Loading...

Kamis, 30 September 2010

kritik sastra

BAB I
PENDAHULUAN

1.Latar Belakang
Karya sastra diciptakan orang jauh sebelum orang memikirkan hakekat sastra. Berdasarkan pengertian akan apa hakekat sastra. Sastra itu sebagai pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah direnungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik minat secara langsung lagi kuat. Pada hakekatnya sastra adalah suatu pengungkapan kehidupan lewat bentuk bahasa (Hardjana, 1985:10).
Sastra lahir disebabkan oleh dorongan minat pada sesama manusia, untuk menaruh minat pada dunia realitas tempat hidupnya yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang zaman, dan pada dunia angan-angan yang dikhayalkan pada dunia nyata. Dengan kata lain, sastra lahir karena dorongan-dorongan azasi yang sesuai dengan kodrat insaniah orang sebagai manusia. Sastra yang telah dilahirkan oleh para sastrawan diharapkan dapat memberikan kepuasan estetik dan kepuasan intelek bagi khalayak pembaca. Tetapi seringkali karya sastra itu tidak mampu dinikmati dan dipahami sepenuhnya oleh sebagian besar anggota masyarakat.
Dalam hal ini perlu adanya penelaah dan penelitian sastra (Semi,1993:1). Dorongan dasar untuk mengungkapkan dirinya tersebut pada dasarnya lebih didorong oleh keinginan manusia untuk selalu memperhatikan perilaku yang beragam. Bila ingin mengenal dan melihat manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi(Semi, hal 76). Dengan demikian tampak hubungan antara sastyra dengan psikologi. Namun demikian untuk menemukan dan mengetahui hubungan antara sastra dan psikologi perlu adanya penelahan dan penelitian, mengingat tidak semua pembaca dapat memahami karya sastra secara baik tanpa adanya bantuan dari orang lain.
Karya sastra merupakan sebuah karya imaginer yang membutuhkan tafsiran-tafsiran untuk memperoleh makna yang sesuai dengan apa yang ada dalam karya tersebut, dalam menafsirkan karya sastra tentu membutuhkan berbagai teori yand dianggap sesuai ubtuk dapat menemukan makna dengan cara menganalisis karya satra baik melalui unsure-unsur pembangunnya maupun dari unsur –unsur yang lain.
Keterkaitanya analisis dengan kritik satra sangat erat dimana analisis karya sastra merupakan cara yang baik untuk mengkritik suatu karya satra, tanpa adanya analisis dahulu sebelum mengkritik maka kritikan tersebut dianggap tidak bermutu atau hanya sekedar mengkritik tanpa mengetahui kaidah-kaidah dalam mengkritik suatu karya sastra, karena banyaknya teori untuk melakukan analisis terhadap karya sastra maka pada makalah ini hanya akan membahas teori terapan:aliran ergosentrik yang mencakup beberapa kritik sastra di dalamnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2. Aliran Ergosentrik
Janvan Luxemburg dkk. Dalam buku pengantar Ilmu sastra (1984:51-62,Jakarta gramedia) menyatakan bahwa ada empat jenis kritik sastra berdasarkanox alirran egosentrik.Egon berasal dari bahsa yunani yang berarti diri sendiri. Kritik sasstra ini memusatkan diri pada analisis, penafsiran, dan evaluasi tiap-tiap karya sastra yang berkembang di eropa barat dan Amerika Serikat, yaitu (1) kritik baru (2) kritik Merlyn (3) nouvelle critique,dan (4) potsstrukturalisme.

2.1 Kritik Baru (new Criticism)
Kritik baru mulai diperkenalkan pada tahun 1930-an dan menjadi berpengaruh kuat di Eropa barat dan Amerika serikat hingga tahun 1950-an.Semula New Criticism merupakan gerakan kritik yang melawan pendekatan sastra historic biografik serta kritik impresionistik. Para penganut new criticism menganggap ilmu dan teknologi menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dari masyarakat dan menjadikanya berat sebelah, ilmu sains tidak memadai dalam hal mencerminkan kehidupan manusia. Sastra mengungkapakan situasi kehidupan manusia yang lebih sempurna. Sebab, sastra merupakan pengetahuann yang berdasar pada pengalaman. Tugas kritik adalah “mengetahui dan memperlihatkan serta memelihara kekhasan, keunikan, dan kelengkapan karya sastra”.
New criticism menganalisi karya sastra dari segi susunan dan organisasi sebuah karya sastra yang dapat memperlihatkan makna sesungguhanya.
Karya sastra merupakan suatu kesatuan yang telah selesai, sebuah gejala estetik yang pada saat penyelesaianya meninggalkan syarat-syarat subjektif (maksud pengarang).
New criticism menentukan ciri-ciri sastra yang baik dengan adanya paradoks dan ironi .
Berikut contoh karya sastra yang memiliki cirri paradoks dan ironi, “pokok kayu” karya Sapardi Djoko Damono.


POKOK KAYU
“ suara angin dirumpun bambu
dan suara kapak dipokok kayu”
adakah bedanya? Saudaraku?
”jangan mengganggu,{hardik seekor tempua
yang sedang mengerami telur-telurnya
di kusut rambut Nabi Nuh yang purba.
(Sapardi Djoko Damono,2000:111dalam ayat-ayat api :pustaka firdaus)

Sajak ”pokok kayu” di atas mengandung paradoks dan ironi. Paradoks artinya peryataan yang seolah –olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran. Sementra itu ironi artinya;
1.’kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi, tetapi sudah menjadi suratan takdir.
2., majas dalam satra yang menyatakan makna bertentangan dengan makna yang sesungguhnya.
Dalam sajak pokok kayu. Kata pokok kayu dapat dipahami sebagai kata majemuk yang berarti ’segala tumbuhan yang berbatang keras dan besar. Atau dapat pula diartikan sendiri-sendiri, pokok ’inti,utama, dasar, pangkal dan kayu adalah batang yang keras, bagian pohon yang batangnya keras.
“ suara angin dirumpun bambu
dan suara kapak dipokok kayu”
adakah bedanya? Saudaraku?
ada perbedaan antara suara angin dan suara kapak meskipun keduanya sama-sma memilki persamaan sifat yakni bunyi. Suara angin lebih bersifat alami dan suara kapak lebih bersifat buatan,secara semiotik suara angin menyimbulkan keadaan yang masih alami dan alam yang masih terjaga kelestarianya. Sedang suara kapak menyimpulkan adanya perbuatan yang dilakukan manusia terhadapa pepohonan. Dalam hal ini terjadi ironi antara kata –kata (sura angin di rumpun bambu) dengan (suara kapak di pokok kayu)


2.2 Kritik Merlyn
Merlyn (nama majalah di Belanda 1962-1966 dan nama itu sebenarnya nama seorang resi dari legenda Raja Athur) menjadi terkenal karena menafsirkan puisi dan novel-novel belanda seara ergosenrtrik.Pendekatan yang dilakukan Merlyn mewakili pendekatan yang memusatkan perhatian hanya pada karya sastra itu sendiri dalam menafsirkan suatu karya sastra. Dalam penerapnya tentu dibutuhkan adanya analisis terhadap puisi atau karya sastra berikut contoh analisi yang dilakukan dengan kritik Merlyn.pada puisi Balada Nabi Nuh” karya Taufiq Ismail.

BALADA NABI NUH
Gemuruh air jadi lautan
Gemuruh dunia yang tenggelam
Gemuruh air jadi lautan
Gemuruh dunia yang tenggelam

Wahai kaum yang nestapa
Wahai anakku yang malang
Wahai kaum yang nestapa
Wahai anakku yang malang

Oooh Nabi Nuh
(Taufiq Ismail Balada Nabi-Nabi, Gema Nada Pertiwi)

Judul sajak di atas ’Balada Nabi Nuh’ kata balada berarti sajak , cerita, kisah sederhana yang mengkisahkan cerita rakyat, bersifat romantis, mengharukan dalam bentuk nyanyian. Tradisi balada barat berpola rima a-b a-b.Nabi Nuh adalah nama nabi ketiga setelah Adam dan Idris yang tercatat dalam kitab perjanjian lama dan Alquran.
”gemuruh air jadi lautan ” mempresentasika keadaan datangnya banjir dahsyat yang membuat alam menderu.”gemuruh dunia yang tenggelam” karena besarnya air yang adtaang maka permukaan bumi tenggelam di iringi deru air, gaduh , hiruk-pikuk, jerit tangis manusia saat itu.”tenggelam” berati karam ’terbenam air takl terlihat, hilang bentuk. Sebuah gambaran yang seram bahwa bumi dan manusia diliputi air. ”wahai kaum yang nestapa ” sang narator menyapa, berseru, kepada suku, kaum,umat Nabi Nuh. ”Wahai anakku yang malang” seruan ini untuk anak yang malang, anak yang tidak penurut anak yang membangkan ajakan orang tuanya hinmgga membuat dirinya celaka akibat perbuatanya sendiri yang tidak mempercayai ajakan orang tuanaya. Hingga akhirnya iapun tenggelam bersama orang-orang yang tidak mempercayai kata-kata sang Nabi. ”oooh Nabi Nuh ” kehadiran nabi Nuh dalam sajak ini memberikan presentasi yang mewakili Nabi-Nabi diantaranya ialah dirinya sendiri dalan sejarah kehancuran umat manusia karena ditenggelamkan dalam air yang begitu dahsyat.

2.3 Nouvelle Critque
Aliran Nouvelle crirque berkembang di perancis pada tahun 1960-an. Para kritikus penganut aliran ini diataranya adalah Roland Barthes. Aliran ini memiliki perhatian terhadap struktur teks, kesangguapan mempersjelas titik tolak pada struktur teks dan memperluas pandangan dari luar teks sehingga dapat melihat nilai kesejarahanya.aliran ini beranggapan kritikus adalah subjek yang menambah niali-nilai sendiri sambil membaca karya sastra tertentu.sebuah karya sastra mengandung sifat ambigu, terbuka bagi penafsir untuk menafsirkan makna pertama dan kedua.ketika kritikus menganalisis karya sastra secara implisit mereka telah menentukan hasil analisisnya.sikap subjektif itu tidak mengenyampingkan metode kritis dan objektifnya karena mendasarkan pada struktur teks karya sastra. Atas dasar itu maka aliran ini menyebut dirinya kaum strukturalistik.
Kaum strukturalis akhirnya menyadari bahwa suatu teks tidak dapat di tafsirkan secara tuntas dalam arti yang sesungguhnya dapat diungkapkan. Ketaksaan bahasa yang menyebabkan dapat diinterpretasikan kembali teks itu dalam tulisan-tulisan baru atau disadur dalam karya-karya baru dari teks –teks yang pernah ada. Misal puisi”Pokok Kayu” dan ”Balada Nabi Nuh” yang ditulis kembali dari Al quran atau dapat juga dari kitab-kitab perjanjan lama.


2.4 Poststrukturalisme atau dekonstruksi
Poststrukturalisme dikenal sejak 1960-an di Amerika Serikat tokohnya adalah Paul de Man dan J Hillis Millier, secara tegas menolak pandangan new criticism, mereka ingin mendekonstrusikan teks, lalu merekonstruksi sebuah teks baru. Mereka berpendapat:
1.Teks tidaklah mencerminkan kenyataan, tetapi teks membangun kenyataan.bahasa tidak menghadirkan kenyataan (latar. Peristiwa atau kejadian, dan perbuatan tokoh), tetapi bentuk-bentuk bahasa menghadirkan peristiwa,dan perbuatan tokoh hany dalam angan-angan pengarang.
2. Sebuah teks merupakan tenunan yang tersusun dari berbagai utas benang. Apabila kita hanya mengikuti satu utas benang, kita mendapat kesimpulan yang keliru. Tetapi juga , apabila kita mengikuti berbgai utas benang maka kiat juga tidak dapat menentukan arti yang definitif. Kritiik menuju ke arah ”apora” tidak mengetahui arti secra pasti apa jalan keluarnya akhirnya membingungkan pembaca.
Sebagai contoh dari puisi ”pokok kayu”dapat ditemukan adanya kemampuan imajinasi pengarang dalam menentukan kata-kata yang dipakai untuk memberi gambaran secara eksplisit maupun implisit terhadap pembaca. Dari kata-kata yang dirangkai pengarang membayangkan adanya alam yang masih terpelihara, nyaman ditinggali, alami yang belum banyak tersentuh tangan-tangan jahil manusia, kemudian ia membayangkan lagi alam yang mulai tersentuh kekerasan pikiran manusia untuk memperoleh manfaat darinya sehingga mereka menebang kayu-kayu secara liar.dengan kapak-kapak yang memang menjadi alat penebang pepohonan pada jaman dahulu.
Pengarang kembali membayangkan hewan-hewan merasa susah dan marah akibat dari penebangan yang dilakukan manusia mereka benar-benar terusik, ini juga sebagi singgungan terhadap manusia lain yang sebenarnya tidak setuju terhadap prilaku manusia pada alam, kemudian pengarang menghubungkan imajinasinya dengan keadaan NabiNuh yang pada waktu itu sedang bertapa atau dalam keadaan sepi dan kondisi fisik yang tua.


BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Berdasarkan data-data di atas dapat disimpulkan bahwa Aliran Ergosentrik memilki empat cabang yaitu (1) kritik baru (2)kritik nouvelle(3)kritik strukturalis (4) kritik poststrukturalisme
Kritik baru(new critism) suatu pendekatan yang menganalisi karya sastra dari segi susunan dan organisasi sebuah karya sastra yang dapat memperlihatkan makna sesungguhanya. Kritik Merlyn mewakili pendekatan yang memusatkan perhatian hanya pada karya sastra itu sendiri dalam menafsirkan suatu karya sastra. AliranNouvelle Critique ini memiliki perhatian terhadap struktur teks, kesangguapan mempersjelas titik tolak pada struktur teks dan memperluas pandangan dari luar teks sehingga dapat melihat nilai kesejarahanya. Potsstrukturalisme berusaha menafsirkan karya sastra dengan mendekonstrusikan teks, lalu merekonstruksi sebuah teks baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar