A.Latar Belakang
Bahasa adalah salah satu sarana milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan manusia, sepanjang keberadaan manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat tidak ada kegiatan manusia tanpa menggunakan bahasa (Chaer, 2007:5). Manusia menjalani kehidupan sehari-hari hampir semua aktifitasnya menggunakan bahasa, baik menggunakan bahasa lisan, bahasa tulisan. Alat komunikasi yang paling penting bagi kehidupan manusia, tanpa bahasa manusia tidak bisa menjalankan amanah kehidupannya dengan sempurna. Manusia tidak bisa melepaskan bahasa dari segala kegiatan dan geraknya.
Bahasa yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi itu menurut Condilac (Chaer, 2003:32) mulanya berasal dari teriakan-teriakan dan gerak gerik badan bersifat naluriah yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi. Teriakan-teriakan ini berubah menjadi bunyi-bunyi bermakna dan lama-kelamaan semakin panjang dan rumit yang disebut bahasa.
Menurut Chaer (2003:31) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Pengertian lain tentang bahasa bahwa bahasa sebagai sebuah sistem, artinya bahasa bersifat sistematis tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan dan juga sistemis, sistem bahasa bukan merupakan sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah sistem, yakni subsitem teknologi, subsistem morfologi, subsistem sintaktis dan subsistem leksikon (Chaer, 1995:15).
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana dalam Chaer, 2007:32). Definisi tersebut secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut (1) bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa tersebut mempunyai susunan yang teratur dan berpola sehingga mempunyai makna yang jelas, (2) bahasa itu berwujud lambang, artinya bahasa dapat digunakan sebagai sesuatu yang dapat menandai tindakan secara langsung dan alamiah, (3) bahasa adalah bunyi, artinya sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi yang termasuk bunyi pada bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, tetapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa, (4) bahasa itu arbitrer, artinya bahasa itu bersifat sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap dan mana suka, (5) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, artinya bahasa merupakan sarana untuk berhubungan dengan orang lain, (6) bahasa itu adalah identitas penuturnya, artinya bahwa bahasa dapat mencerminkan identitas seseorang.
Sarana komunikasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu sarana komunikasi yang berupa bahasa lisan dan dan sarana komunikasi yang berupa bahasa tulis. Dengan demikian, wacana juga dibedakan menjadi dua, yaitu wacana lisan dan wacana tulis. Dewasa ini pemahaman tentang wacana tidak bisa ditinggalkan oleh siapa saja yang ingin menguasai informasi. Wacana sebagai dasar pemahaman teks sangat diperlukan oleh masyarakat bahasa dalam komunikasi dengan informasi yang utuh. Teks tersusun oleh unsur-unsur yang kait-mengait membentuk wacana.
Berbahasa merupakan gabungan berurutan antara dua proses, yaitu proses produktif dan proses reseptif. Proses produktif berlangsung pada penulis yang menghasilkan kode-kode bahasa yang bermakna dan berguna sedangkan proses reseptif berlangsung pada diri pembaca yang menerima kode-kode bahasa yang bermakna dan berguna yang disampaikan oleh penulis melalui media tulis dan diterima melalui alat baca, yaitu indra penglihatan.
Bahasa sebagai alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki manusia dapat dikaji secara internal maupun eksternal. Kajian secara internal artinya pengkajian itu hanya terdapat struktur intern bahasa itu saja seperti struktur morfologi, struktur fonologi, dan struktur sintaksis. Telaah eksternal berarti telaah dilakukan terhadap hal-hal atau fatwa-fatwa yang berada di luar bahasa. Penelitian ini fokus pada penelitian terhadap bahasa secara internal yakni meneliti bahasa berdasarkan intern bahasa.
Penelitian ini meneliti sintaksis bahasa Indonesia yang terdapat dalam surat kabar. Sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang mengatur struktur frasa dan kalimat . Ada pula yang mengatakan bahwa sintaksis merupakan salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur kalimat, klausa, dan frase (Tarigan, 1984).
Menurut Ramlan (2001: 58) sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase”. Satuan wacana terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat, satuan kalimat terdiri dari unsur atau unsur-unsur yang berupa klausa, satuan klausa terdiri dari unsur-unsur yang berupa frase dan frase terdiri dari unsur-unsur yang berupa kata. Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur-unsur suatu satuan serta hubungan fungsional maupun hubungan maknawi. Pengertian lain dari sintaksis (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar, (2) cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat. (KBBI, 2008:1072).
Pengertian dari beberapa pakar tersebut dapat disimpulkan, sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang mempelajari struktur bahasa serta hubungan dan bagian-bagiannya, yaitu hubungan antara kata dengan kata, kata dengan frase, frase dengan frase, frase dengan kata, frase dengan kalimat, kalimat dengan kata, kalimat dengan frase, kalimat dengan kalimat.
Surat kabar berbahasa Indonesia yang menginformasikan berita luar negeri biasanya menerima berita itu dari kantor-kantor berita asing. Kemungkinan terdapat banyak struktur bahasa asing yang dipindahkan begitu saja tanpa mengindahkan pola umum yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia sehingga dapat diduga bahwa berita berbahasa Indonesia tersebut berstruktur bahasa asing, atau mirip dengan struktur bahasa asing.
Beberapa berita dalam negeri pun sering disajikan dengan menggunakan struktur bahasa asing. Kasus semacam itu banyak ditemukan dalam media elektronik dan media cetak. Bahasa dalam media massa, banyak menerima pengaruh terutama pengaruh negatif dari luar, yaitu pengaruh bahasa asing, maupun pengaruh dari dalam dan pengaruh bahasa pertama yang dikuasai. Kedua pengaruh itu menyatu dan menyebabkan berbagai kesalahan struktur dalam berbagai bentuk, misalnya kesalahan fonologi, morfologi, dan sintaksis. Hal lain yang perlu diungkapkan adalah bahwa tidak semua editor media massa menguasai bahasa Indonesia secara memadai. Berita disusun dari kata-kata, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf yang dapat dianalisis secara sintaksis, pembentukan sebuah kalimat dapat ditelaah berdasarkan jenisnya diantaranya berdasarkan kesederhanaan dan kelengkapan dasar suatu kalimat.
Menurut Tarigan (1984:38) jenis kalimat berdasarkan kesederhanaan dan kelengkapannya dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu kalimat formata, kalimat transformata, dan kalimat deformata. Kalimat formata adalah kalimat yang tersusun rapi berupa kalimat tunggal dan sempurna yang memiliki inti sebagai perangkat, seperti kalimat saya membaca puisi.
Kalimat trasformata adalah jenis kalimat lengkap tetapi tidak tunggal cakupan kalimat transformata ini dapat berupa kalimat tersusun dan kalimat majemuk. Contoh kalimat Sony memmbaca koran dan saya minum kopi ditaman
Kalimat deformata adalah kalimat tunggal yang tidak sempurna meliputi struktur klausa-kalusa terikat maupun non klausa yang terjadi dalam suatu bahasa sebagai kalimat minor. Terdapat beberapa jenis kalimat yang tergolong kalimat deformata yaitu kalimat urutan, kalimat sampingan, kalimat elips, kalimat tambahan, kalimat jawaban, dan kalimat seruan.
Terdapat beberapa penelitian untuk dijadikan acuan dalam melakukan penelitian di antaranya penelitian dengan judul Analisis Kontrastif Bentuk Dasar Adjektiva, Nomina, dan Verba Bahasa Jawa (Ngoko) dengan Bahasa Indonesia (proses afiksasi) oleh Joko Sukamto (A2a002022) UNDIP Semarang (http//:Penelitian –bahasa-proposal-diglib Undip.com diakses 7072012:07.43). Penelitian tersebut folkus pada analisis kontrastif sehingga hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah perbandingan penggunaan bentuk dasar nomina, adjektiva, dan verba bahasa jawa dengan bentuk dasar nomina, adjektiva, dan verba bahasa Indonesia.
Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah pada masalah yang diteliti, objek, dan fokus penelitian. Penelitian ini tidak membandingkan dengan menggunakan analisis kontrastif, objek yang di teliti berupa koran, meskipun sama menggunakan bahasa tulis, dan fokus penelitian ini hanya pada penggunaan kalimat deformata sesuai dalam rumusan masalah.
Penelitian dengan judul Perilaku Sintaksis dan Semantis Adverbia: ingin, akan, hendak dan mau pada Artikel Jawa Pos Edisi 1-31 Oktober 2005 oleh Eni Lailiyah (026015) STKIP PGRI Jombang. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah pada perumusan masalah, dan analisis. Masalah dalam penelitian tersebut fokus pada penggunaan adverbia sedangkan dalam penelitian ini fokus pada kalimat deformata. Bentuk analisisnya tentu berbeda, penelitian tersebut khusus membahas adverbia yang telah disebutkan dalam judul dan rumusan masalah sedangkan penelitian ini menganalisis kalimat-kalimat yang termasuk kalimat deformata.
Penelitian dengan judul Penggunaan Unsur Gramatikal Bahasa Indonesia pada Pemberitaan Majalah Berbahasa Jawa ”Penjebar Semangat” Edisi Januari-Mei 2005 dilakukan oleh Zahrotul Faizah ( 026051) STKIP PGRI Jombang dengan rumusan masalah bagaimana penggunaan satuan gramatikal bahasa Indonesia yang berupa afiks dan kata dalam pemberitaan majalah berbahasa Jawa Penjebar Semangat edisi Januari – Mei 2005. Hasil penelitian tersebut adalah mengetahui satuan gramatikal bahasa Indonesia yang berupa afiks dan kata dalam pemberitaan majalah berbahasa Jawa ” Penjebar Semangat ” edisi Januari – Mei 2005.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti menetapkan penelitian terhadap wacana tulis di koran Jawa Pos dengan judul Penggunaaan Kalimat Deformata dalam Koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012. Peneliti menetapkan judul tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa belum pernah dilakukan penelitian secara khusus tentang penggunaan kalimat deformata.
B.Batasan Masalah
Penelitian bahasa memiliki jangkauan masalah luas dan banyak karena itu penelitian ini difokuskan pada kalimat deformata yang digunakan dalam koran Jawa Pos edisi 5-20 Juni 2012. Kalimat yang termasuk ke dalam golongan kalimat deformata ini adalah a) kalimat urutan, b) kalimat sampingan, c) kalimat elips, d) kalimat tambahan, e) kalimat jawaban, dan f) kalimat seruan (Tarigan, 1984:20-21)
Penelitian ini ditetapkan tiga golongan yang analisis yaitu kalimat urutan, kalimat sampingan, dan kalimat tambahan. Tujuan batasan masalah adalah agar objek peneliti menjadi lebih terfokus . Pemfokusan tersebut pada dasarnya juga berfungsi sebagai pembeda antara kalimat dalam objek penelitian.
C.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.bagaimana penggunaan kalimat urutan dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012?
2.bagaimana penggunaan kalimat sampingan dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012?
3.bagaimana penggunaan kalimat tambahan dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012?
D.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini memilki dua tujuan yakni tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang penggunaaan kalimat deformata dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh:
1.deskripsi penggunaan kalimat urutan dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012.
2.deskripsi penggunaan kalimat sampingan dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012.
3.deskripsi penggunaan kalimat tambahan dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan kajian bahasa dalam masyarakat Indonesia. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan bahasa, khususnya kajian sintaksis dalam penggunaan kalimat deformata dalam bahasa tulis.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian diharapakan dapat bermanfaat:
1.dapat dijadikan sebagai sebgai referensi dalam melakukan penelitian tentang kalimat, atau wacana.
2.dapat dijadikan pedoman dalam menulis berita khususnya tentang penggunaan kalimat di media masa menambah wawasan bagi pengguna bahasa Indonesia
F. Definisi Operasional
Berbagai istilah yang digunakan dalam penelitian ini perlu diberikan pengertian agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan. Istilah-istilah yang perlu dijelaskan adalah:
Kalimat deformata : kalimat tunggal yang tidak sempurna, tidak lengkap yang meliputi struktur klausa terikat maupun struktur-truktur non klausa yang terjadi dalam sesuatu bahasa, sebagai kalimat-kalimat tipe minor (Tarigan, 1984: 19)
Penelitian ini menelaah tentang penggunaan kalimat deformata dalam koran Jawa Pos Edisi 5-20 Juni 2012. Cakupan penelitian ini adalah penggunaan kalimat urutan, kalimat sampingan dan kalimat tambahan yang termasuk bagian dari kalimat deformata.