINGAN NOVEL ”JANGAN PERGI, LARA”
Dan ”CINTA MENYAPA DALAM BADAI” KARYA MIRA W

Dua novel tersebut memiliki perbandingan dari segi morfologi cerita. Keduanya memiliki perbedaan juga. Kecenderungan idealisme dan pola pikir yang sangat kokoh kadang membawa dampak yang positif kadang juga merugikan orang lain. Potret tokoh yang dihadirkan adakalanya memiliki kemiripan juga perbedaan. Perbedaan dalam pola pemikiran antar tokoh membuat cerita semakin hidup dan menarik. Perjuangan yang dialami oleh tokoh merupakan perjuangan batin dan fisik yang mampu ditepis dengan harapan yang cemerlang walaupun pada akhirnya merugikan diri sendiri. Berikut penjelasan perbedaan motif dalam cerita:

a.Motif Idealisme
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan :kedua novel menampakkan karakter tokoh utama yang memiliki keinginan yang kuat dalam mempertahankan cita-cita dan harapan walaupun pada akhirnya merasa kecewa atas keputusannya sendiri. Mereka lebih bahagia dan bangga akan keberhasilan dan kesuksesan yang dicapai orang lain.
Perbedaan : masing-masing novel memiliki ciri yang unik antara seorang anak kembar dan anak tunggal. Jika dalam novel JPL, Lara lebih cenderung kokoh atas keputusan yang diambil karena karakter tokoh yang cuek dan ekstrofert. Latar belakang kemandirian dan tak peduli membuat ia tegar meskipun penyakit yang didera membuat pupus cita-citanya. Sedangkan dalam novel CMDB, Rianto terkenal seorang yang penyabar dan tidak peduli bahwa keputusan yang diambil membuat si ibu sakit hati dan ayah mertuanya tidak sepakat akan tindakannya, karena ia anak tunggal maka apa pun yang menjadi keinginannya akan dikabulkan. Pak prambudi merasa bahwa kebaikan Rianto kepada Anggun sangat besar.
b.Motif Pendidikan
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan :kedua novel ini menggambarkan sistem pendidikan yang efektif bagi seorang anak. Orang tua mendidik anak dan memberikan layanan pendidikan informal bagi anak secara teliti. Dalam novel JPL Lara bersekolah di sekolah kedokteran, sedangkan dalam novel CMDB Rianto juga berprofesi sebagai dokter dan ia mengajarkan pendidikan secara komunikatif kepada anaknya.
Perbedaan :dalam novel JPL background pendidikan Lara sebagai dokter bedah sedangkan dalam CMDB background pendidikan Rianto adalah seorang dokter anak yang penyabar dan sangat perhatian terhadap perkembangan kecerdasan anaknya .

c.Motif Perjuangan
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan :kedua novel ini menggambarkan perjuangan yang berat bagi tokoh dalam mempertahankan rasa cinta dan kasihsayang. Mereka rela berkorban demi orang yang dicintai agar memperoleh kebahagiaan yang diimpikan. Perjuangan melawan emosi dan perasaan yang yang kacau ketika cobaan penyakit berat yang diderita tak membuat mereka putus asa.
Perbedaan :dalam novel JPL, Lara telah berjuang untuk menolong Lina (adiknya) dengan merelakan Andrian harus menikah dengan adiknya dan ia harus merelakan kakinya harus diamputasi karena penyakit osteosarkoma. Sedangkan dalam novel CMDB, Rianto harus rela menceraikan istri dan meninggalkan anaknya serta merelakan si istri kembali kepada kekasih lamanya karena ia tidak istri keluarganya tertular virus HIV AIDS.

d.Motif Keteladanan
Perbandingan morfologi cerita dalam novel ”Jangan Pergi, Lara dan ”Cinta Menyapa Dalam Badai” meliputi segi persamaan dan perbedaan, yaitu:
Persamaan: dalam novel JPL dan CMDB banyak keteladanan yang bisa diambil. Diantaranya adalah kasih sayang sorang ibu terhadap anak kembarnya itu tidak boleh berat sebelah dan rasa tulus untuk merelakan orang yang dicintai menjadi milik orang lain. Rasa tulus ikhlas harus dimiliki terhadap siapa pun juga.
Perbedaan : dalam novel JPL, Lara lebih cenderung mengutamakan kebahagiaan Lina sedangkan dalam novel CMDB, Rianto rela berkorban demi rasa sayang dan masa depan keluarganya.

1 komentar: