Loading...

Senin, 23 Desember 2013

REALISASI PRAGMATIK



KESANTUNAN BERBAHASA DALAM ACARA PESBUKER DI ANTV

*Hidayatulloh

ABSTRAK

Kata kunci: kesantunan berbahasa, pesbuker

Fenomena kebahasaan tentu saja menarik untuk diteliti karena dapat menambah wawasan keilmuan linguistik saat ini. Penulis memilih analisis kesantunan berbahasa pada acara televis pesbuker yang tayang di ANTV setiap  Senin-Jumat pukul 18.00 WIB, acara tersebut merupakan acara yang bersifat hiburan yang didesain secara natural dalam melakukan percakapan dan ekspresi dengan tujuan membuat orang tertawa.
Penelitian ini dilakukan untuk menjawab dua rumusan masalah (1) wujud kesantunan berbahasa dalam acara pesbuker (2) Bentuk penyimpangan kesantunan berbahasa dalam acara pesbuker
Wacana kebahasaan dalam acara pesbuker akan diteiti dengan menggunakan teori kesantuan berbahasa George Lecch adapun prinsip kesantunan menurutnya ada enam maksim yaitu (1) Maksim Kebijaksanaan  (2)  Maksim Penerimaan (3) Maksim Kemurahan (4) Maksim Kesederhanaan atau Kerendahan Hati (5) Maksim Kecocokan (6)  Maksim Simpatisan.
Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif kemudian teknik pengumpuan data diakukan dengan beberapa langkah  (1) menyaksikan dan mendengarkan tayangan pesbuker (2) mentranskripsikan percakapan  yang didengar ke dalam bahasa tulis (3) mengidentifikasi tuturan yang menggunakan prinsip kesantunan berbahasa sesuai dengan masalah yang diteliti (4) mengklasifikasi data yang berhubungan prinsip kesantunan berbahasa sesuai dengan masalah yang diteliti kemudian dilakukan analisis sesuai rumusan masalah dan teori.
Berdasarkan analisis peneliti, terdapat ujaran dalam percakapan yang mematuhi prinsip kesantunan berbahasa namun tidak banyak. Penyimpangan prinsip kesantunan yang lebih banyak terjadi dalam acara pesbuker, terdapat berbagai cara yang dilakukan oleh pemain untuk melakukan penyimpangan maksim kesantunan ini, seperti, membandingkan sebuah profesi yang tidak seimbang (artis dengan kenek), pembuatan pantun yang tujuannya untuk merendahkan orang lain, mengejek orang lain dengan cara membandingkan lawan bicara dengan binatang, mengalihkan pembahasan. Fungsi dari penyimpangan maksim-maksin tersebut diantaranya untuk (1) menciptakan suasana humor (2) menarik minat penonton (3) menunjukkan identitas acara.

* Mahasiswa Pascasarjana UNISMA




ABSTRACT


Key words: politeness, pesbuker
Linguistic phenomenon of course interesting to study because it can increase the depth of knowledge of linguistics today. The author chose politeness analysis on televis pesbuker event that aired on the quiz every Monday-Friday at 18:00 pm, the event is an entertainment event that is naturally designed to have a conversation and expression with the aim of making people laugh.
This research was conducted to answer two formulation of the problem (1) in the form of linguistic politeness pesbuker event (2) The form of politeness irregularities in the event pesbuker
Linguistic discourse pesbuker event will diteiti by using the theory of George Lecch kesantuan as for speaking thinks there are six principles of politeness maxims, namely (1) tact maxim (2) generosity maxim (3) modesty maxim (4) approbation maxim  (5) aggreement maxim (6) sympathy maxim
This research method using qualitative description then collect techniques of data transactions are carried out with a few steps (1) watching and listening impressions pesbuker (2) transcribe conversations heard in the written language (3) identifying the speech that uses the principle of linguistic politeness according to the problem under study ( 4) classify related data in accordance with the principle of linguistic politeness problems examined then appropriate formulation of the problem analysis and theory.
Based on our analysis, there are utterances in conversations that adhere to the principles of politeness, but not much. Deviation principle of politeness that are more prevalent in pesbuker event, there are various ways in which the player to the contrary this politeness maxims, such as, comparing a profession that is not balanced (the artist by conductor), making rhymes that aim to denigrate others, mocking people Another speaker by comparing with animals, diverting the discussion. Function of the deviation of the maxims-Maksin them to (1) create an atmosphere of humor (2) attract viewers (3) the identity of the event.

A.    Pendahuluan

Bahasa digunakan oleh manusia di dalam sebuah interaksi. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif bagi manusia. Melalui bahasa, manusia dapat menyampaikan berbagai cerita berita batin, pikiran, pengalaman, gagasan, pendapat, perasaan, keinginan dan harapannya. Setiap orang mampunyai tujuan-tujuan tertentu dalam berkomunikasi. Komunikasi yang terjalin diharapkan dapat dipahami maknanya oleh orang-orang yang   terlibat dalam  proses   komunikasi  tersebut.  Bahasa adalah alat komunikasi atau alat berinteraksi antara nggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia ( Keraf,  2004:1).
Menurut Chaer (2004:20) bahwa dalam setiap komunikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Setiap manusia diharapkan mempunyai kemampuan komunikatif. Artinya, kemampuan bertutur atau kemampuan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma-norma penggunaan bahasa sesuai dengan konteks situasi dan konteks sosialnya. Seperti aktivitas sosial lainnya, kegiatan bahasa bisa terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Di dalam berbicara, pembicara dan lawan bicara sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan bicaranya. Setiap peserta tindak ucap bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi sosial itu (Alan dalam Wijana, 2004:28).
Terdapat aturan-aturan yang mengatur penutur dan penutur agar dapat saling bekerja sama dalam mewujudkan proses komunikasi yang baik, sehingga pada akhirnya tujuan dari komunikasi tersebut dapat tercapai. Namun, proses berkomunikasi ada kalanya manusia menyimpang dari prinsip-prinsip komunikasi. Hal itu biasanya dilakukan demi mencapai suatu tujuan atau maksud tertentu dalam berkomunikasi. Salah satu bentuk penyimpangan dalam berbahasa adalah mengabaikan prinsip kesantunan berbahasa dengan tujuan tertentu, seperti humor atau hal lain yang menciptakan suatu suasana ringan. Kelucuan yang diciptakan dari penggunaan bahasa tertentu dalam berbicara biasanya terjadi karena adanya penyimpangan terhadap prinsip-prinsip kesantunan berbahasa.
Terdapat beberapa prinsip yang dapat digunakan sebagai acuan dalam berkomunikasi, salah satunya adalah prinsip kesantunan,  prinsip kesantunan berkenaan dengan aturan-aturan tentang hal-hal yang bersifat sosial, estetis, dan moral dalam bertutur. Prinsip ini dikemukakan karena dalam berkomunikasi, baik penutur maupun mitratuturnya tidak cukup hanya dengan mematuhi prinsip kesantunan saja. Para ahli memiliki klasifikasi yang berbeda-beda mengenai prinsip kesantunan ini.
Leech (1993:8)  membagi  prinsip kesantunannya  ke dalam  enam  bidal, maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kesederhanaan atau kerendahan hatian, maksim kecocokan, maksim simpatisan. Maksim-maksin tersebut dapat dijadikan tolok ukur dalam menentukan sebuah perckapan dianggap santun atau tidak dengan cara menyesuaikan bahasa yang digunakan dengan koteks dalam peristiwa tutur dalam menaati maksim-maksim tersebut.
Fenomena kebahasaan ini tentu saja menarik untuk diteliti karena dapat menambah wawasan keilmuan linguistik saat ini. Penulis memilih analisis kesantunan berbahasa pada acara pesbuker yang tayang di ANTV setiap  Senin-Jumat pukul 18.00 WIB, acara tersebut merupakan acara yang bersifat hiburan yang didesain secara natural dalam melakukan percakapan dan ekspresi dengan tujuan membuat orang tertawa.
Peristiwa tutur yang terjadi dalam acara pesbuker terkesan bebas (ceplas-ceplos) sehingga memungkinkan adanya penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa,
selain itu acara pesbuker juga termasuk salah satu acara yang memilik banyak penggemar sehingga percakapan dan tuturan di dalamnya dapat dijadikan acuan dan pembelajaran secara tidak langsung bagi penenonton acara tersebut.
Pesbuker ANTV pukul 18.00 setiap   Senin - Jumat sempat  tidak tayang karena mendapat kecaman dari FPI. Pemain dalam acara tersebut diantaranya,  Olga, Raffi, Jessica, Opi, Kumis, Melany, Gading, Denny, Tarra, Sapri, dan bintang tamu lainnya, karena penelitian mengenai kesantunan berbahasa terhadap acara live show di televisi  masih belum banyak dilakukan khususnya di STKIP PGRI Jombang, maka penulis tertarik untuk menelitinya dengan judul ” Kesantunan Berbahasa dalam Acara Televisi Pesbuker Di ANTV”.
B.       Pendekatan Pragmatik
Leech (1993: 8), mengemukakan pragmatik adalah bidang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi tutur (speech situations). Hal ini berarti bahwa makna dalam pragmatik adalah makna eksternal, makna yang terkait konteks, atau makna yang bersifat triadis (Wijana, 1996: 2-3). Makna-makna yang demikian itu kiranya dapat disebut sebagai maksud yaitu maksud penutur. Oleh karena itu, pragmatik  sebagai bidang linguistik yang mengkaji maksud ujaran . Berikut ini contoh yang memperlihatkan bahwa si A mengikuti prinsip kesopanan dengan memaksimalkan pujian kepada temannya yang baru saja lulus magister dengan predikat cumlaud dan tepat waktu, tetapi si B tidak mengikuti prinsip kesopanan karena memaksimalkan rasa hormat atau rasa hebat pada diri sendiri.
A : Selamat, Anda lulus dengan predikat maksimal!
B : Oh, saya memang pantas mendapatkan predikat cumlaud.
Kedua, penghindaran pemakaian kata tabu (taboo). Pada kebanyakan masyarakat, kata-kata yang berbau seks, kata-kata yang merujuk padaorgan-organ tubuh yang lazimditutupi pakaian, kata-kata yang merujuk pada sesuatu benda yang menjijikkan, dan kata-kata “kotor” dan “kasar” termasuk kata-kata tabu dan tidak lazim digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari, kecuali untuk tujuan-tujuan tertentu. Contoh berikut ini merupakan kalimat yang menggunakan kata tabu karena diucapkan oleh mahasiswa kepada dosen ketika perkuliahan berlangsung.
A: Pak, mohon izin keluar sebentar, saya mau berak!
B: Mohon izin, Bu, saya ingin kencing!

Ketiga, sehubungan dengan penghindaran kata tabu, penggunaan eufemisme, yaitu ungkapan penghalus. Penggunaan eufemisme ini perlu diterapkan untuk menghindari kesan negatif. Contoh kalimat mahasiswa yang tergolong tabu tersebutakan menjadi ungkapan santun apabila diubah dengan penggunaan eufemisme, misalnya sebagai berikut.
A: Pak, mohon izin sebentar, sya mau buang air besar.
Atau, yang lebih halus lagi:
A:  Pak,mohon izin sebentar, saya mau ke kamar kecil.
Atau, yang paling halus:
B: Pak, mohon izin sebentar, saya mau ke belakang.

Hal yang perlu diingat adalah, eufemisme harus digunakan secara wajar, tidak berlebihan. Jika eufemisme telah menggeser pengertian suatu kata, bukan untuk memperhalus kata-kata yang tabu, maka eufemisme justru berakibat ketidaksantunan, bahkan pelecehan. Misalnya, penggunaan eufemisme dengan menutupi kenyataan yang ada, yang sering dikatakan pejabat. Kata miskin diganti dengan prasejahtera, kelaparan diganti dengan busung lapar, penyelewengan diganti kesalahan prosedur, ditahan diganti dirumahkan, dan sebagainya. Di sini terjadi kebohongan publik. Kebohongan itu termasuk bagian dari ketidaksantunan berbahasa.
Tujuan utama kesantunan berbahasa adalah memperlancar komunikasi. Oleh karena itu, pemakaian bahasa yang sengaja dibelit-belitkan, yang tidak tepat sasaran, atau yang tidak menyatakan yang sebenarnya karena enggan kepada orang yang lebih tua juga merupakan ketidaksantunan berbahasa. Kenyataan ini sering dijumpai di masyarakat Indonesia karena terbawa oleh budaya “tidak terus terang” dan menonjolkan perasaan. Dalam batas-batas tertentu masih bisa ditoleransi jika penutur tidak bermaksud mengaburkan komunikasi sehingga orang yang diajak berbicara tidak tahu apa yang dimaksudkannya.


C.      Prinsip Kesantunan Berbahasa
Menurut Leech (1993: 27) maksim merupakan kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual; kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Selain itu,  maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan. Maksim-maksim tersebut menganjurkan agar kita mengungkapkan keyakinan-keyakinan dengan sopan dan menghindari ujaran yang tidak sopan. Maksim-maksim ini dimasukkan ke dalam kategori prinsip kesopanan. Leech (1993:206) menjelaskan teori kesantunan dalam enam maksim, yaitu.
a. Maksim Kebijaksanaan
Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin, dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin (Leech 1993: 27). Gagasan dasar maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa para peserta pertuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur.
b.  Maksim Penerimaan
Kurangi keuntungan diri sendiri dan tambahi pengorbanan diri sendiri (Leech, 1993:27). Jika setiap orang melaksanakan inti pokok maksim kedermawanan dalam ucapan dan perbuatan dalam pergaulan sehari-hari, maka kedengkian, iri hati, sakit hati antara sesama dapat terhindar. Dengan maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati, para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain.
c. Maksim Kemurahan
Maksim kemurahan menuntut setiap penutur untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa merendahkan orang lain. Memberikan efek ramah bagi penutur sehingga lawan bicara menjadi nyaman dan senang diajak berbicara.
d. Maksim Kesederhanaan atau Kerendahan Hati
Kurangi pujian pada diri sendiri, tambahi cacian pada diri sendiri (Leech, 1993: 27). maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri.
e. Maksim Kecocokan
Kurangi ketidaksesuaian antara diri sendiri dengan orang lain. Tingkatkan persesuaian antara diri sendiri dengan orang lain (Leech, 1993: 27).  Maksim permufakatan seringkali disebut dengan maksim kecocokan (Wijana, 1996: 59). Maksim kecocokan menekankan agar para pererta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur.
f.  Maksim Simpatisan
Kurangi antipasti antara diri sendiri dengan orang lain. Perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993: 27).
Tuturan dalam maksim kesimpatisan, diharapkan agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Sikap antipasi terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak santun.
D.      Bentuk Kesantunan dalam Perspektif Kontrak Percakapan
Prinsip kerja kontrak percakapan ini didasarkan pada nosi kewajiban dan kebenaran. Penutur dianggap santun apabila memenuhi kewajiban dan tidak melampaui hak-hak mitra tutur. Misalnya, penutur diharapkan mengambil giliran bicara (turn taking), menggunakan bahasa yang jelas dan tidak taksa, dan berbicara cukup keras, sehingga mitra tutur mendengar dengan jelas serta berbicara serius.
        Berdasarkan kontrak percakapan, berbicara santun itu memiliki tiga kriteria. Pertama, berbicara santun itu tidak hanya berkaitan dengan perkataan, tetapi juga berkaitan dengan perbuatan. Perkataan yang menurut  pilihan katanya tergolong santun, tetapi apabila diiringi dengan perbuatan dan cara mengungkapan yang tidak santun, maka perkataan itu dikatakan tidak santun. Kedua, perkataan santun atau tidak santun itu bergantung pada kondisi. Suatu perkataan diucapkan pada kondisi tertentu mungkin dipandang santun, tetapi jika diucapkan pada kondisi yang lain mungkin malah dipandang tidak santun. Ketiga, aspek santun atau tidak santun itu bergantung sepenuhnya pada mitra tutur. Sebagai contoh, suami benar-benar bermaksud santun memuji masakan istri dengan mengatakan ‘Masakan mama enak, ya!’ tidak digolongkan santun oleh istrinya apabila si istri menginterpretasikan hanya sebagai sindiran, misalnya dalam konteks suami menyindir istrinya yang tidak pandai memasak.
E.       Bentuk Kesantunan dalam Perspektif Maksim Percakapan
Maksim Percakapan  adalah sejumlah aturan dalam percakapan. Maksim Percakapan ini menyangkut prinsip apa yang akan dan harus dikatakan, kapan harus mengatakan, dan bagaimana harus mengatakannya. Menurut Maksim Percakapan berbicara santun itu memiliki tiga prinsip, yaitu (a) tidak mengganggu (don’t impose), (b) memberi pilihan (give options), dan (c) membuat hati enak (make feel good).
Teori Maksim Percakapan selanjutnya disempurnakan oleh Leech (1993). PK diterapkan oleh Leech dengan memusatkan diri pada ranah pragmatik retorik, yaitu tujuan perilaku linguistik. Ia membedakan tujuan tuturan,  yaitu apa yang dimaksudkan penutur untuk disampaikan melalui tuturan dan tujuan sosial penutur, yaitu posisi yang membuat penutur harus bersikap jujur, santun, ironis, dan semacamnya dalam berbicara.
F.     Karakteristik   Kesantunan Berbahasa
Dalam penelitian  ini, dapat ditentukan kegiatan bertutur  yang terdiri  dari enam  bagian yaitu memberi  komentar, menolak, mengkritik, menyuruh, meminta ijin dan menyatakan pendapat. Berikut akan disajikan karakteristik tuturan berdasarkan kategori sangat santun, santun, tidak santun dan sangat tidak santun. Berikut  ukuran yang menunjukkan karakteristik kesantunan dalam percakapan.
Tabel 2.2: Karakteristik Kesantunan Berbahasa
Sangat santun
santun
Tidak santun
Sangat tidak santun
a.  Penghargaan terhadap orang lain
b.  Menunjukan rasa rendah hati, tidak sombong,
c.  Teguran yang jujur, namun halus.
d. Pujian jujur
e.  Penolakan dengan kata “maaf”
f.  Perintah dengan nada pertanyaan
g.  enolakan dengan nada pertanyaan (antar lawan bicara)
h.  Memberikan dukungan dengan tulus

a. Tuturan yang menunjukan realita yang benar, apa adanya.
b. Mengandung unsur ketegasan dan kejelasan maksud
c. Kritik yang membangun
d. Bertujuan untuk membangaun komunikasi
e. Penggunaan diksi yang sangat lugas
f. Kritikan dengan menggunakan kata “maaf”
g. Pengakuan yang jujur, apa adanya
h. Memberikan sindiran secara halus.

a. Menegur dengan diksi yang kurang halus
b. Pembelaan terhadap pebuatan salah
c. Tidak menghargai orang lain
d. Menonjolkan dirinya sendiri
e.Mempermalukan orang lain di muka umum
f.Merendahhkan orang lain
g. superior
h. Kejujuran yang menyakiti orang lain
i. Mengejek
j. Berbicara tidak sesuai situasi

a. Menunjukan rasa marah kepada lawan bicara
b.Menyombongkan diri
c. Superior dan suka menghakimi
d. Fitnah
e. Bercanda untuk menjatuhkan teman lain
f. Menegur dengan diksi kasar
g. Bahasa vulgar
h. Sindiran yang menjatuhkan lawan bicara di depan umum.


G.    Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara peneliti menjelaskan penelitiannya yang mencakup bahan atau materi penelitian, jalan penelitian, data yang hendak disediakan dan analisis data. Djajasudarma (2006:4) menyebutkan bahwa metode adalah alat, prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian dalam mengumpulkan data.
. Metode penelitian sebagi panduan peneliti dalam mengkaji data, memeriksa data berdaasarkan teori yang digunakan.  Pemahaman metode yang disebutkan sebgai cara kerja  atau system dalam pelaksanaan suatu kegiatan digunalan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Djadjasudarma, 2006:3).
Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik  dan dengan cara  deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2006:6).
Penelitian kualitatif digunakan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku (sesuatu) yang dapat diamati. Adapun karakteristik atau ciri-ciri metode kualitatif  dalam penelitian bahasa (Moleong, 2006:8) (1) berlatar alamiah (2) Manusia sebagai alat (3) menggunakan metode induktif (4) data yang dikumpulkan berupa kata-kata bukan angka-angka (5) hasil penelitian berupa deskripsi (6) lebih mementingkan proses daripada hasil (7) menetapkan fokus atau pembatasan penelitian (8) desain bersifat sementara.
Metode kulaitatif tersebut digunakan untuk menggambarkan secara objektif rincian penggunaan dan  pengungkapan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara pesbuker.
Sumber data  penelitian ini berupa transkripsi  kata-kata, percakapan  dalam acara Pesbuker yang tayang pada setiap Senin-Jumat di ANTV pukul 18.00 WIB, namun dalam penelitian ini diambil beberapa penayangan yang dianggap dapat mewakili peristiwa tutur dalam acara tersebut, penulis menentukan sebelas video untuk diteliti yang  tayang pada bulan Juni 2012 dan termasuk vidoe terbaik versi You tube. Data diperoleh dari percakapan aktor di acara pesbuker di ANTV berikut rincian aktor atau pemain dalam acara. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dialog  dalam transkripsi rekaman acara pesbuker yang megindikasikan pematuhan prinsip kesantunan berbahasa dan penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa.
Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah sangat penting karena baik buruknya tergantung pada teknik pengumpulan data. Dengan demikian, memperoleh data, peneliti menggunakan cara sebagai berikut:
1.     menyaksikan dan mendengarkan tayangan pesbuker;
2.    mentranskripsikan percakapan  yang didengar ke dalam bahasa tulis;
3.    mengidentifikasi tuturan yang menggunakan prinsip kesantunan berbahasa sesuai dengan masalah yang diteliti.
4.    mengklasifikasi data yang berhubungan prinsip kesantunan berbahasa sesuai dengan masalah yang diteliti.
Analisis data merupakan upaya yang dilakukan untuk mengklasifikasi, mengelompokkan data. Data yang sudah terkumpul diolah dan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Pengelompokan Data
Tahap ini meliputi kegiatan pengecekan data yang terkumpul, diklasifikasikan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan pada pokok permasalahan mengenai kesantunan berbahasa, fungsi kesantunan berbahasa dalam acara pesbuker.
2.      Pengkodean Data
Tahap ini proses pemberian tanda terhadap data yang sudah dikelompokkan untuk mempermudah pembacaan data dan analisis data. Data yang terkumpul pada saat pengklasifikasian diberi kode dalam realisasinya kode tersebut misalnya, PS, Tr2, Br 4, P (dibaca pesbuker, transkripsi halaman ke 2, Baris ke  4, terdapat penyimpangan).
3.    Penganalisisan Data
Tahap ini meliputi penganalisisan data yang sudah terkumpul dan telah diberikan kode sesuai dengan pokok permasalahan mengenai kesantunan berbahasa dengan menerapkan teori prinsip-prinsip kesantunan bebahasa yang dijelaskan dalam bab II.
H.    Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan   bahwa dialog dalam acara Pesbuker yang ditayangan oleh ANTV tiap hari Senin -Jumat pada pukul 18.00 WIB tersebut lebih banyak melakukan penyimpangan maksim kesantunan dari pada pematuhannya.
Data yang telah ditemukan dalam dialog pada acara Pesbuker di atas, data  yang menunjukkan pematuhan terhadap maksim kesantunan lebih sedikit dibandingkan data yang menunjukkan penyimpangan. Hal ini berarti bahwa dialog dalam acara Pesbuker yang mematuhi maksim kesantunan lebih sedikit daripada penyimpangannya dan sebagian besar percakpan dalam acara pesbuker menyimpang dari maksim kesantunan berbahasa.
Maksim –maksim yang menyimpang dalam acara pesbuker diantaranya   peyimpangan maksim kebijaksanaan disebabkan mengomentari lawan bicara dengan bahasa yang kasar dan mendahului lawan bicara, serta superior, penyimpangan maksim penerimaan terjadi karena penolakan dari pernyataan lawan bicara dilakukan dengan menggunakan bahasa yang kasar dan menyinggung perasaan lawan bicara, penyimpangan maksim  kemurahan terjadi karena pembicara memenangkan diri (superior) dalam percakapan memotong pembicaraan, dan mengejek, lawan bicaara, penyimpangan maksim kecocokan  terjadi karena terdapat ujaran atau tuturan yang tidak memiliki kesesuaian dengan topik yang dibicarakan, dan penyimpangan maksim simpatisan terjadi . Selanjutnya, dalam penelitian ini, penulis tidak menemukan data yang menunjukkan pada penyimpangan kesederhanaan.
Berdasarkan analisis peneliti, ada berbagai cara yang dilakukan oleh aktor dan aktris untuk melakukan penyimpangan maksim kesantunan ini, seperti, membandingkan sebuah profesi yang tidak seimbang (artis dengan kenek), pembuatan pantun yang tujuannya untuk merendahkan orang lain, mengejek orang lain dengan cara membandingkan lawan bicara dengan binatang, menggunakan kata-kata berkonotasi jelek, memotong pembicaraan lawan bicara, mementingkan diri sendiri, memojokkan lawan bicara,  menuduh lawan bicara. Fungsi dari penyimpangan maksim-maksin tersebut diantaranya untuk (1) menciptakan suasana humor (2) menarik minat penonton (3) menunjukkan identitas acara.



     



DAFTAR PUSTAKA
.
Chaer Abdul  2003. Linguistik Umum.Jakarta: Renika Cipta.
Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka
Djajasudarma, T. Fatimah. 1996. Metode Linguistik. Bandung: Refika Aditama.
Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya
Keraf, Gorys. 1982. Komposisi. Jakarta : Nusa Indah.
Leech, Geoffrey. (penerjemah Oka). 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta : Universitas Indonesia.
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Pengajaran Pragmatik. Bandung : Angkasa.
Verhar. 2006. Asas-asas Linguistik Umum. yogjakarta. Gajah Mada University Pres.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta : Andi Yogyakarta.