Loading...

Jumat, 09 Mei 2014

NASIONALISME DALAM NOVEL 2 Karya DONNY DIRGANTARA


NASIONALISME DALAM NOVEL 2 Karya DONNY DIRGANTARA
A.  Latar Belakang
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat merupakan sebuah hasil dari imajinasi seorang pengarang serta merupakan sebuah refleksi terhadap gejala-gejala sosial yang timbul di sekitarnya. Sastra sebagai kreasi pengarang  yang bersumber dari masyarakat dapat menampilkan objek kajiannya, yang meliputi masyarakat yang memiliki tradisi, budaya, adat istiadat, pandangan hidup, dan sikap hidup berbeda-beda. Hasil imajinasi seorang pengarang dituangkan melalui media bahasa, sehingga sastra menjadi intuisi sosial yang memakai medium bahasa. Sastra juga dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni, (Wellek & Warren, 1989:3).
Karya sastra adalah cermin kehidupan masyarakat, sesuai pendapat Abrams yang diperjelas oleh Endraswara (2011:89), bahwa sebuah novel tidak hanya mencerminkan “realitas” melainkan lebih dari itu memberikan kepada kita “sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamika” yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah “proses yang hidup”. Karya sastra adalah karya seni yang mediumnya sudah bersifat tanda yang mempunyai arti, yaitu bahasa (Pradopo, 2001:47). Lewat medium bahasa karya sastra, berbicara mengenai manusia dan kemanusiaan, sedangkan manusia tidak terlepas dari keberadaannya sebagai makhluk sosial dan budaya. Pendapat tersebut sesuai dengan Wellek dan Warren (1992:109) bahwa sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan itu sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Sehingga novel sebagai salah satu bentuk karya sastra sebagai bahan perenungan untuk mencari nilai-nilai kehidupan, pendidikan, serta pesan moral. Diharapkan memunculkan pemikiran-pemikiran yang positif bagi pembacanya, sehingga pembaca peka terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial budaya.
Sastra sejatinya bukanlah sekedar menampilkan sebuah dunia rekaan, bukan pula semata-mata menghadirkan peristiwa-peristiwa imajinatif. Ia dapat diperlakukan sebagai potret sosial jika di dalamnya terungkap problem dan kegelisahan yang terjadi di dalam kehidupan kemasyarakatan.
Dengan demikian, sastra sebagai hasil kreasi pengarang dapat berperan sebagai ungkapan pribadi pengarang yang berupa pikiran, perasaan, gagasan, norma, adat istiadat, agama, sosial budaya masyarakat dan lain sebagainya. Oleh karena itu, karya sastra memuat tata kehidupan sosial budaya masyarakat yang merupakan ungkapan kegelisahan kultural yang dihadapi pengarang.   Novel sebagai prosa fiksi, selain mengandung nilai-nilai juga mengungkapkan suasana kehidupan yang kompleks, menyangkut segala sesuatu tentang kehidupan manusia dan disajikan dengan bahasa yang halus, dalam artian bahasa yang digunakan dalam novel oleh pengarang dapat menyentuh perasaan pembaca. 
Menurut Ratna (2004:336) di antara genre karya sastra yaitu prosa, puisi, dan drama, genre prosa lah khususnya novel yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Karena novel menampilkan unsur cerita paling lengkap, memiliki media paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang juga paling luas dan bahasa novel cenderung bahasa sehari-hari yang paling umum digunakan dalam masyarakat. 
Karya sastra yang baik selalu memberi pesan kepada para pembaca untuk menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks ini, karya sastra dianggap sebagai sarana pendidikan. Oleh karena itu, karya sastra selain dapat hadir sebagai sebuah dunia yang memiliki totalitas, dan mengemban makna sebagaimana dirinya sendiri juga dapat dijadikan sebagai objek studi. Karya sastra membuat nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil pelajaran.
Jadi, selain sebagai penyimpan nilai budaya Novel juga memberikan sebuah pesan-pesan yang bernilai pendidikan. Penelitian ini menggali nilai dan bentuk nasionalisme  yang di sampaikan oleh Donny Dhirgantoro dalam novel “2”.
Novel “2” ditulis oleh Donny Dhirgantoro lahir di Jakarta 27 Oktober 1978. Sulung dari empat bersaudara ini menghabiskan seluruh waktunya dari kecil hingga besar di Jakarta. Kegemaran menulis pernah mengantarnya menjadi juara pertama lomba menulis dan membaca puisi yang diselenggarakan salah satu instansi pemerintah. Selepas SMU, ia melanjutkan studi di STIE Perbanas Jakarta dan ikut aktif dalam segala kegiatan kampus.
Donny seorang yang maniak film dan fotografi, bertualang ke alam terbuka adalah hobi yang paling disukainya. Setelah lulus kuliah ia sempat berpindah-pindah tempat kerja untuk mencari betul pekerjaan yang tepat dan cocok, sebelum akhirnya tercatat sebagai seorang Instructor/Trainer di salah satu perusahan Konsultan Sumber Daya Manusia di Jakarta.
Novel “2” karya Donny Dhirgantoro terdiri atas 418 halaman, diterbitkan oleh Grasindo ,didistribusikan oleh PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Novel “2” memiliki 11 bagian atau bab yang terpisah, tapi antara bagian tersebut masih berkaitan. Novel tersebut memiliki keistimewaan dan memiliki perbedaan dengan novel-novel lain. Keistimewaannya adalah alur cerita yang merupakan pencerminan dunia realitas yang dialami oleh manusia di tengah–tengah masyarakat, sehingga ceritanya benar–benar hidup. Penggambaran kompleksitas tokohnya begitu tertata seakan–akan terjadi didunia nyata. Selain itu, di dalam novel ini juga disertakan biografi pengarang secara lengkap  sehingga pembaca mengetahui latar belakang pengarangnya di dalam menulis novel ini.
Novel “2” merupakan karya yang cukup laris dan populer setelah karyanya yang telah di filmkan yakni  novel yang berjudul 5 cm, tidak kalah menarik untuk diteliti, novel “2” juga memiliki daya motivasi dan gagasan yang membuat pembaca ingin tahu lebih jauh tentang cerita yang kisahkan. Kelebihan novel ini adalah ceritanya ringan, mampu dengan mudah ditangkap oleh pembaca. Banyak misteri yang tersirat dan mampu mengundang pembaca untuk terus membacanya. Di alur cerita banyak makna dan amanat yang dituliskan oleh penulis. Novel ini mampu membuat perubahan positif bagi siapapun yang membacanya. Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat meraih mimpi.
Beberapa alasan penulis dalam melakukan penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, karya sastra khususnya Novel yang berjudul “2” merupakan novel baru yang terbit tahun 2011 dan termasuk novel yang best seller dan karya kedua  dari seorang penulis yang bernama Donny Dhirgantoro.
Kedua, berdasarkan resensi dan komentar-komentar tentang novel “2” menunjukkan adanya nilai nasionalisme yang diangkat dan sebuah pendidikan alternatif artinya pendidikan secara tidak formal namun membuahkan hasil.
 penulis melakukan penelitian dengan judul Nasinalisme dalam Novel “2 karya Donny Dhirgantoro. Dalam penelitian ini penulis mengkaji novel “2”, karya Donny Dhirgantoro terbitan Grasindo, Jakarta 2011 418 halaman pada aspek nasionalisme dengan menggunakan teori nasionalisme dan sosiologi sastra
Berdasarkan fokus penelitian pada batasan masalah tersebut, maka rumusan masalah yang relevan adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah nilai nasionalisme dalam novel “2” karya Donny Dhirgantoro?
2.      Bagaimanakah bentuk nasionalisme yang terkandung dalam  novel “2” karya Donny Dhirgantoro?
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan dan membuktikan ada atau tidak ada kebudayaan dan nilai pendidikan dalam novel “2” karya Donny Dhirgantoro.

1.      Mendeskripsikan nilai nasionalisme dalam novel “2” karya Donny Dhirgantoro.
2.      Mendeskripsikan bentuk nasionalisme yang terkandung dalam  novel “2” karya Donny Dhirgantoro.
Secara umum penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu sastra, khususnya dalam mengkaji dan menelaah sebuah novel. Selain itu, juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih pada pengembangan ilmu sosial khususnya nasionalisme.s
            Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai:
1.      Dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang nasionalisme
2.      Dapat dijadikan referensi dalam mengapresiasi karya sastra dari aspek nasionalisme.
3.      Sebagai referensi bagi peneliti lain yang akan mengkaji novel “2” dari aspek lain.
4.      Sebagai referensi bagi guru dan siswa untuk kepentingan pengajaran apresiasi sastra di sekolah.

Hakikat Karya Sastra
Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah proses kreatif meliputi seluruh tahapan, mulai dari dorongan bawah sadar yang melahirkan karya satra sampai pada perbaikan terakhir yang dilakukan sastrawan (Wellek dan Warren, 1990:3). Sedangkan menurut Luxemburg, bahwa sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan semata-mata sebuah imitasi. Sastra bersifat otonom, tidak mengacu kepada sesuatu yang lain, dan sastra bersifat komunikatif.  Sastra, tidak seperti halnya ilmu kimia atau sejarah, tidaklah menyuguhkan ilmu pengetahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam dengan keseluruhannya. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Sastra diciptakan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan Sehingga sastra dapat sebagai hiburan, pelajaran kehidupan dan sarana penyampain tujuan  yang dikemas dalam keindahan. Banyak definisi sastra yang telah dikemukakan oleh para ahli sastra di atas. Pada dasarnya definisi tersebut mempunyai dasar pengertian yang sama, meskipun diuraiakan dengan kalimat dan bahasa yang berbeda. Secara intuitif, memang kita mengetahui apa yang disebut sastra itu, namun deskriptif dari pengertian yang ada pada pilihan itulah yang masih sulit dirumuskan dalam bentuk kalimat yang tepat.Karya sastra dalam hal ini fiksi, menawarkan bentuk-bentuk realita kehidupan yang diidealkan oleh seorang pengarang sekaligus  sebuah karya yang penuh keestetikaan. Karya Fiksi menurut Nurgiyantoro (2010:3) menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan, diri sendiri, dan dengan Tuhan, yang merupakan hasil dari penghayatan, perenungan secara intens, perenungan terhadap hakikat hidup dalam kehidupan, perenungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagi karya seni.  Lewat medium bahasa karya sastra, berbicara mengenai manusia dan kemanusiaan, sedangkan manusia tidak terlepas dari keberadaannya sebagai makhluk sosial dan budaya. Pendapat tersebut sesuai dengan pandangan Wellek dan Warren (1992:109) bahwa sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan itu sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Karya sastra adalah karya seni yang mediumnya sudah bersifat tanda yang mempunyai arti, yaitu bahasa (Pradopo, 2001:47). Karya sastra adalah cermin kehidupan masyarakat, sesuai pendapat Abrams yang diperjelas oleh Endraswara (2011:89), bahwa sebuah novel tidak hanya mencerminkan “realitas” melainkan lebih dari itu memberikan kepada kita “sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamika” yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah “proses yang hidup”. Berdasarkan bidang kajiannya wujud karya sastra meliputi, (1) sastra tulis berupa karya satra yang diwujudkan dalam bentuk tulisan atau cetakan, yaitu berupa puisi, cerpen, novelet, novel, prosa liris, dan drama, (2) sastra lisan ialah karya satra yang terekspresikan lewat bahasa lisan, (3) bidang kesenian dalam bidang sastra yaitu mengacu kepada sebuah pertunjukkan kesenian.   Pengertian Novel
Novel merupakan salah satu jenis fiksi yang diciptakan oleh pengarang. Kehadiranya didukung oleh lingkungan masyarakat yang komplek dan dipengaruhi juga oleh masyarakat tersebut. Maksudnya kehadiran novel untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang telah dikembangkan oleh pengarang dengan imajinatif yang diperluas dengan sebebas-bebasnya.
Menurut Abrams dalam (Nurgiyantoro, 1994: 9) sebutan novel dalam bahasa Inggris dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia, berasal dari bahasa Italia novella (yang dalam bahasa Jerman: no-velle). Secara harfiah novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’. Menurut Sumardjo & Saini (1997: 29), menyatakan dalam arti luas novel adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, ukuran yang luas di sini dapat berarti cerita dengan plot (alur) yang kompleks, karakter yang banyak, tema yang kompleks, suasana yang beragam dan setting cerita yang beragam pula, namun “ukuran luas” di sini juga tidak mutlak demikian, mungkin yang luas hanya salah satu unsur fiksinya saja, misalnya temanya, sedang karakter, setting, dan lain-lainnya hanya satu saja.
Secara konvensional novel merupakan suatu karya bentuk fiksi, sehingga apa yang disajikan dari hasil pengalaman jiwa pengarang terhadap kehidupan. Logika yang ditampilkan pengarang adalah logika imajinatif bukan logika faktual. Pengalaman imajinatif hanya bias dibuktikan dengan pengalaman pribadi, pengalaman batin, pengalaman bahasa dan pengalaman estesi. Karya sastra yang dihasilkan pada dasarnya berupa cerita yang menghasilkan liku-liku kehidupan dalam suatu masa tertentu saja yang diikuti perubahan nasib.
Novel sebagai karya sastra prosa fiksi merupakan sebuah cerita. Oleh karena itu di dalamnya terkandung tujuan memberikan hiburan kepada pembaca, disamping adanya tujuan estetik. Membaca sebuah novel berarti menikmati sebuah cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasan batin. Betapapun syaratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan, sebuah karya prosa fiksi (novel) haruslah tetap merupakan cerita yang menarik , tetap merupakan bangunan struktur yang koherensi dan tetap mempunyai tujuan estetik. Menurut Wellek dan Werren (dalam Nurgiantoro, 1998:36) daya tarik cerita inilah yang pertama-tama akan memotivsi orang untuk membacanya. Hal itu disebabkan pada dasarnya setiap orang senang cerita, apalagi yang sensasional, baik yang diperoleh dengan cara melihat maupun mendengarkan. Melalui sarana cerita, pembaca secara tidak langsung dapat belajar. Merasakan dan menghayati berbagai permasalahan secara sengaja ditawarkan oleh pengarang. Hal itu disebabkan cerita fiksi tersebut mendorong pembaca untukl ikut merenungkan masalah yang hidup dan kehidupan. Oleh karena itu, cerita fiksi atau kasusastraan pada umumnya termasuk novel, sering dianggap dapat membuat manusia menjadi lebih arif atau dapat dikatakan sebagai memanusiakan manusia.
  Unsur-unsur Pembangun Novel
Untuk memahami karya sastra, diperlukan pemahaman terhadap unsur-unsur yang ada dalam karya sastra. Unsur-unsur yang terdapat dalam karya tidak akan menimbulkan nilai guna, jika unsur-unsur tersebut berdiri sendiri dan tidak saling berkaitan. Tiap-tiap bagian akan menjadi berarti apabila terdapat hubungan antara bagian yang satu dengan lainnya, serta bagaimana sumbangannya terhadap keseluruhan teks sastra yang tercipta.
Unsur-unsur pembangun karya novel terdapat dua, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Secara sederhana, unsur ekstrinsik adalah semua unsur-unsur  yang  berada diluar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi karya sastra  (Nurgiyantoro, 2010:23). Unsur ekstrinsik meliputi hubungan karya sastra dengan religi, politik, sosiologi, psikologi, sejarah dan sebagainya. Sedangkan unsur intrinsik meliputi tema, tokoh/penokohan, latar/setting, alur/plot, sudut pandang (point of view), amanat/pesan yang terkandung
4.      Penokohan dan Perwatakan

 Pendekatan Sosiologi Sastra
  Sosiologi sastra berasal dari kata soiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari akar kata sosio (masyarakat) dan logos (ilmu). Sastra berasal dari akar kata sas (mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan instruksi). Akhiran tra yang berarti alat, sarana (Ratna, 2009:1). Pengarang sebagai seorang zender (pengirim pesan) akan menyampaikan berita zaman lewat cermin dalam teks kepada ontvanger (penerima pesan) berati bahwa karya sastra sekaligus merupakan alat komunikasi (Endraswara, 2011:89). Sehingga sosiologi sastra merupkan ilmu yang berkaitan dengan  kemasyarakatan yang ada dalam sebuah karya sastra sebagai alat penyampaian pesan atau komunikasi antara pengarang dan pemabaca.
Sosiologi satra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Kehidupan sosial akan menjadi pemicu lahirnya karya satra. Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zamannya (Endraswara, 2011:77). Sosiologi berusaha mencari tahu bagaimana masyarakat itu ada, bagaimana mereka berlangsung. Melalui sosiologi dapat diperoleh penjelasan utuh dan menyeluruh dari sisi-sisi masyarakat lengkap dengan pernik dan detail yang menyertainya.  
Rene Wellek dan Austin Werren (1990:110). menyatakan sosiologi sastra yaitu  mengkaitkan sastra dengan situasi tertentu, atau dengan sistem politik, ekonomi dan sosial tertentu. Penelitian dilakukan untuk menjabarkan pengaruh masyarakat terhadap sastra dan kedudukan sastra dalam masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji segala aspek kehidupan sosial manusia, yang meliputi masalah perekonomian, politik, keagamaan, kebudayaan, pendidikan, ideologi dan aspek yang lain sehingga, tujuan sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan (Ratna, 2009:11).
Menurut  Sapardi   Djoko   Damono   (dalam   Jabrohim, 2001:169)  pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra. Istilah ini pada dasarnya tidak berbeda  pengertian dengan  sosiosastra, pendekatan  sosiologis,  atau pendekatan  sosio-kultural  terhadap  sastra.
Pendekatan   sosiologi ini pengertiannya  mencakup  berbagai  pendekatan,  masing-masing   didasarkan pada sikap dan pandangan teoritis tertentu, tetapi semua pendekatan itu menunjukkan satu ciri kesamaan, yaitu mempunyai perhatian terhadap sastra sebagai institusi sosial, yang diciptakan oleh sastrawan sebagai anggota masyarakat.
Berdasarkan  uraian  di  atas  dapat  dinyatakan  bahwa  sosiologi  sastra adalah pandangan yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan gambaran atau potret fenomena sosial. Dalam karya sastra fenomena tersebut diangkat menjadi wacana dengan proses kreatif (pengamatan, analisis, interpretasi, refleksi, imajinasi, evaluasi dan sebagainya).
Jabrohim  (2001:169)  mengatakan  bahwa  tujuan  penelitian  sosiologi sastra   adalah   untuk   mendapatkan   gambaran   yang   lengkap,   utuh   dan menyeluruh tentang hubungan timbal balik antara sastrawan, karya sastra, dan masyarakat. Gambaran tersebut sangat penting artinya bagi peningkatan pemahaman dan penghargaan kita terhadap sastra itu sendiri.
Nation berasal dari bahasa Latin natio, yang dikembangkan dari kata nascor (saya dilahirkan), maka pada awalnya nation (bangsa) dimaknai sebagai “sekelompok orang yang dilahirkan di suatu daerah yang sama” (group of people born ini the same place). Kata ‘nasionalisme’ menurut Abbe Barruel (dalam Sutarjo Adisusilo J. R 2009:3) untuk pertama kali dipakai di Jerman pada abad ke-15, yang diperuntukan bagi para mahasiswa yang datang dari daerah yang sama atau berbahasa sama, sehingga mereka itu (di kampus yang baru dan daerah  baru) tetap menunjukkan cinta mereka terhadap bangsa/suku asal mereka (Ritter, 1986:295). Nasionalisme pada mulanya terkait dengan rasa cinta sekelompok orang pada bangsa, bahasa dan daerah asal usul semula. Rasa cinta seperti itu dewasa ini disebut semangat patriotisme. Jadi pada mulanya nasionalisme dan patriotisme itu sama maknanya.
  1. Secara etimologi : Nasionalisme berasal dari kata “nasional” dan “isme” yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna : kesadaran dan semangat cinta tanah air; memiliki kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa; memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa dan senegara; persatuan dan kesatuan
  2. Menurut Ensiklopedi Indonesia : Nasionalisme adalah sikap politik dan sosial dari sekelompok bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan dengan meletakkan kesetiaan yang mendalam terhadap kelompok bangsanya.
  3. Nasionalisme dapat juga diartikan sebagai paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia
Bentuk-Bentuk Nasionalisme
Terdapat bentuk-bentuk nasionalisme berdasarkan kelompoknya (http:// bangsaku - indonesiaku. blogspot.  com/2008/10/pengertian-nasionalisme.html diunduh jam 13.42 1 Desember 2013) yaitu.
1.      Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, "kehendak rakyat", "perwakilan politik". Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara tulisan yang terkenal adalah buku berjudul Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia "Mengenai Kontrak Sosial").
2.      Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat").
3.      Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis yakni negara memperoleh kebenaran politik secara semula jadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.
4.      Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme yakni negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Cina membuktikan keutuhan budaya Cina. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Cina sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRT karena pemerintahan RRT berpaham komunisme.
5.      Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap 'Jacobin' terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika. Secara sistematis, bila mana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah.
6.      Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme yakni negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan.
 Metode Penelitian
      Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji fakta atau data yang diteliti. Selain itu metode juga dapat digunakan mendapatkan kebenaran yang disusun berdasarkan sistematika ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ratna (2004:34) menyatakan secara etimologis, metode berasal dari kata metodhos dan logos, yaitu filsafat atau ilmu mengenai metode. Jadi metodologi adalah membahas prosedur intelektual dalam komunitas ilmiah.
      Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan hendak dicapai dalam penelitian ini. Penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif, artinya data yang dianalisis dan hasilnya berbentuk deskripsi fenomena baik berupa angka atau koefisien tentang hubungan antar variabel. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata bukan angka-angka. (Aminuddin, 1990:23).
      Dari uraian tentang pendekatan tersebut dapat dipakai sebagai pijakan bahwa penelitian ini untuk menggambarkan secara faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan antara data yang diteliti dengan cara mencuplik kata-kata atau kalimat dalam novel “2” karya Donny Dhirgantoro
      Menurut Semi (1993:23) penelitian kualitatif dalam kajian sastra antara lain: (1) peneliti merupakan instrumen kunci yang membaca secara cermat sebuah karya sastra, (2) penelitian dilakukan secara deskriptif, artinya terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar jika diperlukan, bukan bentuk angka, (3) lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil, karena karya sastra merupakan fenomena yang banyak mengundang penafsiran, (4) analisis secara induktif, dan (5) makna merupakan andalan utama. 
      Sumber data adalah sesuatu yang menjadi sumber untuk memperoleh sebuah data. Sumber data penelitian dalam kajian ini adalah berupa novel yang berjudul “2” karya Donny Dhirgantoro yang diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta 2011.
Data dapat diartikan sebagai bahan mentah yang diperoleh peneliti dari penelitiannya, bisa berupa fakta maupun keterangan yang dapat digunakan sebagai dasar analisis. Data dapat berfungsi sebagai bukti penunjuk tentang adanya sesuatu. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah berupa kutipan-kutipan yang  berupa pargrfa, alenia dalam bentuk narasi maupun dialog hasil dari  pembacaan heuristik dan hermeneutik yang dijadikan sebagai ukuran dalam mengembangkan pengertian dan memberikan interpretasi terhadap novel “2” karya Donny Dhirgantoro yang diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta 2011. Adapun data-data itu meliputi:
a. data kutipan dari hasil pembacaan novel yang menunjukkan adanya bentuk nasionalisme
b. data kutipan yang menunjukkan adanya nilai nasionalisme
     Dalam penelitian ilmiah, pengumpulan data sangat penting karena hasil penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data. Untuk memperoleh data, peneliti menggunakan beberapa macam metode, yaitu:
a.    Metode Studi Pustaka
     Metode yang digunakan untuk mencari dan menelaah berbagai buku sebagai bahan rujukan yang dijadikan sebagai sumber penelitian.
b.    Metode Batat
     Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data. Data-data yang diperoleh dari pembacaan heuristik dan hermeneutik tentang situasi-situasi dan kejadian-kejadian yang menyangkut masalah budaya dan pendidikan  kemudian dicatat pada kartu data.
c.    Metode Deskripsi
     Metode yang digunakan untuk mendeskripsikan data yang telah diperoleh, data-data yang berguna dicatat dalam kartu data. Dalam penelitian ini metode deskripsi digunakan untuk mendeskripsikan data-data dalam novel 2 yang sesuai dengan tujuan penelitian
d.   PengkodeanPengkodean dilakukan untuk mempermudah mengklasifikasi data sehingga sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan, contoh pengkodean seperti N2/h23/p2//NN dibaca; terdapat nilai nasionalisme dalam novel “2” pada halaman 23 paragraf kedua.
             Metode yang digunakan  dalam penelitian ini adalah metode deskriptif interpretasi dengan cara sebagai berikut:
1.      Pembacaan  terhadap   objek penelitian  secara cermat dan berulang-ulang. Menurut Jabrohim, 2001:12), “dimulai dengan langkah-langkah heuristik, yaitu pembacaan dengan jalan meniti tataran gramatikalnya dari segi mimetisnya dan dilanjutkan dengan pembacaan retroaktif, sebagaimana yang terjadi pada metode hermeneutik untuk menangkap maknanya.”
2.      Menganalisis data yang sudah terkumpul dan mengkorelasikan dengan kajian dan teori-teori yang disusun dalam landasan teori. Pengkorelasian tersebut dilaksanakan dengan membahas atau memberikan jawaban atas pertanyaan dari rumusan masalah.
3.      Merumuskan hasil penelitian secara sistematis sesuai dengan kriteria penulisan ilmiah, kemudian  penyajian dari hasil penelitian.
4.      Memberikan kesimpulan dan saran terhadap hasil penelitian
            

HASIL PENELITIAN


Beradasarkan hasil analisis disimpulkan  bahwa dalam  novel “2” terdapat nilai-nilai nasionalisme yang sangat kuat yang direpresentasikan melalui cabang olah raga bulutangkis, beberapa nilai nasionalisme tersebut diantaranya semangat kebangsaan, kerja keras demi tanah air, cinta terhadap tanah air, menunjukkan pribadi bangsa yang baik, 2. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. Membangun rasa persaudaraan, solidaritas, kedamaian, dan antikekerasan antarkelompok masyarakat dengan semangat persatuan, Bersedia mempertahankan dan memajukan negara, Menjungjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa, Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan diantara sesama bangsa Indonesia
Bentuk nasionalisme yang terdapat dalam novel “2” adalah nasionalisme kewarganegaraan, nasionalisme kenegaraan, nasionalisme romantik, dan nasionalisme budaya, adapun yang paling dominan adalah nasionalisme kenegaraan.
 Implikasi dari pengetahuan yang diperoleh dari analisis novel 2 adalah dapat diterapkan dalam pembelajaran sastra para siswa SMA yang ditekankan pada usaha memupuk minat mereka secara langsung untuk membaca karya sastra. Selain itu, dapat menambah wawasan atau masukan yang berharga bagi para pecinta sastra berdasarkan pada pemahaman aspek nasionalisme yang terdapat dalam novel 2. Novel ini layak diajarkan kepada siswa SMA karena isi yang terkandung di dalamnya syarat makna, yaitu aspek nasionalisme yang dapat dijadikan suatu contoh bagi siswa untuk lebih mencitai kesaatuan dan persatuan negeri sendiri dan lebih mementingkan akan arti penting sebuah prestasi.
Implikasi lain dari analisis novel 2 adalah sebagai bahan referensi dalam mengajarkan karya sastra yang menggunakan kajian sosiologi dan nasionalisme, secara umum dapat dijadikan pencerahan bahwa karya sastra merupakan alternatif pembelajaran bagi yang membaca dan menggali maknanya termasuk memupuk rasa nasionalisme seperti yang terdapat dalam novel 2.
 

DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo. 2005.  Sejarah Pemikiran Barat Dari Yang Klasik Sampai Yang Modern. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma.
-----------. 2013. Nasionalisme – Demokrasi – Civil Society. Jurnal (http//:nasionalisme.com)

Aminudin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Dhirgantoro, Donny. 2011. 2.Jakarta: gramedia

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra epistemologi, model, teori, dan aplikasi. Yogyakarta: CAPS

---------------------2011. Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta: CAPS

Jabrohim.2002. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Moleong, Lexy J.2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Ratna, Nyoman Kutha. 2010 . Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Sugihastuti. 2002. Teori Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Pustaka pelajar

Sayuti, Suminto A. 2009. Cerita Rekaan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. (Terj. Melani Budianta) Jakarta: Gramedia.

(http:// bangsaku - indonesiaku. blogspot.  com/2008/10/pengertian nasionalisme. html diunduh jam 13.42. 1 Desember 2013)